Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Rasa yang Tertinggal


Rianti yang tengah berada di dalam mobil tersebut, sangat yakin telah melihat Arka. Bersama seorang perempuan yang tak begitu jelas wajahnya.


Tapi ia kembali diserang rasa ragu, pasalnya Arka tak memiliki mobil sebagus itu. Kalaupun ada, mengapa mesti merahasiakannya dari keluarga. Atau mungkin, apa yang dikatakan bu Mawar itu benar.


"Oh Tuhan, tidak."


"Apakah benar saudara sepupunya itu menjadi simpanan tante-tante?"


"Hah."


Rianti menutup mulutnya, ia sangat syok sekali membayangkan hal tersebut. Apa mungkin pemuda sebaik dan sependiam Arka bisa melakukan hal seperti itu.


Sementara Arka dan Amanda sudah hampir tiba di penthouse.


"Jadi kamu nggak mau makan?" tanya Arka pada istrinya. Ia telah menyudahi ngambeknya yang begitu panjang.


"Mau, tapi masak aja deh nanti. Gimana?"


"Ya udah, bebas." ujar Arka.


"Eh, Ka. Kamu ada ngeliat Liana nggak sih, waktu tadi nuker mobil dirumah?"


Arka terdiam, tak mungkin ia memberitahukan keadaan Liana.


"Hmm, nggak. Kenapa emangnya?" tanya Arka pura-pura tidak tahu.


"Dia nggak bisa dihubungi, udah beberapa hari malah."


"Dia nggak masuk kerja emangnya?" tanya Arka masih berpura-pura.


"Dia kan aku kasih kebebasan. Mau kerja dari rumah juga bisa, yang penting kerjaan beres. Ini dia nggak ada ngirim hasil kerja, dihubungi juga nggak bisa. Biasanya kan dia kalau nggak di kost an, ya dirumah satu itu."


"Aku nggak tau, nggak liat juga waktu dirumah. Mungkin didalam, soalnya aku kan nggak masuk. Minta ambilin kunci sama Anita, terus aku bawa mobil ini."


"Oh ya udah, deh. Ntar aku tanya sama Anita."


Arka mengangguk, sejujurnya ia ingin sekali jujur pada Amanda perihal dimana Liana kini. Tapi mengingat istrinya tengah hamil dan sering dilanda cemas, Arka pun mengurungkan niatnya. Lagipula keadaan Liana saat ini belum stabil, belum bisa dijenguk banyak orang.


Sesampainya di penthouse, mereka mandi, masak, lalu makan. Usai makan, mereka beristirahat sambil menonton tayangan film di platform berbayar. Tentu saja dengan toples-toples berisi makanan ringan, untuk si istri yang selalu lapar.


Sejak awal menonton, Amanda tak henti-hentinya mengunyah makanan. Ia beristirahat hanya untuk minum, lalu kemudian kembali makan. Arka awalnya biasa saja, namun lama-kelamaan, ia pun tertawa melihat tingkah Amanda. Amanda pun menyadari dan ikut mentertawakan dirinya sendiri.


"Maaf ya, Ka. Akunya dari tadi berisik, makan mulu."


Arka masih tertawa lalu mengelus perut istrinya.


"Kamu malu ya, punya istri tukang makan?"


"Ntar juga kalau dia lahir, kamu nggak bakal sebuas ini makannya."


"Tapi kata orang-orang, menyusui juga bikin makan jadi nambah banyak."


"Bisa juga sih, karena kan dia makannya dari kamu."


"Lah iya."


"Ya udah nggak apa-apa. Lagian kalau udah niat punya anak ya, total lah. Kamu hamil, melahirkan, menyusui."


"Oh ya, Ka. Kata orang kalau melahirkan itu di robek ya?" tanya Amanda.


Arka pun pernah mendengar hal seperti itu. Namun bagaimana caranya untuk tidak membenarkan hal tersebut, karena ia khawatir Amanda akan menjadi cemas.


"Bener ya, Ka?" tanya Amanda lagi.


Arka kemudian membuka google search dan mencari beberapa artikel yang memuat soal persalinan.


"Ini ada banyak koq metode melahirkan supaya nggak dirobek atau di lukain."


"Gimana?"


Mereka pun lalu membaca artikel itu bersama-sama. Ternyata memang memungkinkan bagi seorang wanita, untuk tidak dirobek bagian vitalnya ketika melahirkan. Yakni dengan menggunakan metode water birth atau melahirkan didalam air. Hal tersebut tidak memberi robekan sama sekali, bahkan membantu ibu bisa cepat berdiri dan berjalan setelah beberapa jam melahirkan.


"Gimana kalau kita pake metode ini aja." ujar Amanda.


"Boleh, yang pasti kamu jangan terlalu capek atau angkat barang berat. Sering kontrol juga biar tau posisi bayi. Karena melahirkan dengan metode seperti itu, posisi bayi nya juga harus normal."


Amanda tersenyum menatap Arka.


"Maafin aku ya, Ka." ujarnya kemudian. Arka mengerutkan kening tanda heran.


"Maaf soal apa?"


"Maaf, karena aku. Kamu jadi terjebak dalam pernikahan ini."


"Dan aku suka jebakan ini." ujar Arka kemudian.


