
Amanda terbangun ketika tubuhnya sudah berada di dalam mobil yang tengah berjalan. Ia menoleh kesamping, ketempat di mana Arka tengah mengemudi sambil sesekali tersenyum kearahnya.
"Kita udah pulang, Ka?" tanya nya pada Arka.
"Iya, Man."
"Koq nggak bangunin aku tadi?. Nggak pamit dong aku sama ibu, sama papa, Rianti."
"Tadi mau aku bangunin, kata ibu nggak usah. Kasian kamunya nyenyak banget."
"Gara-gara kangkung nih pasti." ujar Amanda kemudian. Arka pun tertawa.
"Jadi pengen makan lagi aku." lanjut Amanda lagi.
"Tuh dibawain ibu makanan, di belakang."
Amanda menoleh kebelakang. Ketempat di mana ada banyak kotak berisi makanan.
"Rujaknya dikasih juga sama ibu?" tanya wanita itu dengan wajah sumringah.
"Iya, orang dia bikinnya buat kamu."
"Yes, asik." ujarnya antusias.
"Jangan dihabiskan sekaligus, ya. Itu kan asem, pedes. Nanti sakit perut."
"Iya, ntar tarok kulkas aja dulu." ujar Amanda lagi.
"Oh ya, Man. Nanti kalau anak kita lahir, kamu mau mereka ditempatkan di ruang yang mana?"
"Hmm, yang mana ya Ka.?" Amanda tampak berfikir.
"Di samping deket ruang kerja kamu aja, apa. Di situ kan kacanya gede tuh, menghadap ke timur lagi. Jadi biar dapat matahari pagi, gimana?" Arka seakan meminta persetujuan.
"Coba ntar kita liat ya, pulang ini."
"Ok."
Arka makin mempercepat laju kendaraannya. Setibanya di penthouse, mereka langsung membereskan segala sesuatu yang dibawakan oleh ibu Arka. Setelah itu keduanya pun pergi mandi.
Tak lama berselang, keduanya kini terlihat sudah ada dimuka ruangan, yang rencananya akan dijadikan kamar untuk bayi-bayi mereka.
"Terlalu panas nggak sih, Ka. Kalau siang?" tanya Amanda pada Arka seraya melihat ke sekeliling ruangan itu.
"Kalau menurut aku sih, nggak juga. Soalnya ruangan ini doang yang kalau pagi, kena sinar matahari. Mereka kan butuh sinar matahari pagi."
"Iya juga sih. Nanti boxnya satu disini, satu lagi disini. Amanda mulai mengira-ngira, dimana ia akan meletakkan box tempat tidur bayi-bayinya. Arka kemudian menunjukkan satu demi satu gambar yang ia download dari google, gambar yang berisi ide dekorasi untuk kamar bayi kembar.
"Lucu-lucu banget, Ka. Gemes." ujar Amanda seraya memperhatikan gambar-gambar tersebut.
"Coba liat nih yang satu ini." ujar Arka.
"Ih, iya. Gemes bangeeet."
"Ini juga nih."
"Iya, gemeeees."
Mereka berdua tertawa-tawa sambil terus memperhatikan gambar demi gambar tersebut. Sesekali Arka mengelus perut istrinya itu dengan penuh kasih sayang.
"Ka, nama anak kita fix. Kayak yang aku bilang waktu itu?" tanya Amanda pada Arka. Ketika kini ia bersandar di bahu suaminya itu.
"Ya terserah kamu sih." ujar Arka.
"Kamu yang hamil, kamu yang susah, kamu lah yang kasih nama." lanjutnya lagi.
"Koq kamu nggak ikutan, kan ini anak kamu juga."
"Kalau aku ikutan ngasih nama, ntar aku dibilang egois."
"Loh kenapa?"
"Soalnya pasti mereka mirip aku." Arka berkata dengan nada setengah tertawa, Amanda pun jadi ikut-ikutan mesem.
"Kamu yang hamil, kamu yang ngelahirin, kamu yang sakit, terus aku yang kasih nama dan mukanya mirip aku. Kamu nggak kebagian apa-apa."
"Iya juga, ya. Dek pokoknya kamu harus mirip mama ya nanti."
