
"Nino."
Ryan mencegat Nino, ketika anaknya itu nyaris meninggalkan tempat dimana ia berpijak. Nino yang sejatinya sudah sangat ingin pergi itu, akhirnya menghentikan langkah.
"Lebih baik selesaikan sekarang, atau ini akan semakin berlarut-larut." ujar Ryan.
Dalam sekejap, mereka kini sudah melangkah masuk ke dalam ruang kerja Ryan di lantai dua. Sebuah ruangan yang cukup besar untuk memulai suatu perdebatan.
"Kalian mau apa?" ujar Nino seraya membelakangi ibu dan ayah tirinya tersebut. Ia tadi masuk terlebih dahulu, ke dalam ruang kerja Ryan. Kemudian disusul Citra dan juga Aston.
"Nino, kami." Citra menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya.
"Kami sudah mengumpulkan cukup bukti untuk menjerat Amman." lanjutnya kemudian
"Lantas?" tanya Nino lagi.
"Saya mau kamu melakukan tes DNA."
"Kalau saya mau, lalu selanjutnya apa?" Kali ini Nino menoleh dan menatap ibunya itu.
"Itu akan membantu supaya Amman bisa dipenjara." timpal Aston.
"Kalau dia sudah dipenjara?" tanya Nino lagi.
"Ya hidup ibu kamu akan tenang, mungkin sebagian besar ketakutan dan kenangan buruknya selama ini akan berkurang."
"Lalu bagaimana dengan ketakutan dan kenangan buruk yang selama ini saya miliki?"
Nino membuat diam kedua orang itu.
"Saya juga memiliki memory tentang masa lalu yang buruk, dan itu semua karena anda bu Citra."
"Itu karena kamu bukan anak yang diinginkan Citra." Aston mengeluarkan perkataan yang amat sangat menusuk hati Nino.
"Lantas anda pikir, ini semua adalah keinginan saya?" Nino balik menyerang Aston. Sedang Citra sudah gemetar dalam diam.
Hening pun menyeruak sejenak, sampai kemudian seseorang membuka pintu.
"Braaak."
Orang tersebut tampak terkejut, begitupula dengan Nino, Citra, dan juga Aston. Ternyata yang datang adalah Amman. Amman sendiri hanya diberitahu Ryan jika Nino berada di ruangan ini, Ryan tidak menginformasikan siapa saja yang ada selain Nino.
"Brengsek."
Aston lalu mendekat dan berusaha memukul Amman, ayah kandung Nino itu menghindar dan melakukan perlawanan. Dalam sekejap perkelahian sengit pun terjadi, Citra berteriak-teriak namun Nino diam saja. Ia duduk di pinggir meja kerja Ryan, sambil memperhatikan drama tersebut. Bahkan ia kini menyalakan sebatang rokok.
Cukup lama hal tersebut terjadi, hingga kemudian faktor usia dan nafas yang mulai pendek menghentikan semuanya. Amman, Citra, dan Aston duduk di sebuah sofa. Mereka sama-sama terpaku satu sama lain, sambil membuang pandangan masing-masing ke suatu arah.
"Kenapa kamu lakukan ini semua ke aku?"
Penuh dendam dan kemarahan Citra berbicara pada Amman, namun dengan volume suara yang begitu rendah.
"I love you." ujar Amman kemudian.
Kali ini Aston menoleh dengan mata memerah.
"Kalau lo beneran cinta sama Citra, lo nggak akan melakukan semua itu."
"Apa lo tau rasanya jadi gue?" Amman balik menyerang Aston.
Kini dalam pandangan masing-masing, mereka adalah wujud ketika puluhan tahun yang lalu. Paras tua mereka seakan menghilang begitu saja di mata masing-masing, kecuali Nino.
Ketiga orang tersebut telah tenggelam ke dalam drama percintaan yang dimulai sejak puluhan tahu lalu.
"Lo nggak pernah ada di posisi gue, bagaimana gue mencintai seseorang sejak gue kecil. Dan tiba-tiba lo datang, lalu merusak semuanya."
"Salah lo sendiri, kenapa lo nggak ngomong selagi gue belum menyatakan cinta sama dia." ujar Aston.
"Karena lo selalu ada di dekat dia, lo selalu datang dan mengacaukan hari-hari gue sama dia."
"Tapi waktu itu kita sahabat, wajar gue datang untuk bermain bersama kalian." ujar Aston lagi.
"Terus itu salah gue?" tanya Aston.
Amman kini terdiam. Sepanjang hidupnya ia telah mengakui, jika memang ia terlambat mengatakan pada Citra. Perihal ia mencintai wanita itu. Ia selalu ragu pada perasaannya sendiri, lantaran mereka berteman sejak kecil. Nino masih mendengarkan semua itu, dan kini ia mematikan batang rokoknya kedalam asbak.
