Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Cuti Atau Lanjut


Rani menjadi buah bibir di jagat sosial media. Terkenal sebagai seorang pelakor yang menggoda salah satu petinggi di perusahaan Amanda, yakni Fadly Kusuma.


Pria yang kini juga menjadi tersangka penjualan terhadap rahasia perusahaan, dan percobaan kudeta terhadap pemimpin perusahaan itu sendiri. Setidaknya itulah caption yang tertera pada postingan di beberapa akun gosip.


Banyak sekali komentar yang membanjiri laman akun sosial media milik Rani, isinya tentu saja berupa hujatan, cacian dan makian. Dari tempat dimana ia kini duduk, Amanda memperhatikan berita tentang Rani dari beranda sosial media miliknya.


Jujur ia kasihan pada wanita itu, biar bagaimanapun juga, Rani adalah saudara sekaligus orang yang pernah menjadi sahabatnya. Namun saat ini Rani sedang berada dalam fase teguran alam, akibat perbuatan yang dilakukannya dengan sadar. Ia tengah menuai apa yang ia tabur.


Ia telah mencoba berbuat jahat pada Amanda. Ia juga dikabarkan telah menjadi selingkuhan Fadly, berdasarkan laporan dari Pia. Pia sendiri tak sekedar bergosip, apa yang ia ucapkan bukan berdasarkan isapan jempol semata.


Ia menyaksikan sendiri selama beberapa waktu belakangan ini, jika Rani memanglah memiliki kedekatan dengan Fadly. Bahkan ada beberapa kali Fadly meminta Pia untuk memesan sebuah hotel mewah.


Tak jelas apakah hotel tersebut digunakan Fadly untuk bertemu dan memadu kasih dengan Rani atau tidak, yang jelas hubungan mereka nyata adanya. Bahkan Rani dengan lantang mengakui itu semua di hadapan Pia.


Rani yang sama dengan Amanda, yakni gampang mempercayai seseorang. Ia bahkan tanpa ragu menceritakan semua kebenciannya terhadap Amanda kepada Pia.


Tentu saja Pia dengan setia mendengarkan, bahkan mendokumentasikan beberapa ucapan Rani ke dalam sebuah rekaman di handphonenya.


Kini selain menghadapi hujatan dari netijen +62, Rani pun terancam dilaporkan ke polisi. Jika Fadly bersuara sedikit saja, namanya pasti akan terseret.


Amanda sendiri enggan melaporkan Rani secara langsung, biarkan itu menjadi kebijakan perusahaan dan para petinggi serta team investigasinya saja. Toh, Rani juga memiliki anak yang masih kecil-kecil serta ibu yang sering sakit-sakitan. Amanda masih mempertimbangkan itu semua. Karena pada faktanya, ia tak sekejam Rani dalam berbuat sesuatu terhadap orang lain.


Dan lagi selama ini, Rani mengalami kondisi psikologis yang lumayan berat. Mengingat latar belakang bagaimana ia dilahirkan dan juga dibesarkan. Jika ada yang paling bertanggung jawab atas ini semua, sudah barang tentu orangnya adalah Amman. Dia lah satu-satunya orang yang harusnya bertanggung jawab, atas apa yang telah terjadi dalam hidup banyak orang. Termasuk Rani dan Amanda sendiri.


Jika bukan karena kebejatan Amman, Rani mungkin tidak akan lahir. Tidak akan pernah ada rasa sakit di khianati sahabat, seperti yang Amanda rasakan saat ini. Amanda pun jadi mendadak begitu membenci Amman, hingga perutnya terasa tegang dan sakit.


"Ssshhh."


"Hhhhhh."


Amanda mengusap perutnya, lalu membuka aplikasi chat dengan dokter. Ia pun segera mengadukan keluhannya itu.


"Bu." tiba-tiba Intan masuk ke ruangan Amanda.


"Hey, kamu udah masuk?" ujar Amanda seraya tersenyum. Namun raut wajahnya masih terlihat menahan sakit.


"Ibu kenapa, bu?" tanya Intan lalu duduk dihadapan Amanda.


"Udah mulai sakit, Tan. Kadang sesekali, kadang lama baru muncul lagi."


"Ibu kenapa nggak istirahat aja sih, dirumah. Harusnya udah masuk jatah cuti melahirkan dari bulan lalu loh."


"Iya sih, kampus tempat saya ngajar aja udah kasih cuti. Tapi ya gimana, masalah yang tempo hari disebabkan oleh Rani harus di urus. Dan mesti saya yang ngurus, Dion sama Emil sudah sibuk dengan bagian mereka masing-masing. Begitu juga dengan yang lain."


"Coba aja ibu bernegosiasi dengan pak Dion dan pak Emil. Saya rasa mereka pasti mencarikan solusi, takutnya berojol dijalan, bu."


Amanda tertawa.


"Ini aja udah berat banget, sumpah. Kamu udah sehat sekarang, masih ada perasaan gimana nggak?" tanya Amanda pada Intan.


"Kadang masih suka sakit kepala, bu. Tapi kata dokter itu nggak apa-apa."


"Kamu harus terus kontrol ke dokter dan jangan ada yang ditutup-tutupi. Biar dokter tau cara menanganinya dengan baik."


"Iya, bu. Saya balik ke tempat saya ya, bu."


"Iya, kalau ada apa-apa kasih tau saya."


"Iya, bu."


