
Amanda terdiam di dalam mobil, ia tengah menunggu Arka yang saat ini masih berada di dalam toilet rumah sakit.
"Rachel kirim pesan ke aku, dan berpura-pura jadi Amman. Dia bilang mau ajak aku jalan-jalan. Dia tanya aku lagi dimana, aku jawab lagi di minimarket. Dia bilang mau jemput aku. Aku tunggu, nggak lama mobil sampai. Karena dia pake salah satu mobil papa kamu, aku nggak curiga dan langsung masuk. Dan ternyata dia ada didalam."
Amanda mengingat percakapannya dengan Vera di kamar rumah sakit tadi. Hanya ia berdua yang berbicara, karena tadi Arka sempat menerima telpon cukup lama diluar kamar dan Amman harus membeli beberapa hal yang dibutuhkan oleh Vera.
"Apa yang dia lakukan sama kamu?" tanya Amanda saat itu dengan penuh emosi.
Ia memang sudah menaruh kemarahan sejak lama terhadap Rachel, ia ingat dulu bagaimana Rachel menghancurkan hati ibunya. Ibunya kerap dipukuli oleh Amman, lantaran Amman membela selingkuhannya tersebut.
"Dia mengintimidasi aku, memukul didalam mobil. Dia terus pukul-pukul perut aku, dan terakhir mobil berhenti dijalan tadi. Terus dia tendang perut aku dan dorong aku keluar."
Air mata Vera mengalir, sementara kemarahan Amanda kian naik ke ubun-ubun.
"Tadinya tempat itu sepi, sampai kemudian ada pengendara motor yang berhenti. Mereka menolong aku dan nggak lama, kamu sama Arka lewat."
Amanda merasa kian geram, ucapan Vera tersebut terus menyesaki telinga dan bathinnya. Meski kini telah beberapa saat berlalu.
"Hai sayang, maaf ya lama. Ngantri parah soalnya."
Arka masuk ke dalam mobil, Amanda mengangguk. Arka memperhatikan raut wajah istrinya.
"Kamu masih emosional ya?" tanya nya kemudian. Amanda mengangguk, ia juga masih terpikir akan proses kelahiran Amara hari ini. Andai saja ia dan Arka terlambat datang, mungkin bayi itu tak tertolong.
"Sini aku peluk."
Arka tersenyum pada istrinya, Amanda lalu memeluk suaminya itu dengan erat. Seakan hendak menumpahkan segala perasaan yang ia miliki saat ini.
"Uh, sayang. Mama Firman cantik aku."
Amanda tersenyum kecil, Arka mencium kening istrinya itu. Ia lalu menceritakan hal-hal lucu, sampai akhirnya ketegangan yang ada diri Amanda pun mencair.
"Udah lebih enak kan perasaanya?" tanya Arka, ketika telah banyak usaha yang ia lakukan. Amanda tersenyum lalu mengangguk.
"Makasih ya, Ka." ujarnya kemudian.
Gantian Arka yang mengangguk.
"Kamu mau belanja?" tanya Arka.
Amanda menggeleng.
"Mau di tidurin, biar hamil lagi?"
"Arka, ih."
Amanda melepaskan pelukan dan memukul lengan suaminya itu. Seketika Arka pun terkekeh, lalu menghidupkan mesin mobil.
"Ke kota tua yuk, healing dulu. Netralin perasaan dulu, sebelum ketemu anak-anak. Biar mereka nggak jadi pelampiasan." ujar Arka ketika mobil telah berjalan cukup jauh.
Amanda menoleh.
"Boleh juga tuh, udah lama kita nggak kesana." ujarnya kemudian.
"Udah nggak baper lagi kan sama tempat itu?" goda Arka.
Amanda tertawa.
"Iyalah, orang Nino saudara aku."
"By the way, Nino gimana ya." tanya Arka kemudian.
Amanda menghela nafas.
"Nggak tau, Ka. Mudah-mudahan dia baik-baik aja. Nanti coba tanya sama daddy, kalau suasana udah agak tenang."
Arka mengangguk, ia menggenggam sejenak tangan istrinya itu lalu kembali fokus mengemudi.
Sementara di kediaman Ryan, Nino berbaring di tempat tidurnya. Suhu tubuhnya meningkat sejak tadi dan ia enggan berbicara sepatah katapun.
