Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Antara Kita dan Kota Tua


"Man."


"Hmm?"


"Arka itu, suami kamu?"


Amanda terkejut mendengar pertanyaan tersebut. Mungkinkah tadi Nino mendengar secara jelas pertanyaan Nindya dan langsung menghubungkannya ke arah sana. Ke arah dugaan apakah Arka adalah suami Amanda.


"Mmm, iya." jawab Amanda kemudian.


Tak ada pilihan lain selain jujur, karena ketidakjujuran hanya akan mengundang pertanyaan berikutnya.


"Oh."


Nino lalu memaksakan sebuah senyum. Amanda tau ada kekecewaan di hati pria itu. Namun dengan cepat Amanda mengalihkan topik pembicaraan.


"Keluarga angkat kamu, tau kamu di Indonesia?" tanya nya pada Nino.


"Tau, aku izin sama mereka. Dan aku juga bilang kalau aku kesini untuk melamar kamu."


Amanda tersenyum, ia tengah berfikir untuk mencari topik yang lainnya lagi. Agar ia tak terjebak untuk membahas soal Arka. Sementara Nino sendiri sudah paham, jika Amanda hanya tak ingin membahas tentang suami kontraknya itu lebih lanjut.


"Kamu masih sering ke kota tua?" tanya Nino seakan telah melupakan persoalan tentang Arka. Ia sengaja agar Amanda merasa nyaman kembali dalam berbicara.


"Beberapa hari yang lalu aku kesana, tapi terus hujan deras." jawab Amanda.


Nino teringat pada suara yang saat itu memanggil nama Arka. Dan Nino pun teringat laki-laki itu pernah menabrak bahunya. Bahkan yang terakhir, ia bertemu lagi dengan terduga Arka didepan kampus. Tempat dimana Amanda mengajar.


"Nino."


Suara Amanda memecah lamunan Nino.


"Iya, kenapa?" tanya Nino dengan terbata-bata.


"Kamu mikirin apa?"


"Mmm, aku kangen sama kota tua. Kapan-kapan kalau kamu nggak sibuk, mau nggak kesana?"


Nino berusaha menutupi keresahannya.


"Hari ini juga boleh sih." ujar Amanda.


"Emangnya kamu abis ini, nggak ada kerjaan lagi?"


Amanda menggeleng.


"Mau kesana hari ini?" tanya Amanda.


"Tapi, apa kamu nggak capek?" Nino balik bertanya, Amanda pun tersenyum.


"Nggak koq, kebetulan aku hamil nggak nyusahin anaknya. Nggak gampang capek juga, karena aku makannya banyak."


"Iya, sih. Tadi kamu makannya banyak banget." ujar Nino.


Mereka kini sama-sama tersenyum. Sementara di suatu sudut, di halaman kampus. Maureen tampak menatap Doni dengan tatapan menginterogasi.


"Apa bener, Arka yang menghamili Amanda?" tanya Maureen pada pemuda itu.


"Kenapa lo tanya gue?" jawab Doni ketus.


Maureen lalu tertawa.


"Jawab aja iya, kenapa sih?" ujar perempuan itu sambil masih tertawa.


"Ya, kalaupun iya. Emangnya kenapa?" tanya Doni.


"Kenapa lo tanya?" Maureen kian mendekat pada Doni, dari posisinya yang semula.


"Arka belum mutusin gue sampe saat ini, dan lo sama Rio tega-teganya nutupin dari gue soal itu." lanjutnya kemudian.


"Oh ya?. Terus kebohongan lo terhadap Arka selama ini gimana?"


Doni balas menatap tajam ke arah Maureen.


"Yakin, lo ngomong gini karena lo peduli sama Arka?. Bukannya lo sakit hati kan sama dia?"


"Maksud lo?" tanya Doni bingung.


"Hahaha." Lagi-lagi Maureen tertawa.


"Doni, Doni. Munafik tau nggak lo. Gue tau koq, lo suka kan sama Amanda?"


"Lo jangan sembarangan ngomong, ya. Nggak usah memecah-belah persahabatan orang." tukas Doni.


"Sahabat?" Maureen menatap dalam ke mata Doni.


"Sahabat macam apa, yang ngomongin sahabatnya dibelakang?"


"Gue nggak ngerti maksud lo." ujar Doni.


"Amanda itu tadinya mau ketemu lo kan?"


Doni terkejut mendengar pernyataan tersebut.


"Gue denger koq, omongan lo ke Yahya tempo hari. Waktu lo bilang, kalau lo duluan kenal Amanda di aplikasi dating. Tapi tiba-tiba pas mau ketemu, udah didepan mata, Amanda malah menghilang. Dan lo lupa juga kalau kita satu kosan. Gue liat lo dari kaca jendela, waktu lo memuaskan diri sendiri sambil ngeliatin foto Amanda. Lo mencapai puncak sambil menyebut nama Amanda."


Wajah Doni memerah, ingin rasanya ia marah namun berusaha keras ia tahan. Karena situasi kampus yang sangat ramai saat itu.


