Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Kaget


Amanda dan Intan tengah sibuk memasak, dan meletakkan masakan yang sudah jadi ke atas meja makan.


Sedang Nadine dan Nino kini menggendong si kembar. Sementara Arka dan Rio sibuk dengan skripsi mereka, yang mesti di revisi di beberapa bab.


Kedua pemuda itu tengah duduk didepan laptop, di kursi depan. Sedang Ansel tengah membereskan barang si kembar, karena hari ini mereka semua akan pulang. Tiba-tiba handphone Intan berbunyi, memperlihatkan sebuah notifikasi dari Satya.


"Tan, lo sama bu Amanda nggak?" tanya Satya di WhatsApp.


"Iya, kenapa?" jawab Intan kemudian.


Satya mengirimkan sebuah link. Intan pun mengklik link tersebut, dan terbukalah suatu postingan dari salah satu akun lambe-lambean.


"Hah?"


Intan pun seketika syok, mendapati beberapa foto Arka dan Amanda yang di ambil secara candid. Caption postingan tersebut menggiring opini masyarakat, tentang Arka yang kini menjadi berondong bayaran sekaligus peliharaan Amanda.


Intan ingin memberitahu Amanda, tapi kini wanita itu tengah sibuk memasak. Ia pun jadi serba salah, namun akhirnya ia memilih untuk tidak memberitahukan hal itu terlebih dahulu.


Sementara di lain pihak, Rio yang baru saja menghidupkan hp nya, kini menerima banyak sekali notifikasi dari mbak Arni, Robert, maupun sesama teman artis yang bernaung di manajemen peace production.


Rio pun terkejut, berita tersebut sama persis dengan apa yang tadi diberitahukan Satya kepada Intan. Belum sempat ia bersuara, Arka sudah keburu membuka handphonenya. Begitu pula dengan Amanda.


"Arkaaa."


Amanda berujar setengah berteriak, ketika melihat ratusan notifikasi Instagram masuk ke handphonenya.


Nadine, Nino, dan Ansel kompak menoleh kearah wanita itu. Sementara kini Arka berdiri lalu berbalik menatap sang istri, ia sudah mengetahui apa yang telah terjadi. Liana yang baru keluar dari kamar mandi tampak celingukan.


Arka, Amanda dan Rio terpaku dalam diam. Membuat Nino, Nadine dan juga Ansel merasa aneh serta heran. Sementara Intan telah mengetahui apa yang menjadi penyebabnya.


"Ada apa ini?" tanya mereka kemudian.


Intan mendekat pada mereka, lalu memberitahukan gosip yang tengah hangat dibicarakan.


"Ka, ini gimana?" tanya Amanda dengan nada panik.


"Iya bro, gimana?" tanya Rio tak kalah paniknya.


"Lagian kenapa bisa ketahuan sih?" tanya Nino.


"Ini pasti Arka nih, teledor." timpal Ansel.


"Iya, Ka. Lo terlalu santai orangnya." timpal Rio.


"Ini gimana dong, Ka?" Amanda kembali bertanya. Pada saat yang bersamaan, si kembar pun menangis dan menambah ruwet suasana.


"Gaes, gaes. Please." ujar Arka kemudian.


"Tenang dulu, gue nggak bisa berfikir kalau kayak gini." lanjutnya lagi.


Mereka semua pun lalu diam. Nino, Nadine mencoba mendiamkan si kembar dan tak lama kemudian usaha tersebut pun berhasil.


"Ok, gini."


Arka menghela nafas.


"Amanda letakin handphonenya." ujar Arka kemudian.


"Semua yang di cari dan di cecar media, letakkin handphonenya."


Amanda, dan Rio meletakkan handphone mereka. Meski tak di cecar media, namun Ansel, Nino, Nadine, Liana dan Intan turut meletakkan handphone mereka.


"Ok, sekarang. Amanda kamu udah selesai masaknya?" tanya Arka.


Amanda mengangguk.


"Udah." jawabnya kemudian.


"Ya udah, kita makan dulu. Mau apapun badai yang ada diluar sana, yang penting makan dulu." ujar Arka lagi.


Perlahan Amanda pun tersenyum, lalu yang lainnya bernafas lega dan ikut tersenyum pula.


"Ok, kalau gitu." ujar Nino seraya mendekat ke meja makan, diikuti Nadine, dan juga Ansel serta Intan.


"Hoaaaa." Azka yang ada dalam gendongan Nino bersuara.


"Apa kamu hoaaaa, hoaaaa, hmm?' tanya Nino pada Azka, Azka pun tertawa girang.


"Eheee."


Sementara kembarannya mengenyot jari dalam gendongan Nadine. Arka, Rio, Liana dan Amanda pun turut mendekat ke meja makan.


Sejenak mereka melupakan masalah, yang kini tengah mencuat kepermukaan. Mereka fokus menikmati masakan yang dibuat oleh Amanda dan juga Intan.


Amanda pun sudah jauh lebih tenang ketimbang tadi, karena baginya tak masalah ia dihujat. Toh ia bisa saja menghapus akun dan tidak mau tau lagi tentang apa yang terjadi di sosial media. Tadi ia hanya mengkhawatirkan Arka, makanya ia menjadi panik. Ia takut suaminya itu akan stress menghadapi hal ini. Namun Arka pun santai saja, jadi ia rasa tak ada yang perlu di cemaskan lagi.


"Nanti, Amanda pulang sama Nino, Nadine. Kerumah satunya." ujar Arka.


"Aku sama Rio akan ke kantor manajemen."


"Ok." ujar Amanda kemudian.


"Gue?" tanya Ansel.


"Lo anter Intan sama Liana lah." ujar Nino kemudian.