Lalu tangan Arka pun mulai bermain, mengusap, meremas setiap bagian yang ia inginkan.


"Hmmh."


"Ah."


Amanda mulai mengangkat pinggulnya. Membuat Arka kian terbakar gelora jiwanya. Kebetulan di film tengah diputar adegan yang sama.


"Kamu tau, gimana supaya lahirnya nggak dapet robekan."


Arka mencium Amanda.


"Gimana, Hmmh?" tanya Amanda.


"Jalan lahirnya harus dilebarkan."


"Pake apa?"


"Kamu tenang aja, ini enak koq." Arka berbisik ditelinga Amanda hingga wanita itu melayang sambil memejamkan matanya.


Lalu, Arka pun mulai menyibak apa yang ada dibawah sana. Ia mulai melakukan apa yang ia maksudkan. Amanda membuka matanya ketika merasakan ada yang melesak masuk, ia menatap Arka dan begitupun sebaliknya.


"Arka."


"Iya, sayang."


"Arkaaa, ah, ah."


"Ah, Man, ah, hmmh, sshh."


Malam beranjak naik, mereka tenggelam dalam pergumulan yang panjang. Suara erangan dan racauan terdengar di segala penjuru. Tak ada orang lain yang mendengar, hanya mereka berdua saja yang menikmati gema suara mereka sendiri.


Hormon kehamilan telah mengubah wanita berhati batu seperti Amanda, menjadi perempuan yang haus akan sentuhan dari Arka setiap saat. Bahkan akhir-akhir ini, ialah yang selalu dan selalu menginginkan hal tersebut.


Kadang jika dalam keadaan sadar, ia malu pada Arka atas sikapnya yang seperti wanita ******. Namun Arka sendiri menyukai wanita itu, bahkan ia siap memberikannya kapanpun Amanda meminta.


"Arkaaa."


"Maaan, aaakh."


Seperti biasa cintanya terhujam jauh didalam relung. Menembakkan lahar panas yang membuat semua otot berkedut hebat.


Amanda tersenyum, ia selalu tersenyum setiap kali Arka menyelesaikan tugasnya sebagai seorang suami. Ada perasaan hangat yang menjalar di hati maupun rahimnya kini.


Amanda selalu mengusap-usap perut buncitnya tanda ia sangat puas. Sementara Arka hanya bisa diam sambil tersenyum, melihat istrinya yang begitu bahagia akibat ulah nakalnya.


Kadang, ketika melihat Amanda dalam keadaan seperti itu, ingin rasanya ia memiliki 10 anak. Namun tak jarang pula ia tertawa dan berusaha menepis keinginan gilanya itu. Mengingat memiliki anak adalah sebuah tanggung jawab besar, bukan sekedar di beri pakan seperti halnya memelihara anak ayam. Memiliki satu anak saja kadang belum tentu bisa mengasuhnya dengan baik, apalagi bejibun.


Esok harinya, Amanda mengusap-usap perut hamilnya di dalam mobil. Sisa-sisa kenikmatan dan kehangatan yang diberikan Arka semalam masih terasa disana. Ia mengingat kejadian itu sambil tersenyum


Namun kemudian senyumannya hilang ketika melihat Nino melintas dihadapannya. Ia telah sampai di kampus, dan langsung menangkap Nino yang tengah berjalan. Hatinya kini terganggu, jujur ia masih memiliki rasa yang besar terhadap cinta pertamanya itu.


Ia memang sudah bertekad untuk tidak terlalu memikirkan lagi pria itu, namun hati kecilnya tak dapat dibohongi.


"Bu, udah sampe." ujar sang supir membuyarkan lamunan Amanda. Amanda pun terhenyak lalu bersiap.


"Iya, pak."


Amanda keluar dari mobil dan melangkah ke arah lobi kampus. Namun kemudian langkahnya terhenti, tatkala menemukan Nino yang berdiri tepat dihadapannya.


Amanda membeku, menerima tatapan Nino yang tak bergeming sedikitpun. Nino tau jika Amanda masih mencintainya dan ini saatnya ia ingin berbicara pada wanita itu. Namun, belum sempat ia berkata apa-apa. Tiba-tiba Nadine mendekat dari suatu arah.


"Pak Ziooo." teriak Nadine dengan wajah yang sumringah.


"Hai mbak Amanda." ujarnya menyapa Amanda.


Amanda tersenyum tipis, karena tak mungkin ia bersikap mencurigakan didepan Nadine.


"Pak, ada materi yang mau aku tanyain."


"E, nanti aja gimana?"


"Sekarang maunya, karena ada tugas yang udah mepet banget."


Nino diam menatap Amanda.


"Ayolah, pak " desak Nadine.


"Ok."


Nino pun akhirnya melayani Nadine, sementara Amanda kini menuju kelas. Ia bersyukur terbebas dari jeratan rasa yang masih tersisa. Karena saat ini, ia juga mencintai Arka dan bertekad untuk tidak mengkhianati suaminya itu.


Ia tak ingin segala sesuatu yang telah ia bangun bersama Arka, akhirnya berantakan. Ia harus melawan perasaannya terhadap Nino. Karena kini ada dua orang penting dalam hidupnya, yakni Arka dan bayinya.