Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Mengumpulkan Mereka


"Arka."


Tiba-tiba ayah tiri Arka datang ke kampus. Laki-laki itu sengaja mendatanginya karena menurut sang ibu, Arka enggan membalas pesan maupun mengangkat telpon belakangan ini.


"Papa." Arka mencium tangan sang ayah, ia agak terkejut dengan kehadiran orang tua sambungnya itu.


"Ibumu tuh nanyain, katanya kamu kayak marah sama dia. Nggak mau angkat telpon dia, WhatsApp nggak di read."


Arka diam lalu sedikit menunduk.


"Arka sebel sama ibu, dia nggak pernah percaya sama Arka. Giliran Arka terbukti nggak bersalah, ibu nggak ada minta maaf kek atau apa. Dia udah nuduh Arka segitunya, ngomelin Arka, ngusir Arka."


"Ka, kamu kayak nggak hafal ibumu aja. Dari dulu dia juga memang sudah begitu."


"Tapi, pa. Harusnya ibu tau, bahwa sebagai orang tua, ibu nggak boleh kayak gitu. Kita ini manusia, sumbernya salah. Nggak ada istilahnya makin tua, makin nggak bisa bikin kesalahan. Minimal kasih contoh ke anak, bahwa meminta maaf itu perlu dibudayakan. Kalau memang kita salah."


"Iya, papa ngerti. Papa mewakili ibumu, minta maaf sama kamu. Nanti ibumu, papa nasehati. Orang tua tuh khawatir sama kamu, kamu nggak dateng-dateng. Untung Amanda selalu telpon dan WhatsApp, ngasih tau kabar kamu."


Arka menghela nafas lalu menatap ayah tirinya.


"Papa tadi dari mana?" tanya Arka kemudian.


"Papa dari toko, sengaja kesini. Ibumu nangis terus soalnya semalaman. Ngomongin soal kamu, kamu juga papa telpon nggak diangkat."


"Maafin Arka, pa. Abis Arka kesel banget."


Ayah tirinya lalu menepuk bahu pemuda itu.


"Ya sudah, nanti kalau udah nggak marah. Kunjungi ibumu, ya."


"Arka mengangguk."


"Papa pulang dulu."


"Papa mau langsung pulang?"'


"Iya, tadi di toko lagi rame. Papa tuh sempat-sempatin aja kesini."


"Mau Arka anter?"


"Nggak usah, itu papa sama mang Diman. Karyawan papa, papa naik motor."


"Ya udah, hati-hati ya pa." ujar Arka kemudian.


"Iya."


Ayah tirinya pun bergegas meniggalkan tempat itu. Pada saat yang bersamaan, Amanda tiba disana.


"Ka, itu tadi papa?" tanya Amanda pada suaminya. Ia menatap mertuanya yang telah menjauh.


"Iya." jawab Arka singkat.


"Kenapa papa kesini?" tanya Amanda heran.


"Ibu, dia baper chatnya nggak aku bales. Telponnya nggak aku angkat."


"Loh, kenapa kamu sikapnya kayak gitu?" tanya Amanda seraya menatap Arka. Baru kali ini ia melihat Arka bersikap sesuai usianya, sedikit egois serta kekanak-kanakan.


"Ya abisnya aku sebel sama ibu, dia tuh nggak pernah bisa percaya omongan aku. Dia lebih percaya gosip daripada apa yang aku jelaskan. Pas masalah aku sama Liana udah clear gini, nggak ada ibu minta maaf sama aku."


Amanda menghela nafas.


"Ibu dari dulu gitu, atau baru kali ini aja yang begitu?" Kali ini Amanda menatap suaminya dalam-dalam.


"Emang dari dulu sih dia begitu."


"Nah ya udah, udah hafal ini sama sifat ibu. Ngapain kamu menumpuk kemarahan di hati. Selesai nggak masalahnya dengan cara kayak gini?. Nggak, kan?"


"Ya tapi minimal ibu berubahlah dikit, umur udah nambah tiap tahun."


"Ka, sifat itu udah terbentuk sedari kecil. Udah sulit untuk berubah di usia segitu. Kalaupun kamu mau ibu berubah, ya di komunikasikan sama ibu. Kamu sendiri kan yang sering bilang, kita ini bukan peramal. Mana tau kita maunya orang, maksud hati orang. Gitu juga dengan ibu, kalau kamu nggak ngomong. Mana ibu tau isi hati kamu, kecuali ibu peramal."


Arka diam dihadapan istrinya itu.


"Kita ini nggak sampe sebulan lagi, bakalan jadi orang tua loh, Ka. Kita juga akan menghadapi apa yang ibu hadapi. Soal kelakuan anak, masalah yang dia timbulkan nantinya dan lain-lain. Belum tentu kita jadi lebih baik dari ibu."


Arka makin diam, agaknya ia menangkap betul makna kalimat yang diucapkan istrinya itu.


"Iya, Man." ujarnya kemudian.


"Ya udah, nanti kita kerumah ibu, kalau kamu udah siap."


"By the way, kamu ngapain disini?" tanya Arka kemudian.


"Iya, ya. Aku ngapain ya, Ka. Kesini?"


