Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Kepikiran


Amman memompa bagian itu, sambil memperhatikan perut Vera yang kian membuncit. Diusap-usapnya jabang bayi mereka, sambil terus memberikan hujaman demi hujaman di liang Vera.


"Ah, hmmh."


Vera *******-***** seprai tempat tidur dengan kepala menengadah ke atas. Sepertinya hormon kehamilan membuatnya sangat menikmati aktivitas ini.


Vera meracau meminta Amman mendorong lebih cepat dan lebih dalam lagi. Hingga pria tua yang masih perkasa itupun merasa tertantang.


Ia memompa dengan kecepatan sedang, melambat, kembali sedang, lalu cepat. Hingga akhirnya keduanya sama-sama berteriak panjang. Sesuatu yang hangat kembali menyembur di rahim Vera yang telah hamil berapa bulan itu.


Amman menyudahi aktivitasnya, ia kini beralih ke lemari es dan mengambil sebotol air dingin. Sementara Vera masih berada ditempatnya sambil mengelus perut, kedua kakinya masih terbuka lebar seperti tadi. Seakan masih ingin merengkuh sisa-sisa kenikmatan yang diberikan oleh Amman.


"Apa kamu pernah mencintai seseorang?"


Amman tiba-tiba bertanya pada Vera yang masih berbaring. Wanita itu terhenyak, ia heran mengapa Amman tiba-tiba menanyakan hal tersebut.


"Cinta?"


"Ya, apa kamu pernah jatuh cinta?"


Vera beranjak, ia memakai dress yang tadi sempat dilucuti oleh pria itu.


"Ya, dulu." ujar Vera lalu beranjak ke arah kulkas. Ia juga sama mengambil air lalu meminumnya.


"Dulu?"


"Iya, dengan seseorang. Tapi kami berbeda keyakinan, dia kemudian menikah dengan orang yang satu keyakinan dengan dia."


"Lalu sekarang, apakah kamu mencintai seseorang?"


"Tidak."


Vera kembali mereguk minuman yang ada di tangannya. Sementara kini Amman pun menjadi tahu, jika Vera tidaklah mencintainya. Vera hanya menikmati hubungan tanpa status ini karena kesenangan belaka, bukan karena ia mencintai Amman.


Mendadak Amman pun kembali terpikir, akan ucapan Arka mengenai cinta. Arka seakan menyudutkannya sebagai laki-laki yang tak pernah merasakan hal tersebut.


"Hhhhh." Amman menghela nafas.


"Ok, aku pergi dulu."


Amman mencium bibir Vera dan bersiap.


"Di dalam koper itu ada uang 200 juta, belanja lah apa saja yang kamu mau. Kalau aku transfer nanti Rachel tau, karena dia memantau semua transaksi yang rekeningku lakukan."


"Ok." ujar Vera.


Amman mengambil jas nya lalu pergi meninggalkan ruangan apartemen tersebut.


Sementara di sebuah mobil, Arka yang kini hendak pulang kerumah bersama anak dan juga istrinya pun terdiam. Ia masih terpikir akan ucapan ibunya mengenai sang ayah tadi pagi.


Terakhir sebelum pulang, Arka sempat bertanya lagi perihal foto ayahnya tersebut. Namun sang ibu tidak memilikinya. Ibunya berkata jika ingin mengetahuinya wajah ayahnya, Arka hanya perlu berkaca. Karena wajah ayahnya sama persis dengan Arka.


Arka pun jadi bingung. Meskipun mirip, namun yang akan ia lihat didalam kaca tersebut adalah dirinya sendiri. Ia tak akan menemukan apa-apa disana selain keanehan. Aneh sudah menatap dirinya sendiri, untuk mencari sosok orang lain.


"Ka, kamu kenapa?. Capek ya?" tanya Amanda pada Arka.


Pasalnya suaminya itu sejak tadi lebih banyak diam. Biasanya ia akan berbicara dan berinteraksi, baik pada Amanda maupun para bayi yang ada dibelakang.


"Iya Man, agak ngantuk." Arka lanjut saja berdusta agar istrinya tak curiga.


"Ya udah nanti begitu sampe langsung tidur ya." ujar Amanda.


Arka pun mengangguk.


"Hoaaahuu."


Para bayi bersuara.


"Nggak dulu ya, dek. Nanti pulang jangan nakal, jangan minta temenin main dulu sama papa." Amanda mengingatkan bayi-bayinya, sementara Arka kini tertawa.


"Nanti main bentar sama papa ya, dek. Abis itu papa bobok."


"Hoaaaa."


Seakan menjawab, suara bayi-bayi itu kembali membuat Arka dan Amanda tertawa. Mereka pulang kerumah Arka, sore itu. Karena sesuai janji pada tetangga sekitar, di waktu dulu.


Bahwa mereka akan membawa Azka serta Afka sesekali kesana, agar para tetangga disana bisa melihat bayi-bayi itu.


***


Amman memberikan pertanyaan pada Rachel malam itu, membuat Rachel yang tengah minum tersedak menahan tawa.


"Kenapa kamu tanyakan hal itu, setelah sekian tahun aku menemani kamu dalam segala hal."


"Aku bukan sedang membahas berapa lama kamu menemani aku. Yang aku tanyakan adalah, kamu mencintai aku atau tidak?"


