
"Kamu itu sudah lama sekali nggak kesini."
Sahabat mendiang ibu Amanda berujar pada Amanda. Hari ini, istri dari Keenan Arka Adrian tersebut datang berkunjung. Sudah beberapa tahun terakhir, ia tidak menemui wanita yang sering ia panggil tante itu. Lantaran sang tante memiliki kedekatan yang sangat dengan mendiang ibunya. Setiap kali melihat tantenya itu, Amanda sering sedih karena seperti melihat ibunya sendiri.
"Ini minum dulu." Tante Titiek, begitu ia kerap disapa, meletakkan segelas teh hangat ke atas meja makan.
"Tante dengar, kamu sekarang sudah menikah dan memiliki anak."
"Iya, tante."
"Tante juga dengar suamimu masih muda, katanya."
Amanda tersenyum.
"Iya, tante."
"Tante sih nggak masalah, yang penting kamu nya bahagia. Menikah sama laki-laki yang lebih tua pun belum tentu menjamin kebahagiaan."
Lagi-lagi Amanda tersenyum.
"Tapi satu nasehat tante, hati-hati. Jaga pernikahanmu baik-baik. Suamimu itu masih muda, pasti banyak perempuan disekitarnya yang mau sama dia. Apalagi katanya suami itu artis."
Amanda meminum tehnya, lalu mengangguk.
"Tante baik-baik aja, kan?" tanya Amanda kemudian.
"Tante baik, cuma agak sepi aja. Om mu kan masih sibuk kerja, adek-adekmu sudah pada di luar negri semua.
"Mario sama Marcell, kuliah tante?"
"Kalau Mario iya, kuliah. Marcell sudah bekerja sebagai dokter di Amerika sana."
"Oh gitu, jarang pulang dong tante."
"Iya, makanya ini rumah sepi." ujar tante Titiek kemudian.
Amanda kembali meminum tehnya. Dihadapannya ada kue yang ia bawa tadi, namun tante Titiek juga menyediakan beberapa kudapan lain untuknya.
"Kapan-kapan, ajak bayi-bayi mu kesini. Biar dia merasa punya nenek dari ibunya. Lagian juga tante sepi sekali. Kadang tante kalau bosen main sosmed, tante ngobrol sama tanaman."
Amanda hampir tersedak menahan tawa.
"Tante sama persis kayak mama dulu, suka ngomong sama tanaman."
"Kan sama ibumu itu berteman dari kecil. Satu nggak waras, ya nggak waras semua."
Tante Titiek dan Amanda tertawa.
"Nanti lah tante, nanti Amanda bawa anak-anak kesini."
"Namanya siapa anakmu?"
"Afka sama Azka, tante."
"Nih fotonya."
Amanda memperlihatkan foto kedua anaknya pada tante Titiek.
"Oalah, ganteng-ganteng semua. Gemes, umur berapa bulan?"
"Tiga bulan, tante."
"Owalah."
"Ini si Afka, dia suka banget ngeliat tanaman tante."
"Oh ya?"
"Iya, dia kalau ngeliat pohon tuh, suka. Ngeliat bunga, rumput, pokoknya semua jenis tanaman."
"Kalau yang satunya?"
"Kalau Azka, dia suka nonton. Kalau nemenin papanya main PS, dia suka ngeliatin. Fokus banget, sampai kadang aku deketin tangan ke mukanya biar dia ngedip."
Tante Titiek tertawa mendengar semua itu.
"Pokoknya nanti, jangan nggak. Kamu harus ajak mereka kesini, biar tante sekali-sekali ada temennya."
"Iya, tante." ujar Amanda seraya tersenyum.
"Ini aja, Amanda sebenernya nggak sengaja lewat. Karena tadi ada ketemu klien didekat sini. Pas lewat, inget tante. Ini aja Amanda beli kue di toko depan sini."
"Yang di ujung jalan situ kan?"
"Iya tante."
"Ya udah karena kamu udah mampir, jangan pulang dulu sebelum makan sayur lodeh buatan tante."
Amanda tersenyum, ibunya dan tante Titiek adalah pembuat sayur lodeh terbaik menurut versi lidahnya.
"Iya, tante. Amanda mau." ujar Amanda kemudian.
***
"Arka."
Ryan yang baru keluar dari dalam mobil mewahnya itu langsung menghampiri Arka, yang baru saja keluar dari kantor sore itu.
"Ryan?"
Ryan tersenyum.
"So, kita ngopi?" tanya Ryan pada puteranya itu.
"Mmm."
"Saya bertanya sudah sejak beberapa hari lalu, saat kamu datang ke perusahaan saya. Tapi sampai hari ini, kamu belum memberi kabar soal kapan kita bisa ngopi."
Arka tersenyum.
"Ok." ujar Arka kemudian.
"Saya bawa mobil sendiri." ujar Arka.
"Ok, Green Lake Coffe Kencana 2."
Arka menghela nafas dan menganggukkan kepala.
"Ok." ujarnya kemudian.