"Ya mana aku tau." ujar Arka masih memperhatikan istrinya itu.


Amanda lalu tertawa.


"Tadi tuh aku gabut. Minta anterin pak Darwis jalan-jalan, eh lewat sini. Mampir deh, kali aja kamu selingkuh mentang-mentang aku udah hamil tua."


Arka kini tertawa.


"Ngapain aku selingkuh, kamunya aja masih enak. Aku masih bisa ah didalem."


"Oh jadi kalau nggak bisa muntah didalem, mau selingkuh rencananya?. Gitu?"


Arka menghela nafas dan melebarkan bibir.


"Aku nggak mau berantem, ya." ujarnya setengah tertawa. Amanda pun akhirnya tersenyum.


"Kamu masih ada kelas?" tanya Amanda lagi.


"Nggak ada, kamu mau aku temenin?"


"Boleh." ujar wanita itu kemudian


Tak lama mereka pun terlihat bergandengan tangan, menuju ke suatu arah.


***


Suatu pagi.


"Ini, pak."


Rani memberikan sejumlah uang pada seorang security, yang tengah sendirian di pos basemen kantor. Tanpa Rani sadari, jika disuatu sudut ada sepasang mata yang tengah memperhatikannya.


"Ingat, jangan buka mulut terhadap siapapun." ujar Rani kemudian.


"Iya, bu." jawab si security.


Tak lama kemudian, Rani pun meninggalkan tempat itu. Security itu buru-buru memasukkan sejumlah uang tersebut ke dalam tas. Namun ketika ia menoleh, Amanda sudah berada di pintu pos.


"Hai, pak." ujar Amanda seraya tersenyum penuh maksud.


"Bu, bu Amanda?"


"Kenapa, kaget?"


Security tersebut diam dengan tubuh yang gemetar.


"Saya cuma memberitahu bapak, bahwa saya ini hanya di nonaktifkan sementara. Kalau kasus ini berhasil diungkap team investigasi, saya akan kembali menjabat sebagai pemimpin kalian semua."


Amanda mendekat.


"Saya mau kasih bapak dua penawaran Pertama, terima uang Rani, dan bapak akan menerima pemecatan saat saya kembali menjabat. Atau bapak terima uang Rani, dan saya tambahin dua kali lipat. Saya juga kasih kenaikan jabatan nanti. Tugas bapak, cuma sedikit membocorkan masalah pada saya. Kalau bapak memilih setia dengan Rani, saya tetap akan melaporkan bapak ke dewan investigasi."


Security tersebut diam, dengan tubuh yang banjir keringat dingin.


***


"Pokoknya kalian jalankan tugas masing-masing, bertingkahlah sesuka hati. Saya yang akan menjamin pekerjaan kalian tidak akan hilang."


Amanda berujar pada beberapa karyawan dan loyalisnya yang belakangan ini amat sangat mengeluhkan tingkah Rani. Mereka baru mengetahui jika Amanda sama sekali tidak pernah memberikan mandat apapun kepada Rani. Mereka kini berkumpul disuatu tempat, setelah sebelumnya berkoordinasi melalui grup WhatsApp yang mereka buat.


"Baik, bu. Tapi kenapa bisa ada tanda tangan ibu dalam mandat itu?" tanya salah seorang karyawan.


"Rani itu, dari SMP. Dia ahli dalam memalsukan tanda tangan seseorang. Tanda tangan orang tuanya saja fasih dia tiru." Amanda berujar seraya menatap mereka semua.


"Saya mulai menyadari bakat yang dia miliki, ketika saya membutuhkan tanda tangan ayah saya, yang saat itu tidak mau saya temui. Sedangkan saya sedang bermasalah di sekolah dan disuruh memberikan surat pengaduan pada orang tuanya saya. Jika orang tua saya tidak bisa hadir saat itu, maka salah satu dari mereka harus memberikan tanda tangan, yang isinya menjamin bahwa saya tidak akan berbuat nakal lagi di sekolah. Saat itu saya bingung harus bagaimana, Rani menawarkan diri untuk memalsukan tanda tangan ayah saya. Sejak saat itu, Rani sering dimintai tolong oleh anak-anak disekolah. Kalau mereka butuh tanda tangan orang tua, tapi tidak berani meminta karena suatu sebab."


"Kami udah nggak tahan, bu. Sama sikapnya Rani." ujar Nur diikuti anggukan yang lainnya.


"Pokoknya kalian harus gantian menyerang Rani, jangan mau ditindas. Para petinggi rata-rata masih berpihak pada saya, jadi inilah saatnya kalian membuat Rani merasa tidak nyaman."


Para karyawannya saling tatap satu sama lain, sambil tersenyum. Sementara kini Amanda menghela nafas panjang, ia sudah sangat siap melihat Rani menderita.


Jika dulu ia sangat tidak mau melihat temannya itu susah, tapi kini Rani bukanlah temannya lagi. Ia tidak peduli apakah mereka sedarah atau tidak. Yang jelas dirinya bukanlah tokoh didalam sinetron saluran TV dengan logo ikan terbang, yang bisa dianiaya begitu saja.


Yang setiap kali dianiaya hanya bisa meratap dengan iringan backsound lagu, "Ku menangis."