
"Aaa'k."
Nino mangap didepan Amanda seraya melirik pada Arka. Amanda pun menyuapi saudaranya itu dengan martabak manis yang ia bawa. Arka sendiri tengah makan martabak telur di sofa.
Nino bermaksud bercanda dan membuat Arka menjadi sewot, karena Amanda lebih memperhatikan dirinya ketimbang Arka. Namun Arka santai saja, karena Nino sendiri adalah kakak dari Amanda. Sedang Nino belum mengetahui hal tersebut.
"Lagi dong, Man. Aaaa'k."
Amanda bergerak, namun dibarengi oleh Arka. Ia menyuapkan martabak telur, disaat Amanda menyuapkan martabak manis. Akibatnya dua jenis martabak kini berada di mulut pria itu.
"Banghat." ujar Nino ingin mengatakan "Bangsat." tetapi terhalang mulutnya yang penuh.
Arka terkekeh-kekeh, sementara Amanda mencoba menahan senyum.
"Jadi aneh tau nggak rasanya." Nino berujar dengan gusar. Ketika ia telah menelan setengah, dari kedua martabak kombinasi tersebut. Arka kian tertawa geli.
"Kenapa nggak dibuang?" tanya Amanda.
"Sayang." ujarnya makin sewot. Sementara Arka terus terpingkal-pingkal.
Disaat itulah, tiba-tiba Ansel masuk dan meletakkan sesuatu di atas meja.
"Gaes, roti bakar." ujarnya kemudian. Ia lalu bergerak ke arah dispenser dan mengambil air minum.
"Lah kata lo tadi mau malam panjang sama Intan." ujar Nino.
"Kata Intan, dia mau nginep dirumah cewek lo." Ansel meminum airnya sampai habis.
"Nadine?"
"Emang cewek lo ada berapa?"
"Ya satu."
"Nah itu, katanya malem ini BTS konser online. Dia mau nonton sama Nadine, nggak mau ada gue."
"Hahaha."
"Gagal dong?"
Nino dan Arka tertawa tanpa belas kasihan, Amanda sendiri masih dengan tawa kecilnya yang tanpa suara.
"Liat aja ntar gue ke Korea, gue daftar jadi Idol." ujar Ansel penuh dendam.
"Hahaha."
Nino dan Arka makin terpingkal-pingkal, sedang Amanda kini sudah tak kuasa menahan tawa jahatnya. Ia pun ikut terbahak membayangkan Ansel yang ke Korea-Korea an.
"Udeh tua, Bambang. Agency kurang kerjaan mana lagi, yang mau menjadikan elo trainee nya mereka. Sementara yang muda banyak." ujar Nino masih terus tertawa.
"Lo liat aja ntar gue berhasil."
Ansel lalu duduk dan memakan martabak telur yang dibawa oleh Arka. Ia makan tiga bagian sekali hap, saking dongkolnya.
Waktu beranjak, mereka bertiga terlibat obrolan yang seru. Sampai kemudian Arka dan Amanda harus pamit, karena si kembar pun membutuhkan mereka dirumah.
"Nin, balik ya." ujar Arka.
"Iya hati-hati."
Arka membereskan handphone dan charger miliknya.
"Sel, balik." Arka berujar pada Ansel yang tengah molor.
"Hah, ho'oh." ujar Ansel lalu kembali tertidur. Arka pun hanya tertawa. Ia lalu memeluk Nino, begitu pula dengan Amanda.
Mereka lalu bergerak keluar dari dalam ruangan tersebut. Mereka berjalan melintasi koridor demi koridor. Hingga tanpa Amanda sadari, jika ia dan Arka kini melintas didepan kamar tempat dimana Amman dirawat.
Mereka berjalan sambil bergandengan tangan, berbincang mengenai beberapa hal. Kaca ruang rawat Amman kebetulan gordennya masih terbuka. Pria tua itu bisa melihat anak dan menantunya melengos begitu saja. Ada perasaan tak enak dihatinya, ketika dua orang tersebut berlalu.
Sementara tak lama setelah itu, ia melihat seorang pasien lain, yang didorong memakai kursi roda oleh anak muda yang mungkin adalah anaknya. Ada juga perempuan yang entah itu juga anak ataupun menantunya. Yang jelas mereka kini melintas didepan kamar. Memberikan rasa nyeri di hati Amman yang kesepian.
Ia yang selama ini begitu dingin pada siapapun, kini entah mengapa mendadak peduli pada hal-hal seperti itu. Bahkan beberapa hari belakangan ini, ia belajar artinya sedih dan sendirian.
***
Arka dan Amanda kembali ke penthouse, sebuah pemandangan pun tersaji didepan mata. Rianti dan kedua bayi tertidur didepan televisi yang masih menyala. Televisi tersebut tersambung ke laptop, yang menyajikan tayangan sleep music berdurasi 8 jam. Tampaknya Rianti punya cara tersendiri untuk menidurkan kedua keponakannya tersebut.
Arka dan Amanda tersenyum melihat semua itu. Tak lama mereka berdua pun memindahkan bayi-bayi tersebut ke kamar mereka. Lalu Arka memindahkan Rianti ke kamar yang sering ia gunakan, apabila menginap disana. Amanda mematikan televisi dan juga laptop, tak lama keduanya masuk kedalam kamar.
