Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Kelakuan Rio (Bonus Chapter)


"Dimana Bambang?"


Rio menelpon Arka di sepertiga malam, disaat sebagian orang beribadah atau masih menikmati mimpinya.


"Gue lagi tidur, anjay. Lo liat nggak ini masih jam berapa?" gerutu Arka.


"Gue abis jadi kuyang, lupa jalan pulang." seloroh Rio.


"Bangsat." Arka berujar seraya tertawa.


Ia kini beranjak dari tempat tidur dan menuju ke dapur, untuk mengambil minum. Jam baru menunjukkan pukul 03:00 dini hari.


"Gue kebangun, Ka." ucap Rio.


"Kenapa, gara-gara nganu lo bangun?" tanya Arka.


"Kagak, gue kayaknya kecepatan tidur deh."


"Tidur jam berapa emangnya lo?" tanya Arka lagi.


"Sekitar jam setengah delapan malem." jawab Rio..


"Tumben."


"Iya, abis makan banyak gue bareng bokap."


"Kenapa lo tiba-tiba kepikiran nelpon gue?" tanya Arka.


"Nggak tau, cuma lo yang terlintas dibenak gue. Kayaknya kita jodoh deh."


"Hahaha, bangsat."


Rio ikut tertawa di seberang.


"Orang tuh kebangun jam segini, ibadah. Lo malah nelpon gue, dasar pemuda tersesat."


"Hahaha."


"Kangen gue Ka, sama lo. Dua minggu anjay, lo sok sibuk sama semua urusan lo." seloroh Rio lagi.


"Iya sorry, lagi mau naik jabatan gue." jawab Arka.


"Oh ya?"


"Iya, makanya gue sibuk."


"Wah, makan-makan dong."


"Iye ntar, kalau udah beneran dinaikin."


"Kalau nggak jadi naik?" tanya Rio..


"Kagak jadi makan lah."


"Pelit lo, anjay."


"Hahaha." lagi-lagi Arka tertawa.


"Ya udah, besok mau nggak?" lanjut Arka lagi.


"Mau ngapain?" tanya Rio.


"Kata lo mau makan."


"Serius mau traktir gue besok?"


"Kapan sih gue nggak pernah serius?. Jadi besok lo bawa makanan dari rumah dan gue juga, kita janjian di taman terus makan bareng."


"Hahaha, itu piknik namanya bangsat." celoteh Rio.


"Jadi beneran nggak nih?" ujarnya lagi.


"Ya jadi, Solihin. Besok, mau jam berapa terserah lo."


"Emangnya besok lo nggak sibuk?" tanya Rio.


"Kagak."


"Ya udah siang deh." ujar Rio.


"Ok."


Esok harinya Arka mentraktir Rio, pada sebuah tempat makan yang biasa mereka datangi. Seperti biasa Rio makan dengan kecepatan 100mbps. Sementara Arka baru habis setengah, Rio sudah nambah.


"Ka."


"Hmm?"


"Lo punya saran nggak, gimana caranya nolak orang tua."


"Lo di tembak sama nenek-nenek?"


"Dengerin dulu, Bambang." Rio sewot, sementara Arka terkekeh.


"Iya, kenapa?" tanya Arka lagi.


Rio menelan makanannya lalu minum.


"Emak gue, nyuruh gue kerja di perusahaan bapak tiri gue. Sedangkan bokap gue nyuruh kerja di perusahaan dia."


"Nah lo sendiri maunya dimana?"


"Nggak mau dua-duanya."


Arka menatap Rio.


"Salah nggak sih, kalau gue mau membuat jalan gue sendiri?" tanya Rio.


"Ya nggak salah, itu hidup lo. Asal jangan berada di jalan kesesatan aja." ujar Arka seraya tertawa.


"Tapi gimana ya, cara nolak mereka dengan halus gitu?"


"Ya lo jujur aja, bilang kalau lo mau pilih jalan lo sendiri. Masa iya orang tua nggak ngerti."


"Masalahnya lo tau sendiri kan, nyokap gue bacotnya kayak apa. Bokap gue juga bacot, tapi gue lebih ke kasian kalau bokap. Dia tuh diluar kebiasaannya yang suka marah nggak jelas, dia seorang ayah yang baik."


Rio diam dan berfikir.


"Kayaknya itu omongan gue deh, bro." ujarnya kemudian.


"Kapan lu ngomong, seenaknya aja mengklaim."


"Ih, gue pernah ngomong itu ke elo Ka. Tapi kapan ya?"


"Itu nggak penting, bro. Yang terpenting lo sekarang harus mengumpulkan keberanian dulu, buat ngomong sama orang tua lo. Emangnya lo ada rencana apa buat masa depan lo, kalau nggak mau kerja?. Dunia entertaint kan tau sendiri, nggak pasti."


"Pengen jadi YouTuber gue."


"Ya udah bikin konten dan buktikan ke bokap-nyokap lo, kalau lo mampu sukses dengan jalan yang lo pilih."


