
"Masih mikirin perempuan itu?"
Nino bertanya pada seorang pria bule yang kini tengah ngopi diruang makan apartemennya. Sejak masalahnya dengan Amanda selesai, Nino memutuskan kembali ke apartemen tersebut. Alasannya tentu saja karena lebih privasi.
"Iya, gue nggak tau dia dimana sekarang." ujar si bule.
"Anjay, udah tau "Gue" sekarang." ujar Nino.
Nino dan bule itu pun kini sama-sama tertawa.
"Ansel, harusnya lo tanya nomor handphonenya berapa. Biar nggak bingung nyarinya, Jakarta itu lumayan luas loh."
"Gue ada nomornya, Nino. Tapi itu selalu nggak aktif."
"Fiktif kali nomor yang dia kasih."
Nino menyeduh kopi, lalu duduk didekat saudara angkatnya itu.
"Nggak mungkin, soalnya sampai beberapa waktu yang lalu kami masih keep in touch. Masih telpon, WhatsApp."
"Udah punya pacar kali dia, terus cowoknya marah pas liat lo WhatsApp. Terus hp nya disita deh, kalau nggak dibanting."
"Hhhh, nggak tau deh." ujar Ansel kemudian. Pria itu lalu menyeruput kopinya.
Tak lama seseorang pun terdengar membuka pintu.
"Pak Zio?" Nadine tiba-tiba sudah ada disana. Nino memang memberinya akses untuk bisa naik serta masuk kapan saja, namun kini Nadine terdiam menatap kekasihnya itu.
"E, Ansel ini Nadine." ujar Nino.
"Hai." ujar Ansel seraya memperhatikan wanita itu. Nadine terus menatap keduanya.
"Kalian?"
"Oh, no." ujar Nino seakan tau isi kepala Nadine.
"Nad, ini saudara aku. Aku nggak memiliki kecenderungan *** yang menyimpang." ujar Nino berusaha menjelaskan. Sementara kini Ansel tertawa.
"Sini, sini, duduk."
Nino membawa Nadine untuk duduk bersamanya, ia lalu menjelaskan semua sampai akhirnya Nadine mengerti.
Siang harinya setelah kepulangan Nadine, Nino menemani Ansel ke rumah sakit. Kebetulan saudaranya itu agak sedikit menderita flu. Mungkin karena perubahan cuaca dan iklim yang mendadak, dari satu negara ke negara lainnya.
Sampai dirumah sakit, Ansel pun menemui dokter dan dia mendapat resep obat. Ketika hendak menebus resep obat tersebut, pada tempat yang telah diberitahukan oleh dokter. Tanpa sengaja Nino melihat Amanda yang tengah berjalan menuju ke suatu arah. Nino lalu menyusul wanita itu dengan diikuti oleh Ansel.
"Amanda." panggilnya kemudian.
Amanda menoleh.
"Nin?"
"Hey."
"Apa kabar?" tanya Amanda.
"Baik. Man, e, ini saudaraku, Ansel."
Nino memperkenalkan Ansel pada Amanda.
"Saudara dari orang tua angkat kamu?"
"Ya."
"Hai." Amanda mengulurkan tangannya, begitu pula dengan Ansel.
"Ini, bukannya perempuan yang lo cari?" tanya Ansel pada Nino.
"She's pregnant?" lanjutnya kemudian.
Nino mengangguk, lalu ia dan Amanda pun tersenyum. Nino sedikit menjelaskan jika dirinya dan Amanda sudah tidak ada apa-apa lagi.
"Oh jadi begitu." ujar Ansel.
Lagi-lagi Nino dan Amanda mengangguk. Nino sendiri baru sempat bercerita pada Ansel hari ini, karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya.
"Kamu disini ngapain?" tanya Nino pada Amanda.
"Periksa kehamilan?" lanjutnya lagi.
"Nggak, temannya Arka kecelakaan. Tapi udah lumayan sehat sekarang. Cuma, dia nabrak salah satu karyawan aku dan karyawan aku belum sadar sampai hari ini."
Amanda menoleh pada sebuah ruangan yang didepannya terdapat kaca besar. Nino dan Ansel pun menengok ke dalam.
"Intan?" Ansel berujar sambil terus memperhatikan Intan. Sementara Amanda dan Nino tampak terkejut, mereka tak menyangka jika Ansel mengenal Intan.
"Kamu..?" ujar Amanda.
Belum sempat ia melanjutkan kata-kata, Ansel sudah masuk kesana. Ia begitu panik dan sedih mengetahui Intan terbaring ditempat itu. Amanda dan Nino saling bersitatap lalu menyusul Ansel.
"Ansel."
"Nin, dia kenapa Nin?" tanya Ansel pada Nino.
"Dia koma." ujar Amanda. Seketika wajah Ansel langsung terlihat lesu, digenggamnya tangan Intan erat-erat.
"Dia teman saya, kami pernah bertemu beberapa kali." ujar Ansel pada Amanda.
"Dia, cukup lama ada disini." ujar Amanda.
"Apa saya boleh mengunjungi dia setiap hari?"
Amanda mengangguk, Ansel pun kini kembali memperhatikan Intan. Tak lama kemudian, Arka mengirim pesan singkat pada Amanda.
