Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Wisuda


Hari yang dinantikan itu pun akhirnya tiba. Setelah melalui perjalanan yang panjang, Keenan Arka Adrian dan juga Rio Ferisco Salim. Beserta seluruh mahasiswa yang telah menyelesaikan studinya, akan di wisuda.


"Ka, gue deg-deg an." Rio menelpon Arka pada malam sebelum hari H.


"Gue biasa aja." ujar Arka sambil berguling di sofa.


"Yah nggak asik lo, deg-deg an dong harusnya. Biar kayak jaman kita kecil kalau mau lebaran, udah kebayang-bayang pake baju baru."


"Hahaha." Arka tertawa.


"Arka, berisik. Anaknya bangun lagi nih." teriak Amanda dari kamar si kembar.


Arka pun menutup mulutnya sambil masih cekikikan.


"Lo dimarahin tante Firman?" tanya Rio.


"Iya, hahaha. Kayak nggak tau tabiat emak-emak aja lo." ujar Arka.


"Lagian lo, kalau ketawa suara lo nyampe ke istana Mimi Peri di kahyangan."


Lagi-lagi Arka tertawa.


"Arkaaa, iseng banget deh."


Lagi-lagi Amanda mengoceh, Arka pindah ke ruangan lain dan kembali bercakap dengan Rio.


"Tante Firman belum lo setrum kali, makanya sensi."


"Hahaha, emang. Udah beberapa hari sih, mau gimana. Gue sibuk, dia sibuk."


"Ya udah sono, kasih. Biar besok pas wisuda, lo sama tante Firman bisa sumringah di foto."


"Iye, ntar ah. Dia aja masih nungguin anak-anak gue tidur."


"Oh ya, Ka. Besok nyokap gue minta


dateng lagi, gimana dong?"


"Dateng ke wisudahan besok?"


"Iya."


"Ya kasih aja, emang kenapa. Kan itu nyokap lo."


"Bukan soal itu, gue sih nggak masalah dia dateng. Tapi kalau dia udah berhadapan sama bokap gue, pasti bakalan cekcok. Dan tau sendiri bokap-nyokap gue itu kalau ribut, mau didepan umum juga mereka kagak peduli. Yang ada gue malu, akibat sikap kekanak-kanakan mereka."


"Ya udah lo kasih peringatan ke mereka. Kalau besok mau dateng, ya jangan ribut. Bilang aja lo malu. Masa iya udah pada tua, kagak bisa ngerti."


"Udah sih, udah gue kasih peringatan kayak gitu. Cuma gue masih takut aja, kalau sampe kejadian."


"Pokoknya besok, kalau mereka ribut. Lo agak menjauh aja, kalau nggak bisa didamaikan. Lo pura-pura nggak kenal, dah nggak usah ribet. Pokoknya besok kita itu mau selebrasi atas pencapaian kita."


"Ok deh, gue tidur dulu." ujar Rio kemudian.


"Ya udah, besok jangan telat."


"Yoi."


Arka menyudahi telpon tersebut dan kembali ke ruang tengah. Kebetulan Amanda telah selesai menidurkan si kembar.


"Hey."


Arka memeluk istrinya dari belakang, Amanda pun lalu tersenyum.


"Kangen nggak sama aku?" tanya Arka.


Amanda mengerutkan dahi.


"Nggak, biasa aja." ujarnya kemudian.


Wanita itu kemudian berlalu, meninggalkan Arka untuk masuk ke dalam kamar. Ia membuka lemari untuk berganti baju tidur. Namun ketika berbalik, ia menemukan suaminya sudah bertelanjang dada. Dan berada sangat dekat dengannya.


Tanpa banyak bicara lagi, Arka langsung mendapatkan bibir wanita itu. Amanda lalu membalasnya dengan sangat.


"Aku minta hadiah wisuda aku." ujar Arka lalu tersenyum, Amanda pun balas tersenyum. Dan dalam tempo berikutnya, semua itu terjadi begitu saja. Keduanya lalu terhempas dan tertidur dengan nyenyak hingga pagi.


***


"Keluarga lo udah dateng?" bisik Arka pada Rio yang duduk di sebelahnya.


"Udah, tapi udah gue wanti-wanti. Intinya kalau mereka ribut, gue akan pura-pura nggak kenal sama mereka. Gue juga bilang ke bokap gue, kalau dia nggak mau dengerin gue. Gue akan mencoret diri gue sendiri dari kartu keluarga."


Arka dan Rio cekikikan, namun dengan suara yang amat sangat ditahan. Acara hari itu berlangsung lancar, mereka semua merasa lega. Karena akhirnya bisa menyandang gelar sarjana.


Arka berterima kasih pada ibu dan ayah tirinya, yang sudah membesarkan dan membimbingnya selama ini. Ia juga berterima kasih kepada Amanda. Karena berkat wanita itu juga, kuliahnya bisa berjalan dengan lancar.


"Anak-anak mana, Man." tanya Arka, ketika mereka semua telah keluar dari hall.


"Tuh." Amanda menunjuk ke suatu arah, Arka pun terkejut.


Ia tak tahu jika Amanda memesan kostum wisuda untuk anak-anaknya yang masih bayi. Afka dan Azka yang tengah digendong oleh Ryan dan Rianti itu pun, dibawa mendekat ke arah Arka. Arka dan Amanda langsung menyambut kedua bayi itu, mereka terlihat sangat menggemaskan.


