
Amanda berbincang-bincang dengan para petinggi production house, tempat dimana film yang dibintangi oleh Arka, Robert, Rio dan lainnya di produksi. Ia tampak tertawa-tawa tanpa beban, seakan tak menghiraukan Arka yang panas menatapnya.
"Ka, minum!"
Rio menyerahkan segelas penuh wine pada Arka, lalu pemuda itupun meminumnya. Matanya tak terlepas dari Amanda.
"Sabar." ujar Rio seraya ikut menatap Amanda.
"Lo jangan menimbulkan reaksi yang mengundang perhatian. Lo tau kan disini banyak awak media. Dan lo tau juga syarat di manajemen kita adalah, kita harus berstatus single. Mau udah menikah sekalipun, kita harus nutupin status kita dari publik."
"Ya tapi lo liat dong kelakuannya Amanda, gimana hati gue nggak panas coba. Dipegang-pegang gitu."
"Itu cuma nyentuh bahu, Arka."
"Tetep aja gue nggak suka."
"Gue ngerti. Tapi kalau lo samperin dia, otomatis bakal memunculkan pertanyaan dibenak banyak orang yang hadir disini. Gimana bisa lo kenal sama Amanda."
Arka menarik nafas lalu kembali mereguk wine yang ada ditangannya.
"Inget, bro. Elo, gue, Robert, Doni dan anak-anak peace production lainnya lagi digandrungi netizen terutama cewek-cewek saat ini. Kalau mereka tau kita udah punya pasangan, popularitas kita bakalan menurun. Lo paham kan, kalau kita cari tambahan duit dari endorsmen. Untuk endorsmen kita butuh pengikut jutaan. Untuk dapat pengikut yang fanatik, kita harus jomblo di mata mereka. Jadi lo jangan gegabah."
Arka masih berusaha mengontrol emosinya.
"Amanda?"
"Hai, Jeff."
Seorang pria berwajah oriental nan tampan tampak mendekati Amanda, lalu mencium kedua pipinya.
"Apa kabar Jeff." ujar Amanda bersemangat.
"Long time no see, Amanda." lanjut pria itu.
"Bangsat, siapa lagi tuh orang."
Arka mulai naik pitam. Rio turut memperhatikan kearah tempat dimana Amanda dan pria itu berada.
"Sabar, Ka."
"Dia nggak liat apa bini gue lagi bunting begitu, masih aja di sosor. Amanda juga mau-mau aja. Mana itu dress belahan dadanya rendah banget lagi."
"Ka, elo?. Lo punya perasaan sama Amanda?"
Rio mencurigai sesuatu yang aneh dalam diri Arka. Arka pun lagi-lagi menghela nafas, dan kembali mereguk wine dalam gelasnya.
"Kalau lo di posisi gue, lo akan sulit untuk nggak make perasaan. Bayi yang ada di perut Amanda itu anak gue, Ri. Gimana gue nggak pake perasaan coba?. Hampir tiap hari gue tidur sama dia, nyentuh tubuhnya dia. Setiap hari gue ngeliat dia."
"Lo cinta sama Amanda?"
Pertanyaan Rio tersebut sukses membuat Arka tenggelam dalam diam. Bibirnya bergetar, tangannya terkepal, nafasnya kembali tak teratur.
Apalagi kini ia melihat Amanda dan pria yang tak di kenalnya itu, tengah berjalan ke arah meja yang berisi banyak makanan serta minuman.
"So, you're pregnant now?" tanya pria tampan bertubuh sexy itu pada Amanda.
"Ya." Amanda mengusap perutnya.
"I'm merried, now." jawab Amanda.
"Aku pikir, kamu bener-bener masih memegang prinsip kamu yang dulu. Waktu jaman kuliah, aku susah banget ngejar kamu. Gara-gara kamu bilang nggak mau menikah, nggak butuh laki-laki."
Amanda tersenyum mengingat semua kejadian itu.
"Sorry, Jeff. Sorry untuk waktu itu." ujarnya kemudian.
"Nggak apa-apa, semua udah lewat koq." jawab Jeff.
"Kamu punya pasangan?" tanya Amanda, Jeff menggeleng.
"Sudah dua tahun bubar." jawab Jeff.
"Oh, sorry."
"It's ok. By the way, your husband?"
"Over there." Amanda melirik ke arah Arka yang tengah gusar didekat Rio.
"That young man?"
"Ya." Amanda menahan tawa.
"Waduh, ternyata kamu takluknya sama berondong."
