
Nadine masih bersedih, ia bahkan terus mengurung dirinya di kamar. Lantaran selalu terngiang-ngiang akan sikap dan ucapan Nino terhadapnya, yang sungguh menyakitkan.
Ia tak menyangka, jika Nino adalah orang yang sekasar itu terhadap perempuan. Dibalik perawakannya yang tampan dan nyaris sempurna.
"Nad, lo nggak kuliah?"
Sebuah notifikasi pesan singkat tertera di handphonenya. Pesan tersebut dari Viona, setelah tadi ia juga menerima pesan dari Fahri dan Dito.
Nadine tak membuka pesan tersebut. Karena ia telah membacanya via notifikasi yang muncul di layar depan. Ia sedang enggan berbicara dengan siapapun. Ia pikir laki-laki dewasa seperti Nino akan lebih stabil jiwanya, tak akan menyakiti hati seseorang dengan mudah. Namun ternyata usia bukanlah tolak ukur. Itu hanyalah angka yang tak dapat dijadikan acuan, untuk seorang laki-laki bisa bersikap kasar atau tidak terhadap perempuan.
Jujur, jika Nino menolaknya secara baik-baik, mungkin Nadine tak akan sesakit ini. Selama ini Nino selalu memberikan respon positif, setiap kali Nadine bersikap baik pada laki-laki itu. Bahkan di beberapa kesempatan, Nino memperlakukan dirinya, seolah ia adalah kekasih dari laki-laki itu.
Nadine tak menyadari, jika Nino berbuat baik dan mesra kepadanya. Hanya apabila mereka tengah berada di dekat Amanda. Sasaran Nino sesungguhnya adalah memukul hati Amanda, yang diketahui masih memiliki rasa terhadap pria itu.
"Nad, bales dong. Lo kenapa sih?. Ada masalah, ya?"
Agaknya Fahri mulai curiga. Namun tetap saja, Nadine memilih bungkam. Karena hidupnya kini, sedang tidak bahagia ataupun bersemangat seperti biasanya.
***
Di rumah keluarga ibu Arka.
"Sih, anakmu mau emangnya diadakan acaranya disini?" tanya kakak dari ibu Arka kepada ibu Arka.
"Mau mbak Wulan, menantu saya juga udah ngiyain." jawab ibu Arka.
"Terus nanti tetanggamu gimana?" tanya Wulan.
"Undang yang terdekat saja, nanti kami sewain mobil buat mereka."
"Ya sudah, nanti kita adakan disini saja." Wulan menghela nafas.
"Mbak tuh nggak nyangka loh, si Arka sudah mau punya anak saja."
"Ya sudah jalannya mbak, mau bagaimana lagi. Anak orang sudah hamil begitu. Kita sebagai orang tua ya, bimbing saja."
"Ratri sama Sukma, katanya ndak mau ikut. Malu sama kelakuan anakmu. Masa mereka punya menantu keponakan, tante-tante tua."
Wulan membicarakan dua saudara ibu Arka lainnya, yang menolak menghadiri acara yang akan diadakan tersebut."
"Ya sudah mbak, kalau mereka ndak mau ikut. Toh ini juga acaranya Arka sama istrinya. Mereka juga sebenarnya sudah mengadakan sendiri dirumah mereka. Tapi bukan pake adat, kayak ala-ala kebarat-baratan gitu lah. Nah sebagai orang tua, masa saya dan bapaknya Arka ndak memberi perhatian. Kasihan toh anak yang lagi dikandung, anak itu cucu kami."
"Iya sih, ya sudahlah. Kalau Ratri dan Sukma emang ndak mau ikut, kita adakan seadanya saja disini."
"Tapi udah izin sama suami mbak?" tanya ibu Arka lagi.
Wulan tersenyum.
"Suami mbak dari dulu mana pernah riweh, orangnya tau sendiri kan?. Iya-iya saja."
Ibu Arka tersenyum
"Iya, mbak." jawabnya kemudian.
