Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Masih Malam Minggu


Lagu-lagu lawas mengalun dari band yang tampil pada malam itu. Membawakan lagu-lagu yang populer pada awal periode 1950 hingga 1970 an.


Arka dan Amanda menikmati malam yang syahdu tersebut, sambil makan beberapa hidangan ala eropa yang tadi sempat diantarkan oleh Matt.


Inti dari mengajak Amanda itu adalah, dia harus makan. Jika tidak, ia akan terlihat lesu seperti orang yang selalu kehabisan energi. Maklum, emak-emak menyusui. Jadi butuh asupan gizi yang banyak.


"Man, kamu belum ngantuk kan?" tanya Arka pada istrinya setelah acara makan telah selesai.


"Belum, aku masih betah disini." ujar Amanda kemudian.


"Good." tukas Arka seraya tersenyum, pemuda itu lalu menghisap pod vape miliknya beberapa kali.


"Ka, toilet disini dimana?" tanya Amanda.


"Tuh disitu tuh." Arka menunjuk ke suatu arah.


"Ya udah, aku ke toilet dulu ya." ujarnya kemudian.


Arka mengangguk, istrinya itu lalu beranjak pergi. Sementara Arka masih terus fokus pada kopi dan juga pod Vape miliknya. Tak lama Matt datang menghampiri dan mengajaknya bicara.


Cukup lama Amanda berada di toilet, mungkin sekalian berdandan pikir Arka. Ia terus saja berbincang dengan Matt, sampai kemudian.


I heard he sang a good song


I heard he had a style


And so I came to see him


To listen for a while


And there he was this young boy


A stranger to my eyes


Sebuah suara yang tak asing ditelinga Arka pun terdengar, menyanyikan sebuah lagu bertajuk "Killing me softly."


Seketika Arka menoleh dan mendapati istrinya ada di atas panggung kecil, bernyanyi dengan diiringi oleh band yang manggung malam itu.


"Amanda?" ujarnya tak percaya. Wanita itu tersenyum dan terus saja bernyanyi.


Strumming my pain with his fingers


Singing my life with his words


Killing me softly with his song


Killing me softly with his song


Telling my whole life with his words


Killing me softly with his song


Arka turut tersenyum dan sedikit tersipu malu, namun ia sangat menyukai suara istrinya itu. Ternyata Amanda pun pandai bernyanyi, sama seperti dirinya. Bila dirumah, saat tengah bernyanyi bersama. Amanda seringkali malu-malu, hingga keindahan suaranya kadang tak begitu jelas ditelinga. Tapi ditempat ini, entah mengapa ia bisa bernyanyi lepas.


I felt all flushed with fever


Embarrassed by the crowd


I felt he found my letters


And read each one out loud


I prayed that he would finish


But he just kept right on


Arka terus menikmati lantunan lagu tersebut, sambil mendokumentasikan beberapa part di handphonenya. Tak lama setelah itu, Amanda pun selesai. Ia lalu kembali ke meja dan menghampiri sang suami. Arka mencium bibir istrinya, sebelum wanita itu duduk kembali. Tepuk tangan pun terdengar di ruangan tersebut.


"Aku nggak tau kalau suara kamu cocok di lagu lawas kayak gitu." ujar Arka ketika mereka berdua telah berada di jalan. Kini mereka akan meneruskan malam panjang ini, tanpa tau harus kemana lagi.


"Aku juga nggak tau kalau hasilnya akan bagus ditelinga kamu, aku dengernya biasa aja." ujar Amanda kemudian.


"Hmmm merendah untuk meroket nih, awas nabrak atmosfer." ujar Arka.


"Hahaha, meledak dong." seloroh Amanda.


"Bukan lagi, pecah sembilan. Kayak roketnya Tom and Jerry, yang pas si Tom mau ke luar angkasa."


"Oh iya, iya. Pernah nonton aku, pecahnya banyak banget."


"Hahaha." Keduanya sama-sama tertawa.


"Eh, kita mau kemana lagi nih?" tanya Amanda pada suaminya.


"Yah, udah nggak bisa nonton ya." ujar Arka seraya melirik arloji yang ada di tangan kirinya.


"Udah hampir jam 12, Ka."


"Ya udah, deh. Nontonnya minggu depan kali ya. Kita jalan ke taman aja, mau nggak?" tanya Arka.


"Taman?. Banyak bocil ff sama cabe-cabean nggak di situ?"


"Ya nggak apa-apa, kita ngalay juga."


"Ih, kamu mah." Amanda kini senyum-senyum sendiri.


"Harusnya tadi kamu pake hotpants, Man."