"Jadi menurut lo, gue harus bikin konten dulu baru ngomong?'


"Ya iyalah, orang-orang tua kita kan selalu berorientasi pada hasil. Kalau cuma rencana doang ya, lo bakalan di patahin, dibikin down duluan."


"Iya sih." Rio agaknya mulai berfikir.


"Mau buat konten apaan emangnya lo?" tanya Arka.


"Apa kek, mukbang gitu, horor juga boleh."


"Kalau bikin horor, konsepnya gimana?" tanya Arka.


"Ya mana gue tau, belum mikir juga sampai kesana. Tapi intinya gue mau jadi konten kreator." jawab Rio.


"Ya udah, lo buktikan aja sama orang tua lo. Mulai besok atau lusa, lo bikin konten." ujar Arka.


"Oke deh." tukas Rio.


***


"Koq jadi gini sih?"


Arka berdiri dihadapan Ansel dan Nino yang sama bengongnya. Ini sudah lama berlalu, sejak terakhir Arka menanyakan konsep konten horor yang akan Rio buat untuk channel youtubenya.


"Kata lo tadi kita cuma penelusuran aja, kenapa jadi uji nyali?" tanya Nino sewot.


"Hehehe, gue berubah pikiran." ujar Rio.


"Kayaknya lebih asik dan bakalan banjir penonton, kalau ada cowok ganteng yang uji nyali." jawabnya kemudian.


Baru saja Arka hendak protes, Rio sudah keburu ngoceh.


"Pokoknya lo bertiga nggak boleh nolak, nasib gue ditangan lo bertiga. Sampe YouTube gue gagal mendapat subscribers kayak si Atta Gledek atau om Deddy, dan sampe nyokap-bokap gue maksa gue kerja kantoran. Lo semua bakalan gue musuhin."


"Ya udah nggak apa-apa, ngurangin jatah pelarian dana gue setiap bulan." ujar Arka.


"Lo gitu Ka, sama gue." Wajah Rio berubah seperti lemur Madagaskar.


"Jadi lo nggak ikhlas traktir gue selama ini?" lanjutnya lagi. Arka pun menghela nafas.


"Bukan itu, Bambang."


"Ya terus apa?"


Arka ingin sekali menjitak kepala sahabatnya itu.


"Ya udah deh nggak usah baper, ini gue mau nih uji nyali." ujar Arka kemudian.


Rio pun akhirnya nyengir.


"Tapi penelusuran dulu ya." tukasnya.


Malam itu, Arka, Ansel dan Nino melakukan penelusuran di TPU Jeruk Purut. Sementara Rio menjadi kameramen.


"Gue takut, Nin." bisik Ansel pada Nino.


"Lo pikir gue berani?"


Nino sewot pada saudaranya itu, sementara Arka terus melangkah. Usai penelusuran sejenak, Rio menempatkan mereka satu persatu pada tempat yang dijadikan lokasi uji nyali. Arka sebagai peserta pertama dari konten menyebalkan tersebut.


"Ri, dibelakang gue ada suara nih." ujar Arka ketika acara telah dilangsungkan beberapa saat.


Rio yang berada jauh di ujung berung tampak memonitor layar.


"Tahan dulu, bro. Lo ungkapin aja apa yang lo denger atau lo liat."


"Gue nggak ngeliat apa-apa tapi banyak suara aneh." lanjut Arka.


"Ya udah bagus."


"Bagus pala lo."


"Udeh, diem lo disitu. Awas kalau sampe menyerah, gue S2 ke luar negri nih ntar. Biar lo sendirian."


Arka menghela nafas, itu adalah senjata pamungkas Rio. Ia memang tak bisa jauh dari sahabatnya itu meskipun ia super menyebalkan.


"Rio bangsat nih, emang." gerutu Arka sambil melihat ke kanan dan ke kiri dengan gusar.


"Awas aja lo ntar, gue kerjain balik." lanjutnya lagi.


Arka berhasil, lalu uji nyali dilanjutkan oleh Nino. Nino pun meski takut, namun ia berhasil melewati batas waktu yang telah ditentukan dan tak terjadi apa-apa.


Tibalah giliran Ansel, pria itu berusaha santai. Karena Rio mengatakan jika ia harusnya bersikap layaknya bule kebanyakan, yang tidak percaya takhayul serta dunia gaib.


Maka dari itu ketika masuk frame uji nyali, Ansel berusaha bersikap biasa-biasa saja. Meski jujur ia sangat takut.


Ia berusaha tegar, namun dipertengahan waktu mendadak ia berlari dari lokasi dan menuju ketempat dimana Rio, Arka, serta Nino berada.


"Gue ngeliat pocong." ujarnya dengan wajah penuh ketakutan.


Mendadak Arka dan Nino nyelonong ke arah pintu masuk TPU tersebut. Ansel berlari membabi buta, sedang Rio kini berteriak.


"Arkaaaa, peralatan gueeee."


"Bodo amaaaat...."


***