***
Sore harinya di penthouse, ketika Amanda sudah pulang kerja dan Arka kembali dari kampus. Arka tampak mengerjakan tugas di laptopnya, sementara Amanda sibuk dengan kertas, buku, serta pulpen.
"Kamu ngapain, Man?" tanya Arka pada Amanda dari kejauhan. Arka duduk di sofa sedang Amanda di kursi meja makan.
"Ngerjain soal matematika, Ka." jawab Amanda sambil terus fokus keatas kertas.
"Matematika?" tanya Arka heran.
"Iya." jawab Amanda singkat. Arka yang penasaran kini mendekat. Dan ternyata benar, Amanda tengah menyelesaikan soal matematika SMA.
"Kirain aku, kamu bohong." ujar Arka kemudian.
"Ngapain aku bohong, ini tuh supaya anak kita pinter." Amanda memberi penjelasan.
"Oh ya?"
"Iya. Biar sejak dari dalam rahim, mereka merekam perilaku dan pemikiran ibunya. Dari awal hamil, aku sering gini di kantor. Main game TTS, atau mengerjakan soal fisika."
Arka tersenyum, ia tidak tahu jika Amanda sebegitu perhatiannya dengan bayi mereka. Memperhatikan kecerdasan mereka sejak dalam kandungan.
"Mau ngerjain bareng?" tanya Amanda seraya mendongak dan menatap wajah Arka.
Detik berikutnya mereka pun sudah terlihat mengerjakan soal-soal itu secara bersama-sama. Malam beranjak naik, pokok bahasan beralih ke ilmu pengetahuan alam. Arka membacakan buku-buku yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan tersebut. Bayi-bayi mereka memberikan reaksi, mereka bergerak sangat aktif diperut ibunya.
Tak lama setelah itu, Arka dan Amanda mulai mengatur jadwal. Setiap hari, mereka harus membacakan buku apa saja untuk bayi mereka.
Bagi orang lain, ini mungkin terlalu berlebihan. Namun bagi mereka berdua, ini adalah sebuah perbuatan yang menyenangkan. Sekaligus membuat mereka merasa lebih dekat, dengan bayi-bayi mereka.
"Ka, persiapan 7 bulanan dirumah ibu nanti. Kita aja ya yang belanja." ujar Amanda pada suaminya. Ketika akhirnya mereka lelah mengerjakan soal dan kini mereka tengah makan.
"Kasian ibu kalau mesti ngurusin, kan repot pasti." lanjutnya lagi.
"Oh, aku pikir kamu ribetin ke ibu semua. Emang ada gitu EO buat acara 7 bulanan?"
"Acara sunatan aja ada, apalagi 7 bulanan. Jaman sekarang itu, banyak jasa yang mempermudah kita."
"Prospek usaha itu kayaknya bagus ya, Ka." ujar Amanda.
"Usaha EO?" tanya Arka.
"Iya, EO."
"Aku sama Rio ada rencana mau buka EO sih. Tapi baru sebatas rencana dulu, soalnya masih riweh sama urusan syuting dan lain-lain. Tapi aku sama Rio dari dulu emang pengen usaha juga di bidang itu."
"Kamu belum punya modalnya?' tanya Amanda.
"Salah satunya itu." ujar Arka.
"Mau aku modalin?" tanya Amanda lagi.
Arka menggeleng.
"Jangan, Man. Aku mau aku pake uang aku sendiri dan Rio juga gitu. Biar kalau ada apa-apa, pertanggungjawabannya ya cuma sebatas kita berdua selaku yang punya modal. Lagipula pasangan itu sebaiknya jangan punya bisnis bersama."
"Kenapa emangnya?"
"Nanti malah melibatkan perasaan dan lain-lain, jadinya malah kacau. Sesama temen aja sebenernya nggak bagus kalau bisnis bareng, pasti ada aja cekcoknya suatu saat nanti. Tapi karena aku sama Rio udah saling percaya, ya udah. Kita bakal jalanin itu nantinya."
