Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Hari Ketiga


Lewat tengah malam.


"Ka."


"Hmm."


Arka menjawab singkat, ia dan Amanda kini tengah terbaring di atas tempat tidur. Mata mereka tertuju pada langit-langit kamar.


"Kamu pengen ya?" tanya Arka pada Amanda, sambil terus menengadah ke atas.


"Iya, tapi nggak enak dirumah orang tua."


"Pelan-pelan aja kalau mau."


"Nggak enak, nggak bisa teriak." ujar Amanda setengah tertawa. Kini Arka menatap istrinya itu dengan tertawa pula.


"Sabar ya, sampe kita pulang besok." ujar Arka kemudian.


"Sebenernya disini tuh enak, Ka. Berasa punya orang tua lagi. Tapi nggak bisa mesum, karena malu."


Lagi-lagi keduanya tertawa. Kali ini tangan Arka mengusap perut istrinya.


"Man."


"Hmm?"


"Aku tuh sayang banget sama kamu." ujar Arka.


"Aku nggak nyangka, aku akan terjebak pernikahan sama orang seperti kamu." lanjutnya lagi.


"Kamu nyesel?" tanya Amanda.


"Ya nggak lah. Aku malah seneng banget, bisa nikah sama kamu."


"Ya udah aku yang nyesel." ujar Amanda.


"Koq?" Arka mengerutkan kening.


"Nyesel kenapa nggak dari dulu aja aku nikah sama kamu, waktu perjaka kamu belum direnggut Maureen."


Kali ini Arka tertawa.


"Pedofil kamu." ujar Arka kemudian.


"Emang dulu, begituan pertama kali sama Maureen umur berapa?" tanya Amanda.


"16 tahun." jawab Arka.


"Astaga Arka, mendingan kamu sama aku dulu. Biarin aja aku dibilang pedofil."


"Hahaha." lagi-lagi Arka tertawa.


"Kalau saat itu kita ketemu, mungkin pikiran aku masih jahat. Aku bakal minta beliin ini itu sama kamu."


"Ya nggak apa-apa, aku beliin." ujar Amanda. Arka lalu menghela nafas dan menatap istrinya itu.


"Jodoh itu selalu datang tepat waktu. Mungkin waktu yang terbaik itu ya, emang sekarang. Aku nya udah nggak terlalu memuja uang banget. Mental aku cukup stabil, untuk menghadapi perempuan tua yang kolokan kayak kamu."


"Emang dulu kamu memuja uang?"


"Iya lah. Uang, popularitas, kekayaan. Makanya aku ngotot buat masuk ke dunia entertaint. Biar bisa punya duit, kaya, terkenal. Tapi ternyata itu nggak gampang, semua harus dilewati dengan perjuangan. Pada akhirnya justru aku jadi sangat-sangat menghargai uang itu sendiri. Udah bukan memuja lagi yang di terapkan, tapi kerendahan hati. Gimana caranya, kerja apa aja biar tetap menghasilkan uang. Karena ternyata kalau kita terlalu memuja, uang itu nggak akan pernah cukup."


Amanda mengangguk.


"Kamu bener, Ka. Banyak orang yang salah mengartikan antara ambisi dan obsesi terhadap uang. Ngotot mengejar kesuksesan, demi supaya bisa dapat uang, beli barang-barang mewah dan bisa menyombongkan diri atau membalas dan menampar orang-orang yang pernah menghina kita. Jatuhnya kita mengejar kesuksesan demi uang, demi supaya bisa balas dendam."


"Iya bener banget." ujar Arka.


"Padahal kalau mau sukses itu ya, hati nggak boleh diliputi dendam." lanjutnya lagi.


"Iya, karena kalau kita obsesi banget supaya cepat sukses, cepat berduit, cepat menampar orang-orang yang dulu menghina kita. Kerja kita nggak akan maksimal, kita fokusnya di uang dan dendam. Hanya fokus kepada puncak, tanpa melihat ke sekitar jalan untuk mencapai puncak itu sendiri. Kita nggak maksimal dalam bekerja."


