
Sudah tiga hari Arka dirumah, dan selama itu pula Amanda belum memberikan izin padanya untuk beraktivitas di luar. Tidak dengan alasan apapun, wanita itu sangat keras kepala dan tak mau merubah keputusannya.
Tipikal pemimpin yang tegas dan tak goyah akan hal apapun. Tentu saja Arka mulai merasa bosan, meski segala aktivitas kampus masih bisa ia kerjakan via online. Ia ingin pergi keluar rumah dan bertemu teman-temannya. Sekedar untuk ngopi, ngerokok, atau membahas hal yang tak penting.
Ingin rasanya ia protes, namun melihat kondisi Amanda yang tengah hamil dan gejolak hormonnya yang terkadang seperti roller coaster. Arka takut wanita itu akan berubah menjadi naga yang bisa menyemburkan api. Akhirnya ia pun memilih diam, meski hatinya begitu dongkol.
"Ka."
Amanda memanggil Arka yang kini membelakanginya ditempat tidur.
"Hmm." jawab Arka masih terus membelakangi istrinya tersebut.
"Tau nggak ini malem apa?"
"Malem jum'at." ujar Arka.
"Berarti ini malem?"
"Ya malem jum'at." jawabnya lagi.
"Biasanya kalau malem jum'at, orang ngapain?"
"Ya banyak, ada yang baca kitab suci, ada yang kebaktian, ada yang ladies night di klub malam, ada juga yang nonton sinetron. Tergantung maunya orang itu apa."
"Terus apa lagi?"
"Ya kayak kita gini, malem jum'at tidur."
"Kamu emangnya nggak mau?" tanya Amanda.
"Apa?" Arka menjawab dengan nada seperti orang yang mengantuk.
"Beneran?" tanya Amanda lagi.
Arka tak menjawab. Amanda kini mendekatkan diri ke tubuh sang suami, yang masih setia membelakanginya itu.
"Ka, kamu nggak mau emangnya. Menjalankan sunah..."
"Hroooook."
"Hroooook."
Tiba-tiba saja Arka mendengkur, sebelum Amanda menyelesaikan kata-katanya. Ia kini melihat ke wajah suaminya itu dan benar saja, suaminya itu sudah terlelap. Amanda pun menghela nafas dengan penuh kedongkolan hati. Sementara ditempatnya, Arka membuka mata seraya menahan senyum.
Sungguh ia ingin sekali melakukan hal tersebut, keinginannya sudah terasa di ubun-ubun. Namun ia juga ingin memberikan hukuman terlebih dahulu pada istrinya itu, agar Amanda mendapatkan sedikit pelajaran.
Esok harinya, Arka sengaja bangun pagi-pagi sekali. Bahkan sebelum Amanda membuka mata. Ia tahu setiap hari jum'at, Amanda selalu bekerja dari rumah. Maka ia pun sengaja untuk memberi hukuman lanjutan pada istrinya itu.
Arka sengaja berjalan di treadmil yang ada di salah satu ruangan, Amanda memang memilikinya sejak dulu. Arka hanya memakai celana pendek dan bertelanjang dada, memperlihatkan tubuh sixpack nya yang menggoda.
Tak lama kemudian, dari pintu ruangan. Amanda sudah terlihat berdiri disana. Arka dapat melihatnya dari pantulan kaca besar, yang ada dihadapannya. Namun pemuda itu memilih pura-pura tidak sadar, jika dirinya tengah diperhatikan oleh Amanda.
Arka makin menjadi-jadi, ia menghidupkan musik yang dapat membangkitkan semangatnya dalam berolahraga. Tak lama setelah treadmil, ia pun beralih mengangkat beban pada barbel-barbel yang juga tersedia disana.
Arka sengaja memperlihatkan otot-ototnya sambil bergaya sok paling sexy, membuat Amanda kian tertegun dan menelan ludah. Ingin rasanya perempuan itu segera mendekat dan memaksa Arka.