"Koq hotpants, kan siang tadi panas. Terus sekarang dingin, kamu mau aku masuk angin?"


"Iya biar kita kalau ke taman, menyatu gitu loh sama cabe-cabean. Ntar aku pake jeans yang pudar-pudar gitu. Kulit aku kan rada coklat, ketemu jeans pudar udah dah. Kayak nggak mandi seminggu."


"Hahaha." Kali ini Amanda terbahak.


"Kamu ada-ada aja deh, Ka." ujarnya kemudian.


"Nah aturan tadi juga kamu rambutnya di cepol ke atas, pake liptint jangan lupa. Udalah pake hotpants, rambut cepol pake liptint pula. Terus kita naik motornya nyalip-nyalip, nggak usah pake helm."


Amanda kian tertawa geli.


"Kalau ada yang mendahului kita, kita harus emosi."


"Iya, cabe-cabean sama terong-terongan kan gitu ya." ujar Amanda kemudian.


"Iya, teriak-teriak dah tuh kita. Woi njing lo, tood."


"Hahaha."


"Hahaha."


Keduanya sama-sama tertawa.


"Woi, minggir njing."


Seorang pengendara lain yang membonceng pacarnya tiba-tiba memarahi Arka, membuat Arka dan Amanda sedikit terhenyak kaget.


"Tuh, kayak gitu tuh modelnya." ujar Arka seraya menunjukkan contoh.


"Ih bener ya, Ka. Ceweknya di cepol sama pake liptint gitu, pake hotpants lagi."


"Hahaha." Keduanya kian terbahak-bahak.


Arka mengemudikan motornya hingga ke suatu tempat, yang cukup asing bagi Amanda. Sebuah gedung yang ia sendiri tak tau gedung apa.


"Gedung apa ini, Ka?" tanya Amanda pada suaminya. Karena gedung itu tampaknya sepi dari pengunjung.


"Ini kalau siang kantor, Man." ujar Arka kemudian.


"Oh, terus kita ngapain disini?. tanya Amanda lagi.


"Kamu nggak kayak cowok lain kan, yang berniat menyepikan ceweknya buat di *****-*****." lanjutnya lagi.


"Hahaha." Kali ini Arka terbahak.


"Amanda sumpah, muka kamu polos banget waktu nanyain soal itu. Kayak cewek perawan yang mau di colok-colok sama cowoknya ditempat sepi."


Kali ini Amanda yang tertawa.


"Abisnya kamu ngajakin kesini." ujarnya seraya mengikuti langkah Arka, yang kini masuk ke dalam lift.


Lift tersebut pun mulai menanjak, hingga ke lantai paling atas. Dan ketika pintu lift tersebut terbuka, Amanda menyaksikan sebuah pemandangan yang membuatnya takjub. Betapa tidak, ternyata diatas tempat itu ada sebuah taman yang dipenuhi lampu-lampu.


Ada banyak bunga disana, terdapat pula tempat duduk, ayunan dan hamparan rerumputan palsu serta kolam renang. Yang lebih menakjubkan lagi adalah, tak ada seorang pun disana selain mereka berdua.


"Ka, ini...?"


Amanda menoleh pada suaminya.


"Udah aku sewa buat malem ini."


Amanda terdiam, wajahnya seakan tak percaya namun senang.


"Aaaa kamu, romantis banget sih." ujarnya penuh haru.


"Seharian ini kan yang real udah, panas-panasan udah. Sekarang waktunya kita ngehalu, kayak yang ada di drama-drama Korea atau yang ada di novel-novel online."


Amanda tertawa sambil masih menatap sekitar dengan takjub.


"Makasih ya, Ka." ujarnya kemudian.


"Sama-sama."


Mereka kemudian berjalan menuju ketempat itu, kebetulan langit cerah. Amanda dan Arka berdua menikmati malam, duduk dipinggir gedung yang menyajikan pemandangan lampu-lampu kota.


Mereka berbincang, seakan topik perbincangan diantara mereka tak pernah ada habisnya. Mereka tertawa-tawa, hingga pada suatu titik. Mereka terlihat begitu dekat.


Arka mencium bibir istrinya itu dan begitupula sebaliknya. Lambat laun ciuman itu kian memanas, namun dengan cepat keduanya menguasai keadaan. Biar bagaimanapun tempat itu ada petugas yang masih mengawasi. Mereka tak mungkin bercinta ditempat seperti itu, sekalipun tempat itu begitu romantis dan membangkitkan gairah.


Keduanya menghela nafas sambil tersenyum satu sama lain. Tak lama kemudian, Arka pun merangkul istrinya itu. Amanda lalu melabuhkan kepalanya di dada sang suami.