"Eh nggak boleh maksa gitu. Nanti pas lahir mukanya mirip aku, minder loh mereka."
"Iya, iya. Maaf, maaf, maaf." Amanda mengusap perutnya seraya tertawa kecil. Arka lalu mencium kening istrinya itu.
"Ka."
"Hmm."
"Maafin aku, ya. Udah merampas masa muda kamu."
Arka tertawa demi mendengar semua itu.
"Koq kamu ngomongnya gitu?" tanya nya kemudian.
"Belakangan ini, aku sering ngerasa bersalah. Tiap kali aku ngeliat kamu lagi sendiri, atau lagi zoom sama temen-temen kamu. Kalian ngomongin cita-cita, visi misi. Dulu saat seumur kalian, aku juga punya ambisi yang tinggi. Aku memikirkan bagaimana caranya bisa sukses, aku bahkan nggak pernah kepikiran sedikitpun soal pasangan, apalagi anak. Kamu diusia segini, udah mau punya anak."
Amanda menatap Arka dan begitupun sebaliknya.
"Aku ngerasa bersalah banget. Udah memanfaatkan situasi kamu waktu itu, Ka. Aku bantu kamu dengan sebuah imbalan, tapi akhirnya aku juga yang nahan kamu disini. Aku tau koq soal tabungan yang kamu siapin buat lahiran aku. Soal omongan ibu, yang bilang kamu harus bertanggung jawab atas aku dan anak-anak. Aku denger tadi ibu ngomong. Aku tau ini semua pasti berat buat kamu, aku yang bawa kamu kedalam masalah ini."
Arka mencium bibir Amanda secara serta merta.
Arka berujar seraya tersenyum, membuat Amanda akhirnya memeluk pemuda itu dengan erat.
"Love you, Ka."
"Love you, Man."
***
Dimalam yang sama.
"Arrgghh, mana sih om om es batu itu."
Maureen menggerutu di kamar kost Chanti, dimana Chanti dan Widya kini tengah bermain the sims.
"Lo kenapa lagi, Reen?" tanya Chanti pada Maureen sambil masih melihat ke layar handphone.
"Tau lo, tiap kesini pasti ngomel-ngomel. Nggak pernah gitu lo kesini bawa martabak kek, sempol ayam kek."
"Ntar gue kasih uangnya, gue lagi bete sama si Nino." ujar Maureen.
"Kenapa lagi dia?" tanya Chanti.
"Nggak bisa dihubungin lagi, dari kemaren. Ngapain aja sih kerjaannya."
"Lah lo mau ngapain hubungin dia?" tanya Widya.
"Mau duit lah, pengen beli tas baru gue."
"Tas apaan?" tanya Chanti.
'Ya tas mahal lah, lo kan tau gue alergi pake tas murah."
"Gue nggak tuh, gue beli di online cepek dapet dua. Kagak gatel-gatel." ujar Chanti yang membuat Widya menahan tawa.
"Ih lo kan pergaulannya cuma sebatas kosan, kampus, kosan, kampus. Mana butuh lo tas mahal. Sedangkan gue kadang ikut premiere artis-artis sama Robert, kadang gue arisan sama para selebgram. Malu gue pake tas murah."
Chanti dan Widya saling tatap dengan melebarkan bibir sampai kuping. Sementara Maureen masih menggerutu melihat handphonenya.
Sementara disuatu tempat, Nino tampak tengah berhadapan dengan Nadine. Ia mengajak gadis itu untuk dinner disebuah restoran yang mewah. Ia juga membelikan Nadine sebuah gaun panjang berwarna hitam, dilengkapi dengan high heels berwarna silver bling-bling.
Nadine yang tampak cantik malam itu, berhadapan dengan Nino yang tampan meski dingin.
"Bapak, romantis juga ya. Walau mirip es batu." ujar Nadine seraya melahap makanannya.
Sementara Nino hanya membisu dan terus makan. Tak banyak obrolan yang terjadi malam itu, namun Nadine tak begitu mempedulikan hal tersebut. Baginya, bisa sampai ditahap ini saja, sudah merupakan sebuah keberuntungan. Mengingat Nino yang kadang bersikap menyebalkan dan acuh tak acuh.