"Lo nggak usah emosi, Don. Saran gue, lo rebut lagi aja Amanda dari tangan Arka. Gue yakin lo bisa lebih baik dari Arka dalam mengeruk harta Amanda."


Maureen lalu meninggalkan Doni dalam perasaannya yang campur aduk.


***


Sore itu Amanda pergi ke kota tua bersama Nino. Mengulang masa lalu dan menjelajahi tempat-tempat dimana mereka dulu sering menghabiskan waktu, sambil bercerita tentang kepedihan masing-masing dirumah. Mereka juga menonton beberapa pertunjukan, sambil berbincang dan tertawa-tawa.


"Nggak mau ah, geli."


Seorang pria menolak dengan wajah penuh ketakutan, ketika istrinya yang sedang hamil memaksanya melingkarkan ular sanca di leher. Amanda melihat semua itu dan seketika ia teringat pada Arka.


Ia ingat betapa takutnya Arka waktu itu, namun Arka tetap melakukannya demi Amanda. Tanpa sadar senyum Amanda pun terkembang. Ia terus melangkah dengan tangannya kini digandeng oleh Nino.


"Kamu makan lagi ya?"


Seorang wanita meminta pria yang ada disampingnya, memakan lagi sosis yang tengah ia makan.


"Aku udah kenyang, kamu aja."


"Baru juga 5." ujar si perempuan.


"Jangan samain aku sama kamu yang makannya banyak. Kamu mah nggak ada kenyangnya."


"Man, ada lagu favorit kamu tuh." ujar Nino seraya memperhatikan sebuah band yang tengah manggung ditempat biasa.


Band tersebut menyanyikan lagu-lagu yang Amanda suka. Mereka berdua mendekat lalu menonton dan bernyanyi bersama.


Sama seperti beberapa hari yang telah lalu. Amanda kembali mencium aroma kerak telor disekitar tempat itu. Perutnya pun berbunyi, bayi didalam kandungannya menagih makanan tersebut.


"Nin, beli kerak telor yuk!" ajak Amanda.


Nino memperhatikan arah menuju ke pedagang tersebut yang selalu ramai.


"Kamu pasti laper kan?" ujar Nino memastikan.


"Iya." jawab Amanda lalu tersenyum.


"Kita makan di kafe atau restoran aja yuk." ajak Nino kemudian.


"Kenapa emangnya kalau kerak telor?. Di Jerman nggak ada kan?. Pasti kamu kangen."


Nino tersenyum.


"Aku kangen koq, kangen banget malah. Tapi kamu sekarang kan lagi hamil. Jangan makan sembarangan, apalagi kan jajanan disini digelar gitu aja di tempat orang rame. Kasian bayi kamu kalau makanannya nggak bener."


Amanda terdiam, ia mulai merasakan sedikit perbedaan antara Nino dan juga Arka. Bersama Arka, ia selalu dituruti. Selama ia merasa bahagia, maka Arka akan melakukan apapun itu. Tapi tidak dengan Nino.


"Yuk, makan yuk!"


Nino menggandeng tangan Amanda dan membawanya ke resto terdekat. Amanda melangkah, sambil mengingat dihari Arka berusaha menerobos kerumunan demi membawakan makanan yang ia minta.


Tiba di sebuah restoran, Amanda dilayani dan diperlakukan dengan sangat baik oleh Nino. Nino pun merekomendasikan makanan yang baik untuk tubuh dan juga bayinya.


Amanda mengakui jika Nino sangat baik, bahkan masih sama seperti dulu. Namun bukan makanan itu yang diinginkannya saat ini. Ia hanya ingin berada diluar dan menikmati kuliner pinggir jalan.


Jujur rasanya ia ingin menangis, sebagaimana ia sering merengek didepan Arka apabila keinginannya tidak dipenuhi. Namun Nino bukanlah Arka, mungkin ia tak akan suka melihat Amanda merengek.


Lagipula mereka baru saja bertemu kembali, ia tak mungkin menunjukkan sikap kekanak-kanakan. Terlebih mereka kini sudah sama-sama dewasa.


Amanda lalu memaksa diri menghabiskan makanan yang ada dihadapannya. Meski itu tak sesuai dengan keinginan.


***


"Ka, lo harus fight. Mulai hari ini lo pepet terus aja bini lo. Lo jangan mau kalah sama si Nino-Nino itu. Biar kata dia ganteng mirip aktor terkenal. Mau dia lebih kaya dari lo, lebih apapun juga. Sekali lo mantap berjuang untuk Amanda, lo jangan pernah mundur."


Arka teringat pada semua yang diucapkan Rio ditelpon, beberapa menit yang lalu. Pemuda itu kini makin mempercepat laju kendaraan. Ia ingin segera sampai kepada Amanda.


Ia tidak boleh menyerah begitu saja untuk mendapatkan wanita itu. Sekalipun saingannya lebih dalam segala hal.


