Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Takdir


Usai mengajak anak istrinya jalan ke mall dan sedikit belanja-belanja, Arka pun kini membawa mereka untuk pulang ke rumah.


Si kembar telah dua kali tidur dan dua kali bangun sepanjang hari ini. Arka meletakkan kedua anaknya itu di box bayi, mereka kini tengah mengoceh hoa-hoa di dalam box tersebut.


"Ka, kita mandiin mereka yuk." ujar Amanda.


"Iya, tunggu bentar ya. Aku ganti celana pendek dulu." ujar Arka. Arka pun kemudian berganti, lalu mereka menyambangi kamar si kembar.


"Ayo mandi." ujar Amanda pada kedua bayinya. Azka dan Afka memejamkan mata.


"Heh, jangan pura-pura."


Arka menggelitik Azka.


"Eheeee."


"Mau ngerjain papa sama mama ya." ujar Amanda lalu menggendong Afka. Sementara Azka dibawa oleh ayahnya.


"Eheeee."


"Ehe, ehe. Cubit kamu." Amanda memberikan cubitan pada anaknya, namun tidak kuat hanya gemas.


"Eheeee."


"Air nya udah siap, Man?" tanya Arka.


"Udah."


Mereka berdua membawa bayi-bayi itu ke bathtub.


"Ini si ganteng, tapi gembul, tapi gembul iya?"


Amanda berujar pada para bayinya, bayi-bayi itu hanya tertawa.


"Kamu keramas ya." Arka menyiramkan air ke kepala Azka dengan tangannya.


"Hoayaaa."


"Hoaya, hoaya. Cubit, cubit, cubit." Amanda gemas sendiri pada kedua anaknya. Ia sangat sangat menahan diri untuk tidak memberikan cubitan yang kuat.


"Pengen unyel-unyel, Ka."


"Kamu pikir aku nggak gemes dari tadi?. Ini aku tahan-tahan aja." ujar Arka.


"Hoayaaa."


"Hoaya, hoaya. Ini ketek ya nih, dibersihin dulu." ujar Amanda seraya tertawa.


"Eheeee." Bayi itu merasa geli lantaran ketiak nya di bersihkan dengan sabun.


Usai mandi, mereka digulung dengan handuk, Arka dan Amanda tertawa-tawa demi melihat mereka. Setelah dikeringkan, keduanya dipakaikan baju dan diberi susu.


"Nah, sekarang mereka udah rapi dan bersih. Giliran papa dan mamanya mandi." ujar Arka seraya tersenyum penuh maksud. Amanda mencubit dada Arka, seakan tau isi kepala suaminya itu.


"Yuk." ajak Arka kemudian.


"Ok." ujar Amanda sambil tertawa.


Maka rintihan, racauan, dan erangan nikmat pun terdengar, di segala penjuru kamar mandi mereka yang luas. Arka melakukannya hingga dua kali, lalu keduanya terhempas dengan tubuh yang begitu lemas. Namun ada senyuman puas yang kini terukir di wajah mereka.


"Gimana, banyak nggak?" bisik Arka ditelinga Amanda, ketika mereka telah selesai dan mengatur nafas.


"Banget, yang kedua juga sama aja. Ini kalau nggak pake kontrasepsi, udah hamil kembar tiga mungkin aku dari kemaren-kemaren."


Arka tertawa.


"Kalau nambah kembar tiga lagi, rame banget ya Man."


"Iya nggak bisa kita tinggal di penthouse lagi kita, mesti tinggal dirumah yang halamannya gede. Apalagi kalau cowok semua tuh, beh dijamin emaknya kurus bagaikan lidi."


Lagi dan lagi Arka tertawa.


"Biar kata di urus pembantu juga sama aja, emak bapaknya bakalan repot-repot juga. Dua itu aja hoaya-hoaya mulu. Telat dikit diperhatiin, hoayaaa. Kalau nggak ngamuk."


Arka masih tertawa dan mencium pipi istrinya tersebut.