Rachel terdiam mendengar pertanyaan tersebut, dan Amman tak memerlukan jawaban apa-apa lagi. Ia kini menuang kembali wine ke dalam gelas, lalu mereguknya hingga habis.


Ia tahu ini terdengar brengsek, tapi Arka benar soal pertanyaan yang ia lontarkan. Mengenai perihal dicintai dan mencintai. Amman lupa apakah ia pernah mencintai atau dicintai, sampai detik ini ia tidak pernah merasakan hal tersebut.


Apa itu cinta, bagaimana bentuk dan rupanya, seperti apa rasanya?. Yang ia tahu sejak kecil adalah belajar dengan giat, untuk memenuhi semua ambisi orang tuanya. Menikah karena orang tuanya pula, lalu menikmati berbagai hubungan bersama banyak wanita. Dengan menggunakan kekuasaan serta uang yang ia miliki tentunya.


Ia bahkan ia tidak pernah tahu, ketika berhasil meniduri seorang wanita. Apakah wanita yang selesai bercinta dengannya itu akan memikirkan dirinya atau tidak.


Malam beranjak naik, Amman terus menghamba dibawah pengaruh alkohol. Hanya itu yang bisa ia lakukan. Meski minuman hanyalah sebuah zat cair, tapi mungkin zat itulah yang paling mencintai Amman. Karena ia selalu ada disaat Amman membutuhkan.


***


Arka mengajak main bayi-bayinya sebentar, lalu tertidur dengan lelap. Para bayi pun ikut tertidur setelah diberi ASI oleh ibu mereka. Kini tinggal Amanda sendiri yang duduk di meja makan, sambil menikmati segelas susu hangat dan juga gorengan yang ia buat sendiri.


Sementara disudut lain kota, pada sebuah apartemen mewah. Ryan tampak terdiam, entah kenapa ia terpikir akan Arka.


Pemuda itu telah mengusik hatinya dibeberapa waktu belakangan ini. Cara dia berbicara, tersenyum, wajahnya, posturnya, gesturnya. Entah mengapa ia merasa seperti melihat fotocopyan dirinya sendiri.


Tiba-tiba ia pun teringat sesuatu.


"Ningsih?" gumamnya kemudian.


Ryan pun seakan terpukul, ia terduduk di kursi meja makan dengan hati yang begitu lemah. Baru saja ia teringat pada perempuan di masa lalunya itu.


"Tapi, apa mungkin?" gumamnya lagi.


Ryan pun bergegas, ia mengambil kunci mobil dan bergerak turun ke bawah apartemen. Ia masuk kedalam mobil dan mengemudikan kendaraan itu ke suatu tempat. Ia masih mengingat persis tempat itu, namun sayang wajahnya telah berubah. Banyak gedung dan pertokoan baru yang dibangun didekat sana. Sehingga Ryan pun mengalami sedikit kesulitan.


Ia melihat dan mencari kesana kemari, tempat itu benar-benar telah berubah membingungkan. Namun seketika ia berhenti, tatkala melihat sebuah warung rokok pinggir jalan. Dari dalam warung tersebut muncul sesosok laki-laki tua, seumuran dirinya. Ia ingat dulu sering membeli rokok di warung itu.


"Yanto."


Ryan menyapa pria itu, pria pemilik warung itu pun memperhatikan.


"Ryan?"


Ryan tersenyum.


"Ryan."


Keduanya kini berpelukan, sudah lama sekali mereka tak bertemu. Ada rasa haru dan juga rindu disana.


"Apa kabar, Ryan?"


"Baik, kamu apa kabar?" tanya Ryan.


Keduanya pun lalu berbincang dan saling bertukar kabar. Tak lama setelah itu, Ryan pun menanyakan perihal Ningsih.


"Asih Sukma Ningsih kan?. Yang sering makan gorengan disini dengan you." tanya Yanto.


"Iya, dimana dia sekarang?"


"Wah kurang tau. Nggak lama setelah kamu pamit buru-buru hari itu, Ningsing kena musibah."


"Musibah?"


"Iya, katanya dia hamil sama cowok tapi nggak tau cowoknya siapa. Ningsih diusir sama keluarganya."


"Di usir?"


"Iya, setelah itu saya nggak mendengar apa-apa lagi. Bahkan keluarganya pindah semua dari sini."


Ryan terdiam, hatinya begitu terpukul. Ia tak menyangka jika Ningsih akan diusir oleh keluarganya. Saat dulu ia mengangkat Nino sebagai anak, sebenarnya ia juga mencari Ningsih saat itu. Tapi dirumah mereka memang sudah tidak ada siapa-siapa lagi, dan Yanto saat itu sempat tak berjualan selama beberapa tahun. Karena merantau ke kota lain, setidaknya itulah info yang Ryan dapat waktu itu.


Ryan hanya bertanya pada tetangga sekitar, para tetangga pun tak tahu kemana Ningsih dan keluarganya pergi. Karena sepertinya rumah mereka telah ditinggalkan secara diam-diam.


Entahlah, mungkin tak kuat karena hujatan atau apa. Yang jelas kini, ia harus mencari keberadaan Ningsih dan juga anak itu. Jika Ningsih masih mempertahankan kehamilannya, maka anak itu kini sudah berusia sekitar 21 atau 22 tahunan.