Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Masih Disini


"Nin."


Amanda membuka pintu kamar Nino. Kebetulan pria itu baru saja bangun dari tidurnya yang cukup lelap.


"Hey, guys." ujarnya seraya tersenyum.


Amanda dan Arka juga tersenyum dan langsung mendekat kepada Nino. Mereka memeluk Nino bergantian.


"Hoaya mana?" tanya Nino dengan nada suara yang lemah.


"Ada di luar, main sama uncle Ansel. Sambil ngeliatin kelinci sama burung."


Nino tersenyum, lalu mengangkat badan dan bersandar pada bantal. Amanda dan Arka sempat membantu Nino sejenak.


"Nin, jangan kayak gini. Kamu harus jadi lebih kuat." ujar Amanda kini menggenggam tangan saudaranya itu.


"Aku nggak apa-apa, jangan khawatir." ujar Nino kemudian.


"Gue akan selalu khawatir sampai lo bener-bener sembuh." ujar Arka.


Lagi-lagi Nino tersenyum, meski wajahnya begitu pucat.


"Nin." Amanda menatap Nino dengan lembut.


"Kita lahir bukan rencana kita. Bukan juga salah kita, kalau ada latar belakang yang menyedihkan dibalik kelahiran kita. Kalau ada bagian yang nggak bisa kita handle, diluar batas kemampuan kita. Biarin aja."


Nino menunduk dalam, mendengar pernyataan Amanda tersebut.


"Sekarang pilihannya cuma dua, menerima dan terus menjadi kuat atau menjadi lemah." lanjutnya lagi.


Nino masih menunduk.


"Aku tau ini nggak mudah, tapi aku minta berusahalah. Kamu pasti bisa."


Nino menatap Amanda, dan pada detik berikutnya ia pun memeluk saudaranya itu. Nino tak kuasa menahan air mata, meski ia sangat-sangat berusaha. Arka mendekat dan mengusap bahu saudaranya itu, agar ia sedikit tenang.


"We love you, Nin." ujar Amanda. Lagi-lagi Nino berusaha tersenyum, ia menyeka air matanya dengan tangan dan kembali berusaha bersikap tegar.


"Hoayaaa."


Ansel muncul di depan pintu kamar Nino, sambil menggendong si kembar dengan kedua tangannya.


"Cepet sembuh, Nin. Lo nggak kangen gendong hoaya apa?" tanya Ansel.


Nino memperhatikan kedua keponakannya itu sambil tersenyum.


"Kangen banget gue sama mereka." ujarnya kemudian. Arka dan Amanda tersenyum.


"Makanya lo harus sehat." ujar Arka.


"Hoayaaa."


Azka dan Afka membuat gerakan seolah meminta ke dalam kamar, untuk mendekati uncle Nino.


"Nggak boleh ya, uncle lagi sakit." ujar Nino.


Seketika kedua bibir si kembar mendadak jelek dan,


"Hek, hek." Mereka mulai mengeluarkan senjata pamungkas, yakni menangis.


"Huaaaaaa."


"Sayang-sayang, jangan nangis." Ansel membawa mereka menjauh, Amanda menyusul.


"Sel, bisa nggak handle mereka?"


"Udah nggak apa-apa, kamu sana sama Nino. Mereka udah minum susu kan?"


"Udah tadi di mobil, pas udah deket jalan sini."


"Ya udah."


"Huaaaa."


"Iya sayang, kita liat kelinci ya. Liat kelinci, sama burung."


Si kembar mendadak diam, memperhatikan wajah Ansel yang sengaja dibuat lucu.


"Eheeee." Tiba-tiba kedua bayi tertawa meski masih berurai air mata.


"Kenapa nangis?" tanya Ryan sambil menyambut salah satu dari mereka.


"Mau sama uncle Nino, tapi nggak boleh." ujar Ansel.


"Nggak boleh ya, tunggu uncle Nino sembuh dulu." ujar Ryan sambil membawa salah satu cucunya menjauh, mereka pergi keluar untuk melihat hewan peliharaan Ryan. Sementara di kamar, Arka, dan Amanda lanjut berbincang dengan Nino.


***


Di suatu tempat.


"Kami sedang berusaha mengumpulkan bukti-bukti, dan kami akan urus perkara ini secepatnya.


Seseorang bicara pada Aston ditelpon. Ia kini sedikit bernafas lega, karena kemungkinan untuk menjerat Amman perihal dosa masa lalunya, terlihat cukup besar. Pria itu lalu berterima kasih, pada orang yang ada di telpon tersebut.


