Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Welcome Home


Sejak kejadian hari itu, Amanda mencoba lebih sabar terhadap bayi-bayinya. Benar kata Arka, bahwa hanya dibutuhkan satu hal saja agar semua yang kita jalani terasa ringan.


Ya, sebuah keikhlasan. Ikhlas memang sulit, namun jika kita berhasil menerapkannya, semuanya akan terasa seringan kapas.


"Oeeeek."


Azka menangis, sementara Amanda tengah menyusui Afka. Arka yang baru tiba dari suatu tempat pun, langsung menggendong Azka.


"Sayang, papa. Belum dapat susu kamu, ya." tanya Arka kemudian.


"Udah, Ka. Malah dia duluan agak lama tadi. Terus Afka bangun, nangis."


"Koq Azka nangisnya kayak belum dikasih susu?"


"Biasa playing victim." ujar Amanda kemudian. Keduanya kini sama-sama tertawa.


"Kamu ada pompa nggak tadi?" tanya Arka.


"Ini."


Amanda menunjuk ASI yang tadi sempat ia pompa, namun hanya sebotol. Karena Anaknya keburu bangun dan langsung ia susui.


Arka lalu meraih botol susu berisi ASI tersebut, dan memberikannya pada Azka yang masih nampak kelaparan itu. Azka langsung mengenyot botol susu, seraya melihat ke mata ayahnya.


"Laper banget anak papa, abis banget ya tenaganya. Kayak abis membangun peradaban." ujar Arka yang membuat Amanda tersedak menahan tawa.


"Ka, kata dokter gimana?"


"Sebenernya kamu itu udah boleh pulang dari hari pertama lahiran, kan kamu nggak ada robekan. Tapi akunya aja yang takut, takut kamu nya kenapa-kenapa. Takut anak-anak juga masih butuh perawatan, atau ada hal yang mesti kita tanyakan soal cara mengasuh mereka. Makanya aku tahanin dulu disini. Tapi sekarang kalau kamu udah mau pulang ya, nggak apa-apa. Udah beberapa hari juga kita disini."


"Ya udah kalau gitu, aku mau pulang. Biar enak istirahatnya."


"Ya udah. Baju anak-anak yang ada dirumah, udah aku pindahin ke penthouse. Ibu-ibu rumah ngasih kado loh, mereka nanyain kamu."


"Oh ya, terus kamu bilang apa?"


"Aku janjikan mereka, nanti kita bakal bawa anak-anak kerumah itu kapan-kapan."


Amanda tersenyum.


"Nanti kita bawa anak-anak kesana, kalau udah agak gedean."


Arka mengangguk.


"Oh ya, Ka. Ibu lagi dijalan, mau kesini." ujar Amanda.


"Ibu sendiri?" tanya Arka.


"Nggak, sama papa, sama Rianti juga."


"Koq ibu nggak ngasih tau aku."


"Kan udah ngasih tau aku." ujar Amanda.


Tak lama berselang ibu Arka pun tiba, beserta sang ayah tiri dan juga Rianti. Mereka membawa kado untuk cucu dan keponakan mereka. Ketika masuk ke ruangan, suasana suka cita pun terasa. Mereka berpelukan dengan penuh haru.


"Ibu boleh gendong nggak, Amanda?" ibu Arka bertanya, ketika mereka sudah selesai mengobrol dan saling menanyakan kabar masing-masing.


"Ya boleh dong, bu. Itu kan cucu ibu, cucu papa, keponakannya Rianti." ujar Amanda kemudian.


Tak lama berselang, kedua orang tua Arka pun sudah tampak menggendong cucu mereka tersebut. Bayi Azka dan bayi Afka membuka mata, lalu melirik nenek dan Kakek mereka dengan lirikan mata yang sinis. Mereka semua pun lalu tertawa melihat kelucuan itu.


"Sinis amat, dek." Amanda meledek bayinya. Salah satu dari mereka menoleh dan menatap sinis pula ke arah Amanda, lagi dan lagi mereka semua pun tertawa.


Amanda dan Arka memutuskan untuk pulang pada keesokan harinya. Para bayi langsung di bawa ke penthouse dan menempati kamar mereka yang sebelumnya sudah dibersihkan oleh Arka.


"Welcome home, sayang-sayang nya mama."


Amanda meletakkan Afka di box bayi sebelah kanan, sedang Arka meletakkan Azka pada box bayi disisi kiri. Kedua bayi tersebut sudah terbangun sejak tadi, namun mereka tidak menangis.


"Hai."


Arka mendekat pada Amanda, wanita itu tersenyum.


"Hai juga."


"I love you." ujar Arka.


"I love you too."


***


Di sebuah gedung perkantoran yang menjulang tinggi. Seorang pria tampak terdiam, ketika sesosok wanita masuk dan duduk didekatnya.


"Cucumu yang berasal dari benih laki-laki miskin itu sudah lahir, terus mau kamu apakan?"


Rachel bertanya pada suaminya yang tengah duduk diam terpaku, sementara Amman tak bergeming sedikitpun. Hanya nafas serta kedipan matanya saja, yang menandakan jika ia masih hidup. Seluruh persendiannya terasa kaku, terhitung sejak berita tentang Amanda melahirkan mencuat dan masuk ke laman WhatsApp miliknya.