Ia mengingat pertemuannya dengan Amman, dan mengingat kala Citra dan Aston membicarakan soal masa lalu mereka yang begitu kelam. Nino kini berada di tengah-tengah sebuah drama tragedi, dimana ia lahir dari kisah cinta yang begitu rumit. Ia tidak pernah meminta untuk dilahirkan, namun mengapa begitu banyak beban yang ia harus tanggung. Terutama beban mental dan juga moral.
"Nino."
Ryan membuka pintu kamar puteranya itu. Nino yang semula terdiam menghadap ke tembok, mendadak memejamkan matanya. Ryan mendekat dan memperhatikan piring berisi makanan yang masih utuh, serta minuman di gelas yang tak tersentuh. Ryan lalu duduk di sisi tempat tidur Nino dan berbicara pada anaknya itu.
"Remember about 16 years ago. Bahkan kamu lebih terpuruk dari ini, Nino. Saat daddy dan mommy menemukan kamu, tapi kamu bisa melalui semuanya. Daddy harap kamu bisa bangkit sekali lagi."
Ryan menghela nafas, lalu pergi meninggalkan kamar itu. Nino kembali membuka matanya dan tetap terdiam seperti semula.
"Ansel, where are you?"
Ryan menelpon Ansel, ketika ia telah keluar dari kamar Nino.
"Yo what's up, bro." ujar Ansel, dengan nada yang minta di lempar gas tiga kilo.
"Where are you?"
"Pacaran dong." ujarnya lagi.
Ryan menghela nafas, Ansel bisa menangkap ada yang tak beres dengan ayahnya itu. Karena Ryan akhirnya terdiam cukup lama.
"Dad, what happen?" tanya nya kemudian. Ia sudah tidak slengean seperti tadi.
Lagi-lagi Ryan menghela nafas, namun kemudian ia pun menceritakan kondisi Nino saat ini.
"Ok, aku kesana sekarang." ujar Ansel.
Ia pun lalu menutup sambungan telpon dan mendekat ke arah Intan. Gadis itu tengah bercanda bersama Satya dan juga Deni disebuah tempat makan.
"Intan, aku harus pulang. Soalnya Nino, lagi sakit dan daddy nyuruh aku pulang."
"Nino sakit apa?" tanya Intan, Satya dan Deni kini memperhatikan Ansel.
Ansel pun bercerita jika Nino tadi bertemu dengan ayah Amanda. Sejatinya Intan, Satya dan Deni telah mengetahui cerita tersebut.
"Oh, ok. Nggak apa-apa." ujar Intan.
Ansel lalu mengeluarkan kartu kredit miliknya.
"Kamu pake ini buat bayar semuanya. Dan kamu boleh gunakan kalau mau belanja, ajak Satya sama Deni sekalian." ujar Ansel kemudian.
Intan mengangguk, Ansel mencium kening gadis itu lalu berlalu menuju mobilnya.
***
Di Kota tua.
"Aaa'k."
Arka menyuapkan sosis besar pada Amanda. Wanita itu membuka mulut dan Arka memasukkan sosis tersebut ke mulut istrinya. Seketika mereka pun menjadi aneh, apalagi ada beberapa pasang mata yang kini memperhatikan mereka.
"Udah ah makan sendiri-sendiri aja." ujar Arka.
"Traveling nih otak aku." lanjutnya kemudian.
Orang-orang yang menyadari kehadiran mereka berdua pun, mulai mencuri-curi agar bisa mengambil foto.
"Cekrek."
"Cekrek."
Namun Arka dan Amanda belum begitu sadar, jika mereka diperhatikan oleh pengunjung. Karena pengunjung tersebut masih bisa menahan diri, untuk tidak mendekat ke arah artis yang mereka lihat.
Arka dan Amanda lanjut berjalan-jalan sambil mencari makanan. Hidup mereka sejatinya tak ada masalah dan keduanya sangat suka makan. Hanya saja kadang mereka harus menguras tenaga dan pikiran, karena mempedulikan masalah dari orang-orang disekitar mereka.
Mungkin itu adalah cara alam agar mereka tak bosan dengan kehidupan yang mereka jalani, agar hidup mereka tak monoton. Karena jika tidak ada masalah yang menimpa, praktis yang mereka jalani hanyalah rutinitas bekerja, bercinta, makan, mengurus anak dan lain sebagainya.
Karena mereka jarang memiliki masalah dalam rumah tangga, maka alam menyeimbangkannya dengan masalah dari luar. Yang terjadi pada orang-orang di sekitar mereka.
"Ka, inget nggak uler itu." tanya Amanda ketika melihat ular, yang disewakan untuk berfoto bersama. Arka langsung menghindar agak jauh.
