
Amanda ketiduran disisi tempat tidur Arka. dengan posisinya duduk di atas sebuah kursi. Sementara kepalanya terjatuh di atas lengan Arka.
"Amanda."
Arka mengguncang tubuh Amanda. Ketika tanpa sengaja ia terbangun duluan dan mendapati pemandangan itu.
"Man, hey. Bangun!"
"Hmm." Amanda menjawab, namun belum membuka mata.
"Bangun, Man." ujar Arka lagi. Amanda pun akhirnya membuka mata.
"Jam berapa ini, Ka?" tanya Amanda.
"Setengah enam, Man. Kamu kenapa bisa ketiduran disini?" tanya Arka seraya menatapnya dengan iba.
Ia merasa bersalah, karena telah membuat sang istri harus menjaganya semalaman.
"Semalem udah niat pindah ke sofa itu, Ka. Aku pikir udah pindah kesitu, eh taunya mimpi." Amanda berujar seraya tertawa kecil. Ia kemudian menggeliat.
"Kasian kamu, coba semalem kamu pulang aja. Tidur dirumah, nggak usah tungguin aku."
"Aku nanti juga nggak bakalan bisa tidur kalau kamu nggak ada. Nih, si Korea Selatan sama Korea Utara bakalan ngamuk." ujar Amanda menunjuk perutnya.
Agaknya.ia sudah mulai bisa bercanda soal nama anak mereka itu. Arka pun jadi tertawa, namun tetap merasa bersalah.
"Maafin aku, ya. Maafin papa ya, dek." Ia mengelus perut Amanda.
"Iya deh, dimaafin. Karena papa good looking." canda Amanda.
"Kamu tuh, Man. Ngajarin anak."
"Bercanda, pak Bambang. Elah." Seloroh Amanda lalu beranjak.
"Ntar anaknya jadi pilih kasih, mau kamu."
"Nggak, maafin mama ya dek. Nggak usah dengerin omongan mama yang tadi." ujar wanita itu seraya mengusap-usap perutnya sendiri. Sementara Arka hanya tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Amanda itu wanita yang unik, ia sudah dewasa namun kadang bertingkah seolah lupa pada usianya sendiri. Itulah salah satu hal yang membuat Arka jatuh cinta padanya, di samping sifatnya yang memang baik terhadap siapapun.
"Kenapa ngeliatin?" ujar Amanda.
"Ntar tegang, loh." lanjutnya lagi.
"Dasar tante-tante mesum." seloroh Arka seraya masih tertawa.
"Apa?"
Amanda menoleh sambil membuka sedikit kancing bajunya. Hingga memperlihatkan hal yang sangat disukai Arka.
"Man, kamu ah."
"Yee, orang aku mau mandi. Mau kerja."
"Iya tapi ntar ada yang masuk, dokter atau perawat."
"Hehehe." Amanda nyengir lalu beranjak menuju kamar mandi.
"Huuuh."
Arka menghela nafas, mencoba menetralkan ketegangan yang telah dibuat oleh istri mesumnya tersebut. Tak lama ia pun tertawa.
Seusai mandi dan menyuapi Arka, serta menyuruhnya meminum obat. Amanda pamit pada suaminya itu untuk berangkat ke kantor.
"Kamu nggak ganti baju dulu ke rumah?" tanya Arka.
"Tadi aku suruh Anita, titipin baju aku ke pak Darwis."
"Emang pak Darwis hari ini udah masuk?"
"Udah katanya tadi."
"Terus, ntar kamu mau ganti baju depan pak Darwis gitu?"
Amanda terdiam, namun detik berikutnya ia malah tertawa terbahak-bahak.
"Ya nggak lah, Arka. Kan bisa di kantor, di ruangan aku. Kamu kayaknya semenjak sakit, ada saraf yang terganggu deh. Masa iya kamu berpikirnya kayak gitu, kamu pikir aku cewek murahan?"
Arka mulai menyadari jika ucapannya tersebut salah.
"Iya ya, kenapa aku berpikiran kayak gitu?" gumamnya kemudian.
"Didepan kamu doang, aku murahan." ujar Amanda seraya tertawa.
"Iya, mungkin karena itu tuh. Aku jadi berpikiran ngaco kayak tadi. Kamu kan nakal banget kalau di ranjang, jadinya aku takut."
"Ye, kalaupun aku mau selingkuh. Ngapain sama pak Darwis, orang ada Nino."
"Cie yang inget Nino."
"Cie yang udah lupa sama Maureen, karena goyangan hot tante Amanda."
Arka memukul gemas istrinya itu pada bongkahan belakang yang ia sukai.
"Kamu mah istrinya dilecehkan mulu, lagi sakit juga. Mau aku cabut ini infusnya?"
"Jangan, Man. Jangan, sakit...!"
Amanda pun tertawa melihat suaminya itu dan begitu juga sebaliknya.
