Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Bimbang


Rianti masih berusaha keras, untuk menenangkan pikirannya sendiri. Sebab kenyataan ini terlalu mengagetkan baginya.


Arka, saudara sepupu yang dinilainya sangat baik selama ini. Mengapa ia begitu berani melakukan hal besar seperti itu. Menghamili seorang perempuan dewasa, yang bahkan lebih pantas menjadi kakak atau tantenya.


Jika memang ia melakukan hal tersebut demi uang, seperti kabar yang berhembus akhir-akhir ini. Lalu apakah semua uang yang ia berikan pada ibunya, adalah hasil dari menjadi simpanan perempuan itu.


"Ah."


Rianti masih enggan percaya, ia masih tak terima jika Arka tega memberikan uang haram pada ibu dan ayahnya sendiri. Uang yang didapat dari hasil meniduri seorang wanita, apa bedanya dengan pelacur yang dibayar oleh pelanggan. Rianti benar-benar harus memberitahukan hal ini pada ibu Arka.


"Wid."


"Kenapa, Chan?" tanya Widya pada Chanti.


"Tadi gue lupa bilang sama Rianti, kalau Arka tuh udah nikah ."


"Nah loh, iya. Ntar dia ngadu macem-macem ke emaknya Arka."


"Duh gimana ya, mana gue lupa lagi minta kontaknya." ujar Chanti lagi.


Kembali ke Rianti, yang saat ini telah tiba di jalan menuju rumah Arka.


"Duh, gimana cara ngejelasin ke ibu ya." gumam Rianti. Ia takut jika penjelasannya nanti, malah akan membuat ibu Arka syok dan jatuh sakit.


"Apa gue nggak bilang aja, ya." gumamnya lagi.


"Tapi, ibu berhak tau soal ini."


"Hhhh."


Rianti menggaruk-garuk kepalanya. Ia lalu menghentikan langkah dan menghembuskan nafas berkali-kali.


"Ok, gue akan kasih tau ibu." tekadnya dalam hati.


Rianti berjalan menuju rumah Arka. Saat itu pintu tampak terbuka, sepertinya semua sedang ada dirumah. Rianti melepaskan sepatunya dan masuk ke dalam.


"Bu, Rianti pulang."


Rianti langsung nyelonong keruang makan. Dan betapa terkejutnya ia, ketika melihat Liana ada disana bersama ibu Arka.


"M, mbak Liana?. Ibu?"


"Koq kaget gitu, Ti?" tanya ibu Arka pada Rianti.


Ia heran mengapa Rianti seperti orang yang ketakutan. Sedang Rianti sendiri kini bingung, apa ia harus bicara sekarang atau nanti. Pasalnya ia masih mengira, jika Liana juga memang memiliki hubungan dengan Arka dibelakang Amanda.


"Duh, ada mbak Liana lagi. Mas Arka jahat banget dah, cewek baik kayak gini di pacarin juga buat nutupin jejak. Parah lo, mas." gumamnya dalam hati.


"Ti, koq bengong?" tanya ibu Arka membuyarkan lamunan Rianti.


"Hmm, nggak koq bu." Rianti memaksa sebuah senyuman, baik pada ibu Arka maupun Liana.


"Mbak Liana udah sehat?" tanya Rianti pada Liana. Gadis itu pun mengangguk lemah, sisa-sisa kelelahan dan trauma masih terlihat di wajah pucatnya.


"Ti, Liana mulai hari ini. Akan tinggal sama kita dulu, sampai dia siap untuk kembali ke kehidupannya."


Rianti terdiam, ia benar-benar bingung kali ini.


"Liana, anggap ini rumah kamu sendiri. Kamu kan pacarnya Arka, anggap saja ini keluarga kamu juga."


Kali ini Liana yang terdiam, ia sudah terlalu jauh masuk ke dalam kesalahpahaman ini. Namun, ia pun tak menampik. Jika ada rasa aneh didalam hatinya, ketika menerima semua kebaikan Arka dan ibunya. Ia jadi ingin memiliki Arka.


Meski ia sadar, Arka adalah suami bosnya sendiri. Tapi dalam waktu dekat, sesuai perjanjian. Arka akan didepak oleh Amanda dari hidupnya. Karena mereka hanyalah terikat kawin kontrak. Usai Amanda melahirkan, Arka akan kembali berstatus single dan Amanda akan melupakan pria itu.


"Liana paham kan, omongan ibu?" tanya ibu Arka sekali lagi.


"Hmmm, iya bu." jawab Liana.


Sementara di penthouse.


"Once upon a time, there were two handsome and brave young men. They live in a very beautiful and prosperous village."


Arka tengah membacakan sebuah dongeng berbahasa Inggris, sambil mengusap perut Amanda yang tengah duduk disisinya. Sejak beberapa saat yang lalu, ia memulai story telling untuk kedua bayi yang kini tengah tumbuh di rahim istrinya itu. Ia bercerita, seraya memutar instrumen klasik di handphonenya.


