
"Semua sudah siap, pak."
Pengacara yang di sewa oleh Amman berkata pada pria itu di telpon. Menegaskan jika tuntutan terhadap pernikahan Arka dan juga Amanda sudah bisa dilayangkan.
"Ok tahan dulu, semuanya." ujar Amman kemudian.
"Kalau memang Arka tidak bisa meninggalkan anak saya secara baik-baik, kita baru akan menggunakan semua ini. Saat ini, saya ingin bernegosiasi dulu lebih lanjut." ujarnya lagi.
"Baik, pak."
"Nanti saya kabari lagi."
"Baik, pak."
Amman menyudahi telponnya.
"Bagaimana?" tanya Rachel kemudian.
"Beres." jawab Amman pada istrinya itu.
"Ok, aku akan urus urusan si anak palsu mu, princess Mauren. Aku akan menemu Fritz siang ini."
"Good, aku akan belikan kamu kalung berlian yang mahal. Design terbaru, limited edition." ujar Amman.
Rachel tersenyum, lalu meninggalkan ruangan suaminya itu. Rachel melangkah dengan tenang dan penuh kebahagiaan. Sampai kemudian ia terpaku dan terdiam, ketika melihat Vera melintas dengan perut yang membesar.
Seisi kantor tahu, jika Vera belum menikah. Lalu bayi siapa yang ada didalam kandungannya itu?. Rachel pun buru-buru menyusul Vera dan menghentikan langkah wanita itu, hingga Vera pun terkejut dan terdiam dengan tubuh sedikit gemetaran.
Sudah beberapa minggu terakhir mereka tak bertatap muka, karena sejatinya Vera tak pernah ada urusan dengan istri bosnya tersebut. Begitupula dengan Rachel, ia tak punya banyak urusan dengan Vera. Hingga mereka sangat jarang bertemu. Rachel tidak tahu jika perut wanita itu sudah membuncit, entah oleh perbuatan siapa. Namun feelingnya mengatakan jika perempuan itu ada main dengan suaminya.
"Hai." ujar Rachel seraya memperhatikan Vera.
"Hai." ujar Vera berusaha bersikap biasa saja.
"Saya merasa tidak diundang ke acara pernikahan kamu." Rachel menyilangkan kedua tangan di dadanya, seraya memperhatikan Vera dari atas ke bawah. Namun matanya tetap selalu fokus ke bagian perut Vera, yang menyembul ke depan.
"Ini anak pacar saya." ujar Vera kemudian, nada bicaranya terdengar gugup.
"Kenapa buru-buru menjelaskan, saya kan tidak mencurigai apa-apa." ujar Rachel seraya makin menatap wanita itu dalam-dalam. Vera seakan terjebak oleh sikapnya sendiri.
"Lalu kenapa menyinggung soal pernikahan saya?" tanya nya kemudian.
"Ya, mungkin saja kamu sudah menikah dan sengaja tidak mengundang saya."
"Vera." Tiba-tiba Amman memanggil Vera, seakan takut jika semuanya akan terbongkar.
"Iya, pak." ujar Vera dengan nada yang kian gugup.
"Sudah kamu kerjakan laporan yang tadi?"
"La, laporan apa ya, pak."
Vera agaknya sulit menangkap kode yang diberikan Amman, karena terlanjur merasa gugup pada kehadiran Rachel yang tiba-tiba.
"Mmm, i, iya pak." Ia lalu mengerti pada akhirnya.
"Saya kerjakan sekarang." ujarnya lagi.
Vera pun lalu pergi meninggalkan tempat itu, sementara Rachel masih curiga. Namun karena sedang tak mau berdebat, ia pun turut pergi dan menghilang di balik pintu lift.
***
Siang itu, Maureen melintas di depan mobil Arka yang baru saja tiba di muka kampus. Gadis itu membuka kap atas mobilnya dan sengaja menoleh pada Arka, ia tampak mengenakan kaca mata hitam seharga jutaan rupiah. Niat hatinya ingin pamer dan sombong dihadapan sang mantan pacar, namun Arka cuek saja seraya berjalan dan menelpon seseorang.
"Dih, sok banget." ujar Maureen kemudian, ia kesal karena Arka tak tercengang melihatnya.
"Sok cool, sok ganteng." lanjutnya lagi.
"Hai, Maureen."
Teman-teman grup kecentilan Maureen, datang mendekati gadis itu. Seketika Maureen yang tadinya kesal mendadak mood swing menjadi senang.
"Hai." ujarnya seraya keluar dari dalam mobil, dengan gaya sok selebritis.
Kini setelah membawa mobil baru dan mewah, penampilannya sangat berubah. Maureen lebih berani mengenakan pakaian sexy saat ke kampus.
"Si Maureen mau belajar, apa mau dugem tuh?" tanya Widya pada Chanti, yang tengah duduk sambil menunggu kelas. Mereka tak sengaja melihat Maureen.
"Mungkin abis ngampus, mau dugem kali." ujar Chanti berspekulasi.
"Pede gila ya, dia pake baju sexy bling-bling gitu. Kayak lady Gaga mau manggung tau nggak." ujar Widya lagi.
"Lady Gaga mah kecakepan. Ini si Maureen, kayak grup lenong yang dateng kecepetan. Harusnya malem, eh datengnya siang."
