Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Jahilnya Amanda


"Ka."


Amanda memanggil suaminya yang tengah sibuk mengerjakan skripsi.


"Hmm?" ujar Arka tanpa menoleh. Ia masih terus fokus pada laptopnya dan mengetik sesuatu disana.


"Mau boba jalan nggak?" tanya Amanda.


"Apa tuh?" ujar Arka seraya menoleh dan mengerutkan kening.


"Street." ujar Amanda.


"Boba?" tanya Arka lagi.


"Iya." Amanda menjawab sambil mengangguk dan nyengir.


"Ya udah mau, yang brown sugar milk."


"Ok."


Arka kembali fokus, namun lima menit kemudian.


"Ka."


"Hmm?"


"Mau sotang nggak?


"Apaan tuh, kaos kutang?"


"Bukan."


"Cumi?" Arka berujar sambil masih terus menatap laptop.


"Bukan, itu mah sotong."


"Sotong bukannya yang di kang tahu bulat, ya?" tanya Arka. Ia masih saja tak menolehkan kepalanya sedikitpun.


"Iya itu sotong juga. Tapi ini sotang, sosis kentang. Kayak makanan Korea-Korea gitu loh, yang sosis luarnya kentang terus digoreng."


"Ribet amat tuh makanan." ujar Arka kemudian.


"Mau nggak?" tanya Amanda lagi.


"Ya udah mau." jawab Arka.


"Balado ya bumbunya?"


"Selain balado?"


"Barbeque."


"Ya udah, mix aja." ujar Arka.


"Ok."


Amanda berlalu, dan selang lima menit berikutnya.


"Ka, tambah kopi pesona mantan mau?"


"Boleh."


"Singkong kejujuran cinta?"


"Ok."


"Seblak sepedas mulut mertua?"'


"Nggak mau."


"Ok.


Selang lima menit berikutnya lagi.


"Ka, kepiting nyengir mau nggak?"


"Man."


"Udang nangkring?"


"Man."


"Dewa cumi asam pedas?"


"Amandaaa."


"Buuuk."


Arka melempar bantal sofa pada Amanda, hingga mengenai kepalanya.


"Berisik banget deh, heran." ujarnya sewot.


"Elah, kamu baru bikin skripsi doang. Belum disuruh bikin jalan tol Jakarta-Korea, gitu aja udah ribet."


"Lagian kamu dari tadi berisik banget, kayak nggak pernah ngerjain skripsi aja. Udah tau orang butuh ketenangan."


"Ya, maaf." ujar Amanda sambil nyengir. Arka kini menatapnya dengan kesal.


"Berisik sekali lagi awas, aku buang pil kontrasepsi kamu biar hamil lagi."


"Mau dong di hamilin sama kamu?."


Amanda membuka kancing bajunya, dan memperlihatkan dua benda kenyal yang berisi makanan Azka serta Afka.


"Man, udah dong."


Arka merengek karena sedari tadi, belum ada satu bab pun yang selesai. Amanda terkekeh-kekeh, karena ia sengaja ingin mengganggu Arka hari ini.


"Ka."


"Hmm?"


Amanda kembali beberapa saat kemudian.


"Udah kelar?"


"Mana ada, baru juga dua lembar." ujar Arka masih fokus pada apa yang ia kerjakan.


"Makan dulu, ini udah pada sampe."


"Iya ntar."


"Sroooot."


Amanda menyedot es bobanya ditelinga Arka, hingga konsentrasi Arka pun kembali terganggu bahkan buyar. Arka baru hendak mengoceh, ketika Amanda meletakkan brown sugar boba yang tadi ia pesan ke atas meja.


Dua godaan kini ada di depan mata Arka. Es boba yang kelihatan enak dan Amanda yang minum layaknya selebgram endorse an. Yang selalu mengatakan "Wah ini gila sih, rasanya mau meninggoy. Kalian wajib, kudu, harus coba."


Arka pun menjadi luluh, ia mengesampingkan dulu urusan skripsinya lalu meminum Boba tersebut. Baru saja Arka berniat melanjutkan pekerjaan, Amanda sudah memancingnya kembali dengan berbagai makanan yang tadi ia pesan.


"Krauk" Amanda makan sotang dihadapan suaminya itu.


"Hmm, Ka. Ini enak banget, sumpah. Really, really enak. Kamu harus cobain"


Amanda membuka sotang milik Arka dan menyodorkannya.