Mereka pun lalu membereskan barang yang masih tersisa. Sesuai kesepakatan, Amanda pulang bersama Nino dan juga Nadine. Sedang Rio dan Arka kini bersama menuju ke kantor manajemen, karena pak Jeremy, Philip dan mbak Arni ingin bertemu mereka berdua.


"Parah banget sih netijen." ujar Nadine yang tengah membuka laman akun gosip, ia tengah membaca berbagai macam komentar yang tertera disana.


"Namanya juga netijen." ujar Nino kemudian.


"Itulah yang menunjukkan bahwa netijen kita tuh, sebenarnya punya banyak waktu luang. Tapi nggak dimanfaatkan dengan baik, makanya negara nggak maju-maju." lanjutnya lagi.


"Pasti gue dikatain tante-tante gatel, kan?" tanya Amanda pada Nadine.


Nadine diam karena tak enak hati, memang benar banyak yang mengatakan Amanda begitu. Terutama bocil yang foto profilnya sambil monyong sok imut.


"Kayaknya ini para bocil yang halu nikah sama Arka deh, mbak." ujar Nadine.


Amanda tertawa.


"Udalah, nggak usah diurusin." ujar Nino kemudian.


***


"Anjrit, udah disini aja para admin hengpong jadul." ujar Rio terperanjat.


"Beh, gawat nih." ujar Arka.


Ia sempat melihat pak Jeremy memberi kode padanya, untuk segera pergi. Arka segera membelokkan mobilnya. Sampai kemudian salah seorang wartawan infotainment tersebut mulai menyadari kehadirannya.


"Eh, itu kayaknya Arka deh." ujar mereka kemudian.


"Buruan, Ka. Musuh, Ka. Kita salah turun di Paradise Resort ini, harusnya ke Pochinki" ujar Rio panik.


"Pochinki sama aja Bambang, rame juga."


"Arka, tunggu Arka."


Para wartawan infotainment mulai berlarian mendekati. Arka yang selesai berbelok pun langsung menekan pedal gas. Namun jalan mereka dihalangi awak media lain. Arka menekan klakson beberapa kali. Dengan susah payah, akhirnya mereka pun bisa keluar dari kerumunan tersebut.


"Bangsat." ujar Arka setelah mereka berhasil lolos.


"Dah berasa kayak artis Holywings gue." ujarnya kemudian.


"Hollywood, bro." ujar Rio membenarkan.


Tak lama kemudian banyak notifikasi yang masuk ke handphone Rio. Ternyata itu notifikasi dari DM Instagram.


"Tuh kan, pasti banyak nih yang udah nge DM gue." ujar Rio seraya memperhatikan handphone.


"Kerjaan siapa sih ini?. Ketemu, gue pecahin palanya." ujar Arka dengan nada kesal.


***


Mobil Nino tiba didekat rumah Amanda yang satunya, namun mereka dikagetkan dengan banyaknya kerumunan orang di depan pagar rumah tersebut.


"Man, Man, Man. Nunduk, Man." ujar Nino.


Amanda pun buru-buru menundukkan kepalanya, mobil Nino berlalu dari sana. Tak lama kemudian, Amanda pun menelpon Anita.


"Iya, bu. Bener, mereka cari ibu. Katanya buat konfirmasi soal hubungan ibu sama bapak." ujar Anita di seberang.


"Ya udah deh, aku cari tempat lain dulu."


"Baik, bu."


"Jangan ada yang memberikan keterangan apapun, ya." ujar Amanda lagi.


"Baik, bu."


"Aduh, kemana ya, Nin?. Apa kerumah mertua aku aja, ya?" lanjut Amanda kemudian.


"Coba telpon dulu mertua kamu, takutnya nanti sama aja."


"Ok, wait."


Amanda menelpon ibu Arka, namun tak ada yang menjawab. Ia pun lalu menelpon Rianti.


"Iya, mbak. Udah tau mereka rumah ini, ini aja untung di serbu sama gengnya bu Mawar. Jadi para admin akun lambe itu nggak berani."


"Ya udah, mbak cari alternatif lain dulu. Jagain ibu sama papa ya, Ti."


"Iya, mbak." ujar Rianti kemudian.


Amanda menutup telpon.


"Nggak bisa, Nin. Udah ketahuan juga."


"Apa aku bilang." ujar Nino.


"Aku telpon Arka dulu deh."


Amanda pun menelpon suaminya.


"Arka."


"Iya, Man. Kenapa?" tanya Arka.


"Aku pulang kemana?. Kata pak Darwis, depan penthouse rame, depan rumah aku satunya tadi rame juga. Di arah masuk ke rumah ibu kamu juga sama."


"Kan aku punya rumah, Firman."


"Oh iya ya, hehe. Lupa, Ka."


"Ya udah kamu coba kesana dulu. Kalau emang masih rame juga, sewa apartemen atau ke hotel dulu aja."


"Ya udah, aku coba kerumah dulu ya."


"Iya, kabarin aku ya."


"Ok, kamu dimana sekarang?"


"Ini lagi jalan juga, manajemennya rame tadi. Paling kerumah aja langsung.


"Ok, ketemu disana aja ya."


"Ok."


Amanda pun menyudahi telponnya.


"Gimana, Man?" tanya Nino.


"Kerumah Arka aja, Nin."


"Lah kata kamu tadi, rame rumahnya."


"Itu rumah ibunya."


"Oh ini, kerumahnya Arka?"


"Iya bener."


"Ok deh, tunjukin aja jalannya.


Amanda pun memberitahu alamat rumah Arka pada Nino dan mereka menuju kesana. Beruntung, rumah tersebut ternyata sangat sepi dan tidak tercium media.