Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Emosi


"Bu."


Arka mendekat ke arah ibunya. Amanda, Rianti dan yang lainnya kini terdiam dengan jantung yang berdegup kencang.


"Anak kurang ajar kamu, Arka." Ningsih mengangkat tangan dan siap memukul sang anak. Namun dengan cepat Ryan mendekat dan menahan laju tangan wanita itu.


"Lepaskan saya." ujar Ningsih dengan wajah yang penuh murka.


"Ya nggak usah pakai kekerasan juga, dia nggak salah." ujar Ryan.


"Dia anak yang nggak tau kesusahan hati ibunya." kali ini Ningsih berteriak penuh emosi.


"Apa selama ini dia mengabaikan kamu?. Apa selama ini yang dia lakukan bukan demi kamu?"


Ryan berkata seraya menatap mata Ningsih.


"Aku yang bersalah, aku yang kasih tau dia kalau aku ayahnya. Yang bersalah itu aku, aku dulu yang menghamili kamu, aku yang meninggalkan kamu. Kalau kamu mau balas dendam, balas ke aku. Tapi jangan sakiti anakku."


"Dia anakku."


"Dia juga anakku. Kita melakukannya berdua, Ningsih. Dia nggak salah apa-apa."


"Kamu nggak berhak mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari dia. Karena kamu adalah ayah yang tidak bertanggung jawab. Yang berhak mendapatkan itu semua adalah ayah tirinya. Karena ayah tirinya lah yang sudah membesarkan dia."


"Dan Arka tidak pernah melewatkan satu waktu pun, untuk tidak memperhatikan ayah tiri nya."


Kali ini Ningsih terdiam menatap Ryan. Sementara Arka tertunduk dengan air mata yang mulai mengalir.


"Dia selalu datang mengantarkan makanan kepada ayah tirinya hampir setiap hari, tapi tidak pernah dia lakukan untuk aku. Dia selalu lebih memilih menemani ayah tirinya ketimbang aku, dalam hal apapun. Arka selalu lambat membalas pesan yang aku kirim. Tapi ketika ayah tirinya mengirim satu pesan, Arka langsung menelpon dan bertanya tentang apa yang terjadi. Aku selalu memperhatikan dia sepanjang aku mengenal dia sebagai anakku. And it's not a big deal for me. Karena aku tau dia yang menafkahi Arka dari kecil, aku rela kalau Arka hanya sayang sama dia."


Ningsih mulai menangis.


"Ingat?. Dia memutuskan untuk menikah demi uang, uangnya untuk siapa?. Untuk kalian kan?. Apa itu semua nggak cukup, untuk membuka mata hati kamu, kalau Arka itu lebih mencintai kalian daripada aku."


Arka kian terisak, bahkan tangisnya kini tersedu-sedu. Sementara Ningsih pun telah tenggelam dalam sesak. Air mata Ryan menyusul merebak dan jatuh di kedua sudut matanya.


"Aku sudah tua, Ningsih. Aku nggak tau seberapa banyak lagi waktu yang aku miliki. Aku hanya ingin anak-anakku berkumpul, aku mau mereka saling menyayangi saudaranya satu sama lain." Ryan menyeka air matanya


"Agar ketika aku mati nanti, aku tenang meninggalkan mereka semua. Aku tau kesalahan aku tidak termaafkan dan kamu tidak harus memaafkan aku. Tapi tolong maafkan Arka, kalau saat ini dia salah di mata kamu. Jangan kamu ajarkan anakmu kekerasan, karena dia juga punya anak."


Tangis Ningsih kian tumpah, Ryan menarik mantan kekasihnya itu ke dalam pelukan. Keduanya lalu sama-sama menangis. Sementara kini Nino mendekat dan menarik Arka, ia memeluk saudaranya itu dan mereka pun juga sama-sama menangis.


Air mata Amanda, Rianti, Ansel, dan yang lainnya sama tak terbendung. Hanya si kembar yang bingung melihat semua orang menitikkan air mata.


"Hoayaaa." ujar mereka dengan suara pelan.


"Sssst." Rio menempelkan jari telunjuk di bibirnya sambil menyeka air mata, Azka dan Afka memperhatikan Rio.


"Hoayaaa."


Rio mengangguk.


Si kembar tertawa kecil, Rio pun tertawa disela tangisnya.


