
Amanda terpikir akan ucapan Sari, meski karyawannya itu telah pulang ke rumah beberapa jam yang lalu. Namun tetap saja apa yang ia ucapkan, terngiang-ngiang ditelinga Amanda.
"Kira-kira, Arka bakalan selingkuh nggak ya?" tanya Amanda dalam hati.
Ia pun lalu melihat ke dalam box bayi. Menatap Azka yang tengah tertidur pulas, lalu melirik ke arah Afka yang juga tampak tertidur lelap.
Ada rasa khawatir yang kini menyesaki bathinnya. Semua karena usianya yang kini sudah tak lagi muda, sedang Arka baru 21 tahun. Masih panjang perjalanan hidup dan juga usia gairah sexual yang dimiliki suaminya itu. Tidak seperti dirinya yang beberapa tahun kedepan akan menemui angka 40, yang mungkin akan menurunkan performanya di segala bagian.
"Amanda."
"Amanda."
"Ah, iya." Amanda menoleh kearah pintu kamar anaknya, tampak Arka sudah ada disana.
"Arka, kamu udah pulang?"
"Nggak, ini khayalan kamu doang."
Arka membuat istrinya sedikit tertawa.
"Kamu mah." ujarnya kemudian.
Amanda lalu beranjak dan menyambut suaminya, mengambilkan ia air minum dan meletakkan tas laptopnya kedalam kamar.
"Tadi ada yang dari sini?"
Arka bertanya pada istrinya seraya melihat dua gelas berisi bekas orange juice.
"Iya, Sari sama Nur. Orang kantor."
"Udah ketemu sama anak- anak?"
"Udah, makin banyak aja tuh perintilan mereka. Hadiah dari orang-orang."
Arka tersenyum.
"Aku mau mandi dulu, mau gendong mereka." ujarnya kemudian.
Arka pun pergi mandi, Amanda kini menyiapkan makan untuk suaminya. Ditengah-tengah kesibukannya tiba-tiba,
"Ting."
"Ting."
"Ting."
Ada banyak notifikasi pesan yang masuk ke handphone Arka. Amanda yang selama ini tak pernah kepo dengan urusan suaminya itu, mendadak jadi ingin tahu. Entah mengapa, ia tiba-tiba saja mendekat dan membaca notifikasi tersebut.
Cintara.
"Arka, udah sampe rumah?"
"Aku baru saja sampe, jangan lupa makan ya."
Amanda memperhatikan pesan tersebut, ia tidak tahu siapa itu Cintara. Ingin rasanya ia membalas pesan tersebut, namun masih menghargai privasi suaminya.
Arka keluar dari dalam kamar, tampaknya ia telah selesai mandi. Amanda buru-buru menjauhi handphone Arka dan kembali sibuk menyiapkan makan untuk suaminya itu.
"Hallo sayang."
Arka membuka pintu kamar anaknya. Tampak Azka dan Afka yang telah terbangun entah sejak kapan, namun mereka tidak menangis.
"Kalian koq nggak bobok?" tanya Arka pada kedua bayinya itu. Ia pun menggendong Afka dan mengajaknya berbicara.
"Tumben si tukang tidur nggak molor. Biasanya kamu tidur, cuekin papa."
"Hokek, hokek, hokek." tampak bayi itu cegukan.
"Ka, makan dulu." ujar Amanda menongolkan kepalanya di pintu.
"Loh koq mereka nggak tidur?" tanya Amanda heran.
"Emang tadi tidur?" Arka balas bertanya.
"Iya tadi tidur, kalian bohongin mama ya?" Amanda agaknya sudah dikerjai oleh bayi-bayinya sendiri.
Arka tertawa.
"Hoaaaa."
Bayi-bayi mereka bersuara.
"Nggak boleh loh, dek. Masa ngerjain mama."
Arka menasehati bayinya.
"Afka cegukan, Man." ujar Arka.
Amanda kemudian mendekat. Arka memberikan Afka pada wanita itu, lalu ia gantian menggendong Azka.
Amanda menyusui bayi itu namun ia menolak, karena tadi bayinya itu memang sudah puas meminum susu.
"Ya udah kalau nggak mau. Kamu di box aja, jangan nangis ya. Mama mau temenin papa makan dulu."
Amanda meletakkan kembali bayinya ke dalam box, begitupula dengan Arka. Taka lama kemudian, mereka pun pergi makan.
Usai makan Arka kembali berkutat pada pekerjaan, begitupula dengan Amanda. Wanita itu mulai mengerjakan tugas kantornya lagi, meskipun masih dalam hitungan cuti. Sesekali mereka mengawasi bayi-bayi melalui layar handphone yang terhubung ke kamera CCTV
"Ting."
"Ting."
"Ting."
Arka membalas pesan tersebut.
"Sorry, tadi ada urusan. Ada apa ya, Cin?" tanya Arka kemudian.
