Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Mobil Baru


Maureen melonjak-lonjak kegirangan, ketika mobil yang ia idam-idamkan sampai dihalaman depan rumah Amman. Mobil sport dengan warna merah menyala tersebut pun, langsung ia dekati dan ia kagumi kemewahannya.


Seumur hidup ia bahkan belum pernah menyentuh mobil seperti itu. Hanya sering melihat saja di televisi, atau tak sengaja bertemu milik orang lain di jalan. Itupun hanya bisa memandang saja tanpa bisa menyentuh.


Tapi hari ini, dengan sangat mudahnya ia mendapatkan. Sungguh ia seperti berada didalam permainan, dimana ia adalah pemenangnya. Tak disangkanya nasib akan berubah 180 derajat seperti ini, seperti mimpi saja.


"Bagaimana, kamu suka?. Kalau tidak suka bisa ditukar." Amman tiba dan berbicara layaknya orang-orang kaya di dalam drama-drama Korea.


"Su, suka koq pa." ujar Maureen kemudian. Ia lalu memeluk ayah palsu yang disangkanya bodoh tersebut.


"Ya sudah pakai saja, kamu kuliah kan siang ini?"


"Iya, pa." ujarnya kemudian.


Siang itu Maureen mengemudikan mobil sport terbarunya ke kampus, semua mata tertuju pada mobil tersebut. Para mahasiswa dan mahasiswi yang mengenalnya pun terkejut, saat tau si pengendara mobil itu ternyata adalah Maureen.


Maureen yang saat itu mengenakan heels dan gaun itupun berjalan tegak, penuh kesombongan. Ditangannya tergenggam sebuah tas mewah yang harganya ratusan juta.


Ia melangkah melengos melewati Chanti dan Widya yang tengah berjalan sambil memakan cilok. Chanti dan Widya hanya melirik sekilas lalu kembali melangkah.


"Dapet dari mana dia duit?" tanya Widya sambil memasukkan cilok ke dalam mulutnya.


"Halah, paling juga jual diri lagi. Tau sendiri Maureen. Ngapain kita iri sama harta hasil jual apem."


"Hahaha." Keduanya lalu tertawa terbahak-bahak.


"Heran ya sama orang-orang kayak dia, kayak cewek-cewek simpanan lain. Bangga banget gitu, pamer harta dari jual apem. Padahal kan dapet harta tapi harus memenuhi keinginan si pemberi. Kapan aja si pemberi mau make dia, mau dipake dengan cara apa, dia harus siap melebarkan kaki." ujar Widya kemudian.


"Bener banget, dan biasanya nih yang melihara itu. Kalau cowok rata-rata udah aki-aki bau tanah gitu. Karena jarang banget ada cowok muda kaya, kalau nggak kekayaan turunan dari bapaknya. Kalaupun ada yang berusaha sendiri, rata-rata dari mereka itu punya istri cantik. Ngapain mereka nyimpen modelan kayak Maureen. Rata-rata yang suka sama modelan Maureen itu ya, semacam kakek Sugiono, tapi yang kaya." ujar Chanti menimpali ucapan Widya. Mereka terus berjalan sambil makan.


"Gue mah mending naik angkot, daripada naik mobil tapi harus ngisepin tongkatnya aki-aki tua. Peyot pasti."


"Hahahaha." Perkataan Widya tersebut sukses membuat keduanya kembali tertawa.


"Alot." timpal Chanti. Lagi-dan lagi keduanya tertawa.


Sementara Maureen kini menuju kepada teman-temannya.


"Maureen?"


Teman-temannya yang tengah duduk didekat kelas itupun terhenyak kaget. Mereka berdiri dan memperlihatkan Maureen dari atas hingga kebawah.


"Hai." ujar Maureen penuh percaya diri.


"Gila, ini ori?" Temannya mempertanyakan keaslian tas yang dipakai Maureen.


"Ori dong, no KW-KW club ya. Anti gue pake yang KW." Maureen berkata dengan sombongnya.


"Widih, om-om mana nih yang udah nidurin lo?" temannya berseloroh. Maureen tertawa.


"Kali ini bukan dari om-om. Sebenarnya om-om sih tapi..."


Maureen mulai menceritakan semuanya, ia mengaku dihadapan teman-temannya itu jika dirinya adalah anak dari orang kaya.


"Hah, serius lo Reen?" teman-temannya tak percaya.


