Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
I'm Sorry


"Ok, good. Akhirnya lo sadar kan, betapa bodohnya temen lo yang satu itu." ujar Maureen di telpon.


Entah dengan siapa ia bicara kini, sementara Chanti dan juga Widya hanya memperhatikan dan sesekali beradu pandang.


"Ya udah, ntar gue yang ngatur." ujar Maureen lagi. Ia lalu menutup telpon tersebut dan kini tampak senyum-senyum sendiri.


"Apaan sih, Reen. Siapa lagi yang mau lo jahatin?" tanya Chanti seakan tau isi kepala Maureen.


"Ya siapa lagi kalau bukan si nenek tua, Amanda dan suami sirinya si Arka."


"Emang mereka tuh nikah ya?" tanya Widya.


"Iya, nikah siri. Si Arka dijanjiin duit dan utang orang tuanya dibayarin. Asal dia bisa ngebuntingin si tante tua itu." ujar Maureen lagi.


Chanti dan Widya saling bersitatap, mereka benar-benar tidak tahu soal ini. Mereka pikir Amanda dan Arka hanya pacaran kemudian hamil.


"Dari mana lo tau?" tanya Chanti kemudian.


"Ada lah, Maureen gitu loh. Informasi gitu doang, masa nggak bisa dapet. Gue dilawan, mana bisa."


Maureen berujar dengan penuh percaya diri, sementara Chanti dan Widya kembali saling menatap satu sama lain. Ada kode dalam tatapan mereka, kode jika mereka tengah mentertawakan tingkah Maureen dalam hati.


"Terus rencana lo apa?" tanya Chanti lagi.


"Gue bakal bikin hidup Arka dan si tante tua itu hancur. Biar sekalian gue sakitin aja dua-duanya. Gue nggak suka liat Arka sama dia bahagia. Sok cantik, sok kaya. Nggak ada yang boleh lebih dari gue."


Maureen kemudian berlalu untuk mengambil sesuatu di dapur.


"Dia pikir dia siapa ya?" ujar Widya pada Chanti dengan suara pelan.


"Biasa, mental netijen kamse." tukas Chanti.


"Apaan tuh?". tanya Widya.


"Ya kayak netijen, sukanya ngatain tapi nggak ngaca diri."


"Dia mah ada kaca juga percuma. Dia pikir dia cakep, padahal burik." ujar Widya.


"Kadang dia bau kaki tau, gue heran sama cowok-cowok di kampus yang memuja-muji dia kayak berhala."


"Hihihi." Chanti dan Widya cekikikan.


***


"Bu, ada paket kiriman buat ibu."


Pia, sekretaris Amanda memberikan sebuah kotak besar kepada Amanda yang tengah berada didalam ruang kerja.


"Paket dari siapa, Pi?" tanya Amanda seraya memperhatikan kotak tersebut.


Tak ada satu nama pun yang tertera disana. Karena penasaran, Amanda lalu membuka kotak tersebut. Sebuah kartu ucapan pun, ia dapat kan dari dalam kotak itu.


"Amanda, aku pengen liat kamu pake gaun ini. Love : Nino."


Amanda lalu tersenyum dan mengambil gaun tersebut. Sebuah gaun haute couture panjang berwarna biru laut yang begitu cantik. Dibawahnya ada sebuah flat shoes berwarna senada. Tak lama kemudian Nino pun menelpon.


"Gimana, kamu suka?" tanya Nino pada Amanda.


"Ini bagus banget, Nin." ujar Amanda masih menatap gaun itu.


"Nanti aku jemput kamu di kantor, aku mau ajak kamu dinner. Kamu mau kan?"


Lagi-lagi Amanda tersenyum.


"Iya." ujarnya kemudian.


"Ya udah, aku mau siap-siap dulu ya. Sama reservasi tempat."


"Ok."


"Bye, Amanda."


"Bye, Nino."


Lagi-lagi Amanda tersenyum, hatinya kini berbunga-bunga. Sementara di kediamannya Nino pun sama tengah tersenyum. Ia tak sabar ingin melihat Amanda dalam balutan gaun itu. Pasti akan terlihat begitu cantik, pikirnya.