"The villagers live side by side, even though they have differences from each other."


Amanda terus tersenyum melihat sikap Arka dan juga tingkah bayi-bayi mereka, yang saat ini tengah memberi respon. Mereka bergerak-gerak, seakan senang mendengarkan cerita yang dilontarkan ayah mereka.


"Until one day, an evil dragon appears and destroys the village."


Arka melanjutkan ceritanya hingga selesai. Sampai ketika dua anak muda tampan, yang ia sebutkan dalam cerita. Berhasil melawan dan mengalahkan sang naga. Ia kemudian mencium perut istrinya itu seraya berpesan.


"Hari ini cukup ya, dek. Besok, papa cerita lagi. Kalian bobo, ya." Arka mencium anak-anaknya sekali lagi. Sementara kini Amanda membelai kepala pemuda itu dengan lembut.


"Makasih, papa. Udah ceritain dongeng buat kami." ujar Amanda kemudian.


Arka lalu mendarat di bibir istrinya, dan dibalas oleh Amanda dengan sangat. Suasana pun seketika menjadi panas. Tangan Arka mulai berselancar dan membuat gerakan di segala bagian.


"Hmmh. Aku nggak mau sama kamu, Arka. Aku mau pergi."


Amanda memberikan tatapan nakal pada suaminya.


"Hmmh, mau pergi kemana sayang, hmmh?"


Tangan serta jari-jemari Arka, kini berada didalam tempat yang begitu hangat.


"Aku mau pergi, aah. Lepaskan aku."


Suara Amanda semakin sexy terdengar. Ia membuat gerakan seolah-olah memberontak, seakan meminta untuk ditahan.


"Nggak bisa sayang." bisik Arka ditelinga Amanda.


"Kamu udah milik aku." lanjutnya lagi.


"Akkh, aku mau pergi Arkaaa. Hmmh."


Ia mengalihkan tangan Arka, sedang tangan Arka terus memaksa. Amanda membuat fantasi kali ini, seperti sebuah pemaksaan antara penculik dan yang diculik. Arka yang dominan, memaksa dirinya yang lemah dan tak berdaya.


"Mau kemana, hmmh?. Semua pintu udah aku kunci sayang, cuma aku yang tau dimana kuncinya. Hhhhh."


"Lepasin aku, Arkaaa."


"No, no. Nggak akan sayang, kamu milik aku."


Arka lalu pindah posisi ke belakang Amanda, dan membawa wanita itu kedalam pangkuannya. Kini mereka menghadap kaca besar yang ada di ujung tempat tidur.


Amanda masih membuat gerakan memberontak, seperti dirinya tengah diculik. Sementara tangan kekar Arka masih terus berselancar, di sekujur bagian yang ia kehendaki.


"Lepasin aku, Arka. Kembalikan aku, lepasin aku. Hmmh."


Arka mulai menyibak dress Amanda dan menghujamkan cintanya dalam-dalam. Lalu ia pun membuat gerakan, yang memaksa nafas mereka berpacu dengan aliran darah.


"Arkaaa."


"Liat sayang, liat itu di kaca. Ini bukti kalau kamu milik aku."


"Hmmh."


"Arkaaa."


"Kamu nggak bisa pergi sayang, hmmh. Kamu terikat sama aku seumur hidup."


Arka mulai menghentak-hentakan miliknya dengan tempo cepat. Membuat wanita yang dicintainya itu terlonjak-lonjak.


"Liat sayang, liat. Aku cinta sama kamu, liat gimana aku mencintai kamu. Aakh."


Arka benar-benar seperti berada di dunia berbeda. Seluruh kenikmatan itu terasa di setiap hentakan.


Waktu berlalu, seperti biasa luapan cinta Arka mengalir didalam. Bersamaan dengan teriakan panjang mereka yang khas.


"Aaaaaakh."


Keduanya kini tersenyum dan saling mencium sesekali.


"Man, itu tadi sexy banget. I love that." ujar Arka.


Amanda tersenyum melihat kepuasan di mata suaminya itu.


"Kamu tuh." Arka menarik nafas lalu kembali tersenyum.


"Kamu tuh masih suci, waktu aku nikahi. Kamu belum disentuh cowok manapun. Tapi nakalnya kamu sekarang itu, kayak udah banyak pengalaman."


"Apa Maureen juga gitu?"


Arka menggeleng.


"Dia nggak sebaik kamu."


Kali ini Amanda kian tersenyum.


"Abisnya kalau ngeliat kamu, bawaannya pengen aku gigit." ujar Amanda.


Arka tertawa.


"Kalau ngeliat kamu, bawaannya pengen punya anak banyak." balas Arka.


Amanda tertawa.