Widya terbahak mendengar ucapan Chanti.
"Tuh, tuh, tuh. Tas LV, sepatu Louboutin, dress gelandangan Korea." ujar Chanti.
Lagi-lagi Widya terbahak-bahak.
"Udah ah, Chan. Deket lo banyak dosa, gue." ujar Widya kemudian.
Sementara Maureen terus berdiri didekat mobilnya seraya berbincang dan tertawa cekikikan. Seakan sangat meminta untuk diperhatikan sekitar.
***
"Kamu mau belajar agama di mana?"
"Ya ditempat belajar agama, masa di tempat belajar tiktok an?"
"What is the tiktok?" tanya Ryan pada putra sulungnya itu.
"Daddy nggak tau apa itu tiktok?. Really?" tanya Ansel tak percaya. Ryan pun mengangguk.
"Palpale palpale palepal pale-pale."
Beberapa saat kemudian keduanya sudah terlihat joget tiktok bersama di akun milik Ansel.
"So, this is tiktok?" tanya Ryan sambil terus mengikuti gerakan Ansel.
"Ya, it's funny right?"
"Yes, but so weird." Ryan merasa aneh, namun terus bergerak mengikuti bedebah bernama Ansel tersebut.
"Yang penting happy, dad." ujar Ansel kemudian.
Ia lalu mengajak Ryan melakukan gerakan lain. Hingga ketika Nino tiba, Nino pun tercengang melihat kelakuan dua anggota keluarganya itu.
"Dad, really?" ujarnya seakan tak percaya. Ia mengerutkan kening, ketika menatap kelakuan kedua orang itu.
"Hei Nino, this is so funny. Come on, ayo gabung." ajak Ryan kemudian. Namun Nino lalu terbahak-bahak.
"Ngapain sih?" tanyanya pada Ansel.
"Ini tiktok an, Nino. Jangan terlalu kaku." ujar Ansel pada saudaranya itu.
"Iya gue tau itu tiktok an, tapi lo lagi ngapain. Ngajakin daddy lagi. Kayak anak alay tau nggak, lo."
"Ini goyang harta dan tahta, jelek nggak papa, asal banyak mobilnya." ujar Ansel kian membuat Nino tertawa-tawa.
Beberapa saat berlalu, Nino pun dipaksa ayahnya untuk ikut. Jadilah kini ia mengikuti gerakan dibelakang, dengan muka datar dan keki setengah mati.
"Dad."
Tiba-tiba Arka masuk dan menemukan pemandangan mencengangkan itu. Ia memang janjian dengan Ryan untuk bertemu dan membicarakan sesuatu.
"Ka, lo ikut Ka." ujar Nino seakan tak ingin saudaranya itu berdiam diri.
"Nggak mau ah, ngapain sih lo semua?" tanya Akra sambil menahan tawa.
"Lo kalau nggak mau, gue hajar. Gue nggak mau gila sendirian." ujar Nino lagi.
"Come on Arka." ujar Ansel dan ayahnya nyaris di waktu bersamaan.
"Ih nggak mau, apaan sih?" ujar Arka dengan nada yang mulai sewot. Ia tak mau terlibat dengan kegilaan ini, namun kemudian Ansel memaksa dan menariknya. Jadilah kini ia berdiri disisi Nino.
"Kenapa sih Nin, gila ngajak-ngajak." ujarnya kemudian.
"Noh kakak sama bapak kita noh yang gila." ujar Nino seraya masih mengikuti gerakan.
Mereka lalu joget bang Jali.
"Jadi, Ansel mau belajar agama?" tanya Arka pada mereka semua, ketika acara tiktok an telah selesai. Mereka masuk FYP dan ditonton banyak orang.
"Ya, tapi daddy nggak ngasih." Ansel menggerutu, namun bernada mengadu pada kedua saudaranya.
"Bukan daddy nggak ngasih. Cuma nggak usah pergi, belajar saja disini. Kamu bisa sambil kerja, memang kamu pikir Intan mau makan batu setelah kamu nikahi."
"Tapi dad, nanti nggak konsentrasi." ujar Ansel lagi. Ia seolah telah benar-benar bertekad untuk mempelajari agama.
"Bisa, bagi aja waktunya." Ryan masih bersikeras. Ia tak ingin anaknya belajar agama jauh-jauh dari pandangan matanya.
Nino dan Arka saling bersitatap.
"Ya kasih dulu aja, dad. Kalau emang Ansel mau serius belajar." ujar Nino diikuti anggukan Arka.
"Paling satu bulan, buat pengenalan dulu." timpal Arka.
"Emangnya kamu mau belajar agama dimana?" tanya Ryan pada Ansel.
"Nggak tau, aku juga nggak tau Intan agamanya apa."
"Lah si Bambang." ujar Nino diikuti tawa Arka.
"Arka tau nggak?" tanya Ansel.
"Ya mana gue tau, tanya lah sama Intan. Kan pacar lo."
"Oh ya udah deh, ntar gue tanya." ujar Ansel kemudian.
Nino dan Arka saling bersitatap seraya menghela nafas dan menahan senyum.
"Saudara lo tuh." ujar Arka pada Nino.
"Saudara lo juga, ege." balas Nino.