"Kalau mau foto, sekarang aja mbak, mas. Tadi tuh mereka ngamuk, nangis-nangis." ujar Rianti.


"Kenapa nangis, hmm?" Arka bertanya pada bayinya.


"Iya, tadi perasaan excited banget mau pergi." timpal Amanda.


"Eheeee."


"Hoayaaa."


"Ya udah, kita foto dulu yuk." ujar Amanda.


Mereka kemudian berfoto bersama. Awalnya hanya Arka dan Amanda, lalu mengajak si kembar. Kedua bayi itu tampak sumringah dalam jepretan kamera.


Kemudian, foto dilanjutkan dengan Arka saja bersama ibu dan ayah tirinya, lalu masuk rianti. Amanda menggantikan rianti, para bayi digendong nenek dan kakeknya didalam foto.


Kemudian, Arka bersama Ryan. Lalu mereka semua bersama-sama dengan Rianti sebagai fotografer.


"Hmmph."


"hahahha."


Arka tak kuasa menahan tawanya, ketika Ansel muncul bersama Nino. Nino membawa buket berisi fried chicken, sedang Ansel membawa buket berisi kuntum bunga matahari yang besar-besar dan panjang. Arka terbahak-bahak, begitupula dengan yang lainnya. Sementara Ansel berjalan dengan cool, sambil membawa dan menyerahkan bunga tersebut.


"Lo apa-apaan, bangsat." ujar Arka masih terus terkekeh.


"Eh, Ka. Jangan salah. Bunga matahari itu, ada filosofinya." ujar Ansel.


"Lagu lu, filosofi." ujar Arka kemudian. Ia masih ingin tertawa ngakak, namun berusaha keras ia tahan.


"Nih ya, bunga matahari. Ini gue bawa, supaya elo menjadi seperti bunga matahari. Selain indah, dan warna lo terang benderang. Lo juga menghasilkan kuaci yang berguna bagi hamster, tikus tanah dan manusia. Kuaci itu manfaatnya banyak untuk kesehatan. Lo gue doain bisa menjadi orang besar yang berguna, seperti bunga matahari ini. Dia nggak sekedar besar, nggak sekedar indah dipandang. Tapi juga menghasilkan dan bermanfaat bagi semua."


"Prok, prok, prok."


Terdengar tepuk tangan dari berbagai arah, ternyata teman-teman Arka yang lain mendengarkan celotehan Ansel sejak tadi. Ansel pun menundukkan kepalanya berkali-kali, seakan dirinya kini tengah berada di atas panggung kehormatan.


Arka hanya bisa tertawa, tak lama kemudian Rio mendekat. Ia juga tertawa-tawa melihat bunga matahari tersebut. Lalu pada detik berikutnya, mereka kembali berfoto-foto.


***


Esok harinya ibu Arka mengadakan syukuran kecil-kecilan, berupa tumpengan dan liwetan yang mereka gelar dirumah. Sebagai wujud rasa syukur, karena Arka telah berhasil menyelesaikan pendidikannya.


Ningsih, Attar, Arka, Amanda, dan Rianti liwetan di dalam. Sedang tetangga kanan kiri, serta geng bu Mawar liwetan di teras. Turut hadir pula Rio, Ansel, Nino serta Jordan. Mereka ikut makan bersama Arka dan keluarga.


"Daddy mana?" tanya Arka pada Nino, lalu menyuap nasi.


"Biasa, Pamela." ujar Nino kemudian.


"Hmm, bau-bau akan punya ibu tiri baru nih." ujar Arka.


"Yoi, siap-siap aja pake batik. Buat bawa hantaran." ujar Nino.


Mereka lalu tertawa.


"Emangnya semua orang disini, kalau graduation begini?" Jordan bertanya pada Rio yang duduk disisinya.


"Kagak, Arka doang udah yang begini. Ini karena dia udah kerja aja, baru wisuda. Makanya di rayain. Coba kalau dia wisuda doang tapi masih pengangguran, bakalan stress berat tuh dia."


"Kenapa emangnya?" tanya Jordan lagi.


"Iya pasti bakalan dipaksa cari kerja lah, udah gitu nggak boleh yang gajinya kecil."


"Kenapa emangnya?"


"Karena dia udah sarjana. Di kita itu, kalau anak udah sarjana, tapi dapat gaji kecil. Sering dibawain sapu sama panci oleh emaknya."


"Oh ya?"


"Iya."


"Buat apa panci sama sapu?" tanya Jordan lagi.


"Buat gebukin anak." ujar Rio kemudian.


Jordan manggut-manggut, meski tak begitu paham. Ia lalu melanjutkan makan.


***


"Selamat ya, Ka. Sekarang kamu udah sarjana."


Amanda berujar ketika mereka tengah duduk sambil ngopi di ruang tamu. Sementara yang lain masih di teras, duduk manis sambil menikmati makan sesi kedua. Yakni berupa dessert serta minuman baik hangat maupun dingin


"Makasih ya, Man. Ini juga ada campur tangan kamu. Aku nggak nyangka gara-gara kuliah macet, aku jadi ketemu kamu."


Amanda tersenyum, begitupula dengan Arka.