Sekitar jam 19:00, Amanda merapikan rambut dan sedikit touch up menggunakan makeup yang ada di laci meja kantornya. Ia tak usah pulang dulu ke rumah, pikirnya. Karena hanya akan menjadi pertanyaan bagi Arka tentang mau kemana ia dan pergi dengan siapa.


"Man, bentar lagi aku jemput."


Begitulah bunyi pesan singkat dari Nino. Amanda tersenyum lalu menjawab,


"Iya, aku bentar lagi siap koq."


Wanita itu pun lalu berdiri dan membuka kotak berisi gaun, yang tadi dikirim oleh Nino. Ia meraih gaun tersebut sambil tersenyum. Namun tiba-tiba,


"Sssshhhh."


Amanda merasakan kram diperut bagian bawah. Maka ia pun mengusap-usap perut buncitnya itu beberapa kali.


"Sssshhhh."


Perutnya makin menegang dan lama kelamaan menjadi begitu sakit. Saking sakitnya, ia sampai berteriak. Pia dan beberapa orang karyawan yang masih berada di kantor termasuk Intan, langsung berlarian menerobos masuk ke ruangan Amanda.


"Bu Amanda kenapa, bu?" tanya mereka khawatir.


"Sa, sakit. Aakkhh." Amanda meringis sambil terus memegang perutnya.


"Sakit, tolong!"


Ia mencoba ngambil nafas, rasa sakit itu kini benar-benar menyiksanya.


"Udah, udah. Buruan bawa ke rumah sakit." ujar Intan panik.


"Satyaaa, Deniiii."


Satya dan Deni pun masuk keruangan Amanda.


"Apaan, Tan?" tanya mereka panik.


"Satu siapin mobil, satu lagi bantu angkat bu Amanda." ujar Intan.


Satya pun berlarian keluar dan menyiapkan mobil, sementara kini Deni mengangkat Amanda. Pia dan Intan ikut untuk membantu membukakan lift dan menjaga Amanda.


Para karyawan yang tertinggal di office, semuanya nampak khawatir. Karena mereka sebenarnya sudah tau semua, jika Amanda saat ini tengah hamil. Amanda tidak pernah menutupi dari mereka, meskipun ia tidak secara gamblang menceritakan soal kehamilannya tersebut.


Amanda masih nampak begitu kesakitan, ia seperti tak kuasa menahan rasa tersebut. Pia, Intan, serta Deni dan Satya yang ada didepan pun, tak bisa berbuat apa-apa. Karena mereka tidak mengerti harus bagaimana.


"Bu sabar ya, bu." ujar Pia mencoba menenangkan Amanda, yang kini mengerang kesakitan.


"Duh, gue takut bayinya kenapa-kenapa." ujar Intan menambah panik suasana.


"Buruan Satya!" ujar Intan kemudian.


"Tau nih lambat banget." timpal Pia.


Satya pun menaikkan kecepatan.


"Jangan ngebut juga."


Pia dan Intan berujar secara bersamaan, Satya pun jadi serba salah.


"Jadi ini gue harus gimana?" tanya Satya.


"Pi, saya udah nggak tahan. Ini sakit banget, Akkhhh."


Amanda kembali meringis hingga membuat panik satu mobil.


"Sat, Sat, Sat, itu klinik didepan." ujar Pia, menunjuk ke arah sebuah klinik yang terlihat didepan mereka.


"Katanya mau ke rumah sakit, mbak Pia."


"Yang mana aja dulu, yang penting ada dokternya." ujar Intan seakan ingin menelan Satya hidup-hidup.


Satya pun akhirnya menambah kecepatan, lalu membelokan mobil pada klinik tersebut. Sesampainya disana, Amanda langsung ditangani dokter kandungan. Kebetulan saat itu klinik tengah sepi, jadi Amanda bisa langsung dapat penanganan.


"Apa tadi ibu jatuh?" tanya dokter yang memeriksa.


"Nggak dok, tiba-tiba aja. Aaakkkhh."


Dokter tersebut berusaha sebisanya. Ia masih memeriksa kandungan Amanda ketika tiba-tiba Arka menelpon.


"Man."


