Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Sidang Skripsi


Arka dan Rio menjalani sidang skripsi tepat dihari ini. Mereka berdua tengah sama-sama berjibaku, menyelesaikan step terakhir dari semua perjalanan yang telah mereka tempuh. Semua dimaksudkan, agar perjuangan mereka selama ini tak sia-sia begitu saja.


Ya, apalagi kalau bukan perjuangan menghadapi kebosanan di kelas. Apabila mata kuliah sedang berlangsung. Meski tak dapat dipungkiri mereka membutuhkan ilmu maupun ijasahnya. Namun sebagai mahasiswa normal, mereka juga tak menampik, jika terkadang mereka merasa bosan di kelas.


Ingin mundur, sudah terlanjur. Ingin menyerah, sudah banyak menelan biaya. Jadi ya sudah, pahit manisnya ditelan saja. Dan hari ini, mereka akan berusaha menyelesaikan semuanya dengan semaksimal mungkin.


Sementara di sebuah lapas wanita, Nindya tampak duduk berhadapan dengan Rani sambil berbicara serius. Sedang Amanda berada di kursi yang tak jauh dari sana. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain, seraya menyilangkan tangan di dada.


"Ran, coba kalau lo pikir panjang sebelum bertindak. Lo nggak akan berakhir disini, nggak akan kayak gini."


Nindya berujar pada Rani yang kini tertunduk dalam.


"Untung Amanda masih mau ngurus anak-anak lo, orang lain mana ada kayak gitu. Kadang saudara seibu-sebapak aja, bisa pura-pura tuli dan pura-pura buta, kalau kita lagi kesusahan. Jangankan menolong, peduli aja nggak. Apalagi mau di susahin dan di repotin ngurus anak kecil. Dia masih ngerti kesusahan lo, dia urus anak-anak lo. Padahal kesusahan ini, elo yang buat sendiri. Lo jahatin dia, dan dia masih baik sama lo."


Air mata Rani jatuh tak tertahankan. Selama berada di tempat ini, ia telah banyak merenungi kesalahannya.


"Sekarang lo baru tau rasa kan?. Gimana nggak enaknya, tidur bukan ditempat tidur lo, makan bukan apa yang lo pengen. Nggak bisa liat anak, nggak bisa peluk mereka."


Air mata Rani kian menjadi-jadi. Bahkan Amanda bisa mendengar dengan jelas, Isak tangis saudaranya itu.


Sementara di lain pihak, Robert Aidan Wijaya juga tengah berada di lapas. Bedanya ia di lapas pria dan kini tengah berhadapan dengan Doni.


Doni lebih banyak diam, karena Robert adalah salah satu saingan yang ia benci. Namun hanya Robert lah, satu-satunya artis manajemen peace production yang datang menjenguknya.


"Mau apa lo kesini?" tanya Doni dengan nada yang tak begitu ramah.


"Gue cuma mau menyampaikan, kalau pihak manajemen nggak jadi mengeluarkan lo. Karena kasus lo hanya hampir, dan belum kejadian."


"Heh." Doni menarik satu sisi bibirnya dan tersenyum sinis.


"Bilang aja lo mau ngetawain gue, kan?


"Ya, itu juga nggak salah koq. Gue datang kesini emang sekaligus buat menertawakan lo, karena lo bodoh. Lo udah punya temen sebaik Arka dan juga Rio, tapi lo malah ninggalin mereka dan jahatin mereka."


Robert menatap Doni lekat-lekat.


"Sekarang gue tanya, mana temen-temen baru lo itu?. Yang lo bela-belain banget, sampe lo ninggalin Arka sama Rio. Ada mereka jenguk lo disini?"


Doni kembali menarik salah satu sudut bibirnya, ia masih saja terlihat angkuh saat ini.


"Arka sama Rio juga nggak ada koq, jengukin gue."


"Tapi mereka selau ngasih duit ke nyokap lo."


Ucapan Robert tersebut, sukses membuat Doni terdiam dan gemetaran.