"Udah ah, aku mau pergi."
Arka memeluk Amanda lalu mencium keningnya, seraya mengelus para bayi.
"Jagain mama, dek. Biar nggak nakal."
"Dah papa berondong."
"Dah mama tante."
Amanda pun meninggalkan tempat itu dengan tawa yang terus terkembang.
***
Dirumah Amanda yang satunya.
"Mbak Anita."
Rio tiba dengan menggunakan motornya, saat itu kebetulan maid Anita dan yang lainnya tengah membersihkan halaman rumah.
"Mmm, mas Rio ya?"
"Iya benar." ujar Rio seraya turun dari motor dan meletakkan helmnya di atas kendaraan itu.
"Ada apa mas?" tanya maid Anita heran.
"Tumben kesini." lanjutnya lagi.
"Tau Arka dimana nggak?" tanya Rio.
"Oh beliau sedang sakit, mas."
"Hah, Arka sakit?. Badak gitu bisa sakit?"
Rio tak percaya. Pasalnya sepanjang ia berteman dengan Arka selama ini, Arka tidak pernah sakit.
"Iya, bu Amanda yang bilang gotuy."
"Eee, saya boleh minta nomor Amanda nggak?. Soalnya Arka nggak bisa dihubungi. Saya perlu untuk kasih tau soal kerjaan dan juga urusan kuliah."
"Hp nya mungkin tinggal di penthouse, mas."
"Iya makanya. Saya minta nomor bu Amanda ya?"
Maid Anita lalu mengeluarkan handphone dan memberikan nomor kontak Amanda kepada Rio. Usai berterima kasih, Rio pun meninggalkan tempat itu.
"Hallo."
Rio menelpon Amanda ketika dirinya sudah di kampus.
"Hallo."
"Amanda, ini gue Rio."
"Eh, Ri. Lo nyariin Arka ya?" tanya Amanda diseberang.
"Iya, sorry ya Man. Terpaksa gue minta nomor lo ke mbak Anita, gue bingung banget nyariin Arka. Dia sakit?"
"Iya, kena blok jantung dia."
"Hah, itu kayak penyakit jantung?"
"Iya, tapi udah baik-baik aja. Gara-gara kebanyakan kopi sama rokok."
"Makanya itu, Ri. Jadi kayak irama jantungnya itu melambat dan nggak teratur."
"Duh ada-ada aja deh, jadi takut gue."
"Dia udah nggak apa-apa. Cuma emang masih gue suruh dirumah sakit dulu aja, biar ada dokter dan perawat yang ngurusin."
"Dia dirumah sakit mana sekarang?"
"Sama dengan tempat gue kemaren dirawat. Kamarnya juga sebelahan, VIP 107."
"Oh ya udah, deh. Gue kesana ya, Man?"
"Ya udah, paling dia lagi maen free fire. Kan dia bocil FF."
Rio tertawa.
"Lo baik-baik aja kan, anak lo gimana?" tanya Rio lagi.
"Gue baik, nih si Soleh-Solihun juga baik." ujar Amanda.
Seketika Rio tertawa.
"Kalo cewek, gue pengen namain Icha dan Tapasya." ujar Rio seraya menahan tawa, namun berakhir pecah. Amanda pun tak kalah gelinya mendengar nama itu.
"Namanya sih nggak ada masalah, gue inget neneknya." ujar Amanda masih tertawa.
"Demi dewa." ucap mereka bersamaan. Lalu mereka pun kembali tertawa.
"Lu mah, laki sakit masih aja bercanda." ujar Rio.
Amanda masih terkekeh.
"Gue ke Arka dulu ya, Man."
"Ini lo dimana?" tanya Amanda.
"Di kampus sih, gue sekarang."
"Ya udah, lo ke sananya hati-hati." ujar Amanda.
"Iya."
"Ri."
"Hmm?"
"Laki gue jangan diajak makan nasi Padang dulu." ujar Amanda seakan tau isi kepala Rio.
Biasanya teman laki-laki memang cenderung akan memberikan izin apa saja, pada temannya yang sedang sakit. Termasuk untuk memakan apapun yang diinginkan.
"Kagak, paling gue ajak makan seblak."
"Ih lu, mah."
"Hahaha." Rio tertawa.
"Bye, Man.
"Bye, Ri."
Rio segera tancap gas menuju ke rumah sakit, tempat dimana Arka dirawat. Sesampainya disana ternyata Arka tengah tertidur lelap, akibat suntikan obat yang diberikan dokter.
"Duh gimana nih, tidur lagi si Arka. Ini nyawa gue dalam bahaya nih." ujarnya kemudian.
Ia lalu mondar-mandir, duduk di sisi Arka, dan kembali mondar-mandir. Beberapa saat berlalu, Arka mulai membuka mata. Namun,
"Apaan, anyeeng?" Arka terkejut melihat penampakan muka Rio, yang melotot tepat beberapa centimeter di depan wajahnya.