Tak lama setelahnya, ia pun menyudahi percakapan dan mencari Citra. Kebetulan Citra telah menyelesaikan sesi konsultasinya dengan psikiater. Hari ini seperti biasa, mereka mengunjungi sebuah klinik dan menyambangi bagian psikiatri.


Terhitung sejak Aston mengetahui perihal masa lalu istrinya yang kelam, ia membawa istrinya itu untuk datang ke tempat tersebut. Bermaksud agar beban yang ada didalam diri Citra, sedikit berkurang.


"Sayang, kamu sudah selesai?"


Citra mengangguk, Aston memeluk istrinya itu dengan erat.


"Orang ku sedang mengumpulkan bukti-bukti, terkait kejahatan yang pernah dilakukan Amman terhadap kamu. Kemungkinan besar, kita bisa menjerat dia."


Citra mengangguk, Aston melepaskan pelukannya.


"Kita pulang, ya." ujar Aston kemudian.


Lagi-lagi Citra mengangguk, lalu Aston menggandeng tangan wanita itu menuju halaman parkir klinik.


***


"Chan, ini udah cukup lama berlalu. Tapi pihak yang berwajib belum menemukan tanda-tanda keberadaan Maureen."


Widya berujar pada Chanti di siang hari yang terik.


"Gue juga bingung harus gimana, Wid. Gue nggak punya kenalan pihak berwajib, detektif atau apapun itu yang bisa menunjang pencarian Maureen. Gue cuma bisa berdoa, semoga dia baik-baik aja."


Widya menghela nafas.


"Lama-lama kangen juga ya sama dia, walau nyebelin, suka ngomong tinggi."


"Iya, kadang kalau dia ada pengen banget gue geprek ke ulekan sambel. Tapi dia nggak ada gini, gue khawatir sama nasibnya dia."


"Semoga dia nggak apa-apa." ujar Widya kemudian.


Sementara di kediaman Fritz, Maureen tengah menggigil kedinginan. Suhu tubuhnya meningkat, tampaknya virus telah menyerang wanita hamil tersebut.


"Fritz, kita harus bawa dia ke rumah sakit."


Salah satu bodyguard Fritz berujar pada pria tua itu.


"Atas dasar apa, kamu memerintah saya?" ujar Fritz pada bodyguard nya itu.


"Atas dasar kemanusiaan, dia hamil dan sakit. Dia harus mendapat perawatan medis."


Fritz menatap sang bodyguard yang muda dan tampan tersebut.


"Aaa, do you like her?" tanya Fritz seakan mencurigai sesuatu.


Pria tua itu lalu mengeluarkan senjata api dan mengarahkannya kepada Maureen, kebetulan pintu kamar Maureen memang sedang dibuka oleh Fritz. Agar wanita itu mendapatkan pelayanan dan perawatan dari para pembantu yang bekerja dirumah tersebut.


"Kalau saya tarik pelatuk ini, and boom. Dua nyawa melayang."


Bodyguard tersebut sudah sangat ingin menghajar Fritz, namun posisinya juga berbahaya. Jika ia bereaksi sedikit saja, ia bisa membahayakan nyawa Maureen dan juga bayi yang tengah dikandung wanita itu.


"Jangan mencoba untuk melakukan apapun, Jordan. Ingat bahwasannya saya yang membesarkan kamu, karena mendiang ibumu adalah adik kesayangan saya. Dia bodoh mencintai ayah kamu yang miskin, berkorban harta demi laki-laki yang tidak tahu diri. Kemudian dia meninggalkan adik saya dalam keadaan mengandung kamu. Adik saya terluka hatinya, dia terpuruk, dan akhirnya meninggal setelah melahirkan kamu. Dengan kedua tangan ini, saya mengurus kamu. Dan sekarang kamu ingin menentang saya?"


Jordan diam, tubuhnya seakan membeku. Namun ia juga tak tega, melihat kondisi wanita yang di sekap oleh pamannya itu. Ia ingin sekali bisa menolong Maureen, tapi terbentur hutang budi dengan pamannya.


Maureen terus merintih didalam kamar, tak lama kemudian seorang pembantu melintas dan membawakan obat untuknya. Jordan tau ini cukup berbahaya, mengingat tak bisa memberikan sembarangan obat pada perempuan yang sedang hamil.