Hari itu, usai sudah kemarahan Ningsih terhadap Arka. Sejatinya ia telah diperingatkan oleh ayah tiri Arka semalam, agar wanita itu tidak terlalu egois dan mengekang Arka. Perihal kedekatan anak itu dengan ayah kandungnya. Namun Ningsih membantah dan tetap ingin memarahi Arka.


Ia mengetahui kediaman Ryan dari ayah Rio. Setelah ia mencecar ayah Rio untuk jujur perihal hubungan Arka dan juga Ryan. Ayah Rio akhirnya jujur, ia memberitahu Ningsih bahwa Arka memang sudah mengetahui jika Ryan adalah ayahnya. Meski tak diberitahu pun, sebenarnya Ningsih sudah mengetahui dari pesan yang dikirim Arka semalam.


Ayah Rio berusaha memberitahu Rio, perihal kedatangan ibu Arka ke kediamannya. Namun Rio molor seperti orang yang tidak tidur seminggu, Arka pun sama demikian. Sejak bangun tadi pagi, bahkan mereka belum melihat handphone masing-masing. Akibatnya Ningsih keburu datang.


Mungkin ini semua sudah takdir, sebab entah mengapa tiba-tiba Ryan ingin mengadakan pesta kecil bersama anak-anaknya. Berhubung di apartemen tidak boleh ada pembakaran, Ryan mengajak mereka semua untuk menyambangi rumah satunya.


Andai saja mereka saat itu menginap di apartemen, pastilah Ningsih akan kesulitan untuk memergoki mereka. Sebab di butuhkan akses masuk untuk bisa mencapai tempat tersebut.


Namun semua itu sudah selesai, kini Ningsih tak lagi mempermasalahkan hal tersebut. Ia juga merasa dirinya begitu egois, bila menjauhkan Arka dari ayah kandungnya.


***


Di suatu tempat.


Rachel mengetahui jika Amman telah kembali kerumah dalam keadaan hidup. Wanita yang kini menyembunyikan diri itu pun, merasa begitu kesal. Kenapa Amman tidak meminum saja racun yang ia berikan saat itu.


Padahal sepertinya, pria itu telah terpengaruh oleh ucapan yang ia katakan saat itu. Kini Amman malah sehat dan sudah kembali ke kediamannya.


"Dasar brengsek." ujar Rachel seraya meminum minuman beralkohol yang ada dihadapannya.


Ia kini menjadi begitu gusar, pasalnya Amman tak mungkin diam begitu saja terhadap dirinya. Pastilah nanti Amman akan melayangkan kekerasan, karena ia telah berani menyuruh pria itu untuk mati.


Sementara di kediamannya, Amman tampak tengah berbicara dengan seorang notaris. Kali ini ia merasa perlu untuk segera menulis surat wasiat, sebab Rachel terlah berubah menjadi musuh yang berbahaya.


Amman khawatir ia tak memiliki waktu banyak, sebab kini pihak Citra pun telah mulai melaporkan dirinya ke polisi. Mengenai kejahatan yang pernah ia lakukan puluhan tahun lalu. Meski Citra tak memiliki bukti banyak, namun kini Amman sudah mulai direpotkan oleh urusan penyidikan.


Kalaupun harus mendekam di penjara. Paling tidak ia harus mengurus dulu, apa yang menjadi hak anak-anaknya. Sebelum Rachel memanipulasi semuanya.


Ia sendiri juga telah melaporkan Aston atas peristiwa pengeroyokan waktu itu. Mereka melapor pada kantor polisi di wilayah yang sama. Hingga polisi pun kebingungan, mengapa yang melapor saling terhubung satu sama lain.


***


"Bu, maafin Arka sama Amanda ya bu."


Amanda berujar dihadapan mertuanya, yang kini masih berada di kediaman Ryan tersebut. Ibu Arka mengangguk seraya mengusap air matanya.


"Ibu juga minta maaf ya, nak."


"Kami yang salah, bu." ujar Amanda lagi.


"Nggak kalian nggak salah, ibu lah yang terlalu egois selama ini. Ibu selalu nggak terima kalau Arka tau siapa ayah kandungnya, karena ibu masih dendam dan sakit hati dengan masa lalu. Tapi sekarang ibu sudah memaafkan semuanya. Maafin ibu, ya."


Ningsih memeluk anak dan menantunya itu lalu mencium mereka secara bergantian. Ketiganya pun larut dalam isak tangis yang begitu dalam.


Sementara Ryan berada pada kursi yang tak jauh dari sana. Tersenyum menatap mereka bertiga, sambil menyeka sisa air mata.