Arka dan Amanda sama-sama mengambil handuk dan akhirnya bertabrakan didepan pintu kamar mandi. Karena tak adanya koordinasi mengenai siapa yang akan duluan masuk ketempat itu.
Namun, keduanya kini terlibat adu tatap. Tak lama kemudian, keduanya sudah terlihat bermain di kamar mandi yang luas tersebut.
Arka membenamkan cintanya dari belakang, sementara sang istri bertumpu pada dinding kaca shower room. Suara erangan dan teriakan menyatu dengan suara air, yang jatuh dari shower itu sendiri.
Arka bergerak dengan tempo sedang, namun kadang dipercepat. Sesekali Amanda menoleh dan bibir mereka bertemu disela-sela hentakan yang diberikan oleh Arka.
Keduanya begitu menikmati, sampai kemudian sebuah teriakan panjang menandai berakhirnya permainan tersebut.
"Hhhh."
Keduanya menghela nafas. Arka mematikan shower, lalu memeluk istrinya itu dengan erat. Ada senyuman yang kini terkembang di bibir masing-masing.
Mereka kemudian mandi, ketika nafas mereka telah teratur. Setelah itu, keduanya pun pergi tidur.
***
"Sel, bawalah gue ke matahari." ujar Nino pada Ansel yang sibuk bermain handphone sambil meminum segelas kopi.
"Departemen store?" tanya Ansel.
"Matahari depan, sinar matahari." ujar Nino seraya menahan kesal.
"Oh, hehehe. Kirain."
"Hahehahe, lagian ngapain gue ke departemen store dalam keadaan kayak gini?"
"Ya kirain aja, lo mau ngegebet mbak-mbak SPG."
"Ngegebet, bahasa lo. Apa coba arti ngegebet?" tanya Nino.
"Menggaet."
"Arti menggaet?"
"Menggapai."
"Apa coba menggapai?"
"Lo ada dendam dengan guru bahasa kah, Nin?" tanya Ansel seraya menatap Nino. Seketika Nino pun tertawa.
"Udah ah, bawa gue ke matahari." ujarnya kemudian.
Detik berikutnya Ansel sudah membawa Nino berjalan-jalan di taman rumah sakit, dengan menggunakan kursi roda tentunya. Sebab Nino masih sering mengeluh sakit pada luka bekas tusukan, jika ia tengah berdiri.
Ansel mendorong Nino, sambil memperhatikan insta story yang dibuat Intan.
"Sel, lo mau jahitan gue lepas?" ujar Nino pada Ansel.
"Hah?. Apaan?"
"Ya lo liat dong jalanan ini...!"
Ansel berhenti dan melihat ke jalan yang mereka lalui.
"Hehehe."
Ansel nyengir, sebab jalur yang mereka lalui adalah jalur akupuntur. Dimana ada banyak batu kerikil yang sengaja di tanam di jalur tersebut, dengan menggunakan semen.
Ansel lalu menarik Nino ke jalur yang seharusnya.
Ansel memberhentikan Nino di suatu titik, lalu ia pun kembali fokus pada handphone. Ia duduk di bawah sebatang pohon yang rindang.
"Sel, lo mau bikin gue hangus?"
Ansel menoleh, cahaya matahari benar-benar tepat menerpa wajah Nino.
"Ya lo bergerak, Nino. Manja banget." ujar Ansel gregetan.
"Gue mau liat insta story, nih." ujarnya lagi.
"Awas lo ya, kalau sakit merengek sama gue." ancam Nino.
"Nggak bakal." Ansel berujar seraya masih memperhatikan handphone. Tak lama kemudian.
"Huaaaa, Nino kadal Nin di baju gue."
Ansel melompat-lompat tak karuan.
"Ambilin Nin, tolong Nin."
"Kata lo tadi nggak bakal."
"Bakal sekarang, buruan Nin. Buang Nin tolong, geli. Iiiiih."
Nino segera mengambil kadal tersebut dan melepaskannya kembali ke hamparan rumput, yang membentang dihadapannya.
"Gue bersihin diri dulu." ujar Ansel lalu berlarian entah kemana. Sementara Nino hanya tertawa.
"Kenapa itu temannya?"
Seorang bertanya pada Nino, Nino memperhatikannya sejenak lalu tersenyum.
"Oh, itu saudara saya. Dia takut kadal." ujar Nino.
"Boleh tante duduk disini?" tanya wanita itu kemudian.
"Boleh tante, silahkan." ujar Nino kemudian.
Wanita itu lalu duduk didekat Nino, ia tersenyum dan berusaha keras menahan air matanya agar tak tumpah.
Puluhan tahun sudah, ia mengabaikan laki-laki yang kini duduk di kursi roda tersebut. Laki-laki yang tiada lain adalah darah dagingnya sendiri.
"Tante lagi mau jenguk seseorang?"
Nino berbasa-basi, karena tak enak membiarkan orang yang ada di dekatnya, berada dalam kondisi canggung. Wanita itu mengangguk lalu tersenyum.
"Iya, anak tante."
"Dirawat disini?" tanya Nino. Lagi-lagi wanita itu pun mengangguk, namun ia terus menatap ke arah Nino.