
Pagi harinya, Arka mengantar Amanda seperti biasa. Dan seperti biasa pula, mereka mengawali perjalanan pagi itu dengan sebuah perbincangan hangat. Seputar pekerjaan, rencana, kegiatan, dan lain sebagainya.
Mereka tertawa-tawa jika ada topik pembicaraan yang lucu. Namun ketika memasuki obrolan yang serius, mereka pun akan saling mendengarkan dengan seksama. Jarang sekali ada perdebatan diantara mereka. Meskipun Arka terbilang masih muda, ia memiliki pengetahuan yang cukup luas dan bisa mengimbangi Amanda dalam membahas berbagai topik.
Sedang Amanda sendiri, adalah tipikal istri yang bijaksana. Meskipun ia tahu banyak hal, adakalanya ia harus mengerem dan berpura-pura tidak tahu. Disaat seperti itu, ia memberi kesempatan pada Arka untuk mengemukakan pendapatnya. Biasanya, ia pun akan sama mendengarkan secara seksama.
Tiba-tiba sebuah notifikasi panggilan terdengar. Ketika bahkan jarak pun telah begitu dekat dengan kantor. Ternyata telpon dari Rani.
"Iya, Ran." jawab Amanda seraya meminum susu hamil yang ia bawa didalam botol.
"Man gue nggak bisa masuk hari ini." ujar Rani.
"Loh kenapa?" tanya Amanda kemudian.
"Gue nggak enak badan, Man."
"Lo sakit?" Amanda berubah menjadi begitu khawatir. Arka menoleh sejenak pada istrinya, lalu kembali menatap ke jalan.
"Iya nih, nggak tau gue kenapa." ujar Rani lagi.
"Oh ya udah, deh. Lo perlu ke dokter nggak?" tanya Amanda.
"Nggak usah, Man. Gue cuma perlu Istirahat aja dirumah."
"Yakin nggak mau ke dokter aja?" tanya Amanda lagi.
"Nggak, Man. Masih terbilang aman koq, cuma gue sempoyongan aja kalau mesti kekantor."
"Oh ya udah deh, lo istirahat aja dirumah. Sampe lo bener-bener sembuh."
"Iya man, makasih ya." ujar Rani.
"Cepet sembuh ya, Ran."
"Iya, Man."
Rani pun menyudahi telponnya. Sementara kini mobil terus berjalan. Usai mengantar Amanda, Arka pun pergi ke kampus. Setibanya disana, ia langsung keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju pintu lobi.
Namun kemudian ia dikejutkan dengan kehadiran Doni, yang sudah lama sekali tak tampak didepan matanya. Doni terlihat berjalan bersama teman-teman satu gengnya yang baru.
Arka cuek saja. Sampai kemudian, tiba-tiba sebuah mobil mewah melintas di dekat Doni dan teman-temannya. Mobil tersebut pun lalu berhenti tepat didepan mereka. Tak lama si pemilik mobil tersebut keluar, lalu menyapa Doni dan yang lainnya.
"Hai."
"Waduh, Adit my man." ujar mereka dengan suara lantang mengundang perhatian.
"Mobil baru nih ye dari tante." ledek Doni.
"Yoi." jawab Adit dengan penuh percaya diri.
"Hahaha." Mereka semua lalu tertawa.
"Atas nama lo kan, bro?" tanya Doni seakan menyinggung Arka yang masih berjalan didekatnya.
"Yoi, ngapain gue di pelihara kalo nggak bisa dapet harta." Adit pun seakan mendukung perkataan Doni. Sementara kini Arka hanya berlalu begitu saja, meskipun hatinya sedikit terusik.
"Nggak usah didengerin, Ka." tiba-tiba Rio muncul dan berjalan disisinya.
"Sejak kapan lo dateng?" tanya Arka heran.
"Gue tadi dibelakang lo, Bambang."
Arka pun tertawa, lalu mereka berjalan bersama menuju kelas.
Siang itu, saat semua kelas telah usai dijalani. Arka berpisah dengan Rio di halaman parkir. Rio mengatakan jika ia ingin pulang ke kosan dan mengerjakan situs web pesanan beberapa orang. Selain berisik, Rio juga memiliki keahlian dalam web design.
Pemuda itu kerap menerima orderan dari banyak pihak, namun ia hanya akan menerima jika moodnya sedang baik. Jika sedang tidak bagus, ia hanya akan rebahan sepanjang hari.
Arka bersiap membuka pintu mobil, ketika sebuah notifikasi panggilan dari mbak Arni masuk ke handphonenya.
"Iya mbak."
"Oh iya, inget mbak. Kenapa ya, mbak?"
"Itu kliennya minta mau ketemu sama lo, katanya buat pengenalan produk. Kayaknya lo bakalan dapet deh project itu."
"Serius mbak?"
"Iya, serius gue. Lo langsung ke kantor mereka aja, nanti lo temui namanya ibu Vera. Itu orang pemasaran mereka."
"Oh ya udah mbak, alamatnya dimana sih?"
"Ntar gue share loc."
