Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Rapuh


"Hello, son."


Ryan memeluk dan mencium Arka, ketika Arka dan juga Amanda beserta si kembar datang berkunjung. Setelah sehari sebelumnya, Arka dan Amanda mengunjungi Ningsih dan menginap disana. Ryan pun lalu memeluk Amanda dan menyambut kedua cucunya dengan gembira.


"Hello guys." ujarnya pada kedua bayi tersebut.


"Eheeee."


Arka dan Amanda membawa kedua bayi mereka, mengikuti langkah Ryan. Ryan kini lebih banyak mendiami rumah ketimbang apartemennya. Alasannya tentu saja karena di rumah ini, memliki halaman cukup luas. Ia bisa memelihara beberapa hewan seperti burung dan juga kelinci. Ada juga kucing milik Ansel didalam rumah, yang lebih banyak di urus oleh Nino ketimbang Ansel nya sendiri.


"Nino gimana dad?" tanya Arka ketika mereka akhirnya duduk di teras belakang, dekat kolam renang. Ryan menuangkan teh melati ke dalam gelas dan juga menyediakan beberapa kudapan.


"Sulit." ujar Ryan seraya membuka biskuit bayi dan memberikan pada kedua cucunya. Sejak memiliki cucu, ia jadi rajin membeli keperluan bayi. Untuk kemudian ia simpan, kalau-kalau cucunya datang.


"Sulit, maksudnya?" tanya Amanda.


Ryan menghela nafas lalu duduk dihadapan anak dan menantunya itu.


"Nino itu, dia sangat rapuh. Dari dulu, dari saat pertama kami bertemu dia."


Ryan menatap Arka dan juga Amanda.


"Dia terluka saat bertemu ayahmu, karena dia tau cerita yang melatarbelakangi kehidupannya. Bagaimana dia dilahirkan, dibuang dan sebagainya."


Ryan mereguk teh yang ada di hadapannya, lalu menghela nafas agak dalam.


"Dia itu mudah sekali sedih, ya karena faktor orang tua angkatnya yang juga tidak sayang sama dia. Dan selalu memperlakukan dia dengan buruk. Orang tua angkatnya itu, mengangkat Nino. Karena mereka menginginkan harta warisan dari orang tua si laki-laki. Dan syarat mendapatkan itu semua, mereka harus punya anak laki-laki. Setelah warisan dapat, mereka tidak bisa mengelola. Mereka terjerat narkotik, judi, dunia hiburan malam. Sehingga mereka kemudian jatuh miskin lagi, dan Nino selalu jadi sasaran amukan mereka."


Arka dan Amanda menghela nafas dan saling berpegangan tangan. Mereka mendengarkan Ryan secara seksama.


"Ansel bertemu dengan dia di sebuah klub skateboard. Daddy lupa namanya apa, dulu kami sempat tinggal disini beberapa saat. Ansel sekolah disini juga, karena daddy masih harus membangun bisnis daddy disini. Sekaligus daddy mau cari kamu, untuk kemudian daddy bawa ke negara daddy."


Arka terhenyak, ia baru tau jika dulu pernah ada niat seperti itu dalam diri ayahnya.


"Daddy punya rencana saat itu. Kalau Ningsih tidak mau kasih kamu ke daddy, daddy akan culik kamu. Daddy akan bilang ke mommy Ansel, kalau daddy adopsi kamu. Apapun akan daddy lakukan, saat itu. Walau resikonya mungkin daddy tertangkap."


Ryan lagi-lagi menatap anak dan menantunya itu.


"Nah Nino, Ansel sering bercerita tentang dia. Ansel bilang di klub skateboard nya dia, ada anggota yang selalu di siksa sama orang tuanya. Nino sering cerita dengan teman dekatnya dan Ansel selalu menguping pembicaraan mereka. Ansel selalu bilang, kalau di beberapa kesempatan. Seringkali Nino itu datang, sambil seperti menahan sakit. Waktu teman-temannya memaksa Nino untuk bicara, dia akan tunjukan badannya yang biru, memar. Dia bilang ibunya, kadang ayahnya yang siksa dia. Dia disuruh mengantar narkotik sama ayahnya. Kalau tidak mau, dia dipukul. Sampai Ansel selalu meminta daddy, untuk mengajak Nino tinggal dirumah kami."


"Terus dad, daddy setuju?" tanya Amanda.


"Nggak, nggak bisa Amanda. Saat itu rasanya terlalu beresiko. Daddy nggak tau siapa ayahnya Nino. Kalau daddy secara serta merta bawa dia untuk tinggal sama kami, terus orang tuanya marah. Kalau dia tau Ansel yang bawa dan Ansel yang jadi sasaran, gimana?"


Arka dan Amanda kian larut dalam cerita.


"Ansel itu sampai marah sama daddy. Dia bilang,


"Dad, Nino itu anak yang berbakat dalam banyak hal. Dia bisa painting, main musik, dia pintar disekolah. Sayang kalau anak seperti itu harus tinggal sama orang tua yang like devil."