"Jangan macem-macem kamu ya, Man. Waktu itu aku turutin karena kamu lagi hamil. Kalau sekarang kamu maksa, aku beneran marah dan ngambek sama kamu."
Amanda tertawa.
"Demi aku, Ka. Katanya cinta?"
"Cinta ya cinta, Man. Nggak pake uler juga. Mendingan kamu mainin uler aku."
"Uler kamu mah bahaya, sekali nyembur efeknya sembilan bulan."
Arka tertawa.
"Yang penting kamu nya enak." ujarnya kemudian.
"Ka, ayolah. Foto sekali aja."
"Nggak mau, Amanda."
"Ayolah."
Amanda menarik paksa suaminya, si empunya ular beserta ularnya pun mendekat. Arka memberontak, namun Amanda sempat mengabadikan foto tersebut dengan wajah Arka yang penuh ketakutan.
Arka berlari pontang-panting, ketika foto selesai diambil. Ia menggerutu dari jauh, sementara Amanda tertawa-tawa sambil membayar kepada si pemilik ular.
"Kamu mah gitu." ujar Arka dari kejauhan.
"Awas aja ntar kamu dirumah." lanjutnya lagi.
Amanda kian tertawa-tawa.
"Keenan, boleh foto nggak?"
Beberapa bocil yang berusia kira-kira belasan tahun yang juga mengunjungi tempat itu, tampak berbicara pada Arka.
"Mm, ok." ujar Arka lalu tersenyum.
Mereka pun berfoto bersama Arka, tak lama kemudian suasana makin riuh. Karena pengunjung bertambah banyak dan semuanya berebut untuk berfoto bersama Arka.
Arka melayani mereka, namun akhirnya ia memutuskan untuk menghindar. Karena situasi yang sudah tidak kondusif. Ia meminta maaf pada mereka yang tak sempat berfoto bersamanya, lalu ia menghampiri dan membawa Amanda. Banyak sekali warga yang jeprat-jepret mengambil foto mereka berdua.
"Haduh, Ka."
Amanda menarik nafas berkali-kali, ketika mereka telah sampai ke dalam mobil. Begitupula dengan Arka.
"Gitu banget ya jadi artis." ujar Amanda kemudian.
"Ini mungkin karena aku sering viral belakangan ini. Dulu-dulu waktu kita baru nikah, nggak gini kan?"
"Iya sih, orang masih kayak nggak ngeh gitu loh."
"Parah banget nih, the power of social media." ujar Arka kemudian.
Arka sedikit membuka kaca mobil dan membiarkan udara masuk.
"Udeh, minum dulu."
Tiba-tiba seseorang menyodorkan dua cup es jeruk peras.
"Rio?" Arka dan Amanda terkejut dengan kehadiran pemuda itu.
"Hehehe." Rio nyengir.
"Lo ngapain disini?" tanya Arka. Rio menyodorkan minuman itu pada Arka dan Arka pun menerimanya. Ia juga memberikan salah satunya kepada Amanda dan wanita itu langsung minum karena haus.
"Gue tadi sama Liana, dia pengen makan kerang ijo. Tapi dia udah pulang naik taxi sama temennya, karena ada janji sama temennya itu."
"Tadi gue di kerubutin tau nggak, disana." ujar Arka.
"Tau gue, orang gue ngeliat dari ini. Gue ketawain aja."
"Dasar Bambang, bukannya di tolongin." Arka sewot pada Rio.
"Lah kalau gue nyamper, makin jadi. Yang ada fans gue pada nongol, makin rame."
"Halah, kayak ada aja yang ngefans sama lo."
"Eh Ka, fans gue itu udah hampir ngalahin fans K-Pop ya."
"Iya barbarnya, jumlahnya mah dikit." ujar Arka seraya tertawa.
"Anjrit lo." ujar Rio seraya tertawa pula.
"Lo abis ini mau kemana?" tanya Arka.
"Nggak kemana-mana." jawab Rio.
"Kerumah yok, main PS."
"Emang lo berdua nggak mau maju, mundur, nyembur?"
"Bangsat." Arka tertawa, begitupula dengan Amanda.
"Kagak, Ri. Capek." ujar Amanda kemudian.
"Ya udah, lo jalan lah duluan. Gue naik motor soalnya." ujar Rio.
"Ya udah, gue jalan duluan ya."
Arka lalu menghidupkan mesin mobil, Rio berbalik arah menuju parkiran motor. Tak lama kemudian, keduanya menuju ke kediaman Arka dan Amanda.