
"Udah mandinya?" tanya Arka pada Amanda yang kini baru saja keluar dari kamar mandi. Wanita itu tengah mengeringkan rambut dengan handuk.
"Udah, seger banget Ka. Hoaahm." Amanda menguap.
"Aku capek banget, pengen tidur rasanya."
"Ya udah, tidur gih. Mumpung kamu lagi di non-aktifkan, anggap aja lagi cuti melahirkan. Mending kamu banyakin istirahat."
Amanda menghela nafas, lalu duduk disisi Arka yang tengah mengerjakan sesuatu di laptopnya.
"Kamu ngerjain apa sih, Ka?" tanya Amanda pada suaminya itu.
"Artikel pesanan orang."
"Maksudnya, kamu ghost writer?"
"Yup, kadang aku nulis fiksi juga."
"Oh ya, koq aku baru tau?" ujar Amanda.
"Kamu nya nggak nanya." Arka berujar seraya tertawa kecil.
"Boleh aku baca nggak, dikit?"
"Boleh, nih." Arka membiarkan istrinya membaca artikel tersebut.
"Waw, it's good." ujar Amanda.
"Thank you."
Arka kembali menulis.
Amanda berfikir, sepertinya tidak buruk untuk menjadi seorang freelancer. Dulu di jaman kuliah, ia sering nyambi sebagai seorang freelancer. Pendapatan perbulannya terbilang sangat lumayan.
Ya, setidaknya daripada meratapi nasib. Lebih baik mulai bangkit dan berusaha, sambil mencari dan mengumpulkan bukti-bukti kejahatan yang telah dilakukan orang-orang kantor padanya.
Amanda meraih laptop miliknya yang Kebetulan ia bawa, lalu mulai mendaftarkan diri ke beberapa situs freelancer internasional. Ia lalu mengiklankan 2 diantara mobilnya untuk dijual di online market place. Ia membutuhkan sejumlah uang untuk beberapa keperluan. Toh masih ada dua mobil lainnya lagi yang masih bisa ia gunakan. Tak lama kemudian, ia pun tertidur.
Esok harinya, ia mulai mendapatkan respon dan pertanyaan dari calon klien. Setelah berbincang cukup lama, klien tersebut setuju untuk memakai jasa Amanda.
Satu pekerjaan selesai, klien memberikan bintang 5 di akun milik Amanda, karena kepuasannya atas kinerja wanita itu. Selang tiga jam kemudian, sudah banyak yang memesan jasanya. Amanda pun tersenyum dan menerima mereka semua, dengan perjanjian bayaran yang lumayan tentunya.
Sementara Arka, hari itu dia melamar pekerjaan pada beberapa e-commerce. Meskipun ia belum lulus kuliah, namun ia masa bodoh. Toh ia memiliki banyak skill dalam berbagai bidang. Arka pun dengan penuh percaya diri menjalani sesi interview. Paling tidak berusaha saja dulu, itu yang ada di pikirannya. Diterima ataupun tidak, itu urusan belakang. Yang jelas selama menunggu gosip mereda serta nama baiknya pulih, ia tidak mau berdiam diri.
Jeremy dan Philip sedang mengusahakan, bagaimana caranya agar Arka bisa kembali bersih namanya. Karena itu sudah menjadi tanggung jawab manajemen yang menaungi. Lagipula Arka sangat berbakat, mereka tak mungkin membuang potensi yang ada didalam diri Arka begitu saja.
"Neng baru pindah?"
Seorang ibu-ibu bertanya pada Amanda, ketika mereka sama-sama menghadap ke arah tukang sayur seraya memilah-milah.
"Iya, bu." Amanda menjawab sambil tersenyum. Hari ini karena dirumah saja, ia jadi ingin masak untuk suaminya.
"Neng teh, siapanya mas Arka?" tanya ibu-ibu yang lainnya lagi.
"Saya istrinya, bu."
"Hah, mas Arka sudah punya istri?" tanya mereka serentak.
Amanda mengangguk.
"Iya, bu." jawabnya kemudian.
"Nama neng siapa?"
"Amanda, bu."
Mereka pun lalu berbincang, ibu-ibu di kompleks perumahan itu tampak begitu baik dan ramah. Amanda sendiri merasa nyaman berbincang dengan mereka, sampai kemudian ia pun pamit untuk masuk ke dalam.
"Neng Amanda, neng."
"Neng Amanda."
"Iya, bu." Amanda mematikan kompor ketika ia tengah memasak. Ia lalu pergi ke depan dan membuka pintu.
"Ada apa ya bu?" tanya Amanda.
"Ini, dari ibu. Sebagai tanda perkenalan, kamu kan udah jadi tetangga. Ini dari ibu, ini dari ibu Yuli tetangga sebelah sana, ini dari ibu Vena, yang depan, dari bu Sita, bu Dewi dan lain-lain."
