Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Demi Konten (Bonus Chapter)


"Hai, gaes. It's me Rio Salim. Jumpa lagi dalam acara review makanan with Riri."


Rio mulai merekam salam pembuka untuk konten yang akan ia garap.


"Kali ini gue lagi di mie abang-adek, mie yang terkenal dengan level pedasnya. Dan bersama gue sudah ada Arka dan juga istrinya, Amanda."


Rio menyorot kamera ke wajah Arka dan juga Amanda. Pasangan itu kemudian sama-sama melambaikan tangan sambil tersenyum.


Rio lalu meminta izin pada pemilik untuk merekam proses pembuatan. Sesuai kesepakatan Arka memilih mie yang sama sekali tidak menggunakan cabai tambahan.


Sedangkan Amanda memilih di level ringan. Sementara Rio memilih yang pedas mampus, dengan menggunakan 100 biji cabai rawit merah.


Dan ketika makanan tersebut datang, Arka sempat kaget melihat tampilan dan bau dari mie yang dipesan oleh Rio.


Pasalnya itu benar-benar berbau pedas menyengat. Jangankan berani untuk mencoba, melihatnya saja Arka sudah merinding.


"Mie kamu nggak pedes banget kan?" tanya Arka ada Amanda.


"Nggak, ini yang level aman koq Ka." jawab wanita itu


"Ya udah, soalnya nanti takut asam lambung kamu naik kalau terlalu pedas." ujar Arka.


"Iya, nggak koq." jawab Amanda lagi.


Rio kembali menghidupkan kamera dan proses syuting pun dimulai dengan mengambil gambar makanan.


Kemudian Rio menampilkan wajahnya sambil mengeluarkan celotehan khas YouTuber yang selalu memuji-muji dengan bahasa yang agak berlebihan.


"Sumpah gaes, ini tuh baunya menyengat abis kayak mau meninggoy. Kita akan coba dulu gimana rasanya. Semoga gue baik-baik aja dan nggak mesti mampir ke UGD ya gaes."


Rio, Arka, dan Amanda mulai makan. Pada suapan pertama Rio langsung kaget, karena rasanya begitu menggigit lidah. Sedang Amanda cukup santai, apalagi dengan Arka. Pemuda itu makan dengan nyaman, sebab yang ia pesan adalah makanan yang tidak menyiksa diri.


"Anjir, ini pedes banget."


Rio masih berusaha tersenyum depan kamera. Karena segala sesuatu adalah konten dan konten adalah sumber keuangan baginya. Bisa dibilang Rio adalah pengabdi cuan atau hamba konten.


Tetapi hal lain yang Arka salut adalah, kondisi perut Rio yang seakan memiliki lapisan enamel yang tak tembus oleh rasa pedas sekalipun. Terbukti semalam ia makan seblak dan saat ini makan mie dengan level super pedas.


"Huh, hah."


"Huh, hah."


"Huh, hah."


Rio terus berusaha menghabiskan mie tersebut, sambil sesekali ia minum air putih dingin yang juga ia pesan.


"Huh, hah."


"Asli gaes, ini mantap banget pedasnya." ujar Rio lagi.


Pemuda itu terus mengumpulkan keberanian dalam diri. Dan dengan segenap jiwa-raga ia menghabiskan mie instan tersebut. Sampai-sampai Arka pun melongo dibuatnya.


"Perut lo nggak kenapa-kenapa, bro?"


Arka bertanya pada Rio saat proses pembuatan konten telah selesai.


"Nggak kenapa-kenapa." jawab Rio lalu mereguk susu steril yang ia bawa dari rumah. Ia juga membawakan untuk Amanda dan Arka. Meski Arka tak makan pedas, tetap pemuda itu ikut meminumnya.


"Tapi sumpah pedes banget, aku nyobain punya Rio tadi dikit." ujar Amanda.


"Aku ngeliatnya aja udah males, udah kebaca pedesnya gimana." Arka menimpali.


Rio masih berusaha menetralkan rasa pedas yang masih bersarang di mulutnya. Tak lama mereka pindah dan mereview makanan di tempat lain.