"Nin, Arka nyariin aku. Aku balik keruangan Rio, ya. Kalau kamu mau kesana juga nggak apa-apa, kesana aja. VIP 122, ruangannya."
"Ya udah, aku balik ya." ujar Amanda. Nino lalu mengantar Amanda hingga ke depan pintu ruang, tempat dimana Intan dirawat.
"Nggak apa-apa kalau aku sama Ansel disini?"
"Nggak apa-apa, lagipula orang tua Intan nggak bisa ngawasin terus. Mereka orang sibuk."
"Ya udah, kamu hati-hati balik kesana."
Amanda tersenyum lalu meninggalkan tempat itu. Ketika sampai di ruangan Rio, Amanda menceritakan jika tadi ia bertemu Nino dan juga Ansel. Arka pun tak menjadikannya masalah, namun tiba-tiba Amanda teringat jika ada sebuah data yang harus ia ambil di handphone lamanya.
"Jadi kamu mau pulang ke penthouse?" tanya Arka pada istrinya, ketika Amanda menyampaikan maksud pada suaminya itu.
"Bentar doang, ini aku minta anterin pak Darwis."
"Biar aku aja." ujar Arka.
"Nggak usah, kamu ninggalin Rio sendirian."
"Nggak apa-apa, Man." ujar Rio kemudian.
"Udah nggak usah, kesannya aku tuh ibu-ibu hamil yang nyusahin banget. Kayak ibu-ibu hamil manja tau nggak."
"Arka khawatir sama lo." ujar Rio membela sahabatnya.
"Kadang berlebihan, Ri. Pengen gue gedik palanya."
Rio tertawa demi mendengar pernyataan tersebut.
"Ye, namanya juga suami sayang. Suami siaga." ujar Arka membela diri.
"Saking siaganya kayak security komplek kamu."
Amanda tak kuasa menahan senyum. Arka dan Rio malah tertawa.
"Tuh pak Darwis udah di depan, aku balik dulu ya."
"Hati-hati, kalau udah sampe kabarin dan cepet balik lagi."
"Iya papa." ujar Amanda lalu mencium bibir suaminya itu. Arka terkejut namun wajahnya memerah.
"Gemes deh kamu kalau lagi malu, kayak pantat monyet." ujar Amanda mencubit pipi suaminya, sementara Rio tersedak karena menahan tawa.
"Kalau kayak gini keliatan bocilnya ya, Ri." Amanda meminta persetujuan Rio.
"Emang Arka masih bocil, lo aja yang doyan."
"Iya, dia yang merusak gue tau." ujar Arka pada Rio.
Amanda hanya tertawa lalu berlalu. Setelah kepergian istrinya itu, Arka pun mulai bercerita pada Rio tentang apa yang belakangan menimpanya dan juga Amanda.
"Brengsek tuh perempuan." Rio terlihat begitu marah.
"Padahal kayak cewek kalem dan baik-baik ya, itu si Rani." ujarnya lagi.
"Ya gitu lah, bro. Kadang penampilan menipu. Tapi semua itu karena bapaknya mereka juga."
"Maksud lo bapak mereka?"
"Hhhh." Arka menghela nafas.
"Rani dan Amanda itu ternyata satu bapak."
"Maksud lo?. Bokapnya Amanda nikah lagi?"
"Nggak, dia memperkosa ibunya Rani. Dimalam sebelum dia nikahin ibunya Amanda."
"Anjriiit."
"Dan lo tau, siapa bokapnya Amanda?"
"Siapa?" tanya Rio penasaran.
"Pak Amman."
"Hah?. Pak Amman yang?"
"Ya, yang produknya gue iklanin."
"Anjriiit, kakek Sugiono juga tuh orang. Bangsat, emosi gue."
"Gue juga nggak nyangka, perempuan sebaik Amanda punya bapak modelan kayak dia. Lo tau bu Vera kan, asistennya dia?"
"Bu Vera, iya, iya. Sempet gue ketemu waktu itu, kan gue juga pernah casting buat produknya mereka."
"Vera itu lagi hamil adiknya Amanda."
"Anj..." Rio menahan umpatannya dengan mencoba menghela nafas.
"Sumpah, gue emosi banget Ka. Gue sehat aja nih, ketemu. Gue hajar tuh si kakek Sugiono, sebel banget gue."
"Apalagi gue, kalau nggak mandang Amanda aja. Abis tuh orang."
***
Di penthouse.
Amanda membuka lemari dan meraih handphone yang sudah lama ia letakkan disana. Baterai handphone tersebut kini hanya tersisa hanya 10% saja. Amanda kemudian mencharge handphone tersebut dan mulai membuka-buka pesan yang masuk.
Awalnya biasa saja, karena isinya hanya pesan-pesan karyawannya mengenai pekerjaan. Namun tak lama kemudian, ia membuka semua pesan dari Intan.
Dalam sekejap, jantung Amanda pun berdegup kencang. Intan membeberkan semua bukti tentang Rani. Wanita itu benar-benar terkejut, apalagi melihat ada keterlibatan Amman dalam rencana itu. Ia kini benar-benar naik pitam, kemarahannya memuncak dan ia siap untuk meledakkan segala emosi yang telah bertumpuk.
Sementara di rumah sakit, baru saja Nino dan Ansel melangkah pergi. Jari-jemari Intan mulai bergerak.