"Kita bersihin dulu yuk, abis itu tidur. Capek banget aku." ujar Arka.


Amanda tertawa.


"Ya iyalah capek, dua kali."


Untuk yang kesekian kalinya Arka tertawa, mereka lalu membersihkan diri dengan mandi. Tak lama setelahnya mereka berganti pakaian dan tertidur dengan lelap.


Beberapa jam berlalu, Arka terbangun dari tidur dan tak mendapati Amanda di sampingnya. Segera saja pria itu melihat ke kamar mandi, namun Amanda tak ada disana. Ia lalu keluar dan menyambangi kamar si kembar. Kedua anak itu masih tertidur pulas dan Amanda pun juga tak ada disana.


Arka melihat ke arah meja makan, tempat itu kini sudah dipenuhi makanan yang masih hangat. Tampaknya Amanda baru saja selesai memasak.


"Amanda?"


"Hmm?"


Amanda bersuara dari sebuah ruangan, Arka melangkah ke arah ruangan itu dan membuka pintu. Terlihat Amanda sedang membongkar barang-barang didalam kardus.


"Kamu ngapain, Man?" tanya Arka.


"Ini lagi beresin tempat, mau buang yang nggak berguna." ujarnya kemudian.


"Kamu makan gih, Ka. Aku udah masak tuh."


"Iya, ntar aja bareng." ujar Arka.


Pemuda itu kini berjongkok dan melihat-lihat apa yang sudah dibongkar oleh istrinya. Perhatiannya tertuju pada beberapa album foto lama. Ia meraih satu album tersebut, lalu membukanya.


"Ini tahun berapa, Man?" tanya Arka seraya terus membuka album foto tersebut.


"Nggak tau, Ka. Kayaknya campur-campur deh." ujar Amanda. Wanita itu masih terus memilah-milah.


Arka membolak-balik dan memperhatikan foto-foto yang ada disana satu demi satu. Sampai kemudian,


"Amanda ini kamu?" tanya Arka pada istrinya tersebut. Amanda lalu sedikit memanjangkan kepalanya ke arah album.


"Iya, aku umur sekitar 9 apa 10 tahun gitu."


"Serius?" tanya Arka tak percaya.


"Iya, emangnya kenapa. Jelek?" tanya Amanda seraya menatap suaminya.


Arka buru-buru mengambil handphone dan membuka galeri fotonya. Ia pun lalu menunjukkan foto yang sama, foto itu merupakan gambar yang di scan ulang oleh Arka. Amanda terkejut sekaligus tak percaya.


"Ka, bayi ini kamu?" tanya Amanda dengan tatapan yang tercengang. Arka yang juga masih tak percaya itu pun mengangguk. Mereka berdua lalu saling menatap satu sama lain, antara masih kaget namun hendak tertawa.


"Serius Ka, ini kamu?"


"Iya, Man. Ini beneran kamu?" Arka balik bertanya.


"Iya." ujar Amanda.


Perlahan ia pun mengingat peristiwa kala itu, Amanda diajak ibunya jalan-jalan di sebuah tempat rekreasi. Ibunya mengambil beberapa foto Amanda di berbagai titik, sampai kemudian mereka lelah dan beristirahat sejenak. Di dekat mereka ada sepasang suami istri yang tengah membawa bayi di stroller, bayi itu berusia kira-kira 7 atau 8 bulanan.


"Ih lucu banget." ujar Amanda saat itu.


Kedua orang tua si bayi tersenyum menanggapi Amanda dan ibunya, mereka pun lalu berinteraksi. Ibu Amanda dan ibu Arka terlibat obrolan seputar anak, meski mereka baru saja saling mengenal.


"Ini, ibu Man. Kamu perhatiin dong?" ujar Arka.


"Oh iya ya, Ka. Ya ampun dulu kita pernah ketemu." ujar Amanda seraya tersenyum.


Kini mereka berdua berada begitu dekat sambil memperhatikan album tersebut. Amanda juga ingat, saat itu ia meminta izin untuk menggendong Arka.