"Lo yang salah, Man. Lo bahkan salah dua kali. Pertama lo salah karena nggak buru-buru menyatakan perasaan lo terhadap Citra, kedua lo salah sudah menyekap dan memperkosa dia. Itu pelanggaran hak asasi manusia. Itu tindak kriminal, apapun alasan yang melatarbelakanginya."
"I know, gue tau gue salah." Kali ini Amman menatap tajam ke mata mantan sahabatnya itu.
"Tapi gue nggak punya pilihan lain. Gue mungkin bisa merelakan elo dan Citra bahagia, tapi gue akan menyesal seumur hidup gue. Karena gue sudah melakukan hal sebodoh itu."
"Plaaak."
Kali ini Citra menampar Amman.
"Jadi maksud kamu, adalah normal menyekap dan memperkosa orang lain?"
"I love you, Citra."
"Plaaak."
Citra kembali menampar Amman, dan Amman membiarkan saja hal itu terjadi. Ia tau ia bersalah, namun baginya lebih baik bersalah dan dibenci seumur hidup. Daripada merelakan orang yang kita cintai bersama orang lain.
Walaupun itu adalah anggapan yang salah, dan pada akhirnya Citra tetaplah memilih Aston. Namun sudah ada hal besar yang ia lakukan, ia telah mendahului Aston dalam hal mendapatkan anak dari Citra. Meski anak tersebut hilang selama bertahun-tahun, namun antara dirinya dan Citra akan terikat sampai kapanpun. Meski tak diikat dengan tali pernikahan.
Ia menyadari dirinya jahat dan kejam, perbuatannya tak bisa dibenarkan. Tapi dalam mencintai Citra, ia tidak pernah salah. Walau caranya begitu keliru. Mereka terus berdebat, hingga akhirnya sebuah suara pun terdengar.
"Braaak."
Nino keluar dan menutup pintu, bahkan menguncinya dari luar. Citra sadar akan hal tersebut, ketika ia hendak menyusul Nino.
"Nino, buka pintunya." ujar Citra seraya menggedor-gedor pintu kamar tersebut.
Namun Nino tak menjawab, Ryan tau kelakuan anaknya. Ia pun tak ingin ikut campur, biar Nino dan mereka saja yang menyelesaikan. Kini Nino malah beralih ke meja makan, ketempat dimana Ansel sedang membuka rujak jambu kristal yang ia beli tadi. Nino bahkan tak nampak bersalah telah mengunci tiga orang tua itu, didalam ruangan Ryan.
"Tumben lo suka jambu." ujar Ansel seraya memperhatikan Nino.
Sementara yang diperhatikan diam saja dan terus makan dengan lahap. Ryan memperhatikan dari kejauhan lalu beralih ke halaman samping untuk mengurus hewan peliharaannya.
Di dalam, udara mulai dingin. Nino menghidupkan air conditioner hingga 16 derajat celcius. Amman, Citra, dan Aston yang sudah tua praktis merasa tak tahan. Sedang remote air conditioner tersebut, sudah di bawa oleh Nino keluar.
Nino sengaja membiarkan mereka bertiga, agar mereka merenungi kesalahan dan keegoisan masing-masing. Ketika malam mulai larut, Nino membuka pintu ruang kerja Ryan. Ia melihat tiga orang itu sudah tertidur lelap. Citra berada dalam pelukan Aston, sementara Amman bersandar pada dinding di sebuah sudut. Tak lama mereka pun terbangun, Amman segera beranjak.
"Aku akan mengakui semua itu di kantor polisi, jadi kamu nggak perlu repot mengumpulkan barang bukti lebih lanjut."
Amman berujar pada Citra, membuat wanita itu terkejut. Begitupula dengan Aston dan Nino. Namun Nino masih berusaha bersikap biasa saja.
"And you." Amman menatap Nino.
"Kamu adalah apa yang paling saya inginkan di dunia ini. Saya minta maaf, tidak bisa menemukan keberadaan kamu selama bertahun-tahun."
Nino membeku ditempatnya, ia tak menemukan kebohongan sedikitpun di mata Amman. Cukup lama keduanya terdiam, beradu tatap dalam perasaan yang penuh emosional.
Kemudian, Amman berlalu meninggalkan tempat itu. Tak lama berselang, Nino pun berbalik arah.
"Nino tunggu...!" ujar Citra.
Nino menghela nafas dan menghentikan langkah, namun ia tidak menoleh sama sekali.
"Bagaimana soal tes DNA itu?"
"Saya mau, tapi setelah itu jangan ganggu saya lagi. Anggap saja hutang diantara kita selesai."
Ada rasa sesak di dada Citra, ketika mendengar hal tersebut. Seolah Nino telah memutuskan, jika ia tak ingin bertemu Citra lagi nantinya.
"Boleh, saya peluk kamu?" tanya Citra lagi.
"Mungkin lain waktu."
Nino berlalu begitu saja, meninggalkan Citra yang kini mendadak gemetar. Tanpa terasa air matanya jatuh begitu saja, lalu Aston menyambutnya ke dalam pelukan.