"Oh ya udah. Kirain kamu mau gitu, pake modal dari aku."
Arka tersenyum seraya menggeleng.
"Jangan tersinggung loh, Ka. Aku beneran nawarin sebagai orang yang peduli, bukan mau merendahkan kamu."
"Iya, aku ngerti koq. Dan aku nggak marah sama sekali. Cuma ya, jawaban dari aku itu tadi. Aku bener-bener mau merintis sendiri. Kalau di modalin terus, ntar aku keenakan. Malah nggak fokus di kekurangan bisnis itu sendiri."
"Maksudnya?"
"Kamu pebisnis kan?"
"Iya."
"Kamu tau dong, kalau bisnis itu nggak gampang."
"Hmm." Amanda mengangguk.
"Kalau seandainya aku terus di modalin, bisnisnya gagal, terus kamu kasihan, aku di modalin lagi. Aku nggak akan belajar, tentang kenapa bisnis aku bisa gagal. Karena aku ngerasa punya backingan, yang selalu siap kasih aku modal lagi kalau aku gagal. Aku akan jalan ditempat, melakukan kesalahan yang sama karena nggak punya kekhawatiran."
Amanda tersenyum, sejujurnya ia memang ingin memberikan modal pada Arka jika ia memang ingin berusaha. Namun ini semua juga merupakan salah satu cara Amanda untuk menguji anak muda itu. Apakah ia memiliki niat untuk memanfaatkan dirinya atau tidak.
Sejauh ini, Arka memang tidak seperti itu. Amanda tak salah percaya pada hatinya. Karena hatinya mengatakan, Arka memanglah suami dan calon ayah yang baik.
"Man, kamu marah ya?. Aku ngomong gini?" Kali ini gantian Arka yang khawatir. Ia takut istrinya itu tersinggung mengenai apa yang baru saja ia ucapkan. Amanda menatap Arka lalu menggeleng.
"Nggak, Ka. Aku justru semakin bangga sama kamu, sama semua pemikiran kamu. Boleh aku jatuh cinta lagi hari ini sama kamu?"
Arka membuang pandangannya seraya tersenyum. Selain menggoda di ranjang, Amanda juga jago dalam menjadi buaya betina.
"Oh ya, aku punya sesuatu buat kamu." ujar Amanda kemudian.
"Apa?" tanya Arka.
Amanda lalu beranjak kedalam kamar. Tak lama kemudian ia keluar dengan sebuah gitar, yang tampaknya baru saja dibeli.
"Itu gitar siapa, Man?" tanya Arka heran. Karena tadi dikamar, ia tidak melihat adanya alat musik tersebut.
"Aku, beliin ini buat kamu."
"Buat aku?"
"Iya, tadi aku umpetin di lemari bawah. Kali aja kamu mau bikin konten atau apa. Tapi yang pasti, biar kamu bisa nyanyi didepan aku. Soalnya kalau di kafe kan, kamu nyanyi buat semua orang. Sekarang aku mau egois, maunya buat aku sendiri."
Arka tertawa lalu menerima gitar tersebut. Jujur ia sedikit terkejut karena ini harganya cukup mahal. Ia saja berfikir dua kali untuk membelinya.
"Kamu suka?" tanya Amanda.
"Suka banget, makasih ya. Nanti kalau honor aku udah dibayar, aku juga mau beliin kamu sesuatu."
"Aku nggak minta dibales loh, Ka." ujar Amanda.
"Aku juga bukan mau bales, tapi pengen aja."
Amanda tersenyum.
"Iya." jawabnya kemudian.
Pada menit-menit berikutnya. Ketika senar gitar tersebut telah disetel, Arka mulai bernyanyi dihadapan istrinya. Kadang Amanda tersenyum, kadang tersipu malu. Menerima gombalan Arka yang ia kemukakan lewat lagu. Lalu mereka pun terlihat bernyanyi bersama-sama.