Ia lalu meletakkan kembali handphone tersebut dan melanjutkan pekerjaan. Tanpa Arka sadari jika Amanda melihat dari belakang. Amanda kembali ke meja dan laptopnya lalu membuka laman google.
"Ciri pria selingkuh."
Itulah kata-kata yang di ketikkan Amanda di beranda pencariannya. Dan tak lama kemudian muncul berbagai artikel yang membahas hal tersebut.
Ciri-ciri suami selingkuh :
1. Mengabaikan berbicara secara terbuka satu sama lain
Amanda membaca butir satu dari artikel tersebut, lalu kemudian ia berbicara pada Arka.
"Ka, tadi di kantor gimana?" tanya Amanda.
Arka menghentikannya aktivitasnya, lalu menatap Amanda.
"Baik-baik aja, kenapa Man?" tanya nya kemudian.
Amanda diam.
"Nggak, dia nggak mengabaikan gue dalam berbicara." gumamnya kemudian.
"Apa gue salah mengartikan kata-kata ini." lanjutnya lagi. Amanda pun membaca butir tersebut sekali lagi.
"Mengabaikan berbicara secara terbuka."
"Berarti gue harus nanyain hal yang sifatnya lebih rahasia lagi." gumam Amanda.
"Ka, kamu nggak punya penyakit serius kan?" Amanda mengeluarkan pertanyaan yang membuat Arka terhenyak.
"Kamu doain aku supaya punya penyakit serius?" tanya Arka.
"Nggak, aku nanya doang."
"Nggak ada tuh." ujar Arka kemudian.
"Hm, poin satu nggak ada dalam diri Arka. Dia berkata jujur." gumam Amanda lagi.
Lalu ia lanjut membaca butir kedua.
2. Selalu aktif di sosial media dan selalu menggunakan gadget.
Amanda memperhatikan suaminya.
"Nggak." gumamnya menyimpulkan.
Arka memang tak begitu aktif melihat handphone, meski banyak sekali notifikasi pesan yang masuk. Selama ini pun ia biasa saja. Semisal ingin bermain game online, ia biasa menggunakan laptop gaming.
"Point kedua, Arka nggak ada begitu." ujarnya dalam hati. Ia lanjut membaca poin ketiga.
3. Mudah marah
"Nggak."
4. Banyak membicarakan orang lain.
"Nggak juga."
5. Sering bersolek.
"Hmm, biasa aja tuh. Emang dari dulu penampilannya udah begitu."
6. Anda bukan prioritasnya lagi.
"Deegghh."
Kali ini bathin Amanda bergemuruh, sepertinya poin yang satu ini agak benar. Semenjak melahirkan, Arka memang masih perhatian padanya. Namun Arka kini lebih banyak memprioritaskan anak mereka ketimbang dirinya.
Tadi saja sesaat setelah pulang kantor, Arka tak mencium Amanda ataupun bercengkrama dengannya. Melainkan langsung mandi dan menengok anak mereka. Hati Amanda kini diliputi perasaan tidak enak.
"Aku memprioritaskan anak-anak, karena mereka masih kecil. Bukan karena mengabaikan kamu."
Secara tiba-tiba Arka sudah berada di belakang Amanda. Entah kapan persisnya ia berada disitu, yang jelas Amanda amat sangat terkejut. Apalagi layar komputernya yang masih menyajikan hasil pencarian dari google.
Amanda buru-buru menutup laptopnya, namun Arka sudah keburu melihat semuanya. Pemuda itu kini duduk disisi Amanda dan merangkulnya.
"Jangan sering over thinking. Jangan sekali-kali mikirin hal yang sebenarnya belum terjadi, inget kan pikiran itu adalah doa. Jangan sekali-kali membuat doa yang buruk."
Amanda tersenyum malu, namun Arka kemudian memeluk wanita itu.
"Azka sama Afka itu masih kecil, kalau mereka udah bisa mandi sendiri, makan sendiri, cebok sendiri. Aku juga ogah mandiin mereka, nyuapin mereka, nyebokin mereka. Mending aku mandiin kamu. Kan abis itu bisa ah, ah, ah."
"Plaaak."
Amanda memukul lengan suaminya itu, tepat ditempat yang biasa ia pukul. Arka pun hanya tertawa lalu kembali memeluk istrinya.
"Nggak ada yang selingkuh, Amanda. Kamu bisa buktiin sendiri. Lagian ngapain aku selingkuh, orang kamu aja enak koq."
"Kalau aku udah nggak enak?"
"Ya terima, mau nggak mau. Namanya menikah itu kan harus selalu bersama dalam keadaan sehat, sakit, muda, tua. Semasa masih ganteng-cantik atau udah jelek, saat enak nggak enak. Kalau mau enaknya doang mah, ya jangan nikah. Jajan aja di luaran."
"Pegang ya omongan kamu." ujar Amanda kemudian.
"Sejak kamu kenal aku, kapan sih aku nggak bisa pegang omongan?"
Amanda tak menjawab, ia hanya memeluk suaminya itu.