
Wajah Amanda terlihat sangat gusar. Ia seperti sedang ngambek, ketika Arka menemukannya duduk di sofa depan. Wanita itu baru saja pulang dari kantor sore itu.
"Kenapa kamu, Man. Muka kayak keselek panci gitu?" tanya Arka pada istrinya.
"Aku bete, Ka." ujar Amanda dengan bibir yang ditekuk manja. Seakan meminta kepalanya untuk dilempar sendal.
"Bete kenapa, ada masalah di kantor?" tanya Arka seraya duduk disisinya.
Amanda menggeleng.
"Bukan." jawab wanita itu kemudian.
"Aku ada salah?" tanya Arka lagi.
Amanda kembali menggeleng.
"Lah terus?"
"Bete, karena nggak kebagian BTS Meal yang viral itu."
"Astaga Amanda, itu kan isinya nugget doang sama kentang ditambah minuman."
"Tapi kan itu edisinya BTS."
"Ya kan tulisannya doang, nggak ada Jungkook atau Kim Tae Hyung di dalamnya. Lagian sejak kapan kamu jadi Army?"
"Sejak kemaren, sejak aku nonton BTS sama Intan."
"Astaga, ya udah sih. Emang ada kejadian apa di hidup kamu, kalau nggak bisa dapet itu makanan?. Perusahaan kamu rugi?"
"Nggak."
"Atau semua uang kamu menghilang?"
"Nggak juga."
"Lah terus?"
"Bete aja, orang mau bikin insta story juga. Biar hits."
Amanda kian membuat suaminya mengelus dada.
"Man, Man."
"Udah deh, Ka. Nggak usah ngomel. Orang lagi bete, diomelin."
Amanda beranjak dan menuju ke kamar. Sementara Arka hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
Beberapa saat berlalu. Amanda yang masih kesal lantaran tak mendapat BTS meal tersebut, keluar dari kamar mandi. Ia telah mencoba menenangkan diri dibawah terpaan shower, meski tak berhasil banyak. Wanita itu tetap saja dongkol, karena tidak mendapatkan apa yang ia inginkan.
Kini, ia hanya ingin diam dan tak mau berbicara apapun dan dengan siapapun. Ia mengeringkan rambut barang sejenak, lalu keluar dari kamar. Bermaksud untuk pergi ke kulkas dapur dan mendapatkan sedikit cemilan.
Namun ketika sampai di meja makan, ia menemukan sesuatu yang mengagetkan. Ya, sebuah piring berisi nugget dan kentang goreng. Lengkap dengan foto-foto kepala member BTS yang di tempelkan pada tusuk gigi.
Amanda mendadak ingin tertawa, kedongkolannya yang tadi menyeruak kini perlahan berkurang. Ia mendekat ke arah meja makan dan memperhatikan itu semua. Tak lama kemudian, tiba-tiba Arka pun muncul dengan rambut belah tengah ala Jungkook.
Belum sempat Amanda berkomentar, laki-laki itu sudah menghidupkan salah satu lagu BTS melalui laman YouTube di handphonenya. Lalu ia pun ngedance dengan gaya seperti ubur-ubur kesurupan.
Modeun ge gunggeumhae, how's your day?
Oh, tell me (oh yeah oh yeah, ah yeah ah yeah)
Mwoga neol haengbokhage haneunji
Oh, text me (oh yeah oh yeah, oh yeah oh yeah)
Amanda pun ngakak, karena tak kuasa melihat wajah suaminya itu.
"Arka bibir kamu kenapa di merahin gitu. Kulit kamu itu rada coklat, kayak brownies strawberry tau nggak."
Your every picture
Nae meorimate dugo sipeo, oh bae
Come be my teacher
Ne modeun geol da gareuchyeojwo
Your one, your two
"Hahahaha."
Amanda kian terpingkal-pingkal, sementara Arka makin mirip ubur-ubur yang sedang demo.
Listen my my baby naneun
Jeo haneul-eul nop-i nalgo iss-eo
(geuttae niga naege jwossdeon du nalgaelo)
Ije yeogin neomu nop-a
Nan nae nun-e neol majchugo sip-eo
Yeah you makin' me a boy with luv
"Hahahaha, Arka udah. Hahahaha, malah mirip boneka kaktus joget tau nggak kamu."
Oh my my my oh my my my
I've waited all my life
Arka semakin menjadi-jadi, membuat Amanda tertawa hingga mengeluarkan air mata.
"Ka, ini aku mau pipis tau nggak ketawa mulu. Mata aku sampe berair nih."
Arka kemudian menghampiri istrinya sambil berusaha menahan tawa, ia telah berhasil melakukannya sejak tadi. Meskipun geli terhadap dirinya sendiri.
Sementara Amanda berusaha keras agar bibirnya tetap mingkem, namun demi melihat bibir Arka yang kini kemerahan. Ia teringat film yowis ben, saat tokoh Bayu yang memakai lipstik karena ingin mirip seperti laki-laki Korea.