"Wajar kalau Arka nggak mau kesini dan nggak mau ngeliat muka lo lagi. Lo mau memperkosa istrinya, yang lagi hamil anaknya. Suami mana yang nggak murka kalau istrinya digituin, terlebih sama orang yang selama ini ngaku sebagai sahabat. Lo juga udah mencelakakan mereka berdua. Tapi meskipun lo brengsek, bajingan. Dia sama Rio masih peduli sama emak lo, mereka selalu kasih duit ke emak lo ganti-gantian. Karena mereka tau emak lo makan, dari lo doang yang ngidupin."


Doni benar-benar terpukul mendengar semua itu, ia kini merasa dirinya telah begitu jahat. Sejak awal Doni tertangkap, baik Arka maupun Rio sendiri sudah memberikan bantuan kepada ibu Doni. Karena ibunya itu sudah cukup tua dan sering sakit-sakitan. Hanya Doni saja lah, tulang punggung di keluarga mereka. Sedang Doni masih memiliki satu orang adik yang saat ini masih duduk di bangku SMA.


"Pernah nggak lo mikir, gimana emak sama adek lo makan. Sejak lo masuk ke penjara ini?"


Doni terhenyak, karena selama ini ibunya selalu membuat pengakuan berbeda.


"Nyokap gue bilang, dia dapat uang dari manajemen."


"Lo kira manajemen kita itu panti sosial?. Atau kitamampu.com?. Hah?"


Bibir Doni mendadak kelu.


"Rio yang nyuruh emak lo, untuk nggak ngomong sama lo soal itu. Dia takut lo bakalan marah ke emak lo, dan emak lo jadi nggak mau nerima uang dari Rio dan Arka lagi. Padahal emak lo membutuhkan itu."


Doni terpukul sedemikian hebat oleh sebuah batu penyesalan, yang mungkin saat ini tak ada gunanya lagi. Sebab hubungannya dengan Arka maupun Rio, sudah rusak akibat ulahnya sendiri.


***


Kembali ke lapas wanita.


Nindya sudah selesai berbicara pada Rani, dan sepanjang kunjungan tersebut. Amanda sepertinya enggan mengatakan sepatah kata pun. Bahkan sejak tadi ia sama sekali tak melihat ke arah Rani, seakan dirinya benar-benar marah pada wanita itu.


"Gue pulang." ujar Nindya. Rani yang sudah berdiri dan siap kembali ke sel itupun mengangguk. Amanda hendak berjalan duluan ke arah pintu, namun Nindya mencekal lengan sahabatnya itu.


"Man." Nindya mendekatkan tangan Rani dan juga Amanda. Hingga tangan mereka kini saling bersentuhan.


Rani memegang tangan saudaranya itu dan berkata.


"Maafin gue, Man. Gue menyesali semuanya. Gue......"


Amanda menarik Rani, dan kedua saudara itu lalu berpelukan satu sama lain. Air mata keduanya tumpah ruah, dalam isak tangis yang begitu haru.


"Maafin gue, Man. Gue bodoh dan gue jahat." ujar Rani kemudian. Amanda tak menjawab sepatah kata pun, ia terus terisak dalam tangis.


Nindya memeluk mereka berdua, dan pada akhirnya, runtuh lah sudah tembok permusuhan diantara mereka.


"Kita punya saudara satu lagi." ujar Amanda pada Rani, ketika ia akhirnya melepaskan pelukan.


"Saudara?" tanya Rani bingung.


"Iya, Nino."


"Ni, Nino?. Nino yang..."


"Iya."


"Satu lagi, papa tau kalau lo anaknya. Sejak dulu."


Kali ini Rani benar-benar terhenyak.


"Ma, maksud lo?"


"Gue nggak sengaja denger dia bicara sama temen lamanya, waktu dia dirumah sakit. Saat itu dia bilang, kalau sebenarnya dia udah tau, lo itu anaknya. Dia menanggung semua biaya hidup lo dan nyokap lo selama ini, melalui orang yang lo sebut om Danu."


Rani kian terkejut mendengar semua itu.