Namun ia merasa harga dirinya terusik, setelah semalam Arka seolah menolaknya. Amanda ingin mencoba menaklukkan Arka dan membuat Arka memohon padanya. Maka dari itu sejak tadi, ia mengenakan gaun tidur tipis menerawang. Dengan belahan yang menantang.
Ia berdiri di pintu dengan tangan yang bersandar di tempat yang sama. Ia memasang pose terseksinya dengan pandangan yang mencoba menggoda Arka.
Arka kemudian menyelesaikan olahraganya, lalu berjalan ke arah pintu. Tampak Amanda yang memberikan senyuman nakal padanya. Namun Arka menatap istrinya itu dengan ekspresi bengong.
"Kamu kenapa, Man?" tanyanya kemudian. Arka pun berlalu, sementara Amanda kian merasa dongkol.
Arka menahan tawa demi mengingat ekspresi wajah Amanda tadi, ia benar-benar larut dalam permainan yang ia buat. Ia suka melihat Amanda menjadi tersiksa. Ia belum akan mengakhiri semua ini, kecuali tujuannya untuk bebas sudah tercapai.
"Hhhh, sok jual mahal banget sih." Amanda menggerutu di kamar.
"Liat aja, aku atau kamu yang nyerah. Jangan panggil aku Amanda, kalau aku nggak bisa bikin kamu bertekuk lutut." ujarnya kemudian.
Amanda pura-pura menonton televisi, ketika Arka masuk dan menuju ke kamar mandi. Di bawah terpaan shower, Arka sejujurnya sudah sangat tegang sekali. Ia ingin segera menjamah istrinya itu, namun ia juga harus menahan diri untuk tidak kalah. Ia harus menjalankan dulu rencananya, sampai mendapat tebusan berupa kebebasan di esok hari. Sebab ia tak mau terus-terusan di kurung seperti ini.
Usai mandi, Arka tak menemukan Amanda lagi dikamar. Arka sedikit khawatir, jangan-jangan wanita itu ngambek dan pergi dari rumah. Ia kemudian bergegas keluar kamar dan mencari dimana keberadaan istrinya itu. Ternyata di sebuah ruangan, Amanda tampak tengah membuka semua benang yang menutupi tubuhnya.
Ia membakar lilin aromaterapi, membuat gerakan seperti tarian sambil mengolesi tubuhnya dengan minyak zaitun. Kali ini gantian Arka yang menelan ludah. Laki-laki itu memalingkan wajah dan membuang nafas melalui mulut berkali-kali.
"Jangan tergoda, Ka." ujarnya pada diri sendiri.
Sementara ditempatnya, Amanda mulai tersenyum. Ia melihat dari pantulan kaca, jika Arka tengah melawan kehendak yang bergejolak dalam dirinya. Ia terus saja menari seolah tak melihat keberadaan Arka. Ia membuat gerakan, serta sentuhan yang makin membuat Arka sakit kepala.
Ia pun memejamkan mata, berbaring pada sebuah tempat tidur. Lalu menutup tubuhnya dengan sehelai selimut tipis. Namun aroma terapi yang ia hidupkan, ternyata menjadi senjata makan tuan. Amanda yang hampir berhasil menggoda Arka tersebut, malah benar-benar terlelap dalam tidur.
Beberapa jam berlalu, Amanda terbangun dari tidurnya yang nyenyak. Namun ia mendapati kedua tangannya yang diikatkan ke ranjang, dengan menggunakan dua buah dasi.
"Kaaaa."
Amanda tau siapa pelakunya, Arka tiba dengan hanya mengenakan celana pendek.
"Ka."
"Hmmh." Amanda mulai memberikan reaksi.
Arka membuka lebar kedua tabir itu, dan terlihatlah sesuatu yang menggoda keteguhan hati. Arka tetap bersikap tenang, meskipun itu membuatnya tegang.
Ia mulai menumpahkan olive oil ditangan lalu mengoleskannya di perut Amanda. Ia terlihat dingin, namun dengan tangan yang mulai menjelajah kesana kemari.