Arka menghela nafas dan kembali menyerah, ia pun lalu makan bersama-sama dengan istrinya itu. Hingga akhirnya ia benar-benar menutup laptop, lalu tidur siang setelah acara makan selesai.


***


Waktu berjalan.


"Oeeeek."


"Oeeeek."


Suara Afka dan Azka yang menangis bersahut-sahutan, membangunkan Amanda serta Arka yang tengah tidur siang sambil berpelukan.


Segera saja pasangan suami istri itu beranjak dan berlarian, menuju ke kamar anak-anak mereka. Sesampainya disana keduanya pun terkejut.


"Ka." Amanda berujar pada suaminya, mereka lalu saling menatap untuk sejenak.


"Oeeeek."


"Oeeeek."


Kedua bayi itu makin ngegas, layaknya habis disiksa pengasuh yang kejam. Arka dan Amanda pun tersenyum lalu mendekati mereka


"Oeeeek."


"Oeeeek."


Bayi-bayi itu seakan menuntut perhatian.


"Yang nyuruh tengkurap, siapa?" tanya Amanda pada Afka sambil menahan senyum. Bayi itu dan kembarannya pun agak sedikit mereda, setelah mendengar suara Amanda.


"Siapa yang nyuruh tengkurap, dek?" tanya Arka pada Azka.


Kedua bayi itu diam, namun masih sesenggukan.


"Kalau berani melakukan sesuatu, ya berani juga bertanggung jawab. Berusaha dong kalau mau balik ke posisi semula, masa nangis." ujar Amanda masih menahan tawa.


Kedua bayi itu saling menoleh dan menatap satu sama lain dari sela-sela box. Tak lama kemudian,


"Oeeeek."


"Oeeeek."


Mereka pun kembali histeris, kali ini lebih lebay dari yang sebelumnya. Arka dan Amanda tertawa lalu membalikkan badan mereka ke posisi terlentang, keduanya lalu diam. Lima menit berselang, mereka kembali tengkurap untuk beberapa saat. Lalu kembali menangis, karena tak bisa membalikkan diri.


Arka dan Amanda yang sudah keluar dari ruangan mereka itu pun kembali lagi, mereka kembali membalikkan tubuh para bayi. Tak lama kemudian para bayi berulah lagi dan lagi.


Setiap kali bayi-bayi itu menangis, setiap itu pula Arka dan Amanda dengan sabar menghampiri serta membalikkan tubuh mereka. Sampai disuatu titik, keduanya diam saja di depan pintu. Meski para bayi terdengar menangis ngegas seperti tadi.


"Oeeeek."


"Oeeeek."


Arka dan Amanda diam, berusaha menahan rasa kasihan yang muncul di hati mereka. Arka menatap Amanda dan meyakinkan wanita itu untuk tidak masuk ke dalam. Amanda pun mengangguk sambil melawan perasaan.


"Oeeeek."


"Oeeeek."


Kedua bayi makin ngegas, Arka dan Amanda saling berpegangan tangan.


"Oeeeek."


"Oeeeek."


Keduanya kini memejamkan mata lalu menarik nafas. Amanda hampir menyerah, namun Arka tetap menahannya. Tak lama kemudian tangis kedua bayi itupun mereda, makin lama makin menghilang. Amanda dan Arka mengintip secara perlahan dari balik pintu, tampak keduanya sudah kembali terlentang.


Amanda dan Arka saling menatap sambil menahan senyum. Tak lama Azka dan Afka kembali tengkurap, namun kali ini mereka telah mampu membalikkan badan mereka sendiri.


Arka dan Amanda pun bernafas lega, kali ini Arka merangkul istrinya.


"See, anak itu nggak perlu selamanya di bantu. Kalau nggak, mereka nggak akan percaya diri kalau sebenarnya mereka mampu."


Amanda tersenyum. Mereka lalu kembali menutup pintu kamar itu, lalu melakukan aktivitas lain. Karena mereka sudah terlanjur tak jadi tidur siang.


Malam harinya, mereka menemani Azka dan Afka sambil membacakan beberapa dongeng. Mereka masih tetap antusias seperti dulu saat masih didalam kandungan. Azka mendengar seraya menatap ke arah ayahnya, sementara Afka mendengar sambil mengenyot jari.


Setelah beberapa saat berlalu, Arka dan Amanda mengucapkan selamat malam pada keduanya. Lalu pasangan suami istri itu mematikan lampu dan meninggalkan kamar tersebut.