Usai makan, Nino mengajak Nadine untuk menonton sebuah acara pertunjukan musik klasik. Dimana Nadine sendiri belum pernah mengunjungi tempat tersebut. Ternyata apa yang ditampilkan begitu romantis, meskipun laki-laki yang ada disisinya tak begitu memiliki sifat yang manis. Namun Nadine merasa kian teristimewa. Pasalnya disepanjang acara berlangsung, kerapkali Nino menggenggam tangannya. Meski dengan ekspresi kaku yang terus menatap ke arah panggung.
"Pak, aku laper lagi nih?" ujar Nadine ketika mereka keluar dari tempat pertunjukkan.
"Ya udah kita makan." Nino mengarahkan Nadine pada sebuah restoran yang terdapat di dalam gedung pertunjukkan itu. Sebuah restoran yang juga sama mewahnya dengan tempat yang tadi mereka kunjungi.
"Nggak." ujar Nadine kemudian. Nino menoleh dan menatap gadis itu, seolah mencari jawaban mengapa Nadine menolak ajakannya.
"Ini pasti makannya nggak kenyang kayak tadi."
Belum sempat Nino menjawab, Nadine sudah menarik lengan Nino dan membawa laki-laki itu keluar dari gedung pertunjukkan. Ia membawa Nino menyeberang dan masuk ke tempat makan pecel lele, yang ada di pinggir jalan tersebut.
"Really?" tanya Nino padanya. Nino memperhatikan jasnya dan juga gaun Nadine.
"Udah di sini aja, aku laper."
Nadine menarik paksa Nino, hingga pria itu kini duduk disisinya.
"Pak saya lele, ya. Kamu apa?" tanya Nadine pada Nino.
"E, ada apa aja?" Nino balik bertanya, karena tidak tahu harus mengatakan apa. Sementara beberapa pengunjung pecel lele, kini memperhatikan mereka.
"Really?. Kamu nggak pernah makan ditempat begini?" tanya Nadine.
Nino menggeleng, dulu saat remaja ia bahkan tidak punya uang jajan lebih untuk makan diluar. Setelah itu ia diadopsi dan hidup dalam serba kemewahan.
"Suka ikan lele?"
Lagi-lagi Nino menggeleng.
"Aku nggak suka ikan." ujarnya kemudian.
"Ya udah ayam, ya."
Nino mengangguk, wibawanya seolah hilang diatur-atur oleh Nadine. Namun itu menjadi kelucuan tersendiri bagi Nadine. Nino yang cool, tampan, mirip CEO dalam cerita di novel-novel online. Kini duduk bersamanya di bangku pecel lele, dan sebentar lagi akan terpaksa menggulung lengan jas mahalnya, hanya untuk makan.
Selang beberapa saat kemudian, pesanan mereka pun datang. Nino melirik kanan kiri, sendok dan garpu berada jauh di ujung. Baru saja ia hendak berbicara kepada si penjual, Nadine sudah makan dengan menggunakan tangan kosong.
Nino pun tertegun melihat gadis itu, Nadine dengan tanpa malu-malu mangap didepan matanya. Hingga Nino pun akhirnya tertawa.
"Kenapa?" tanya Nadine heran.
Gadis itu memperlambat makannya dan menatap Nino. Karena itu kali pertamanya ia melihat Nino tertawa lepas. Tak lama Nino pun mulai makan menggunakan tangannya.
Malam beranjak naik, Arka dan Amanda tampak tertawa-tawa di dalam penthouse. Entah apa yang mereka bicarakan malam itu. Yang jelas, mereka berdua terlihat begitu bahagia. Sementara di depan pintu gerbang masuk ke penthouse tersebut, sebuah mobil mewah berhenti. Lalu si pengemudi pun membuka kacanya.
"Jadi disini, anak pembangkangmu itu tinggal?"
Rachel bertanya pada Amman yang tengah menoleh ke arah gedung tersebut. Namun Amman tak menjawab, hanya menarik nafas dan menutup kembali kaca mobilnya. Tak lama berselang, mobil itupun kembali merayap.