
Usai mandi dan berpakaian, Arka dan Amanda menikmati makanan. Berupa suki hotpot yang dipanaskan pada sebuah kompor induksi, di atas meja makan. Mereka membelinya di supermarket pada perjalanan pulang dari dokter kandungan tadi.
"Kamu hari ini jadi mau pergi, Ka?" tanya Amanda lalu menghirup hangatnya kuah suki tersebut.
"Iya jadi, ada beberapa adegan tambahan untuk film yang mesti diselesaikan malam ini juga." jawab Arka..
"Itu syutingnya, bukannya udah lama ya?. Kata kamu tempo hari."
"Iya, harusnya sih udah rampung. Tapi ya namanya sutradara kadang merasa kurang di beberapa part. Akhirnya nambah adegan lagi, syuting lagi."
"Kamu pulang nggak tapi?" lagi-lagi Amanda bertanya.
"Kemungkinan besar besok sore baru pulang."
"Oh, gitu."
"Kamu nggak apa-apa kan, aku tinggal sendiri?" tanya Arka lagi.
Amanda mengangguk.
"Nggak apa-apa koq." ujarnya kemudian. Sejenak Amanda pun terdiam, ia merasakan sesuatu bergejolak di perutnya.
"Kenapa, Man?" tanya Arka seraya menghentikan makan. Tampak Amanda kini memberi usapan-usapan pada perutnya.
"Anak kamu nih, denger bapaknya mau pergi."
Arka tertawa, ia sudah mengira jika Amanda mengalami sakit lagi di bagian perutnya.
"Emangnya dia bereaksi?" tanya Arka.
"Iya, udah sejak beberapa hari belakangan ini lah." jawab Amanda.
"Setiap kali kamu datang atau mau pergi, pasti dia gerak. Kadang kayak kesenangan, kadang kayak marah kalau kamu pergi." lanjutnya lagi.
"Tapi kalau dia gitu, sakit nggak sih?"
"Nggak, cuma getar aja. Nggak tau kalau udah masuk bulan ke tujuh atau kedelapan nanti. Aku nggak tau gimana rasanya."
Arka menghela nafas lalu kembali tersenyum, ada perasaan hangat yang tiba-tiba menjalar di hati pemuda itu. Ia senang jika bayinya sudah bisa merespon banyak hal. Semacam ada kebanggaan tersendiri dalam dirinya.
Usai makan Arka berpamitan pada Amanda untuk segera berangkat. Tak lupa ia mencium perut istrinya itu dan berpesan,
"Jangan nakal, ya. Dengerin papa!"
Amanda tersenyum melihat apa yang dilakukan Arka terhadap bayi mereka.
"Aku berangkat, Man. Jangan kemana-mana kamu." pesan Arka
"Iya, abis ini tidur koq." tukas Amanda.
Arka lalu mengambil kunci mobil dan turun kebawah. Tiba-tiba sebuah notifikasi pesan singkat masuk ke handphone Amanda.
"Man, liat deh insta story-nya laki lo." ujar Nindya.
"Itu cewek, siapa ya?" tanya sahabatnya itu kemudian.
Karena penasaran Amanda pun membuka insta story tersebut. Tampak Arka bersama seorang perempuan tengah tersenyum ke kamera, pipi wanita itu sangat dekat dengan wajah Arka. Sementara dibelakang mereka ada Rio, yang tersenyum sambil mengacungkan dua jari tanda peace ke kamera.
Entah mengapa, tiba-tiba saja hati Amanda menjadi dongkol. Ia lalu mengklik nama perempuan tersebut, kebetulan Arka mentag namanya disana.
"@Bianca_adelina
Amanda memperhatikan bio gadis tersebut, yang menjelaskan jika dirinya adalah seorang aktris. Namun Amanda sendiri tak begitu mengenal gadis itu, karena ia memang jarang kepo terhadap aktor dan aktris di negri ini.
Ia lebih suka menonton tayangan drakor dan lebih menyukai bintang dari negara ginseng tersebut. Selain suaminya dan juga Rio, Amanda hanya tau pada Robert. Setidaknya ia ada dua atau tiga kali menonton film televisi yang dibintangi oleh pemuda itu.
Amanda menscroll foto-foto Bianca dan entah mengapa hatinya kian terbakar. Ada beberapa foto gadis itu bersama Arka di postingan baru-baru ini. Caption yang tertera disana adalah, Bianca memuji-muji kebaikan dan kemampuan akting Arka.
Raut wajah Amanda berubah penuh kekesalan. Ia membandingkan langsingnya tubuh gadis itu dengan tubuhnya yang kini membengkak didalam kaca.
"Hhhh." gerutunya kemudian.
***
Malam itu, disebuah bar. Nino mereguk gelas berisi minuman yang ada dihadapannya. Ini sudah kali kesekian ia mereguk minuman beralkohol tersebut.
Ia pun meletakkan gelas dengan penuh penekanan, lalu menghisap rokok yang sudah ia bakar sejak tadi. Sampai detik ini bayangan tentang Amanda tak mau hilang begitu saja dari benaknya.
Bagaimana tadi wanita itu bertekuk lutut dihadapan suaminya sendiri. Bagaimana cara ia berteriak, menyebut nama Arka dan memintanya melakukan hal yang ia inginkan.
Hati Nino benar-benar sakit, ingin rasanya ia datang lalu menghajar Arka berkali-kali. Agar ia segera bisa merebut Amanda dari tangan pemuda itu, dan dapat melakukan apa yang tadi mereka lakukan.