"Waduh, bu. Banyak sekali ini." Amanda menerimanya dengan penuh haru. Seumur-umur ia belum pernah hidup bertetangga. Di rumahnya bahkan tetangga tak pernah terlihat wujudnya. Apalagi di penthouse, semua serba individualis.
"Kalau ada apa-apa, panggil ibu aja. Ibu disebelah, ya."
"Ibu nggak masuk dulu?"
"Ibu lagi jaga cucu sambil masak. Ibu pulang ya, neng."
"Makasih banyak ya, bu. Sampaikan ke ibu-ibu yang lainnya juga."
"Iya."
Setelah kepulangan tetangganya, Amanda menutup pintu. Ia membawa semua pemberian itu dan meletakkannya diatas meja. Ia tersenyum, lalu kembali ke dapur untuk memasak.
***
Hari itu, Arka mampir sejenak ke rumah sakit. Rio sudah dipindahkan ke ruang rawat meski kondisinya masih koma.
"Bro, bangun. Gue butuh elo." ujar Arka seraya menahan tangis, namun gagal.
"Gue nggak bisa kalau lo nggak ada, Ri. Gue timpang. Gue harus ngadu ke siapa lagi, cuma elo satu-satunya sahabat yang ngerti gue."
Arka menyeka air matanya, lalu berlalu meninggalkan tempat itu. Tanpa Arka sadari, jari-jemari Rio mulai bergerak.
***
Bos Rani memulai hari pertamanya sebagai pemimpin baru di perusahaan. Ia memakai pakaian yang baru dibeli dari butik, tas mahal, serta sepatu mentereng. Ia juga minta difasilitasi mobil oleh kantor.
Sejujurnya ini adalah kekesalan terbesar bagi sebagian orang di kantor tersebut. Mereka terus bertanya, bagaimana bisa Amanda memberikan mandat kepada orang seperti Rani. Hanya karena mereka berteman, lantas Amanda bisa menunjuk orang seenaknya.
Mereka tidak mengetahui apa yang sesungguhnya telah terjadi. Yang mereka tau hanyalah, saat ini Amanda di non-aktifkan karena kesalahannya sendiri dan Amanda menunjuk Rani sebagai pengganti sementara dirinya.
Sementara beberapa petinggi lain yakin jika Rani hanyalah boneka, yang digunakan oleh beberapa cepu yang ada di perusahaan ini. Mereka menduga ada beberapa orang lagi yang terlibat selain Rani.
"Tolong bawakan tas saya."
Rani menyerahkan tasnya pada Nur, yang saat itu juga baru tiba di kantor. Nur amat sangat ingin menempeleng kepala Rani, seumur-umur ia bahkan tidak pernah disuruh-suruh oleh Amanda. Bahkan Pia yang sekretarisnya saja tak pernah disuruh mengerjakan yang bukan pekerjaan kantor. Amanda tak pernah memanfaatkan posisinya sebagai orang tertinggi di perusahaan, untuk kemudian bersikap sok princess atau ratu.
Ia masih membawa tasnya sendiri. Kadang jika office boy sibuk, ia tak sungkan membuat minumannya sendiri. Tanpa harus menyuruh orang lain.
"Hhhh, sebel banget sih gue sama tuh orang." gerutu Nur pada teman-temannya.
"Sabar, Nur. Kita mah apa atuh, cuma karyawan
"Mau ngelenong, mbak?" tanya Satya ketika tanpa sengaja berpapasan dengan Rani, saat wanita itu sudah di muka ruangan Amanda. Dari jauh Deni memberi kode pada Satya untuk tidak sembarangan bicara. Namun Satya yang tak mengerti kode, malah mentertawakan penampilan Rani.
"Begitu cara kamu menghormati bos kamu."
Satya seketika teringat, bahwa ada pengumuman yang menyatakan jika Rani telah menggantikan posisi Amanda.
"I, iya maaf, mbak." ujarnya kemudian, wajahnya tiba-tiba saja berubah pucat.
"Mbak?. Kamu kira saya mbak-mbak warteg?" Rani murka dihadapan Satya, membuat karyawan lain kini terdiam. Bukan karena mereka takut, namun malas untuk mencari masalah.
"I, iya bu." ujar Satya.
"Sekali lagi menyinggung saya, saya pecat kamu." ujar Rani.
Satya pun menunduk, Rani berlalu menuju ke ruangan Amanda.
***
Hari berlalu, Amanda mendapatkan banyak klien hanya dalam tempo seminggu lebih. Ia kini mengantongi cukup banyak uang. Arka sendiri diterima bekerja di perusahaan-perusahaan e-commerce tersebut.
