
"Jadi, mas Attar pernah punya anak?"
Ningsih yang saat ini duduk disisi suaminya, terlihat membuang pandangan ke suatu arah. Tangannya masih meremas tissue, yang tadi ia gunakan untuk menyeka air matanya.
Beberapa saat yang lalu ia bertanya pada sang suami, perihal siapa itu Fiona. Attar enggan untuk membahas hal tersebut, namun Ningsih malah marah dan berteriak pada suaminya itu.
"Kenapa kamu nggak mau jujur sama aku, mas. Setelah dua puluh tahun lebih aku jadi istri kamu. Aku memang bukan perempuan suci saat datang ke kamu. Tapi apakah kamu sebegitu tidak percayanya sama aku, sampai-sampai harus ada yang kamu rahasiakan dari aku."
Ayah tiri Arka itupun berbalik menatap Ningsih, yang perlahan mulai menangis.
"Dia istriku, sebelum kamu."
Perkataan itu membuat Ningsih mendadak jadi gemetaran. Betapa tidak, selama dua puluh tahun lebih menjalani bahtera rumah tangga. Tak pernah sekalipun Attar bercerita tentang hal tersebut padanya.
Kini mereka berdua sama-sama terdiam, membisu di kursi ruang tamu. Attar telah menceritakan semuanya secara rinci. Bahkan dihadapan mereka ada Arka yang juga tengah membeku.
Ia datang kesini karena hendak mengantarkan beberapa barang pemberian Amanda. Sementara Amanda saat ini tengah berada diperjalanan menuju kediaman Amman. Ia bermaksud mengantarkan pamannya, Diego untuk bertemu dengan ayahnya itu. Sebab Diego memintanya untuk menemani, karena itu kali pertamanya Diego akan bertemu dengan saudaranya.
Amanda berencana menyusul Arka nantinya bersama si kembar, setelah urusannya dengan sang paman selesai.
Arka tadinya mengira keadaan rumah orang tuanya baik-baik saja. Namun ia datang tepat pada saat Ningsih tengah berteriak pada sang suami. Hingga Arka pun terpaksa mendengar semuanya.
"Kenapa mas simpan semua itu dari aku?" tanya Ningsih kemudian.
"Karena itu masa lalu yang sangat menyakitkan dan sensitif untukku, Ningsih. Aku nggak nyaman menceritakan hal tersebut kepada siapapun." jawab Attar kemudian.
"Dan anak laki-laki itu...."
"Dia anak kandungku, aku juga baru tau kalau dia hidup. Karena Fritz bilang, kalau dia tidak selamat saat dilahirkan oleh Fiona. Maafkan aku, Ningsih." ujar Attar kemudian.
Ningsih mengangguk, karena tak ada gunanya pula mempermasalahkan hal ini berlarut-larut. Toh Fiona sudah tiada, dan anak itu tidak bersalah. Kenapa pula Ningsih harus membenci seorang anak seperi Jordan, yang tidak tahu menahu tentang permasalahan orang tuanya.
Dia saja telah diselamatkan oleh Attar, dihidupi dan dicintai oleh pria itu selama bertahun-tahun. Meski cintanya lebih besar untuk Fiona, namun semuanya sudah cukup bagi Ningsih. Ia lega karena suaminya tidaklah selingkuh, seperti yang ia duga.
"Arka, kamu mau kan terima Jordan sebagai saudara kamu?" Attar bertanya pada Arka, pemuda itu hanya bisa mengangguk.
"Papa tetap sayang sama kamu, sama seperti biasanya. Kamu yang menyelamatkan hidup papa, sehingga papa sekarang bisa ketemu Jordan."
Arka kembali mengangguk, ayah tirinya mendekat dan memeluk pemuda itu. Ia paham ketakutan dalam diri Arka, sebab selama ini kasih sayang sang ayah hanyalah untuknya. Tidak terbagi kepada anak manapun di dunia ini.
Arka agak sedikit takut semesta membalas. Dirinya yang lebih sering bersama Ryan ketimbang Attar akhir-akhir ini, takut jika nanti sang ayah tiri akan lebih dekat kepada saudara barunya itu.
"Kamu anak papa, Arka. Nggak ada yang akan berubah."
Attar menyuruh Ningsih mendekat, lalu mereka bertiga saling berpelukan sambil menangis.
"Buuuk."
Sesuatu terjatuh dari dalam jaket Attar, ia baru teringat jika tadi Jordan menitipkan sebuah surat, katanya itu penting dan menyangkut nyawa serta keselamatan seseorang.
"Apa itu, pa?" tanya Arka ketika ayahnya berjongkok untuk mengambil beberapa amplop tersebut.
"Ini tadi dari Jordan, dia bilang ini menyangkut keselamatan seseorang. Dia minta papa serahkan ini ke kantor polisi, sama beberapa tempat lain."
"Isinya apa, pa?" tanya Arka lagi.
"Papa juga nggak tau." Attar menunjukkan amplop-amplop tersebut pada Arka.
"Chanti, Widya?" Arka melihat ada nama dibalik salah satu amplop.
Ia kemudian melihat amplop yang lainnya dan bertuliskan sebuah alamat, lengkap dengan nomor telpon.
"Ini kan alamat dan nomor telpon ibunya Maureen."
Arka, sang ibu dan ayah tirinya bersitatap. Pada detik berikutnya Arka membuka amplop tersebut.
"Ma, Maureen?" ujar Arka dengan nada yang terbata.
Kedua orang tuanya pun terkejut, kini mereka saling bersitatap satu sama lain.