Arka tak akan lagi tinggal diam, ia harus memperjuangkan cintanya terhadap wanita itu. Amanda adalah istrinya, miliknya, dan anak yang kini dikandungan Amanda berasal dari benihnya. Ia tidak ingin menyerahkan Amanda serta bayinya begitu saja pada Nino.


"Man, kamu tunggu disini!. Aku mau beli rokok dulu sebentar. Aku nggak ngerokok depan kamu koq, nanti buat di apartemen kalau aku udh pulang." ujar Nino.


Amanda mengangguk, Nino lalu pergi meninggalkannya untuk membeli rokok. Tak lama kemudian Nino kembali. Dari jauh Nino tersenyum, Amanda pun demikian. Namun tak berselang beberapa detik, senyum Amanda menjadi beku.


Pasalnya Amanda melihat Arka yang berjalan tepat satu meter di belakang Nino. Arka tersenyum pada Amanda, sementara Amanda kini tersenyum penuh ketakutan. Ia takut arka akan tahu soal nino. Sebelum akhirnya Nino mendekat, Amanda sudah keburu memanggil Arka.


"Arka, kamu kesini?"


Seketika Nino menghentikan langkah, Arka mendahuluinya ke arah Amanda. Amanda bernafas lega, karena berhasil memberi kode pada Nino. Nino pun merasa jika Arka tak mengenalinya.


Tanpa keduanya menyadari, jika Arka sebenarnya sudah tau bahwa Amanda pergi bersama Nino. Ia juga mengetahui wajah dan perawakan Nino, karena sempat bertemu dua kali. Namun Arka sengaja berpura-pura lugu dan bersikap seolah tidak tahu.


Ia sengaja ingin memisahkan kedua orang itu, dengan membuat Nino merasa cemburu. Arka sedikit berlarian ke arah Amanda. Lalu dengan tanpa aba-aba, ia mencium bibir istrinya itu secara serta merta. Dengan satu tangan menyentuh bahu dan satunya lagi memegang perut Amanda yang membuncit.


Amanda terdiam dan waktu pun seakan berhenti seketika. Nino terpaku ditempatnya dengan tubuh yang gemetar.


"Arka, jangan cium aku begitu ditempat orang rame. Malu."


Amanda melayangkan protes seusai Arka melakukan aksinya.


"Loh kenapa, kamu kan istri aku."


Arka berujar sambil tersenyum. Mau tidak mau Amanda pun memaksakan hal serupa, agar Arka tak curiga.


"Papa belum ketemu kamu hari ini, dek."


Arka seakan berbicara pada bayinya yang berada diperut Amanda. Amanda pun tak bisa berbuat apa-apa, ketika akhirnya Nino berbalik dan meninggalkan tempat itu.


"Kamu pasti belum makan kan?" tanya Arka. Amanda mengangguk saja dan masih memaksakan sebuah senyum.


"Yuk kita cari makan!"


Arka menggandeng lengan Amanda. Wanita itu sempat menoleh sejenak ke arah Nino yang mulai menjauh. Arka mengajaknya berjalan, namun Amanda menghentikan langkah pemuda itu.


"Ada apa, Man?" tanya Arka heran.


"A, aku mau kerak telor." ujar Amanda.


"Oh ya udah, tunggu disini!"


Arka pun menembus kerumunan untuk mendapatkan apa yang dinginkan istrinya itu. Sementara kini Amanda buru-buru menelpon Nino.


"Nin, maafin aku." ujar Amanda.


"Iya nggak apa-apa, Man. Aku ngerti koq. Maaf ya aku pulang duluan."


"Iya, aku cuma nggak mau semuanya menjadi kacau. Kalau misalkan Arka sampai tau."


"Iya nggak apa-apa. Udah, nggak usah pikirin." ujar Nino.


"Maaf banget, Nin."


"Iya sayang, nggak apa-apa. Aku jalan duluan ya."


"Iya, hati-hati dijalan ya." ujar Amanda lagi.


"Iya."


Nino menutup sambungan telponnya, ia kini terdiam didalam mobil. Amanda bercerita tentang pernikahan kontraknya yang tidak didasari cinta, namun kini Nino menjadi ragu.


Pasalnya jika memang pernikahan itu tidak didasari cinta, lalu mengapa Amanda mesti repot-repot menjaga perasaan Arka. dengan menyembunyikan Nino dari suaminya itu. Mengapa Arka bisa begitu manis dan mesra perlakuannya terhadap Amanda.


"Entahlah."


Nino menghela nafas, lalu menghidupkan mesin mobilnya. Sementara di kawasan kota tua, Arka telah kembali dengan membawa makanan pesanan sang istri.


"Man, nih."


Arka menyodorkan kerak telor tersebut pada Amanda. Seketika nafsu makan didalam diri Amanda kembali bergejolak. Ia pun langsung lupa akan persoalannya dengan Nino. Ia meraih makanan tersebut, lalu memakannya seperti orang yang belum makan dari pagi.


Arka memperhatikan wanita itu sambil tersenyum. Ia mendapatkan kemenangan kecilnya hari ini.