"Daddy nggak bisa ngomong apa-apa saat itu. Sampai kemudian, peristiwa kebakaran itu terjadi. Ansel benar-benar marah sama daddy. Dia bilang,


"Dad, Nino hampir saja mati di rumahnya karena perbuatan orang tuanya. Karena daddy tidak mau menyelamatkan dia."


"Ansel terus marah sama daddy, kemudian daddy minta Ansel supaya dia menemani daddy menjenguk Nino. Saat itu dia dirumah sakit dan di tangani juga oleh psikiater yang kebetulan istri dari teman daddy. Kami banyak bercerita tentang kondisi Nino saat itu. Daddy juga kasihan melihat dia, daddy bicara dengan mommy nya Ansel dan mommy nya Ansel sangat setuju kalau Nino tinggal sama kami. Supaya Ansel punya teman yang bisa buat dia betah di rumah. Saat itu juga daddy punya banyak kenalan yang bisa mengurus semuanya dengan cepat. Urusan pekerjaan daddy selesai, kami pulang ke negara daddy dan bawa Nino."


Amanda mengingat peristiwa kala itu, dimana ia mencari Nino namun Nino sudah tidak ada. Salah seorang teman Nino mengatakan jika Nino ikut keluarga orang asing.


Arka menarik nafas.


"Tapi daddy berjanji untuk menyayangi Nino seperti anak sendiri. Daddy cuma berharap, kalau seandainya Ningsih menikah sama orang lain. Orang tersebut bisa sayang sama kalian berdua, seperti daddy menyayangi Nino."


Ada air mata yang membasahi kedua sudut mata ketiga orang itu. Arka kian erat menggenggam tangan sang istri dan begitu pun sebaliknya.


"Nino tidak bicara dengan daddy dan mommy nya Ansel, selama berminggu-minggu. Dia cuma mau bicara dengan Ansel. Dia trauma dan takut dengan sosok ayah atau ibu. Bahkan setelah bertahun-tahun, dia tidak mau kembali ke negara ini. Karena dia pasti akan ingat dengan ayah dan ibunya itu."


"Hoayaaa." Azka dan Afka bersuara, Ryan mengelus sejenak kepala kedua cucunya itu lalu kembali berkata.


"Orang yang tidak mengenal Nino, mungkin akan mengira dia dingin, arogan, sombong, dan lain sebagainya. Tapi itu semua, hanya untuk menutupi dirinya yang rapuh. Di usia sekarang saja, dia bahkan kadang masih tidur gelisah, mimpi buruk. Ingat saat dulu di siksa orang tua angkatnya. Dan sekarang masalahnya bertambah, dia harus mengetahui siapa ayah dan ibu kandungnya. Termasuk latar belakang dan kisah kelam masa lalu mereka. Jujur daddy marah dengan Citra. Kenapa dia tidak bisa menunggu sebentar saja, atau beritahukan pelan-pelan. Sekarang Nino sakit, itu dikamar. Dia kalau stress dan sedih, langsung sakit."


"Apa udah dibawa ke dokter, dad?" tanya Arka.


"Mana mau dia. Itu aja makan, minum obat. Kalau nggak Ansel yang maksa, nggak mau."


"Hallo para hoayaaa." Ansel tiba-tiba muncul dari suatu arah dan menyapa para bayi.


"Hoayaaa."


"Hoayaaa."


Kedua bayi antusias.


"Dari mana, Sel?" tanya Arka.


"Nih, dari beli bubur kacang ijo. Kali aja tuh si Nino mau makan. Pusing gue kalau dia sakit, semua nggak mau. Tapi apa yang udah gue kasih, walau dia nggak mau, nggak boleh gue abisin. Katanya nanti siku tangan gue borokan, kesel nggak?. Padahal kalau sehat, sampe lemari juga dimakan sama dia."


Amanda dan Arka sedikit tertawa, ditengah kesedihan hati mereka mendengar kisah Nino.


"Dia sixpack begitu tuh, akibat makan loker tau nggak. Makanya kotak-kotak."


Lagi-lagi Arka dan Amanda tertawa. Ryan pun selalu tak bisa bersedih lama jika berada di dekat Ansel.


"Mau liat Nino, dad." ujar Amanda pada Ryan.


"Ya sudah sana. Kalau mau makan, makan dulu. Tadi daddy masak sama Ansel."


"Emang Ansel bisa masak?" Amanda berseloroh seraya beranjak, diikuti Arka.


"Ye jangan salah, chef Junaedi lewat sama gue."


"Apaan, orang kamu bantu ngupas bawang doang sama giling cabe di blender." ujar Ryan.


Arka dan Amanda lagi-lagi tertawa.


"Ya udah sana makan." ujar Ryan.


"Bareng aja, dad." ujar Arka.


"Daddy sama Ansel sudah makan, sana kalian gih."


"Ntar ngeliat Nino dulu, dad." ujar Amanda.


Ia dan Arka lalu masuk ke dalam dan menuju lantai atas, guna menjenguk Nino. Sedang Ansel kini berinteraksi dengan kedua keponakannya.