"Om udah siap ketemu papa?" tanya Amanda pada adik tiri Amman, Diego.
"Ya, siap nggak siap." jawab Diego sambil berusaha tersenyum. Amanda balas tersenyum.
"Om udah mulai tua, Amanda. Om cuma mau mendekatkan diri ke keluarga. Ya walaupun resikonya, mungkin papamu nggak bisa terima kehadiran om."
"Di coba aja dulu, om. Belakangan ini kayaknya papa udah berubah banyak. Dia jadi lebih punya hati, lebih bisa bersikap baik terhadap orang lain."
Diego kembali tersenyum dan menatap jauh kedepan, sementara Amanda fokus mengemudikan mobil.
Ketika sampai di kediaman Amman, Diego dan Amanda melihat adanya perkelahian. Antara orang-orang Amman dan orang-orang Rachel. Namun Amanda dan Diego tak mengenali kedua kubu ini. Karena baik Amanda maupun Diego, sama-sama tak pernah dekat dengan Amman maupun Rachel. Hingga mereka pun tak mengenali siapa saja yang bekerja pada keduanya, kecuali satu atau dua orang saja.
"Om, ada apa ini?" tanya Amanda panik.
Mereka berdua bergegas keluar dari mobil.
"Amanda, pak Amman." teriak salah seorang kepercayaan Amman yang telah bekerja puluhan tahun. Amanda mengenali pria tersebut.
Ia saat ini tengah berkelahi dengan orang bertubuh tinggi besar, segera saja Amanda dan Diego berlari ke dalam. Namun langkah mereka dihalangi oleh orang-orang bertubuh tinggi besar lainnya.
"Dimana ayah saya?" tanya Amanda dengan nada yang mulai panik.
Orang itu secara serta merta mencekik leher Amanda. Diego refleks memukul orang tersebut hingga terjadilah sebuah perkelahian sengit. Saat situasi seperti itu, Amanda berlarian ke dalam untuk mencari Amman. Tak lama kemudian, lawan Diego tumbang dan pria itu pun menyusul Amanda. Sementara didalam sebuah ruangan, Rachel tampak menodongkan pistol ke arah Amman.
"Tanda tangani surat wasiat itu, cepat...!" teriaknya pada sang suami. Amman masih diam, enggan menuruti keinginan istrinya tersebut.
"Cepat atau aku akan bunuh kamu sekarang."
Amman tersenyum tipis disela-sela darah yang menetes di sudut bibirnya, ia telah dipukuli oleh orang-orang Rachel. Sekarang mereka tengah berkelahi diluar, menghadapi orang-orang kepercayaan Amman. Tinggal ia dan Rachel saja yang tersisa.
"Cepat...!"
Rachel bersiap menarik pelatuk senjata apinya, namun kemudian,
"Buuuk."
Sebuah pukulan mendarat di kepala wanita itu. Hingga menyebabkan ia terjatuh dan senjata api yang ada ditangannya mendadak terlepas.
Amman terkejut melihat Amanda melakukan hal tersebut, terlebih Diego muncul setelahnya. Amman pernah melihat foto Diego sebelumnya, karena Amanda pernah menunjukkan padanya waktu itu.
Diego mengambil senjata api milik Rachel, perempuan itu masih sadar dan berusaha bangkit. Namun Amanda menjambak rambutnya dan menariknya ke suatu arah. Tak lama dua orang suruhan Rachel masuk, mereka berkelahi dengan Diego dan juga Amman.
Sementara Amanda sediri terus menyeret Rachel tanpa ampun. Rachel yang sudah pusing lantaran dipukul dengan kursi kayu sebelumnya itu pun, tampak sempoyongan.
"Plaaak."
Amanda mendaratkan satu tamparan di wajah Rachel, lalu dilanjutkan dengan tamparan-tamparan berikutnya.
"Plaaak."
"Plaaak."
"Plaaak."
Rachel merasa begitu pusing dan oleng, Amanda sudah melebur pada kemarahannya selama ini. Kemarahan yang ia simpan bertahun-tahun. Ia ingat betapa seringnya sang ibu dipukul oleh Amman, hanya karena Amman membela wanita ****** itu.
"Plaaak."
Amanda terus memukul Rachel yang sudah nyaris tanpa perlawanan. Ia juga ingat bagaimana Vera bercerita mengenai Rachel, yang hendak membunuh Amara ketika masih didalam kandungan. Rachel dengan tanpa hati memukul perut Vera hingga ia mengalami kontraksi. Amanda terus melampiaskan kemarahannya, hingga tak la kemudian terdengar sirine mobil polisi.
Tampaknya salah seorang dari pembantu atau orang kepercayaan Amman, telah melaporkan kejadian hari itu. Rachel dan anak buahnya pun diamankan, sedang kini Amanda dan Diego membantu Amman serta yang lainnya untuk mendapatkan perawatan medis. Amman sendiri tak begitu parah, tetapi anak buahnya banyak yang mengalami luka serius.
Berakhir sudah perkara Rachel, ia kini siap menghadapi tuntutan hukum. Dengan tuduhan berupa penyerangan, penganiayaan dan pengancaman terhadap suaminya dan juga beberapa orang yang bekerja dirumah mereka.
Amanda sendiri bisa berdalih jika ia membela ayahnya, atau membela diri. Jadi pemukulan yang ia lakukan terhadap Rachel, tak akan menjadi masalah besar baginya. Yang jelas hatinya lega, sakit hati ibunya selama bertahun-tahun telah terbayarkan.