"Nyokap lo kerja sama om Danu. Dan nyokap lo kira, om Danu itu sangat baik. Karena tidak terlalu membebani nyokap lo dengan pekerjaan berat. Sedang gaji yang dikasih ke nyokap lo, jauh dari gaji pembantu rumah tangga di masa itu."


Air mata Rani menetes.


"Beasiswa yang lo terima selama sekolah. Lo pikir sekolah kita nggak selektif dalam memberikan beasiswa?. Itu duitnya papa, Ran. Dia titipin ke pihak sekolah, buat semua keperluan lo. Biar lo nggak banyak nanya, kenapa lo nggak diharuskan membayar ini itu. Makanya pihak sekolah, mengatakan kalau itu beasiswa."


Amanda menyeka air matanya.


"Gue mengatakan ini, bukan supaya lo berhenti membenci dia. Gue juga masih marah dan belum bisa terima, atas sikap dia selama ini ke gue. Gue cuma mau mengatakan, kalau diantara seribu kejahatan yang pernah dia lakukan. Dia nggak pernah lupa tanggung jawabnya terhadap kita. Bahkan selama bertahun-tahun, dia mencari keberadaan Nino. Tanpa sepengetahuan siapapun."


Sekali lagi Rani terisak dalam tangis, namun jam kunjungan tersebut telah berakhir. Nindya dan Rani pun akhirnya pamit pulang.


***


Disebuah jalanan.


"Jambreeet."


Seorang gadis berteriak di suatu arah. Robert Aidan Wijaya yang baru pulang dari lapas dan tengah membeli air mineral disebuah warung itu pun, melihat seorang lainnya lagi berlarian membawa sebuah tas.


"Woi jambret, woi." orang-orang mulai berteriak. Robert pun jadi emosi dan ikut mengejar.


"Woi, balikin woi." teriaknya kemudian.


Mereka semua mengejar jambret tersebut, namun hanya Robert yang larinya paling cepat. Ia terus mengejar jambret tesebut dan,


"Buuuk."


Robert menendangnya hingga terjatuh dan tas yang dirampas itu pun terlempar. Karena terdesak pengejaran, si jambret tak lagi mempedulikan tas tersebut dan kini ia malah berlari. Robert lalu meraih tas tersebut dan mencari si wanita.


"Itu tas saya." ujar si wanita.


Mendengar suara itu, Robert yang sedang melihat ke arah lain itu pun menoleh. Ia bermaksud mengembalikan tas tersebut, namun kemudian waktu seakan terhenti.


"Elo?"


"Elo?"


Robert dan wanita itu sama-sama berujar.


"Elo si cowok nyebelin amit-amit jabang bayi itu kan?"


"Dan elo cewek nggak tau sopan-santun yang kerja di kantor Arka kan?"


"Itu kantor bapak gue."


Seketika Robert pun tersadar, pada peristiwa saat ia berbicara dengan bos kantor tersebut.


"Yang bapak-bapak sopan itu, bapak lo?" tanya Robert tak percaya.


"Iya kenapa?" ujar gadis itu dengan nada sengak.


"Amit-amit jabang bayi, lo anak pungut kali."


"Enak aja?"


"Ya iya, masa bapaknya sopan berpendidikan. Anaknya modelan kayak elo, kayak netijen akun lambe tau nggak lo."


"Lo kurang ajar ya, balikin tas gue...!"


Gadis yang tiada lain adalah Cintara itu mencoba meraih tas nya, namun Robert mengalihkan tas itu ke tangan yang lain. Semakin Cintara Berusaha, semakin pula Robert mengalihkannya.


"Sini in nggak?"


"Nggak, minta maaf dulu." ujar Robert.


"Minta maaf, karena udah pernah berlaku nggak sopan sama gue." lanjutnya lagi.


"Siniin tas gue."


"Minta maaf dulu."


"Braaak."


"Hmmph."


Seseorang melintas terburu-buru, dan tanpa sengaja berakibat pada terdorongnya tubuh Cintara ke arah Robert. Parahnya lagi, kini bibir keduanya menyatu.


Lalu waktu pun terhenti seketika, Cintara dan Robert kini beradu tatap dalam diam.