Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Marah


Arka tiba terlebih dahulu di rumah sakit dan langsung menghampiri Amanda yang tengah menunggu kabar dari dokter di depan ruang ICU. Sebab Nino telah kembali dilarikan kesana, pasca apa yang telah menimpanya tadi.


"Amanda."


Amanda menoleh, buru-buru wanita itu menghambur ke pelukan suaminya dan menangis terisak.


"Ka, Nino Ka." ujarnya seraya menangis tersedu.


"Iya, kamu tenang dulu ya. Udah, kita berdoa aja." Arka pun tak kuasa menahan air matanya.


"Arka." tiba-tiba Ansel muncul dan disusul oleh Ryan.


"Amanda ada apa ini?" tanya Ryan kemudian.


Sambil menyeka air matanya, Amanda pun menjelaskan. Jika saat dirinya sampai, ia telah menemukan Nino tergeletak didalam sana.


"Ryan."


Seorang dokter senior menghampiri Ryan. Dia adalah dokter Adnan, salah satu pendiri rumah sakit ini dan dia adalah teman lama Ryan.


"Maaf untuk kelalaian yang terjadi." ujarnya kemudian.


"Kami akan melakukan pengecekan ulang, apakah peristiwa ini memang terjadi di jam sibuk atau tidak."


Ryan mengangguk seraya menghela nafas.


"Saya tidak akan mempermasalahkan apapun, yang penting selamatkan Nino."


"Baik, terima kasih. Team akan berusaha semaksimal mungkin."


***


Waktu pun berlalu, Nino akhirnya bisa melalui masa kritisnya yang kedua ini dengan baik. Namun, Ryan, Arka, Ansel dan Amanda. Tidak diperkenankan untuk langsung menemui Nino, lantaran Nino masih belum sadarkan diri.


Ada sekitar dua jam mereka menunggu. Sampai kemudian Nino mulai siuman dan dinyatakan sudah boleh dijenguk.


"Nino."


Amanda masuk terlebih dahulu ke dalam ruangan. Ia terkejut ketika menemukan Nino, yang sudah dalam posisi setengah duduk dan bersandar pada bantal. Agaknya pria itu sedikit memaksa diri, padahal seharusnya ia hanya boleh berbaring. Mengingat lukanya yang tadi terbentur dan mengeluarkan darah, serta kondisinya yang saat ini masih lemah.


"Nin?"


Nino tak menjawab. Matanya kini menatap ke arah Ryan yang masuk belakangan, setelah Arka dan juga Ansel.


"Dad, Amman itu siapa?. Dia dimana?"


Semua yang ada di ruangan itu pun terhenyak kaget, mereka tak menyangka jika Nino akan mempertanyakan hal tersebut. Ryan sendiri memilih tak menjawab, ia hanya memalingkan wajah ke sisi lain.


"Dad, Nino tanya. Amman itu siapa?" tanya Nino sekali lagi.


Sementara Ryan masih enggan menjawab.


"Kenapa daddy merahasiakan ini semua dari Nino, kenapa daddy menutupi semuanya?. Kenapa Nino nggak boleh soal itu?"


"Amman itu ayah kita, Nin."


Tiba-tiba Amanda berujar, membuat Nino seketika terdiam dengan jantung yang nyaris berhenti. Sementara Arka, Ryan, dan Ansel seakan menahan nafas. Mereka juga tak menyangka jika Amanda akan memberitahukan hal ini sekarang.


"Dia ayah aku dan kamu."


"Amanda." Arka mencoba menghentikan istrinya.


"Kita sedarah, Nin."


"Amanda." Arka berujar sekali lagi.


"Daddy baru tau, aku baru tau, kami semua baru tau beberapa hari ini. Daddy sengaja menutupi semua itu, dan menunggu sampai kamu sembuh."


Nino masih terpaku menatap Amanda, tubuhnya kini terasa gamang. Seakan raganya tak lagi berpijak ditempat itu. Seketika Ryan pun beranjak, ia meninggalkan ruangan tersebut dan disusul oleh Ansel.


"Dad, daaad."


Ansel kini mengikuti langkah Ryan yang berjalan cepat.


"Dad, daddy mau apa?. Jangan buat keributan, ini rumah sakit.