Saking fokusnya mereka dengan hidup yang baru, mereka agak melupakan masalah yang sebelumnya tengah mereka hadapi. Apalagi Amanda, ia sangat bahagia dikelilingi tetangga-tetangga barunya yang baik.
Para loyalisnya di kantor sedang sibuk mengumpulkan bukti-bukti. Mereka ingin Amanda terbebas dari tuduhan, agar bisa segera kembali bekerja. Karena Rani hanyalah seorang yang ambisius, bukan orang yang mengerti betul pekerjaannya seperti Amanda. Perusahaan bisa hancur jika Rani dibiarkan berlarut-larut berada disana. Amanda harus segera kembali, agar semuanya tak menjadi semakin kacau.
"Man, Amanda."
Arka pulang dari kerja pada sore hari, Amanda membukakan pintu.
"Hai." ujar Arka seraya menatap Amanda. Ia masih berdiri dimuka pintu.
"Hai, cari siapa ya." tanya Amanda seraya menahan senyum.
"Cari perempuan sexy yang perutnya buncit, berisi bayi-bayi aku."
Arka mendekat ke arah istrinya, lalu masuk ke dalam dan menutup pintu.
"Jangan, tolong."
Amanda berusaha menghindar, Arka meraih paksa pinggang wanita itu dan membuatnya menjadi lebih dekat. Ia lalu mencium bibir Amanda dengan sangat.
"Hmmh." Amanda mulai berada dalam mode tak tahannya.
"Ka." rintihnya kemudian.
"Hmm?" balas Arka seraya terus menciumnya.
"Kangen." ujar Amanda.
"Aku mandi dulu, ya."
Amanda mengangguk, Arka lalu pergi untuk membersihkan diri. Amanda sibuk menyiapkan makanan untuk suaminya, tak lama kemudian Arka mendekat dan memeluknya dari belakang.
"Aku udah bersih, sayang." bisik Arka ditelinga Amanda. Ia kini mengelus-elus perut istrinya itu dengan sangat, hingga wanita itu pun tak kuasa menahan hasrat.
Dalam sekejap mereka sudah berada di kamar. Amanda berada di bawah, sedang Arka kini menghujamkan seluruh cintanya pada wanita itu.
"Arka."
"Hmmh, yaah."
"Aku sayang kamu."
"Hmmh, ssshhh. Ya sayang, aku juga."
Arka terus mempercepat gerakan, membuat Amanda terhentak-hentak dan meracau tak karuan. Sudah cukup lama mereka tidak melakukannya, pasca masalah yang datang bertubi-tubi belakangan ini. Kini mereka berdua berada dalam pelepasan hasrat yang begitu menggebu-gebu.
"Arkaaaaaa."
"Aaaaakkh, Maaaaaan."
Sesuatu yang hangat kembali mengalir didalam sana. Bahkan tembakannya begitu kencang, hingga membuat Amanda berteriak sangat keras. Ia bahkan tak sadar jika dirinya bertetangga dan tak lagi tinggal di penthouse.
"Ka, deras banget." ujar Amanda seraya mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.
"Ya gimana, udah lama ditahan. Tapi enak kan?" tanya Arka kemudian.
Amanda tersenyum.
"Selalu enak, koq." jawab Amanda.
Arka tertawa kecil.
"Jangan pergi dulu." ujar Amanda menahan suaminya.
"Iya, nggak. Orang aku tau, kamu masih mau kan?"
"Iya."
"Tunggu bentar, ya." ujar Arka menarik nafas.
Tak lama kemudian, irama penyatuan dan erangan itu sudah terdengar kembali. Kali ini berganti posisi, Amanda kembali di hentak-hentakkan oleh suami mudanya yang perkasa itu. Hingga akhirnya semua berakhir penuh kenikmatan. Tak lama setelah itu, mereka pun tertidur barang sejenak.
"Man."
"Hmm." Amanda berusaha membuka mata.
"Mandi."
"Bareng." ujar Amanda.
"Nggak ah, sendiri-sendiri aja."
"Kenapa?"
"Ntar dikamar mandi, kamu goda-godain lagi aku."
"Kamu capek ya, Ka."
"Hari ini cukup dulu, ya. Tadi aku kerja lumayan menyita perhatian juga loh, jadi aku capek."
Amanda menolehkan kepala dan mencium bibir Arka, laki-laki itu membalasnya.
"Ya udah, aku mandi duluan ya." ujarnya kemudian.
Arka mengangguk, Amanda pergi mandi. Tak lama kemudian Arka pun melakukan hal yang sama. Ia kembali membersihkan diri lalu setelah itu, ia dan Amanda makan malam bersama.
Saat baru saja selesai, Arka mendapat telpon dari pihak rumah sakit. Yang menyatakan jika Rio kini mulai sadar. Arka memeluk istrinya dengan penuh rasa haru, malam itu juga mereka menyambangi rumah sakit.