Kali ini dessert dan minuman yang manis. Mereka membeli beberapa jenis lalu memberikan review secara bersama-sama.


Lanjut mereka jajan seperti telur gulung, siomay dan lain-lain. Hampir semuanya dijadikan konten oleh Rio.


"Ka, lo inget nggak sih dulu, kita kan punya rencana mau bikin bisnis bareng ya."


Rio mengingatkan Arka pada rencana mereka yang hampir terlupakan.


"Iya, tapi sampe sekarang lo masih bingung kan mau bisnis apa?"


Arka berseloroh lalu menyeruput kopinya.


"Iya sih, tapi jangan dilupain loh. Kita udah harus punya bisnis di usia segini. Ntar lama-lama kita nggak laku lagi di dunia entertaint." tukas Rio.


"Belum cukup modalnya, Ri." ujar Arka lagi.


"Kamu mau aku pinjemin modal, nggak mau." Amanda nyeletuk kali ini.


"Tuh, Firman aja mau kasih pinjam modal. Lo mah gengsian, Ka." seloroh Rio.


Arka tertawa.


"Bukan gengsian, gue nggak enak kalau modalnya minjem. Jadi kepikiran punya utang."


"Kan bini lo sendiri, ngapain harus kepikiran?"


"Tetap aja, itu kan duit dia. Bukan duit gue." Arka bersikeras.


"Emang orangnya begitu, Ri. Agak susah dikasih pandangan kalau masalah uang." Amanda lagi-lagi berujar, sementara Arka masih tertawa kecil.


"Gue nih, Ka. Kalau misalkan punya bini kayak si Firman, udah gue pinjem modal 2M."


"Itu mah elu. Kan lu tipikal suami yang kalau di indo siar itu suka kena azab tau nggak. Yang suka manfaatin duit bini untuk ini itu."


Kali ini Amanda tersedak karena tak tahan mendengar celotehan Arka. Ia tertawa terbahak-bahak, sementara Rio tampak cengar-cengir.


"Kan namanya juga laki-bini, harus kerjasama lah." Rio bersikukuh membela diri atas pandangan yang ia miliki.


"Serah lu dah." ujar Arka lalu menghabiskan makanannya.


Saat dalam perjalanan pulang, Amanda kembali membahas hal tersebut.


"Kamu kenapa sih, Ka. Nggak mau banget pake duit aku." Ia melontarkan pertanyaan kepada sang suami.


"Ya nggak apa-apa dong. Aku pengen kalau bisnis itu pake duit sendiri. Bukan karena gengsi atau apa, lebih suka kalau semuanya dari usaha aku sendiri. Lebih greget tau nggak." jawab Arka.


"Alah, bilang aja kamu nggak mau bagi keuntungan sama aku." Amanda berujar sambil tertawa.


Arka pun jadi ikut-ikutan dibuatnya.


"Emang gitu sih niatnya." ujarnya kemudian.


Amanda cemberut lalu Arka kembali tertawa-tawa.


"Jangan tersinggung ya." Arka memegang tangan wanita itu.


"Aku emang pengen segala sesuatunya itu berasal dari usaha sendiri." lanjutnya lagi.


"Iya, tapi kalau kamu butuh apa-apa bilang aja ke aku. Aku nggak minta apa-apa koq, cuma mau bantu aja." ujar Amanda.


"Iya sayang."


Arka memegang tangan Amanda lalu menciumnya barang sejenak. Tak lama kemudian ia kembali fokus menyetir, hingga mereka akhirnya tiba dirumah.


Sesampainya di rumah tentu keduanya disambut oleh si kembar yang saat ini berada dalam gendongan para pengasuh. Kedua bayi itu antusias dan terlihat minta disambut.


Maka Arka dan Amanda segera berganti pakaian, mencuci muka serta tangan dan langsung menghampiri si kembar. Kemudi mengajak mereka berinteraksi dan bermain bersama.


Si kembar terlihat sangat senang dan terus-menerus tertawa. Seakan saat-saat tersebut memanglah sudah mereka nantikan sejak tadi.