Entah dari mana Rachel mengetahui hal tersebut, yang jelas berita ini tak membuat Amman bahagia sedikitpun. Ia memiliki dua orang cucu berjenis kelamin laki-laki, itu artinya ia telah memiliki pewaris dari semua kekayaan yang ia miliki. Meskipun Amanda mungkin menolak, namun Amman bisa memberdayakan kedua cucunya tersebut.


Tapi, bukan cucu seperti itu yang ia inginkan. Mengapa ayahnya harus pria dari golongan biasa seperti Arka, mengapa Amanda tak memilih saja pria yang sukses yang memiliki power. Setidaknya memiliki perusahaan yang sama besar dengan miliknya. Paling tidak perusahaan mereka bisa beraliansi, dan membentuk sebuah kekuatan baru dalam menghadapi persaingan bisnis.


Amanda sendiri banyak bergaul dengan para petinggi perusahaan, bahkan diantara mereka banyak yang masih muda-muda. Mengapa pilihannya harus jatuh kepada Arka. Yang bahkan hanyalah seorang aktor baru, tak begitu terkenal, dan tak begitu memiliki kekayaan yang cukup. Bagi Amman, ini adalah pukulan terberat yang pernah ia alami. Bagaimana mungkin Amanda bisa mengabaikan reputasi dan nama keluarga.


Sementara disisi lain, Vera kekasih Amman yang saat ini tengah mengandung. Ia justru mengirimkan banyak hadiah kepada Amanda dan juga Arka, ia senang atas kelahiran bayi pasangan itu.


Amanda merasa tak memiliki masalah dengan Vera, maka ia pun berterima kasih atas pemberian wanita itu.


"Pergi dan amati keluarga anak muda itu, cari tau lebih dalam."


Amman memerintahkan Rachel untuk mengerjakan sesuatu, Rachel pun pergi meninggalkan ruangan tersebut. Tak lama setelahnya Vera masuk, wanita itu kini berbicara pada Amman.


"Bayi itu tidak bersalah, mereka cucumu." ujar Vera.


"Jangan ikut campur."


"Aku bukan ikut campur, hanya sekedar mengingatkan. Bahwa mereka tidak salah apa-apa dalam hal ini."


Amman menghela nafas, lalu beranjak meninggalkan ruangannya sendiri. Seakan enggan mendengarkan wejangan Vera lebih lanjut.


***


"Bro."


Rio video call dengan Arka.


"Hey, bro." jawab Arka seraya tersenyum.


"Mana anak-anak gue." ujar Rio kemudian.


Arka berjalan lalu masuk ke kamar anak-anaknya.


"Nih." Arka menunjukkan salah satu bayinya yang tertidur pulas di dalam box.


"Ini siapa?" tanya Rio lagi.


"Ini Afka, si tukang molor.


"Satunya mana?"


"Nih, melek kan yang satunya. Ini Azka si kepo, tukang begadang."


Arka menunjukkan wajah Azka.


"Hahaha, yang ini lebih mirip elo, bro. Kalau Afka kayak ibunya."


"Iya, yang ini juga kuat begadang kayak gue. Emaknya mau tidur nggak bisa mulu. Emaknya merem, dia nangis. Giliran emaknya bangun, dia diem. Nggak minta susu, nggak minta apa, cuma pengen ditemenin doang."


"Kayak lo kalau begadang, mesti banget bangunin gue. Padahal gue ngantuk banget kadang."


Keduanya kini tertawa-tawa.


"Lo lagi dimana, bro?" tanya Arka.


Rio memperlihatkan seseorang yang ada disebelahnya, ternyata Liana. Liana melambaikan tangan seraya tersenyum, Arka pun balas tersenyum dan menanyakan kabar wanita itu. Obrolan pun mencair, hingga akhirnya Rio berpamitan dan menutup telpon.


Sementara di sebuah kantor, ayah Rio yang tengah bekerja menerima telpon dari mantan istrinya. Yakni ibu Rio yang sejak belasan tahun lalu sudah menikah dengan pria lain.


"Andri, kamu itu gimana sih jagain Rio. Masa anak dibiarkan dekat dengan perempuan yang dihamili banyak orang, aku nggak mau Rio menikah sama bekas."


"Inneke, Liana itu korban pemerkosaan. Berhentilah memojokkan korban dengan memandang mereka sebelah mata. Lagipula tidak ada yang namanya bekas, manusia itu bukan barang. Kamu ini sesama perempuan, tapi koq mulutnya kayak nggak punya perasaan. Gimana kalau misalkan dibalik, seandainya Liana itu anak kita dan dia mengalami hal tersebut. Terus dia dekat sama laki-laki yang mau menerima dia, tapi ibunya si laki-laki ngomong kayak modelan kamu gini. Apa nggak hancur hati kamu. Udalah anak kamu jadi korban, dihina pula."


Inneke terdiam.


"Rio itu sudah dewasa, dia tau mana yang benar dan mana yang salah. Dia tau resiko atas pilihannya sendiri. Jadi stop menganggap dia anak kecil yang masih perlu dijaga. Lagian kamu pergi meninggalkan dia demi laki-laki lain, belasan tahun lalu. Sekarang sok sok an kamu bilang soal jaga-menjaga."


Ayah Rio lalu mematikan sambungan telpon tersebut.