Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Hadiah


"Arka."


Amanda berlarian ke arah suaminya yang baru saja menyelesaikan sidang skripsi. Arka yang masih berpakaian hitam putih tersebut, langsung menyambut sang istri dengan antusias dan menggendongnya. Mereka kini sedikit berputar-putar, meski disekitar banyak terdapat mahasiswa dan mahasiswi yang lalu lalang.


"Gimana?. Nggak sidang ditunda kan?" tanya Amanda kemudian.


"Nggak dong."


"Nggak yudisium ditunda juga?"


"Nggak Firman, sayang."


Arka menurunkan sedikit istrinya hingga bibirnya dan bibir wanita itu bersentuhan. Arka lalu mencium istrinya itu beberapa kali.


"Ka, Ka. Bisa minggir nggak, bapak mau lewat."


Salah satu dosennya mengejutkan Arka dan juga Amanda.


"Eh, iya pak. Hehehe." Arka bergeser sambil terus menggendong istrinya.


"Biar bapak cepet selesai ngajar dan bisa gendong-gendongan dirumah, toh." ujar sang dosen sambil berlalu.


Arka dan Amanda kompak menahan tawa.


"Firmaaaan."


Dari kejauhan, Rio tampak berlari dengan penuh antusias. Menghampiri Arka dan juga Amanda, dengan gerakan seolah hendak memeluk Amanda.


"Heh, bini gue." Arka menghindarkan istrinya yang masih dalam gendongan tersebut, sambil tertawa.


"Ya udah, peluk kamu aja ayank beb."


Rio memeluk Arka dari belakang.


"Rio, anj. Punya lo nempel, bangsat." Arka menjauhkan dirinya, sementara Rio terbahak-bahak sambil berjoget-joget.


Amanda tertawa melihat tingkah dua sahabat itu, Arka lalu menurunkan istrinya dari gendongan.


"Lo belum mau pulang kan, Ka?" tanya Rio pada Arka.


"Gue tau lo pasti takut gue nggak nepatin janji kan?" ujar Arka.


"Ya iyalah, tadi lo janji mau traktir gue. Kalau nggak jadi, gue lamar bini lo." ancam Rio.


"Coba aja kalau dia mau." ujar Arka seraya tertawa.


Rio lalu berjongkok di depan Amanda.


"Firman, will you marry me?"


Kali ini Amanda yang tertawa.


"Asal lo mau ngurus anak gue yang dua itu." ujar Amanda.


"Oh tenang aja, Rio siap menjadi ayah tiri yang baik bagi si Korea Selatan dan Korea Utara.


"Sekolahnya harus internasional." ujar Amanda lagi.


"Ah nggak jadi, skip." Rio kembali berdiri.


"Bini sama anak lo biayanya mahal, nggak bisa sekolah negri." ujar Rio seraya melangkah.


Arka dan Amanda pun mengikuti langkah Rio. Mereka bertiga mencari tempat makan dan makan bersama disana, seraya berbincang serta bercanda.


***


"Man, tadi kamu bilang di mobil ada hadiah buat aku."


Arka berujar ketika mereka telah sampai di penthouse, dua jam mereka habiskan untuk ngobrol bersama Rio.


"Ada, bentar ya."


Amanda lalu pergi ke dalam kamar dan mengambil sebuah kotak yang cukup besar. Kotak tersebut sudah dilapisi kertas kado terlebih dahulu.


"Nih." ujarnya seraya menyerahkan hadiah tersebut pada Arka.


"Ini apa?" tanya Arka penasaran.


"Buka aja."


"Eh iya, anak-anak koq nggak ada yang jaga?"


Arka memperhatikan tak ada nya maid yang berseliweran.


"Afka dirumah kakek-neneknya, tadi dibawa Rianti."


"Azka?"


"Di grandpanya. Tadi di bawa sama uncle Ansel."


"Oh ya?"


"Iya."


"Ibu nanya nggak, kenapa Azka nggak ikut ke sana?"


"Aku udah bilang ke Rianti, kalau Azka biar aku yang jaga. Jadi ibu nggak curiga."


"Oh, ok."


Arka mulai unboxing hadiahnya, dan betapa terkejutnya ia ketika menerima sesuatu yang amat ia inginkan. Ya sebuah laptop gaming seri terbaru dari merk tertentu.


"Amanda, ini buat aku?"


"Nggak buat Rio, ya buat kamu lah." seloroh Amanda seraya tertawa.


"Makasih ya." Arka memeluk dan mencium istrinya itu.


"Tapi jangan main game mulu, inget waktu, inget istirahat. Ok"


Arka mengangguk.


"Tapi..."


Arka tampak berfikir.


"Kenapa?" tanya Amanda.


"Tempo hari, aku beliin kamu tas cuma seharga 18juta. Kamu beliin ini harga 50jutaan."


"Ya aku nggak enak aja, masa aku kasih kamu yang lebih murah."


"Ka, 18juta itu nggak murah ya. Di luar sana bahkan masih banyak cewek-cewek yang pakai tas harga 50ribu, 500ribu. Mereka baik-baik aja, nggak kejang-kejang. Masa iya aku pake tas harga 18 juta nggak bersyukur."


"Ya tapi kan harga tas kamu ratusan juta."


"Aku cuma punya 1 yang harga seratus juta ke atas. Sisanya bahkan yang harga 1 jutaan pun aku ada, nggak semuanya mahal. Mau kamu beliin yang harga 500ribu juga, asal itu dari uang hasil kerja keras kamu dan jalannya halal. Aku terima, aku pake. Harga barang nggak akan mengurangi kecantikan aku, Ka."