"Tante, ini namanya siapa?" tanya Amanda.


"Namanya Arka."


"Hai Arka."


"Eheeee." Arka bayi tertawa padanya saat itu.


"Boleh gendong nggak, tante?"


"Eh Amanda, tangan kamu kotor nggak." ujar ibunya saat itu.


"Nggak apa-apa, bu." ujar ibu Arka membela Amanda.


"Iya deh cuci tangan dulu." ujar Amanda.


Ia pun lalu mencari tempat cuci tangan dan kembali dengan segera.


"Hai Arka, aku mau gendong kamu."


"Eheeee."


"Hati-hati Amanda." Ibu Amanda mengingatkan.


"Nggak, aku pelan-pelan koq Ma."


Amanda lalu menggendong Arka.


"Mbak fotoin dong." ujar Amanda kepada salah satu pembantunya yang ikut dalam acara jalan-jalan tersebut. Lalu Amanda bersiap didepan kamera polaroid, dengan latar belakang ibunya dan ibu Arka. Sementara ayah Arka ada dibelakang sambil ngobrol dengan seseorang.


"Cekrek."


Foto tersebut pun diambil hingga dua kali. Satu ia simpan dan satu lagi diberikan pada ibu Arka. Amanda kini masih tak percaya, ia benar-benar tidak menyangka jika bayi yang ia gendong tersebut adalah jodohnya.


"Ka, aku merinding tau."


"Sama aku juga." ujar Arka seraya tersenyum.


Mereka masih terus menatap foto tersebut, lalu Arka membalik hingga tiga halaman berikutnya. Dan lagi-lagi ia dibuat tak percaya pada apa yang ia lihat.


"Apa lagi, Ka?" tanya Amanda pada suaminya itu.


"Jangan bilang ada foto kita lagi." lanjutnya kemudian.


"Ini beneran kamu juga?" tanya Arka seraya memperhatikan sebuah foto, dimana Amanda berjingkrak sambil mengangkat tangan. Amanda saat itu tengah menonton sebuah band favoritnya yang sedang manggung.


"Kamu?" Amanda mengerutkan keningnya.


"Liat dong ini siapa?" ujar Arka.


Mata Amanda menatap ke arah foto, dan lagi-lagi wanita itu terkejut dibuatnya. Seorang anak laki-laki berusia 10 tahun ada didekatnya saat itu, anak itu berdiri seraya melirik ke arah Amanda. Amanda menutup mata dengan tangan seraya tertawa dan menarik nafas beberapa kali.


"Ya ampun, Ka. Serius ini?" ujarnya kian tak percaya.


"Inget nggak kamu ngomong apa waktu itu?" ujar Arka.


"Aku masih inget loh." lanjutnya lagi.


Amanda mengingat peristiwa kala itu, saat ia tengah menonton sebuah band. Saking semangatnya, ia sampai hampir terjatuh dan menyenggol seorang bocah berusia 10 tahun yang ada di dekatnya.


"Eh sorry ya." ujar Amanda. Bocah itupun mengangguk, namun ia memperhatikan bocah itu lebih dalam.


"Cakep deh kamu." ujarnya kemudian, bocah itu tersipu malu. Amanda, Nindya dan Rani saat itu berlalu dihadapannya.


"Calon ganteng tuh." ujar Nindya.


"Aku tunggu ya dek." ujar Amanda lagi. Ia tertawa-tawa lalu perlahan menjauh, Sementara Arka tersenyum dengan wajah yang bersemu merah.


"Liat aku sama siapa?" ujar Arka. Dan lagi-lagi Amanda memperhatikan foto tersebut.


"Ini Rio ya." ujar Amanda kemudian.


"Iya ini Rio."


Keduanya kini sama-sama tertawa. Arka merangkul istrinya itu dan mencium keningnya beberapa kali.


"Ternyata emang bener ya, Ka. Jodoh itu emang nggak ada yang tau." ujar Amanda.