
Amanda senyum-senyum sendiri di suatu malam yang cukup dingin. Ia dan Arka tengah berdiri di balkon, sedang kedua bayi mereka sudah tertidur lelap.
"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri, di otak kamu ada stand up komedian?" tanya Arka.
Amanda malah jadi tertawa.
"Aku masih merasa lucu aja kadang, Ka." jawab wanita itu.
"Soal?" tanya Arka lagi.
"Ya soal aku nikah sama kamu. Nyangka nggak sih kamu kalau kita jodoh?. Dengan rentang usia segini jauh."
Arka menarik nafas.
"Nggak." jawabnya lalu tersenyum menatap Amanda.
"Sama aku juga." ujar Amanda.
"Kalau boleh jujur nih ya, di awal-awal itu aku sangat berhati-hati sama kamu. Takut kalau kamu mengambil apapun yang berharga dari aku. Kayak semacam mengeruk harta atau apa." lanjut perempuan itu.
Arka kini menatap Amanda.
"Sorry, Ka. Aku cuma mau flashback dan jujur aja sama kamu." tukas Amanda.
Arka tersenyum tipis, lalu membuang pandangannya jauh ke depan.
"Aku juga dari awal mikirnya kayak, kapan nih cewek hamil?. Mau cepat-cepat cerai rasanya waktu itu."
"Masa sih kamu berpikiran kayak gitu?" tanya Amanda sambil tertawa.
"Bukannya pas setelah malam pertama, kamu kayak terpesona gitu ya sama aku?" lanjutnya lagi.
"Ge-er." ujar Arka seraya mencubit hidung istrinya tersebut.
"Kadang sih, aku kepikiran kayak gitu. Tapi setelah ngeliat kamu, akal sehat aku jadi berhenti. Segala niat buruk atau keresahan yang terlintas di benak aku langsung menghilang gitu aja. Dan aku duluan loh yang jatuh cinta sama kamu. Inget nggak kamu nyakitin aku dengan kamu jalan sama Nino?"
Amanda tertawa dan mengingat kala itu dengan jelas.
"Emang sesakit itu ya?" tanya nya pada Arka.
"Itu aku galau banget, Man. Rasanya tuh pengen nangis tapi malu tau nggak."
"Oh ya?"
"Tanya Rio, Rio saksinya. Dia yang aku curhatin mulu tiap hari."
Amanda benar-benar tak menyangka jika sampai seperti itu kejadiannya. Arka sendiri ingat, saat itu Rio sampai lelah mendengarkan curahan hatinya. Namun meski begitu tak pernah sekalipun Rio meninggalkan sang sahabat.
Rio selalu membesarkan hati Arka dan memberikan pandangan serta kekuatan padanya.
"Elo nggak boleh menyerah, Ka. Jangan mau kalah sama keadaan, dan nggak usah minder juga mentang-mentang lo nggak sekaya Amanda. Karena yang terpenting itu adalah diri lo nya gimana nanti. Persetan dengan anggapan orang, soal ceweknya kaya dan cowoknya biasa aja. Yang terpenting niat lo bukan mau menguasai hartanya dia. Niat lo cuma mau merebut hati dan cintanya Amanda. Nyari duit mah tetap lo cari sendiri nantinya, nafkah tetap lo kasih sebagai kewajiban. Walaupun penghasilan elo nggak sebesar penghasilan dia, tetaplah berjuang kalau beneran cinta. Jangan jadi cowok insecure, kita bukan pengangguran."
Arka diam saat itu, namun bagian otak dan nalurinya berpikir cukup dalam. Benar apa yang dikatakan Rio padanya. Bahwa ia harus memperjuangkan cinta demi Amanda dan anak-anak yang akan lahir kelak.
Maka mulai hari itu Arka memutuskan akan mempertahankan hubungan pernikahan mereka, walau saat itu ada Nino yang menjadi penghalang.
***
"Ka."
"Hmm?"
Arka tersadar dari lamunannya, lalu ia merangkul Amanda dan merebahkan kepala wanita itu ke dadanya.
"Aku sayang kamu, Amanda." ucapnya seraya mencium kening sang istri dengan lembut.