"Jadi bapak lo orang kaya?" tanya yang satunya lagi.


Maureen mengangguk antusias, seraya tersenyum pada teman-temannya itu.


"Wah gila sih, ternyata lo anak orang kaya. Boleh dong kita main kerumah lo."


"Boleh bangeeet."


"Yeay." Teman-temannya bersorak kegirangan.


***


Meskipun sampai detik ini, ia masih yakin jika Arka belum mengetahui siapa Ryan. Namun Ia memiliki rasa khawatir yang begitu tinggi. Ia takut jika Ryan mengatakan ini semua pada Arka, lalu Arka akan dengan mudah menerima serta memaafkan ayah kandungnya tersebut. Tentulah ia akan merasa begitu sakit hati, ia tidak rela Arka direbut oleh laki-laki itu.


"Mikirin apa, bu?" tanya Rianti pada ibu Arka. Rianti sepertinya telah memperhatikan sikap tantenya itu sejak tadi.


"Nggak apa-apa, Ti." ujar ibu Arka, berusaha menyembunyikan kecemasan yang kini melandanya.


"Ibu ada masalah sama papa?"


"Nggak ada."


"Sama mas Arka atau mbak Amanda?"


"Nggak ada juga, Ti. Ibu lagi nggak ada masalah."


"Oh ya udah kirain Rianti, ibu lagi ada masalah. Soalnya dari tadi ibu diem aja."


Ibu Arka kembali tersenyum.


"Nggak koq, Ti." ujarnya lagi.


Ibu Arka pun mengalihkan topik pembicaraan, agar Rianti tak menanyakan hal tersebut lebih lanjut.


Disisi lainnya lagi, Amman tampak tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila. Ia mengingat pertemuannya dengan Amanda dan juga Ansel yang masih melekat jelas dalam ingatan. Bagaimana anaknya itu tersenyum dan tertawa didepan Ansel. Ia pun sudah mendapatkan gambar mereka, namun sayang ia tak memiliki nomor Arka.


Tapi itu tak jadi masalah, ia tak ingin memberitahu Arka terlebih dahulu perihal kedekatan puterinya dengan pria lain. Ia tak ingin Arka menjadi perusak hubungan antara Amanda dan juga Ansel, setidaknya itulah yang ada didalam pikirannya kini. Amman benar-benar tidak mengetahui apa yang sesungguhnya telah terjadi diluar sana.


***


"Ka, lo nggak pengen bikin resepsi pernikahan lo sama Amanda apa?"


Rio bertanya di suatu sore, sesaat setelah Arka pulang kerja dan mampir ke kost an temannya itu.


"Pengen sih, mumpung anak-anak gue masih kecil. Kan lucu tuh foto resepsi nikahan ada mereka. Biar suatu saat mereka nggak nanya, koq kita nggak ada. Pas ngeliat foto kawinan gue sama emaknya."


"Nah bener itu, gue kangen makan rendang Ka."


"Ya lu beli lah, anjay. Perkara rendang doang, kayak orang susah lo. Duit banyak juga."


Rio terkekeh.


"Bukan gitu, bro. Kalau orang kawinan nih ya, beda aja rasanya. Makanannya itu mau kita temuin di luar juga, tetep aja enakan yang di kawinan. Greget gitu loh, rasanya. Kesana-kesini, ngantri ngambil makanan, dessert. Makanan di meja ini lain, di meja itu lain."


"Lo kayaknya udah kepengen kawin nih, bau-baunya." Arka menyindir Rio.


"Pengen sih gue, tapi takut digebukin bapak gue. Gue dipaksa kerja dulu di kantornya dia, gue mager banget anjir. Mendingan gue jadi aktor terus dah, enak. Lagi sibuk ya sibuk, lagi break gue bisa tidur ngejengkang seharian."


"Enak tau, Ri. Kerja di kantor."


"Ya elu, emang suka. Lah gue?. Kagak demen gue. Gue males bangun pagi nya, bro. Males ketemu bos."


"Kan bosnya bapak lu sendiri."


"Tetep aja, namanya bos. Vibes nya pasti nyebelin."


Arka kembali terkekeh.


"Jadi kapan nih, lo mau resepsi sama Amanda. Biar gue pesen baju dulu."


"Ntar lah, ntar gue bicarain ini dulu sama Amanda." ujar Arka lagi.


Ia pun lalu menghisap pod vape miliknya dan membuat kamar kost Rio menjadi penuh asap.