Ia mencintai Amanda, bahkan telah selama ini berlangsung. Rasa itu tak pernah pudar sedikitpun, meski ia agak sedikit terlambat dan harus didahului oleh bocah kecil brengsek seperti Arka.
"Arkaaa."
Suara Amanda saat menyebut nama Arka itu, seperti kembali terulang.
"Praaank."
Nino membanting gelas yang ada dihadapannya, lalu meletakkan sejumlah uang didepan bartender. Untuk mengganti apapun kerugian yang telah ia timbulkan sejak tadi.
Kepalanya begitu sakit, teriakan Amanda tersebut seakan menghujam jantung kehidupannya. Ia boleh saja sukses dan banyak uang. Tapi pemuda itu, Arka. Dia muda, tampan, dan tampaknya mampu memberi kepuasan tersendiri bagi Amanda.
Andai saja, ia bisa membayar pemuda itu untuk meninggalkan Amanda. Ya, andai saja begitu pikir Nino.
***
"Jadi lo sama Doni dapet duit dari si orang yang hampir nyerempet lo itu?" tanya Chanti pada Maureen, ketika mereka melangkah masuk ke sebuah bar.
Maureen minta ditemani oleh mereka untuk minum dan menghabiskan malam ini. Kebetulan uang yang dilempar oleh si pemilik mobil itu lumayan banyak. Jadilah ia ingin bersenang-senang malam ini.
"Yoi, gue nggak tau tuh orang kenapa. Udah kebanyakan duit kali."
Maureen bercerita sambil tertawa, namun kemudian ia terdiam. Ketika tanpa sengaja matanya mendapati sosok tampan yang tengah minum didepan bartender.
"Lo kenapa, Reen?" tanya Widya heran.
"Itu cowok yang ngelempar duit dari mobil."
Chanti dan Widya mengikuti arah pandangan Maureen. Dimana Nino tengah mereguk minumannya, lalu menghisap rokok. Chanti dan Widya terdiam, laki-laki itu memang sangat tampan sekali.
Jas, sepatu dan jam tangan yang ia kenakan kelihatan mahal. Berpadu kontras dengan pembawaannya yang cool dan berwibawa. Terlihat jelas jika ia seorang laki-laki sukses.
"Lo berdua, tunggu disini. Pesan apapun yang kalian mau, ini ATM gue. Pin nya 112347."
Maureen berlalu meninggalkan Chanti dan Widya untuk kemudian menuju bartender. Maureen duduk disebelah Nino, lalu memesan minuman. Tampak Nino cuek saja dengan kehadiran wanita itu.
"Sendirian?" tanya Maureen kepada Nino yang tampaknya masih kuat untuk menenggak minuman. Meski sejak kedatangannya ia telah minum banyak sekali.
Nino hanya diam dan tak menggubris pertanyaan Maureen.
"Kalau ada masalah, sebaiknya jangan disimpan sendiri. Sampai mau menabrak orang dan melempar uang terhadap orang itu."
Kali ini Nino menoleh, ia teringat pada peristiwa tersebut. Maureen tersenyum sambil mengangkat gelasnya. Tak lama kemudian ia pun mulai meminum minumannya.
Nino menuang kembali minuman, namun pada gelas yang lain. Tak lama kemudian ia menggeser gelas tersebut ke muka Maureen. Meski wajahnya tetap dingin dan menatap ke depan.
Thank you." ujar Maureen kemudian.
"Maureen kemana?" tanya Widya pada Chanti, ketika mereka berdua sudah setengah mabuk. Mereka memperhatikan sekitar dan mencari keberadaan teman palsu mereka itu.
"Udeh dibungkus orang kali." ujar Chanti lalu mereka pun kini tertawa.
Tak lama kemudian dua orang pria tampan mendekati mereka berdua. Tak butuh waktu lama, mereka pun lalu akrab dan duduk di meja yang sama.
Sementara di kediaman Nino, laki-laki itu mendaratkan kecupan. Pada kedua tangkup yang dilapisi lipstik berwarna merah maroon. Ia lalu menarik seluruh benang yang menutupi keindahan perempuan itu dengan cepat. Perempuan yang tiada lain adalah Maureen tersebut kini terbaring pasrah dihadapannya.
Tak lama tangannya mulai menjajaki tiap inchi suguhan hangat, yang tersaji didepan matanya. Maureen pun jadi belingsatan. Ia kemudian melakukan hal serupa pada si laki-laki tampan, yang bahkan ia sendiri tak tau siapa namanya itu.
Nino menyibak tabir lalu melakukannya dengan penuh penekanan. Hingga Maureen pun berteriak-teriak menerima semua itu.
Maureen mengira jika Nino benar menyukainya. Ia tak tahu jika saat ini di mata Nino, hanya ada wajah dan mata Amanda. Ia sudah mabuk dan hanya melihat Amanda dihadapannya.
Nino makin mempercepat tempo gerakan, setelah beberapa saat berlalu. Ia tidak sabar untuk menumpahkan cintanya ke dalam diri Maureen, yang dalam penglihatannya adalah Amanda. Ia melakukan itu semua dari berbagai sisi hingga kemudian,
"Aaaakh" teriaknya memecah.
Ia lalu terhempas dan tertidur di pelukan Maureen. Maureen merasa menang karena berhasil menguasai pria itu. Tanpa Maureen sadari jika didalam penglihatan laki-laki Itu tadi, dirinya adalah Amanda. Perempuan yang sangat dicintai laki-laki itu.