"Ya udah nggak apa-apa, nanti aku hamil terus aja. Tapi aku nggak mau repot, kamu yang urus mereka. Gantiin popok mereka, anter mereka ke sekolah, menghandle mereka kalau tantrum. Aku nggak mau."


"Ibu macam apa kamu, Amanda." tanya Arka seraya tertawa.


Ibu yang macam-macam.


Keduanya kini berpelukan. Usai mandi, mereka duduk di meja makan. Arka tadi memesan makanan untuk mereka berdua.


"Kamu balesin chat siapa sih?" tanya Arka yang melihat Amanda begitu sibuk membalas chat.


"Cemburu ya." tanya Amanda.


"Iya." jawab Arka seraya tersenyum, lalu duduk didepan Amanda.


"Mahasiswa aku, Ka. Dia curhat, katanya sakit hati banget sama orang tuanya. Dia selalu dibanding-bandingin sama anak tetangga yang udah sukses jadi PNS."


Arka tertawa kecil lalu menarik nafas.


"Kebiasaan orang tua di negara kita, begitu tuh. Membandingkan anak sama anak orang. Kenapa nggak sekalian aja minta dinikahin sama itu orang, biar punya anak dari orang itu."


"Iya juga ya, kalau selalu membandingkan sama anak tetangga. Kenapa nggak nikah aja sama tetangganya, biar anaknya jadi sama, satu keturunan. Mudah-mudahan nasibnya mirip."


"Iya, saran yang sangat membagongkan." ujar Arka. kemudian.


Amanda tertawa.


"Lagian, ngapain coba bandingin anak sama anak orang. Anak kandung kita, yang ngurus kita, apa yang ada diri anak ya hasil kita, hasil didikan kita. Kenapa mesti di compare sama anak tetangga."


"Dia bilang, orang tuanya pengen dia jadi PNS. Anaknya nggak mau, pengen jadi youtuber, vlogger sama pengusaha."


"Di Indonesia kan kalau jadi pegawai pemerintahan, langsung di labeli sukses. Padahal gaji juga tau sendiri. Sama Influencer yang kerjanya joget tiktok tiap hari aja, nggak sebanding."


"Iya makanya, harusnya di benak orang kita itu ditanamkan, kalau sukses itu nggak harus kerja di pemerintahan. Boleh-boleh aja punya harapan, ikut test. Tapi kalau anak nggak lulus, ya jangan dibebani juga pikiran anak."


"Pokoknya kita jangan jadi orang tua yang nyebelin, Man. Orang tua yang nyebelin itu bakalan kehilangan anak-anaknya dikemudian hari, karena suasana rumah jadi runyam. Pas masih kecil mereka nurut, udah gede dikit pasti pergi terus. Kalau orang tua bikin rusuh melulu dirumah."


"Iya, aku akan berusaha untuk nggak bersikap begitu koq. Kamu juga, jangan jadi bapak yang kasar. Tegas harus, tapi tegas bukan berarti harus kasar atau pakai kekerasan fisik maupun verbal. Aku nggak suka dengan orang tua yang memukul pakai kekerasan, terus dibilangnya mendidik. Anak itu mencontoh perilaku orang tua, kalau mereka melihat kita kasar, ya mereka akan jadi kasar juga. Baik fisik maupun verbal ke orang lain. Rani tuh, masih kayak gitu ke anak."


"Oh ya, emang dia kasar?"


"Aku pernah liat dia mukul anaknya, mukulnya sampe parah banget. Nggak sebanding sama kesalahan anaknya yang nggak sengaja numpahin sedikit susu."


"Gara-gara numpahin susu?"


"Iya, dikit doang Ka. Karena langsung di benerin kan gelasnya itu sama anaknya. Di gebuk, di keplak palanya, digampar mukanya. Sampe aku marah sama si Rani."


"Mungkin dia masih punya dendam sama mantan suaminya, Man"


Arka mengeluarkan pernyataan yang membuat Amanda terhenyak


"Maksud kamu?"


"Anaknya yang dipukul itu, mirip ga sama bapaknya?"


"Mirip banget."


"Kayak ibuku dulu, waktu aku kecil. Dia pernah pukul aku sampe segitunya, sampe aku ditendang. Karena katanya aku tuh mirip banget sama papa kandungku. Papa tiri ku yang dirumah, dia selalu belain aku. Sampe aku pernah dititip selama dua bulan dirumah keluarganya. Ibuku dibawa ke psikiater sama dia, dan ternyata emang masih ada dendam sama papa kandungku."


"Terus setelah itu?"


"Setelah itu udah nggak lagi. Ibu aku malah nyesel banget dan minta maaf terus, bahkan sampe aku segede ini."


"Ow, iya kali ya. Rani begitu."


"Bisa aja, kan dia trauma berat akibat perlakuan kasar suaminya. Sampe dia kehilangan anak."


Amanda terdiam. ia kini berfikir untuk membujuk Rani agar mau ke psikiater.