Rio terkekeh.
"Gue kalaupun mau belok milih-milih ya, bangsat. Nggak lo juga." ujar Arka sewot, sementara Rio makin terkekeh.
"Tapi aku suka sama kamu ayank, beb." Rio makin ngelunjak dan meneruskan candaannya.
"Males gue sama lo, ketek lo bau kalau nggak mandi."
"Ye, semua orang juga bau ketek kalau nggak mandi."
"Gue kagak." ujar Arka.
"Sok ganteng, lu. Gue tuh udah sejam tau nggak nungguin lo molor, tidur nyenyak banget kayak abis kerja paksa sama Deandels."
"Serius lo udah sejam disini?" tanya Arka kemudian.
"Seiyes ye udah sejam desene, nyenyenye." Rio mengikuti ucapan Arka seraya mengedepankan rahang bagian bawah, wajah pemuda itu terlihat sewot.
"Elah lu, temen macem apa. Nunggu sejam doang ngomel."
"Iye, gue bawa sesuatu nih buat lo." ujar Rio seraya mengacungkan dua bungkus nasi Padang.
"Huh, tau aja lo gue lagi pengen nasi Padang."
"Sama Amanda nggak dikasih kan lo?"
"Hmm, bukan lagi. Padahal kalau dia sakit nih, gue turutin apa yang dia mau. Jangan Arkaaa, keme meseh seket, nyenyenye. Sebel banget gue, untung sayang." gerutu Arka.
"Rumah tangga emang gitu, bro. Untunglah gue single, jomblo pula." ujar Rio kemudian.
"Seneng lo?" ujar Arka.
"Seneng lah, kagak ada yang ngebawelin.Tapi kalau malem sepi, kagak ada yang ngangkangin."
"Bangsat lu emang."
Arka mengeplak kepala Rio. Tak lama mereka pun sudah terlihat di sofa dan tengah, memakan nasi Padang. Arka sendiri membawa infus holdernya agar bisa duduk didekat Rio.
"Ka, sebenernya gue mau bilang sesuatu sama lo."
"Udah gue bilang, gue nggak demen sama lo."
"Lu mah bercanda mulu, ini soal nyokap lo."
"Nyokap gue?. Soal apa?" ujar Arka seraya mengerutkan kening.
Rio menghentikan makannya, lalu menghela nafas.
"Hhhh."
"Nyokap lo udah tau, soal lo dan Amanda."
"Kenapa lo nggak bilang dari tadi?" Arka mulai panik.
"Udeh nggak usah panik. Gue emang nunggu nasi lo abis setengah dulu, biar lo punya tenaga buat khawatir. Kalau gue kasih tau dari tadi, ntar lo malah nggak makan karena nggak enak hati."
Arka melirik ke bawah, ke arah tangan Rio yang hendak mengambil rendangnya.
"Ya nggak harus ngambil rendang gue juga, Bambang." Arka sewot, Rio nyengir.
"Hehehe, gue nyesel ngambil ayam goreng. Ternyata setelah nyium aroma rendang lo, gue jadi pengen."
Arka melirik Rio sambil memindahkan rendangnya dengan sedikit kesal. lalu mengambil ayam goreng milik Rio. Jika bukan teman, ingin rasanya ia melempar kepala Rio dengan tabung oksigen."
"Hhhh." Arka menghela nafas.
"Jadi menurut lo, gue harus gimana?" tanya nya kemudian.
"Ya, lo jujur aja deh Ka. Mendingan." ujar Rio kemudian.
"Lagian nih ya. Gue takutnya nyokap lo ngira, kalau lo kumpul kebo sama Amanda. Padahal kan lo kumpul dragon."
"Lo masih sempet-sempetnya bercanda ya, Ri. Lagi genting loh ini."
"Gue udah tegang dari saat nyokap lo manggil dan marahin gue."
"Emang kejadiannya gimana sih?" tanya Arka penasaran.
Rio pun akhirnya menceritakan kronologi saat ia dipanggil ibu Arka dan ditanyai perihal Amanda.
"Gue rasa sih, Rianti yang mata-matain lo selama ini."
"Masa sih Rianti, orang selama ini aja dia nggak mau tau urusan gue. Maureen nggak sih menurut lo, yang ember ke nyokap gue?" tanya Arka.
"Ya mana gue tau, Ka. Sebaiknya lo balik deh. Jelasin ke nyokap lo, jujur aja. Udah terlanjur juga."
Arka tampak berfikir.
"Daripada orang tua lo kepikiran dan menduga-duga, mending lo jujur apa adanya."
"Ya, tapi gue harus pulang dulu dari sini." ujar Arka.
"Lo telpon Amanda deh, bilang kalau lo mau pulang."