Ryan masuk kedalam mobilnya, sedang Arka masuk ke dalam mobil Amanda yang biasa ia gunakan. Mereka pun lalu meninggalkan pelataran Sinar Surya Company.
Cukup lama mereka berada di perjalanan, karena terjebak sebuah kemacetan panjang. Namun setelah itu mereka sudah tampak duduk bersama di sebuah tempat, disudut kafe tersebut. Ryan menyeruput kopinya, begitu juga dengan Arka.
"So, sudah berpikir untuk pindah kantor?"
Arka tertawa mendengar pertanyaan tersebut.
"Mmm, not really." ujarnya kemudian.
"Why?. Soal gaji kah?"
Arka kembali tertawa.
"Kalau soal itu, saya bisa kasih yang lebih baik." ujar Ryan.
Arka menghela nafas.
"Bukan soal itu, sejauh ini pak Putra adalah bos yang baik. Nggak semua tempat kerja bisa memberikan kenyamanan pada karyawannya."
"Saya bisa jadi lebih baik dari dia, dan kantor saya berisi orang-orang yang friendly."
"Ok, beri saya sedikit waktu." ujar Arka lalu kembali menyeruput kopinya.
"May I know, kenapa kamu menikah cepat sekali?"
Ryan mulai bertanya mengenai hal pribadi Arka.
Arka pun diam.
"E, sorry. Saya bertanya karena dulu saya juga menikah muda." ujar Ryan kemudian. Ia takut Arka tersinggung soal pertanyaan yang ia lontarkan barusan.
"Hhhhh."
Arka menghela nafas.
"I love her." ujar Arka singkat.
"Ow, ok."
Ryan tampaknya mengerti, namun jawaban Arka seakan masih menyisakan misteri. Seolah ada kisah lain dibalik itu semua, namun Ryan tak ingin mengorek privasi anaknya lebih lanjut.
"I miss your babies."
Ryan mengeluarkan pernyataan yang membuat Arka terhenyak, padahal Ryan baru bertemu bayi-bayinya beberapa kali.
"Mereka sehat dan ada dirumah, kapan-kapan datang saja kerumah." ujar Arka.
"Itu semacam undangan?" tanya Ryan.
"Mm, ya." Arka menjawab lalu tersenyum.
Waktu berlalu dan obrolan mereka pun berlanjut.
***
"Dia suka kali sama lo, Ka."
Rio membuat Arka yang tengah minum, tersedak.
"Anjrit, gue ditaksir kakek-kakek bule." ujarnya seraya meneruskan minum.
"Ketimbang lu ditaksir kakek Sugiono."
"Uhuk, bangsat lo. Gue minum dulu, anjay." Arka sewot karena aktivitas minumnya menjadi terganggu, sementara Rio terkekeh.
Arka meminum kembali air putihnya lalu berkata.
"Ryan tuh bapaknya Nino sama Ansel. Anak udah dua, masa iya naksir laki-laki."
"Oh dia yang ngangkat Nino jadi anak, terus dia bapaknya Ansel juga?"
"Iya. Dia nemuin gue kemaren, buat membujuk gue supaya gabung di perusahaannya. Nino, dia punya usahanya sendiri. Sedangkan Ansel, nggak mau ngurusin perusahaan dia."
"Dia cerita sama lo kayak gitu?" tanya Rio.
"Iya." jawab Arka.
"Wah, Ansel sama kayak gue tuh. Gue juga mager banget anjir, nerusin usaha bokap. Tapi masalahnya, dia itu baik banget selama jadi bapak gue."
"Lah, sebelum dia jadi bapak lo, dia jadi apa?"
"Jadi-jadian." ujar Rio seraya tertawa.
"Maksud gue, bokap gue tuh adalah ayah yang baik banget. Gue mau nolak permintaan dia tuh, mikir dulu. Segan, takut dia sedih. Makanya gue iya-iyain aja, waktu dia minta gue cepet selesai kuliah. Supaya bisa ngurus usahanya dia."
Arka menghela nafas.
"Sabar ya, bro." ujarnya seraya menepuk bahu Rio. Namun kemudian mereka sama-sama tertawa, karena Arka malah memukul bahu sahabatnya itu dengan keras.
"Lo pindah aja tau, bro. Ke perusahaannya Ryan. Mumpung kedua anaknya itu nggak ada yang mau, lo bisa tunjukin kinerja terbaik lo. Bisa aja kan, dia mempercayakan elo sebagai direktur utama disana nantinya."
"Halu, anjay." ujar Arka sambil tertawa, pemuda itu mereguk kembali air putih yang ada dihadapannya.
"Ye, siapa tau aja. Ya, kan?. Mana kita tau kalau nggak dicoba."
"Iya sih, tapi halu lo emang bener kebangetan." ujar Arka lagi.
"Halu adalah sebagian kecil dari doa, bro. Halu aja dulu. Terwujud atau nggak nya mah, urusan nanti."
"Sabi-sabi." ujar Arka seraya tertawa.