"Aku juga, Ka. Kayaknya kita udah ngomongin ini ratusan kali deh." ujar Amanda.
Arka pun tertawa.
"Dan itu rasanya masih nggak cukup. Aku pengen ngomong itu lagi dan lagi." ujar pemuda itu.
"Takut, takut kenapa?" tanya Amanda heran.
"Takut sama cowok-cowok super kaya di sekitar kamu. Di circle kerjaan dan bisnis kamu. Takut mereka melancarkan aksinya buat deketin kamu."
Amanda yang tertawa kali ini.
"Ka, Ka. Aku udah tua begini, udah berojol dua anak juga. Emang masih ada yang mau?"
"Eh jangan salah loh. Miranda Kerr aja, udah ngeberojolin anaknya Orlando Bloom. Masih di rebut juga sama si berondong Evan Spiegel, CEO Snapchat. Pesona emak-emak beranak itu kadang bikin orang lupa diri. Apalagi emak-emaknya kayak kamu, kalah Irene Red Velvet mah."
Lagi-lagi Amanda tertawa.
"Kamu berlebihan deh, Ka. Kayaknya aku nggak secantik itu juga, biasa aja."
"Cantik tau, kamu tuh cantik banget. Apalagi kalau udah di ranjang, nggak pake baju. Makin-makin cantiknya."
Amanda tersipu dan kian memeluk Arka. Pipi wanita itu kini bersemu merah.
"Kan aku jadi pengen, mumpung anak-anak masih tidur." ujarnya sambil mengusap bagian dada sang suami.
"Mau sekarang?" tanya Arka sambil tersenyum.
Amanda mengangguk. Arka lalu mencium bibir wanita itu, lanjut tangannya bergerak kemana-mana.
Ketika dirasa sudah tidak tahan lagi, mereka pun beralih ke dalam kamar dan bercinta di sana. Untung saja Afka dan Azka tertidur nyenyak sekali. Sehingga aktivitas tersebut berlangsung dengan lancar dan berakhir di atas titik kepuasan tertinggi.
Arka mencium kening Amanda, disaat miliknya masih tertanam di dalam liang milik sang istri.
"Kayaknya kamu bakal hamil lagi deh, setelah ini." Bisiknya di telinga Amanda.
"Sok tau kamu."
Jawab Amanda seraya tertawa, begitupula dengan Arka. Ia sejatinya hanya bercanda mengenai hal tersebut. Namun tadi apa yang dia keluarkan saat *******, lebih banyak dari yang biasanya. Sehingga ia menarik kesimpulan yang demikian.
"Kalau kamu hamil lagi gimana?" tanya Arka.
"Jangan dulu Ka, anak-anak masih piyik gitu. Nggak mau pokoknya."
Arka tak menjawab dan terus menatap Amanda. Hingga tatapan itu membuat Amanda menjadi luluh.
"Iya deh, mau." ujarnya lagi.
Arka kemudian mencium bibir wanita itu dengan lembut dan Amanda pun membalasnya.
"Pokoknya kamu bakalan hamil lagi, liat aja."
"Ih kamu mah."
Amanda memukul lengan Arka dan Arka pun tertawa-tawa. Ia memeluk Amanda dengan erat dan begitupun sebaliknya.
Beberapa menit berlalu, mereka terlihat sudah mandi bersama serta berganti pakaian. Dan ketika semuanya telah selesai, terdengar suara tangisan kedua anak mereka dari dalam kamar.
Buru-buru keduanya menghampiri dan mengurus si kembar. Meski mengantuk akibat selesai bercinta, namun mereka dengan sabar mengurus kedua bayi itu.
Mereka mengganti popok, memberi ASI di dalam botol dan menggendong mereka. Hingga mereka kembali tertidur.
"Sekarang mama-papanya tidur dulu." ujar Arka sambil masih memperhatikan kedua anaknya.
"Iya, ngantuk banget." jawab Amanda lalu menguap.
"Apa mau bikin dedek lagi?" Kali ini Arka berkata seraya menoleh pada Amanda.
"Mesum." ujar Amanda sewot, lalu meninggalkan kamar si kembar.
Arka tertawa, dan pada detik berikutnya ia pun menyusul Amanda.
***