Amanda pun tak kuasa dan akhirnya kembali ngakak di wajah Arka.
"Hahahaha."
Tak lama kemudian, Amanda sudah duduk di meja makan sambil mencoba menikmati BTS meal ala-ala yang telah dibuat oleh Arka. Ia berusaha menelan makanan tersebut, meski Arka kini duduk dihadapannya.
"Ka, hapus nggak tuh dandanan. Akunya nggak bisa makan, pengen ngakak terus."
Arka menatap Amanda dengan gaya yang sok cool.
"Noona, saranghaeyo."
Arka berkata dengan logat khas Korea, sambil memberikan finger love kepada Amanda. Membuat Amanda tak tahan dan akhirnya melempar sebungkus tissue ke arah suaminya itu. Arka pun berlarian sambil tertawa. Sementara Amanda, mulai makan dengan sisa-sisa kegelian di otaknya. Ia masih terus tersenyum apabila ingat kejadian tadi.
Amanda hampir menghabiskan nugget dan kentang gorengnya, ketika Arka akhirnya berteriak dari dalam kamar.
"Amandaaaa."
Kali ini gantian Amanda yang bersembunyi di bawah meja makan.
"Man, kamu videoin aku dan kirim ke Rianti sama Rio?"
Amanda menutup mulutnya sambil senyum-senyum.
"Amandaaaa."
Arka tak menemukan Amanda di meja makan.
"Dimana kamu, nggak usah ngumpet. Itu di video aku jelek banget, Man. Mirip nyonya pulp tau nggak. Kamu mah nggak kasian sama aku. Kalau udah jatuh ke tangan Rio, abis dah tuh di cengin pasti aku. Di sebarin ke anak manajemen."
Amanda masih dalam persembunyian.
"Amandaaa."
"Haaa, disini ya rupanya."
Arka berhasil menangkap istrinya dan menjewer telinga wanita itu.
"Aduh, Ka. Sakit, Ka."
"Minta maaf...!"
"Hehehe." Amanda nyengir.
"Nggak mau." ujarnya kemudian."
"Byuuur." Ia pun melangkah dengan cepat menuju kamar. Sementara kini, Arka berurusan dengan hujatan dari Rianti dan juga Rio.
"Apaan sih, mas. Wkwkwkwk. Kayak ikan tongkol pake wig."
"Bro, udah gue kirim ke grup. Semoga lo bisa di tolongin Jeremy, biar bisa debut di bighits."
"Temen bangsat lu, emang. Hapus nggak video nya?"
"Kagak mau, wkwkwkwk."
Arka pun hanya bisa merelakan, seraya menahan tawa. Sejujurnya, itu tak begitu menjadi masalah baginya. Hanya saja ia malu pada kemampuan dancenya yang lebih mirip belut listrik.
***
Disebuah kafe.
Satya, Deni, dan Intan tengah ngopi. Sesaat setelah pulang kerja. Mereka tengah membahas Arka yang menjadi korban pemukulan kemarin, oleh orang yang juga sama memukul istrinya.
"Gue sih setuju sama dugaan lo." ujar Deni pada Satya.
"Pak Aryo pasti dalang di balik semua ini." lanjutnya lagi."
"Kalau gue mah, masih curiga mbak Rani." ujar Intan menimpali.
"Atau mungkin mereka kerjasama?" tanya Intan.
"Tan, kalau mbak Rani itu kayaknya kejauhan deh." ujar Satya.
"Bener." Deni membela Satya.
"Kalau pak Aryo, udah jelas keliatan salahnya. Maksud dan tujuannya terhadap perusahaan juga udah keliatan. Lagian kejadian pemukulan itu, bertepatan banget sama pada saat bu Amanda sedang menyelidiki kasus yang menimpa perusahaan. Related kan?" tanya Deni lagi.
"Ya, bener banget. Paling masuk akal sih itu." ujar Satya.
"Kenapa sih lo, kayaknya menutupi banget kesalahan mbak Rani. Kayaknya lo berdua mendukung ya, perbuatan dia."
"Tuh, lu mah kayak buzzer Tan. Orang kagak sependapat dibilang mendukung." ujar Deni dengan nada sedikit kecewa.
"Bener mirip buzzer yang suka memecah belah tau nggak, lo. Kita nggak sependapat, bukan berarti ngebelain atau mendukung mbak Rani. Sah, sah aja dong kalau kita berbeda persepsi." timpal Satya.
Intan hanya melebarkan bibir lalu menyeruput kopinya. Dalam hati, ia tetap bersiteguh jika Rani ada hubungannya dengan semua ini.
"Lagian mbak Rani mau jahat sama bu Amanda, alasannya apa coba?. Udalah sahabatan dari dulu, dibantuin apaan aja. Masa iya nggak tau diri." ujar Satya lagi.
Intan tak lagi menjawab, ia hanya diam dan memperhatikan handphone.