Ryan tak menggubris ucapan anaknya tersebut, ia terus melangkah menyusuri koridor. Hingga sampailah ia ke muka sebuah pintu kamar.


"Braaak...!"


Ryan membuka pintu kamar tersebut dengan penuh emosi. Amman yang berada didalam kamar tersebut pun, terkejut.


"Ryan?"


"Puas lo?" ujar Ryan dengan penuh kemarahan.


Amman yang tak mengerti apa-apa itu pun hanya mengerutkan kening.


"Maksudnya?" tanya Amman kemudian.


"Nino udah tau kalau lo bapak kandungnya, puas lo sekarang?. Puas lo ngeliat dia hampir mati gara-gara syok, karena tau lo adalah bapaknya."


Amman benar-benar terkejut mendengar pernyataan Ryan tersebut.


"Ryan."


"Gue nggak pernah menghalangi lo untuk mengaku didepan dia. Tapi lo liat dulu keadaan dia, dia itu sakit dan itu akibat perbuatan orang suruhan lo juga. Sekarang setelah lo hampir membunuh dia, lo sakiti hatinya juga. Lo itu bapak macam apa, Man?"


"Ryan, I didn't do that."


"Gue memang berfikir untuk jujur terhadap Nino, tapi gue juga belum siap untuk dibenci oleh anak itu. Gue mencintai ibunya dan gue sayang terhadap dia. Bahkan mungkin dia adalah satu-satunya yang paling gue sayang diantara anak gue yang lain. Lo pikir gue akan senang, saat anak dari perempuan yang gue cintai, membenci gue?"


Ryan terdiam sekaligus terpukul, ia tau ini perbuatan siapa. Maka tanpa mengucapkan kata pamit, ia buru-buru meninggalkan kamar tersebut.


"Dad, udahlah."


Ansel kembali mengikuti dan mencoba menghentikan ayahnya, namun Ryan sudah diliputi sejuta kemarahan. Ia kini bergerak dengan mata yang mencari kesana-kemari. Sampai kemudian, ia tiba disebuah tempat, dimana suster Zefanya tengah bertugas disana. Kebetulan ada dokter Adnan di dekat tempat itu.


"Ryan?"


Dokter Adnan bergerak ke arah Ryan, namun Ryan menghampiri suster Zefanya.


"Suster Zefanya."


Suster Zefanya yang tengah sibuk itu terhenyak, menatap kehadiran Ryan.


"Atas izin siapa, anda membiarkan Citra dan Aston masuk ke kamar anak saya."


Suster Zefanya terdiam, kini semua orang yang ada di ruangan tersebut menatap dirinya.


"Anak saya hampir meregang nyawa karena ulah kalian."


"Dengar dulu, pak Ryan."


"Apalagi yang harus saya dengar?. Anak saya itu pasien, dia harusnya memiliki perlindungan penuh disini. Pasien juga punya hak untuk tidak diganggu siapapun, kecuali dia pelaku tindak kriminal, yang tengah dalam proses penyidikan. Anak saya tidak bersalah kepada siapapun, kenapa haknya sebagai pasien tidak dipenuhi?. Kenapa proses penyembuhannya malah diganggu, dengan kehadiran orang-orang yang tidak bertanggung jawab."


Suster Zefanya agaknya tak bisa memberi pembelaan apapun, karena kini dirinya pun telah terpojok. Akibat cercaan yang di lontarkan oleh Ryan.


"Saya akan layangkan tuntutan atas ini. Bagaimana mungkin suster yang mengaku menyayangi Nino sejak kecil, bisa tega melakukan hal ini terhadap dia."


Ryan lalu pergi meninggalkan tempat itu, dan kini ia menuju ke parkiran mobil.


"Dad, daddy mau kemana lagi?"


"Diam disitu, Ansel." ujar Ryan kemudian. Ryan masuk kedalam mobil dan bergegas meninggalkan halaman parkir rumah sakit.


***


"Tok, tok, tok."


Seseorang mengetuk pintu dengan keras. Aston yang saat itu tengah berada dirumah pun, mendekat ke arah pintu. Namun keburu pembantunya mendekat dan membuka pintu tersebut sebelum dirinya.