"Arka, aku di klinik sekarang."


"Apa?. Klinik mana, kamu kenapa?"


"Perut aku sakit banget, Ka. Aakkkhh."


"Kamu di klinik mana sekarang?"


"Klinik GMC, jl Mandala."


"Ok, ok. Aku kesana."


"Kenapa, Ka?" tanya Rio pada Arka.


"Amanda, Ri. Katanya perutnya tiba-tiba sakit."


"Terus dia gimana sekarang?" tanya Rio lagi.


"Gue nggak tau, dia di klinik."


"Ya udah, ngebut Ka. Tapi hati-hati."


Arka pun menaikkan kecepatan, disela-sela rasa panik yang menderanya. Sesampainya di klinik tersebut, Arka langsung berlarian menuju ketempat dimana Amanda tengah ditangani.


"Amanda."


Arka langsung menghambur ke arah Amanda dengan kepanikan yang begitu besar.


"Amanda."


Amanda bangkit dan Arka langsung memeluk wanita itu.


"Sakit, Ka."


Arka menyentuh perut sang istri dan mengusapnya dengan lembut.


"Istri saya kenapa, dok?" tanya Arka pada dokter. Kepanikannya kini bertambah dua kali lipat.


"Kami sedang mengobservasi, pak. Karena kalau kram biasa dan tidak karena terjatuh, harusnya bu Amanda sudah sembuh sejak tadi.


"Apa nggak ada obat yang bisa meringankan rasa sakitnya?"


"Bu Amanda ini sedang hamil. Kita tidak bisa memberi sembarang obat, sementara kita belum tau apa penyebab sakitnya ini."


Arka menatap Amanda, namun wanita itu kini sudah tidak meringis lagi. Kedua matanya terpejam di pelukan Arka.


"Man." Arka mengguncang tubuh Amanda dengan penuh kekhawatiran.


"Aku masih sadar, Ka." ujar Amanda kemudian.


"Kamu masih sakit?"


Amanda menggeleng.


"Udah nggak."


Amanda menarik nafas, begitupula dengan Arka. Dokter agaknya mengerti dengan apa yang terjadi.


"Apa tadi bapak dan ibu bertengkar, hingga menyebabkan ibu mengalami tekanan dan stres?" tanya dokter.


Arka mengerutkan kening.


"Nggak, dok. Kami baik-baik aja." ujarnya kemudian.


Arka bingung dengan pertanyaan tersebut, namun tidak dengan Amanda. Wanita itu agaknya paham, apa yang membuat bagian bawah perutnya terasa kram.


Ia terlalu bersemangat untuk bertemu Nino. Sementara jauh di lubuk hati kecilnya yang terdalam, ia merasa bersalah pada Arka. Ia selalu teringat pada ucapan Nindya, yang menyinggung soal perempuan berselingkuh tempo hari. Meskipun ia selalu berusaha keras untuk menepis ingatan itu.


Mungkin tekanan itulah yang meningkatkan hormon stress dalam dirinya. Atau mungkin juga, bayi kecil didalam perutnya itu tak ingin jika ibunya mendekati pria lain selain ayahnya.


***


Catatan penting :


Membuat sebuah karakter di dalam novel itu, tidak bisa ngasal. Harus di runut dari faktor-faktor yang melatarbelakangi. Seperti faktor psikologis, sosial ekonomi, lingkungan, budaya dan pendidikan. Kalau ada yang bilang, si ARKA KOQ NGGAK TEGAS, BLA, BLA, BLA. YA LO LIAT DONG UMURNYA BERAPA, latar belakang kehidupan dan sosial ekonominya seperti apa. Terus yang dia hadapi ini siapa?. Nggak bisa asal membuat karakter TEGAS, TAMPAN, DAN PERFECT MELEBIHI TUHAN. Kayak kebanyakan tokoh-tokoh super HALU di novel lain. Gue pengen membuat karakter orang itu apa adanya sebagai manusia. Yang punya banyak kekurangan dan ada SISI MINDER. Kalian sendiri di usia 21 tahun udah sesempurna apa?. Harusnya berkaca kesitu sebelum mengomentari dan mengata-ngatai sebuah karakter.