
Pada malam sebelum keberangkatan mereka ke kediaman orang tua Arka. Sejatinya Amanda tak bisa memejamkan mata dengan mudah.
Sebab ia terpikir apa yang akan terjadi besok. Bagaimana kalau kedua orang tua Arka murka padanya, terutama sang ibu.
Ia tak dapat membayangkan bagaimana seorang ibu berteriak, mencecar dengan penuh kemarahan terhadap dirinya. Sebab ia tak mungkin bisa melawan, meski ia memiliki power untuk itu.
Yang akan ia hadapi besok bukanlah seorang klien, atau musuh yang seumuran. Melainkan ibu dari pemuda yang sudah menikahinya.
Praktis seberapapun kekuatan yang ia miliki, hanyalah buah simalakama yang akan ia dapatkan jika ia memberikan perlawanan.
"Man, kamu nggak tidur?"
Arka yang sejak tadi sudah terlelap tiba-tiba menyapa Amanda. Amanda sendiri kaget melihat suaminya itu terbangun.
"Koq kamu bangun, Ka?" Ia balas bertanya.
"Iya kebangun, biasa kan orang kebangun kalau lagi tidur." ujar Arka.
Padahal sejatinya ia memang tak terlalu nyenyak, karena sama memikirkan bagaimana besok. Ia juga menaruh beberapa kekhawatiran yang enggan ia bicarakan. Sebab takut akan menambah beban pikiran bagi Amanda.
"Kamu kenapa nggak tidur, laper?" tanya Arka sambil menatap sang istri.
"Nggak koq, Ka. Belum bisa tidur aja." jawab wanita itu.
Amanda kini menoleh pada Arka dan membalas tatapannya.
"Nggak enak badan atau gimana?"
Lagi-lagi Arka bertanya. Ia serius soal kondisi istrinya itu. Belakangan ia sangat-sangat memperhatikan dan takut kalau terjadi apa-apa.
"Nggak, biasa aja." jawab Amanda lagi.
"Ada sesuatu yang kamu pikirkan?" tanya Arka.
Amanda diam, lalu menarik nafas dan mengangguk.
"Soal besok, Ka." ujarnya kemudian.
"Kenapa emangnya? Lagi dan lagi Arka bertanya, dan Amanda kembali menarik nafas panjang.
"Aku takut." ujar wanita itu.
"Takut kenapa?"
"Takut orang tua kamu marah besar ke aku. Aku nggak bisa bayangin, Ka. Pasti aku nggak bisa ngomong apa-apa besok. Aku nggak bisa membela diri, karena posisi aku memang salah."
Kali ini Arka yang menghela nafas. Ia menatap Amanda lalu menggenggam tangan istrinya itu dengan erat.
"Kalau kamu ragu, kita nggak usah datang aja. Biar aku yang jelasin ke ibu kalau kamu sibuk dan nggak bisa datang."
"Aku cuma lagi takut aja, bukan mau membatalkan keputusan. Kita udah terlanjur jauh dalam hal ini, dan saatnya kita membuat semuanya menjadi clear. Supaya nggak ada lagi prasangka dan lain-lain."
Arka membelai kepala Amanda.
"Ibu itu orangnya baik, dia nggak mungkin ngapa-ngapain kamu. Percaya sama aku, Man. Aku anaknya, aku tau dia orangnya seperti apa. Walaupun ada beberapa sifat dia yang nggak bagus menurut aku. Tapi ibu nggak akan menyakiti orang yang nggak menyakiti dia. Terlebih orang itu baru dia kenal."
Arka mencoba meyakinkan sang istri. Amanda pun jadi sedikit lebih tenang kali ini. Arka menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Dan bertambah lagi rasa tenang di hati Amanda.
Meski terbilang muda, namun kedewasaan Arka mampu membuat segenap keresahan yang Amanda rasakan menjadi seperti berkurang.
"Sekarang kamu tidur, ya. Biar besok badannya fit, biar enak jalannya." ujar Arka kemudian.
Amanda mengangguk. Arka lalu menarik selimut dan menyelimuti sebagian tubuh mereka.
"Mau dipeluk, Ka." ujar Amanda.
"Iya, ini aku peluk. Tapi janji tidur ya." jawab pria itu.
Amanda kembali mengangguk, kali ini ia tersenyum. Ia menatap Arka cukup lama seperti mengharap sesuatu.
"Apa?" tanya Arka tak mengerti.
"Cium dulu!" ujar Amanda.
Arka pun lalu tertawa, kemudian ia mencium kening sang istri dengan lembut. Tak lama Amanda memejamkan mata, disusul oleh Arka yang juga melakukan hal yang sama.
Meski setelah beberapa saat, tepatnya ketika Amanda telah benar-benar terlelap. Arka kembali pada mode keresahan seperti semula.
Ia takut keadaan besok tak mendukung kedua belah pihak, hingga menimbulkan perkara baru yang nantinya akan membuat keadaan menjadi semakin runyam.
"Hhhhh."
Arka menarik nafas dalam-dalam. Pergerakannya membuat Amanda yang tidur dalam pelukan menjadi sedikit terganggu dan wanita itu tampak bergerak.
Arka lalu mencoba bersikap tenang dan mencium kening istrinya itu dengan lembut. Tak lama rasa kantuk benar-benar menyerang kesadarannya dan Arka pun pergi tidur.
***
Tak jauh berbeda dengan apa yang dialami Arka. Kondisi di kediaman orang tuanya juga demikian. Meski sepintas tampak telah tertidur, tetapi ibu Arka kini tengah terdiam di kamarnya. Menjatuhkan pandangan ke arah dinding tempat dimana ia menghadap.
Sementara sang suami telah tertidur lelap sejak tadi. Ia masih belum bisa memejamkan mata lantaran masih terpikir akan semua ini.
Meski ia telah menyuruh Arka dan istrinya untuk datang. Tetapi sebagai seorang ibu, tetap ia merasa semua ini begitu mengejutkan.
Tiba-tiba memiliki menantu dan calon cucu, rasanya seperti tiba-tiba dikejutkan dan dipaksa oleh semesta. Entah bagaimana jadinya besok, yang jelas ia harus melewati malam ini terlebih dahulu.