"Mana Aston?"


Sebuah suara terdengar dari balik pintu tersebut.


"Siapa bik?" tanya Aston kemudian. Tanpa disuruh, orang itu pun segera masuk.


"Ryan?" ujar Aston penuh keterkejutan.


"Mana Citra?" tanya nya kemudian. Citra yang berada di dapur itu pun keluar.


"Ryan?" ujar Citra tak percaya.


"Apa yang sudah kalian lakukan terhadap Nino?"


Ryan berkata dengan nada penuh penekanan. Ia tak berteriak, namun penuh dengan emosi yang siap meledak.


"Ryan, kami butuh bantuan anak itu untuk menjerat Amman."


"Apa harus disaat kondisinya sedang seperti itu?. Apa kalian tidak bisa menunggu, setidaknya sampai dia sembuh?"


"Ryan."


"Kalau kalian takut tidak bisa menemukan dia lagi setelah sembuh, kalian bisa tanyakan kepada saya. Saya ayahnya, saya orang tuanya. Kalian tinggal cari dia kepada saya."


"Ryan, Citra membutuhkan keadilan. Mental Citra rusak selama bertahun-tahun karena perilaku dari Amman."


"Kamu berusaha memperbaiki mental Citra yang rusak selama bertahun-tahun, dengan cara merusak mental seorang anak, yang sudah susah payah saya perbaiki selama bertahun-tahun juga."


Kali ini Ryan berteriak. Aston terdiam, sementara Citra tak bergeming sedikitpun.


"Kalian tau saat pertama kali saya mengambil dia, dia tidak mau bicara sepatah katapun. Bahkan sampai setengah tahun dia tinggal bersama kami, dia hanya berbicara satu atau dua kata. Bukan karena dia tidak mengerti bahasa kami atau kami yang tidak mengerti bahasa dia. Tapi anak itu mengalami trauma yang berat."


Ryan mencoba menarik nafas.


"Dua orang yang dia kira orang tuanya, meninggal dengan cara yang mengenaskan. Ibu angkatnya dibunuh oleh ayah angkatnya sendiri. Setelah itu dia mengurung Nino didalam kamar dan mulai menyiramkan bahan bakar ke seluruh rumah. Ayah angkatnya membakar sebagian rumah lalu bunuh diri dengan cara menembak kepalanya sendiri."


Air mata Citra sudah tak terbendung lagi kali ini. Ia membayangkan betapa menyeramkannya situasi tersebut, saat itu. Sementara Ryan terus berbicara.


"Rumah dibakar, sementara Nino ada didalam kamar. Beruntung saat itu warga langsung memberi pertolongan dan akhirnya anak itu bisa selamat. Bertahun-tahun dia tidak pernah tidur dengan tenang, dia selalu bermimpi buruk. Saya bersusah payah memperbaiki mental anak itu dan sekarang kalian menghancurkannya begitu saja. Bahkan tadi kalian membuat dia berada dalam kondisi kritis."


Citra dan Aston terhenyak mendengar semua itu.


"Dia terjatuh dikamar mandi, akibat terpikir semua ucapan kalian. Kalian hampir membunuh anak saya."


Ryan mendekat ke arah Aston.


"Kalau kamu marah karena dulu kamu tidak bisa menjaga Citra, marahlah dengan diri sendiri. Jangan menggunakan segala cara untuk menebus kesalahan yang kamu buat. Karena pembuktian apapun yang ingin kamu lakukan, tidak akan membuat kamu menjadi hero. Sebab hero tidak menyelamatkan orang yang dia cintai, dengan cara mengorbankan orang lain yang tidak bersalah."


Aston kian membeku, Ryan kini begitu dekat dengan dirinya.


"Jangan pernah kalian temui Nino lagi, tanpa seizin saya. Dia memang laki-laki dewasa berusia 33 tahun. Tetapi dimata saya, dia tetap Nino yang berusia 17 tahun. Sama seperti saat pertama saya menemukan dia. Dia tetap anak yang selalu harus saya lindungi, dari ancaman apapun itu. Camkan itu."


Ryan berlalu begitu saja, meninggalkan Aston dan Citra dalam kebekuan yang mendalam.