Intan pun lalu kembali ke tempatnya. Amanda baru saja berdiri dan hendak mengambil minum, ketika Nindya tiba-tiba menelpon.


"Nind."


"Man."


Keduanya lalu terdiam cukup lama, sampai akhirnya Nindya kembali membuka suara.


"Gue bener-bener nggak nyangka Rani kayak gitu. Gue dari kemaren-kemaren itu nggak nelpon-nelpon lo, ya karena gue berusaha mengingkari ini semua. Gue kayak apa ya, terpukul lah hati gue. Belasan tahun kita sama-sama, harus berakhir kayak gini."


"Gue juga nggak nyangka, Nind. Ternyata Dian sama Cindy juga ada dibelakang Rani."


"Nah, kalau sama mereka. Gue emang udah nggak suka dari dulu, Man. Dari jaman kita sekolah, gue itu udah sering mergokin mereka berdua lagi ngomongin kita. Tapi tiap kali gue mau cerita, takut lo sama Rani nggak percaya. Secara kan lo berdua kayak akrab banget sama si Cindy dan Dian."


Amanda menghela nafas.


"Nggak semua orang disekitar kita itu temen, ternyata." ujarnya Kemudian.


"Intinya, lo mesti hati-hati lagi kedepannya. Gue juga nggak nyangka lo sama Rani ternyata satu bapak. Pantesan aja dulu, banyak banget yang bilang kalau lo berdua itu sebenernya mirip."


"Tapi bokap lo tau, kalau Rani anaknya?"


"Nggak tau, gue. Gue rasa dia juga belum tau apa-apa. Modelan kayak bapak gue, mana inget pernah punya dosa sama siapa aja. Ini aja udah buntingin cewek lagi."


"Hah, serius lo?"


"Iya, kayak karyawan apa orang kepercayaannya gitu deh. Si mbak Vera-Vera Itu."


"Astaga, serius Man?"


"Serius gue, ngapain bohong." Nindya mengelus dada seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Parah bapak lo, sumpah."


"Emang."


Obrolan pun berlanjut.


***


Siang itu, Amanda menyambangi kantor Arka, mereka janjian makan siang bersama di dekat sana. Semua hanya karena Amanda mulai merasa cemburu, ia takut ada karyawan wanita yang naksir Arka di kantor.


Namun ia berpura-pura saja ingin makan berdua, supaya Arka tak makan siang dengan karyawan wanita manapun. Arka sendiri tak mengetahui isi kepala istrinya, yang ia tahu hanyalah Amanda sekedar ingin bertemu dengannya.


"Hallo sayang."


Arka mencium kening Amanda lalu duduk dihadapan istrinya itu.


"Kamu, Ka. Cium-cium aku, ntar kalo ada yang nyadar ini kamu gimana?. Jadi gosip lagi nanti, aku sih nggak apa-apa digosipin sama kamu, malah bisa pansos. Nah kamu nya, karir kamu gimana?"


Arka tertawa kecil.


"Udah tenang aja, nggak akan ada yang sadar ini aku. Paling dibilang karyawan yang mirip artis, kan aku kerja kantoran. Mereka akan menganggap mustahil Arka kerja kantoran. Atau kalaupun nyadar, paling mereka pikir aku lagi syuting."


"Tapi kan nggak ada kameranya."


"Kan bisa aja kamera tersembunyi."


"Iya kalau otak mereka sampe situ, kalau nggak?"


"Jadi nggak suka nih, aku cium?. Aku kangen loh sama kamu. Mau ditinggal sebentar pun, kangen."


Arka paling bisa dalam hal urusan melelehkan hati Amanda.


"Iya deh, maaf ya suami aku yang akhir-akhir ini sering baperan. Skip, baperan."


Arka tertawa. Ia memang baperan, tapi Amanda cemburuan. Tak lama minuman yang mereka pesan pun datang. Usai berterima kasih pada pramusaji, mereka mulai menyedot minuman tersebut.


"Kamu gimana seharian ini?" tanya Arka.


"Kerjanya?" Amanda balik bertanya.


"Iya."


"Baik, lancar semua. Ya walaupun masih banyak yang belum beres, tapi udah pelan-pelan di selesaikan."


Arka menghela nafas lalu tersenyum.


"Good, terus anak-anak gimana?" tanya Arka lagi.


"Udah mulai sakit lagi."


"Sekarang masih sakit?. Apa kita ke dokter aja?"


"Sekarang udah nggak sih, tadi juga udah chat dokter. Katanya nggak apa-apa, selagi masih bisa ditahan dan ilang-ilangan. Wajar katanya di usia kandungan segini."


Arka menghela nafas, ada kekhawatiran yang kini tergambar jelas diwajahnya.


"Ini aku cuma saran aja, ya. Jangan tersinggung, bukan mau nyuruh kamu dirumah atau apa. Tapi, apa nggak sebaiknya, kamu istirahat dulu sampai melahirkan."


Amanda tersenyum.


"Aku sih udah pikirin itu, Ka. Tapi tunggu sedikit lagi ya, masalah yang besar-besar di perusahaan bentar lagi kelar. Abis itu aku langsung dirumah aja."


"Maaf loh, sayang. Bukan ngatur kamu, ya. Cuma aku khawatir sama kesehatan dan keselamatan kamu sama anak-anak, itu aja."


"Iya, aku ngerti koq, Ka." ujar Amanda kemudian. Tak lama setelah itu makanan pun datang, mereka lalu makan sambil berbincang.