"Hmm, dasar Firman. Tetap aja memuji diri sendiri pada akhirnya."


Arka tersenyum, begitu pula dengan Amanda.


"Coba beliin aja yang murah, Man. Nggak usah yang kayak gini."


"Ya udah kasih Rio, kalau nggak mau."


"Hahaha, ya jangan dong. Keenakan nanti dia."


"Makanya diterima dong."


"Iya sayang, ini aku terima. Makasih ya." ujarnya kemudian.


"Sama-sama, tapi ada satu lagi. Karena kan hari ini kamu udah melalui sidang skripsi dengan baik. Walaupun isi skripsinya ada aku yang bikin."


"Hahaha." Arka tertawa.


"Jadi, aku mau kasih hadiah lain lagi buat kamu."


"Apa dong?"


"Tutup dulu mata kamu."


Arka lalu menutup matanya. Ia merasakan Amanda menarik lengannya, lalu mereka berjalan ke suatu arah.


"Jangan ngintip."


"Nggak."


"Berdiri disini." ujar Amanda menghendaki langkah mereka.


"Ok."


"Jangan ngintip ya."


"Nggak."


Amanda melepaskan tangannya lalu pergi entah kemana.


"Apaan sih, Man. Penasaran tau nggak."


Amanda tak menjawab, sementara Arka masih menunggu dengan harap-harap cemas. Sampai kemudian,


"Man, hhhh."


Arka mulai merasakan tangan Amanda yang menyentuh salah satu bagian tubuhnya dibawah sana. Ia juga merasakan kaitan dan resleting yang sengaja dibuka.


"Man, hmmh."


Arka mulai membuka mata dan mendapati Amanda tengah memegang sesuatu di bawah sana. Wanita itu telah berganti pakaian yang sexy.


Amanda tersenyum, Arka menengadahkan kepalanya dan menikmati semua itu. Sesekali dibelainya kepala wanita itu dan ditatapnya dengan penuh cinta.


"Amanda."


"Amanda, hmmh, ah."


Arka terlihat sangat berusaha mengatur nafasnya. Bibir istrinya itu terlalu hangat dan dalam untuk dirinya.


"Tahan, aku mau agak lama." ujar Amanda.


Arka pun kembali menengadahkan kepala dan menjadi kian belingsatan.


"Amanda please."


Amanda seakan menuli dan terus saja mengerjai suaminya itu.


"Amanda please, aku nggak tahan sayang."


"Amanda terus mempercepat."


"Amanda please, stop it. Please."


Melihat istrinya itu bertambah nakal, Arka pun menggunakan otoritasnya sebagai suami dan sebagai seorang pria dewasa yang memiliki kekuatan lebih. Ditariknya Amanda dan di paksanya menghadap ke tembok. Lalu,


"Aaakh."


Keduanya mengerang, ketika semuanya telah tertancap dalam. Lalu permainan penuh kenikmatan itu pun berlangsung. Teriakan, erangan, racauan, umpatan-umpatan nakal terdengar dari bibir keduanya.


Mereka berpindah dari posisi satu ke posisi lainnya, dari tempat satu ketempat lainnya lagi. Durasi kali ini lebih panjang, sebab kedua bayi sedang tak ada dirumah, jadi mereka tak perlu khawatir para bayi akan menangis dan menuntut perhatian lebih.


Arka dan Amanda terhempas dalam satu teriakan panjang. Keduanya sama-sama tersenyum puas dan saling memeluk satu sama lain. Setelah membersihkan diri, mereka kini duduk bersama di balkon sambil menikmati minuman dingin.


"Amanda, makasih banyak ya atas semuanya."


"Sama-sama, Ka. Aku juga mau berterima kasih atas semuanya."


Arka tersenyum.


"Seandainya waktu itu, kamu nggak nyuruh Liana untuk ngejar aku. Aku nggak tau, apa jadinya aku sekarang."


Kali ini Amanda menatap suaminya itu.


"Semuanya tiba-tiba. Tiba-tiba papa ku sakit, tiba-tiba kami banyak utang. Tiba-tiba aku kepikiran gimana caranya menyelesaikan itu semua. Lalu tiba-tiba ketemu Liana, menikah dengan kamu. Tiba-tiba kepikiran untuk nggak sekedar menikmati uang kamu, aku jadi pengen kerja. Karena disuruh-suruh kesana sini oleh pak Putra, aku jadi ketemu daddy. Jadi tau siapa bapak kandung aku."


Amanda kini menempelkan kepala di bahu Arka.


"Jujur, dulu aku niat buat jahatin kamu Man."


Amanda terhenyak mendengar pengakuan itu, namun ia masih terus menempelkan kepalanya di bahu Arka dan tak menampilkan reaksi yang terkejut.


"Dulu aku berniat mengeruk harta kamu, sampai akhirnya cinta membuat aku jadi lemah."


Amanda tersenyum lalu memeluk suaminya itu.


"Semua udah ada jalannya masing-masing, Ka. Pertemuan dan perpisahan kita dengan seseorang itu bukanlah suatu kebetulan. Itulah alur hidup yang harus kita jalani. Sekarang, kamu akan menyandang gelar sarjana. Manfaatkan itu dengan baik dan jadilah lebih baik lagi."


Arka mencium kening istrinya itu, lalu keduanya pun hanyut dalam diam yang begitu hangat.