"Ok, ntar kirim aja."
"Sekarang ya, Ka."
"Ok, siap mbak."
Mbak Arni menyudahi telponnya, lalu mengirimkan lokasi dimana tempat yang harus segera didatangi oleh Arka tersebut. Setelah melihat dimana letak lokasinya, Arka pun mulai bergerak.
Ia menyusuri jalan demi jalan. Jika ia berhasil mendapatkan project tersebut, maka tak perlu risau lagi untuk biaya persalinan istrinya nanti. Seperi kata ibunya, meskipun Amanda kaya raya. Namun tanggung jawab perihal anak, adalah tanggung jawab Arka. Ia tak bisa lepas tanggungjawab begitu saja.
Meskipun sudah ada beberapa yang ia tabung sebelumnya, namun ia merasa itu belum cukup memadai. Namun jika project ini berhasil ia dapat, ia tak perlu khawatir lagi. Karena honornya memang cukup menjanjikan.
Arka terus bergerak, dan setelah mobilnya berhenti di depan gedung yang dimaksud, Arka pun menelpon mbak Arni untuk memastikan apakah itu benar.
"Bener, Ka. Perusahaan itu yang menaungi healthy food, yang bakal lo iklanin."
"Oh ya udah, berarti gue langsung cari aja nih yang namanya bu Vera?"
"Iya, dia udah nunggu di lobi ruang tunggu koq. Lo tanya aja ke receptionist."
"Oh ya udah, deh. Gue ke dalem dulu ya, mbak."
"Iya. Do the best ya, Ka."
"Sip."
Arka pun menyudahi telponnya dan keluar dari mobil. Ia merapikan penampilannya terlebih dahulu, sebelum akhirnya berjalan masuk ke dalam. Disana, sesaat setelah menyampaikan maksud kepada receptionist. Arka langsung dipertemukan dengan bu Vera.
Usai saling menyapa dan berbasa-basi sejenak, Arka pun dibawa keruangan bu Vera. Untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut mengenai maksud mereka. Ia mendapatkan penjelasan mengenai product knowledge, dari brand yang akan ia iklankan tersebut.
Pihak mereka tidak hanya ingin sekedar memilih bintang iklan, tetapi juga bermaksud menjadikan Arka sebagai brand ambassador produk mereka. Untuk itulah Arka diminta untuk benar-benar memahami produk itu sendiri.
Beberapa saat berlalu, mereka tampaknya benar-benar menyukai Arka. Tinggal ia menunggu kabar selanjutnya saja dari mbak Arni.
Ketika segala urusan telah usai, Arka turun dari ruangan bu Vera dan menuju ke lobi. Ketika baru saja keluar lift, tiba-tiba pandangan Arka tertuju ke luar. Kearah seorang wanita yang entah mengapa menoleh secara tiba-tiba, sebelum akhirnya kembali berjalan dengan terburu-buru.
"Rani?" gumam Arka tak percaya.
Seketika ia pun teringat, tadi pagi Rani sempat menelpon Amanda dan menyatakan jika dirinya tengah sakit. Arka masih teringat jelas percakapan tersebut, karena suara handphone Amanda cukup besar. Ia bisa mendengar meski load speakernya tidak aktif.
Arka pun menjadi curiga. pasalnya Rani berkeliaran di sekitar perusahaan besar, bukan di rumah sakit. Harusnya jika ia memang sedang sakit, bukan disini tempatnya. Arka segera mempercepat langkah untuk menyusul wanita itu, namun kemudian.
"Braaak."
Bahunya bertabrakan dengan seseorang. Arka menoleh, begitupula dengan orang tersebut. Arka kini menatap sesosok laki-laki, berusia kira kira 60 an tahun lebih. Namun masih terlihat gagah, tampan, serta sedikit angkuh.
Arka memperhatikan sosok tersebut dan begitu pun sebaliknya. Arka merasa ada yang familiar dengan laki-laki itu. Alisnya, matanya, bibirnya seperti mirip dengan seseorang.
Arka kembali melangkah, namun tiba-tiba wajah istrinya terlintas dalam benaknya. Arka kembali menoleh pada laki-laki itu. Namun laki laki itu kini sudah berada didalam lift, dengan pintu yang perlahan tertutup.
Arka terdiam, mungkinkah itu tadi?. Ah sudahlah. Arka menepis segala prasangka yang muncul.
Tak lama kemudian, ia pun kembali teringat pada Rani. Segera saja ia berlarian dan menyusul perempuan itu. Namun akhirnya ia kehilangan jejak. Arka melihat kesana kemari, mencoba mencari sekali lagi disekitar halaman parkir. Namun sepanjang mata memandang, tak juga ia menemukan Rani.
Sementara di dalam lift, entah mengapa laki-laki tua yang tadi bertabrakan dengan Arka. Seakan tak bisa melupakan Arka. Entah mengapa ia merasa ada sesuatu dalam diri Arka. Seperti pemuda itu ada hubungannya dengan sesuatu.
"Tapi, siapa dia?" gumamnya kemudian.