"Kaaa."
Amanda mulai memberontak. Ingin rasanya ia melepaskan ikatan tangannya dan langsung menarik serta memaksa Arka. Namun ia kini berada dalam permainan Arka.
Pemuda itu tersenyum tipis, seakan tengah menikmati kemenangan. Ia terus memberikan sentuhan yang membuat Amanda mengerang dan meracau.
"Hmmh, Arkaaa."
Arka memberikan sentuhan di bagian yang tepat, seraya matanya kini menatap mata Amanda.
"Kaaa."
"Hmm?" Arka menjawab seraya mengangkat alis dan tersenyum tipis.
Amanda dapat melihat kelicikan dimata sang suami. Namun apa daya, wanita mana yang akan tahan jika diperlakukan seperti itu. Setiap sentuhan yang diberikan Arka, menimbulkan getaran serta denyut tersendiri.
"Ka, pelase."
"Kamu ngomong apa?. Aku nggak denger."
Arka mulai mengeluarkan sifat dominan, ditengah arogansinya yang tinggi.
"Please." jawab Amanda.
"Apa?"
"Please, Ka. Please."
Arka mulai melucuti sisa penutup terakhir di dirinya, dan membuangnya begitu saja ke lantai. Lalu ia pun mulai bermain di pintu kenikmatan itu.
"Please, Ka." Amanda sepertinya sudah kehabisan pertahanan.
"Janji dulu, besok kamu izinin aku ke kampus."
"Hmmh, nggak, hmmh." Amanda masih berusaha menolak.
"Oh, jadi gitu." Arka berniat menghentikan aktivitasnya.
"Ok, Ka. Aku izinin." Amanda tiba-tiba menyerah, Arka tersenyum. Ia mulai memberikan apa yang diinginkan istrinya itu secara perlahan.
"Arkaaa."
Arka melepaskan ikatan tangan istrinya dan membiarkan tangan wanita itu menjelajah liar. Ia sudah menahannya sejak semalam, dan kini saatnya ia melakukan apapun yang ia mau.
Hari beranjak siang, lenguhan dan erangan terdengar di segala penjuru. Hingga kemudian, mereka terhempas dalam puas. Keduanya saling berpelukan.
Tak lama kemudian, Arka menggandeng Amanda menuju kamar mandi. Pada sebuah bathub yang dipenuhi bunga.
"Kapan kamu beli bunga-bunga ini?" tanya Amanda seraya memperhatikan lantai dan bathub yang dipenuhi bunga mawar merah.
"Tadi pagi, via online. Sebenernya udah dari semalem ordernya, pas aku pura-pura tidur."
"Oh jadi semalem pura-pura tidur."
"Iya dong."
Amanda kesal, namun Arka menyuruhnya berendam dalam bathub. Air didalam bathub tersebut sudah diatur volumenya. Sehingga ketika berendam sambil tiduran, perut buncit Amanda menyembul keluar. Sementara bagian tubuhnya yang lain ditutupi bunga. Arka lalu mengambil sebuah kamera dan memfoto istrinya dari atas. Tampak sebuah foto maternity shoot yang terlihat profesional.
"Ka, kamu ngapain?" tanya Amanda tak mengerti.
"Liat." Arka memperlihatkan hasil fotonya pada Amanda. Tampak begitu natural dan juga cantik.
"Bagus ka."
"Coba deh kamu pose, tapi jangan sampe bagian lain keliatan ya. Perutnya aja nggak apa-apa."
Amanda pun mulai berpose, Arka lalu mengambil beberapa gambar.
"Cekrek."
"Cekrek."
"Cekrek."
Tak lama kemudian, Arka membersihkan diri di shower room. Ia lalu keluar untuk berpakaian, membuat segelas jus buah untuk istrinya dan kembali ke kamar mandi. Ia membawakan jus buah tersebut, lalu memberi pijatan pada bahu dan punggung istrinya.