Jeff dan Amanda tertawa.
"Berondong kan itu?" Jeff memastikan.
"Mmm, ya. You're right."
Lagi-lagi keduanya tertawa.
"Boleh aku."
"Anj..."
Arka mengumpat, ia sudah gelap mata. Kali ini bahkan suara Rio pun tak mampu menghalanginya lagi. Ia melangkah cepat penuh kemarahan ke arah istrinya dan juga pria itu.
"Ka, Arka."
Arka tak menghiraukan Rio, ia terus melangkah. Hingga kemudian,
"Arka."
"Sang produser menghentikan langkahnya."
"Iya pak." ujar Arka menatap sang produser, namun masih melihat kearah Amanda sesekali.
"Ada yang mau bicara sama kamu."
Produser tersebut mengajak Arka menjauh dari sana. Ia masih saja terus menoleh ke arah Amanda sepanjang perjalanan.
Sementara di lain pihak, Maureen tampak sangat terpukul. Ia melihat Amanda berbicara dengan Jeff sambil mengelus perut hamilnya dan melirik ke arah Arka.
Meski tak mendengar isi percakapan diantara keduanya, namun Maureen yakin jika Amanda tengah mengatakan bahwa ayah dari anak yang ia kandung tersebut adalah Arka.
Air mata Maureen pun merebak di pelupuk mata. Kebenciannya kini memuncak, ingin rasanya ia mendorong perempuan itu agar bayinya segera gugur.
Entah mengapa begitu sakit rasanya, membayangkan Arka telah menghamili wanita lain selain dirinya. Setelah sekian tahun mereka bersama.
"Maureen, kamu kenapa?" tanya Robert heran.
"Aku mau ke toilet." jawab Maureen lalu meninggalkan tempat itu.
Jeff meminta izin pulang pada Amanda, karena ia memiliki urusan lain. Amanda pun mengiyakan. Amanda kini masih berdiri didekat meja, untuk makan apapun yang ia mau. Karena banyak terdapat kudapan manis disana.
Si kecil dalam perutnya tak akan membiarkan Amanda melewatkan semua itu. Ia pun mulai makan sebanyak yang ia mau. Meski dengan gaya yang sopan dan terlihat malu-malu agar tak memalukan.
"Hai."
Seseorang muncul dihadapan Amanda.
"Iya, kamu kenal saya?" tanya Amanda pada orang itu.
"Dulu kita pernah mau ketemu, tapi nggak jadi." ujar orang itu.
Amanda mencoba mengingat-ingat siapa orang itu sesungguhnya. Namun ia tak menemukan jawaban sama sekali.
"Siapa ya?" tanya Amanda lagi.
"Saya Doni."
"Doni?"
"Iya, kita sempat chat waktu itu. Di aplikasi dating, kita janjian di cafe kampusku. Aku lihat kamu dari kejauhan sudah datang, kamu juga sudah melambaikan tangan. Tapi nggak tau kenapa, saat itu kamu malah pergi."
Amanda mengingat peristiwa itu, hari dimana ia terakhir kali menemui kandidat yang hendak ia jadikan suami. Namun diwaktu yang sama ia melihat Arka.
"Kamu?"
"Iya, yang kamu tinggalkan waktu itu." ujar Doni.
Amanda terdiam, jujur ia merasa tak enak hati.
"Maaf, tapi saya sudah menikah sekarang. Saya lagi hamil." ujar Amanda.
Doni melihat perut besar wanita itu dan agak kecewa.
"Amanda." Tiba-tiba Rio mendekat.
"Arka nunggu kamu di parkir timur. Ayo aku antar."
Amanda berjalan, Rio melangkah. Namun Rio dihentikan oleh Doni.
"Ri, itu?"
"Bininya Arka, udah tau kan lo?" tanya Rio. Doni mengangguk. Benar dirinya sudah tau, namun baru detik ini.
Rio mengantar Amanda sampai ke parkir timur. Tampak Arka sudah sangat gusar dan marah sisi mobil yang terparkir.
"Arka?"
"Pulang!"
"Tapi aku belum pamit sama mereka." tukas Amanda menyinggung soal orang-orang yang ia kenal.
"Pulang sekarang!"
"Kamu kenapa sih?" Amanda mulai ngegas.
"Man, pulang aja. Daripada ribut dan ngundang perhatian." ujar Rio.
Amanda pun mengangguk, ia lalu masuk kedalam mobil. Arka melirik sekilas ke arah Rio dan Rio pun mengangguk.