Arka menarik nafas.


"Dulu setiap dapat tawaran syuting, aku selalu langsung mikirin soal duit. Langsung mikir mau beli ini dan itu supaya bisa pamer, akibatnya proses syuting sering terganggu. Karena aku selalu dan selalu memikirkan cara, gimana bisa menampar mulut orang-orang yang menghina keluarga aku. Karena pekerjaan aku terganggu, akunya pengen cepet dapet uang, akhirnya aku jarang dapat job. Karena aku sering salah dialog, nggak maksimal, orang males make aku. Tapi belakangan ini aku sadar bahwa aku harus fokus. Dan ketika aku fokus di kerjaan, kerjaan pun jadi maksimal. Uang ngikutin di belakanganya. Tawaran aku makin banyak karena aku dinilai bagus, uang aku makin bertambah."


Amanda membelai kepala Arka.


"Teruslah belajar dan menjadi dewasa, Ka. Kalau suatu hari kamu udah nggak suka sama aku, karena aku tua. Kalau kamu pengen cari perempuan yang lebih muda, jangan lupa tentang hari ini. Tentang semua yang kita lalui."


Arka kini menoleh pada Amanda.


"Kamu kenapa bicara kayak gitu, Man. Bikin aku sedih tau nggak. Seolah-olah aku akan jadi jahat di kemudian hari."


"Ka, aku hanya mencoba realistis. Saat ini aku sangat mencintai kamu. Dan tidak menutup kemungkinan suatu saat kamu bisa berubah pikiran. Aku cuma pengen berpesan aja, kalau emang hal itu nantinya harus terjadi. Jangan lupa kenang semua hal indah yang pernah kita lalui. Apa-apa yang sudah kita bagi bersama."


Arka memeluk Amanda.


"Sampai maut memisahkan, aku akan selalu berusaha mendampingi kamu. Aku mau mati disisi kamu, atau kamu mati dipangkuan aku. Atau kita mati bersama suatu saat nanti, ketika kita sudah sama tua."


Amanda mengusap air mata, yang mengalir dikedua sudut matanya sambil tersenyum.


"Bisa nggak, kita jangan membahas perpisahan terus?" tanya Arka masih memeluk Amanda.


Wanita itu pun lalu mengangguk.


"Dek, mama nakal."


Arka seakan mengadu pada bayi-bayinya yang ada didalam. Sejenak Amanda pun tertawa.


"Ka."


"Hmm?"


"Koq badan kamu bau pisang goreng, sih?" Amanda melepaskan pelukannya.


"Enak aja bau pisang goreng, aku udah mandi ya. Sabun cair mana yang aroma pisang goreng?"


"Tapi ini..." Amanda mengendus bau yang berhembus.


"Jam segini bau pisang goreng?"


Arka yang penciumannya tak setajam ibu hamil tersebut terheran-heran. Pasalnya ia belum mencium aroma apapun sejak tadi.


"Genderuwo kali, Ka. Kan aku lagi hamil." ujar Amanda mulai panik.


"Man, yang bener itu kuntilanak. Yang suka deketin orang hamil, bukan genderuwo."


"Ye, siapa tau aja. Emang kamu pernah liat." seloroh Amanda.


"Kata orang kalau ada bau makanan malam hari, biasanya ada genderuwo." ujar Amanda lagi.


"Berarti yang jual makanan 24 jam itu, genderuwo gitu?" tanya Arka sambil berusaha keras menahan tawa.


"Ya bukan gitu juga. Kalau nggak ada tempat yang jualan makanan, tapi tau-tau ada bau makanan malam-malam."


"Man, kalau menurut urband legend. Bau kedatangan genderuwo itu kayak ubi bakar, bukan kayak pisang goreng."


Hidung Arka mulai menangkap sekelebat bau.


"Ye, siapa tau aja genderuwo nya bosen makan ubi bakar mulu. Goreng pisang lah tuh dia."


"Bentar deh, kayaknya aku nyium." ujar Arka dengan wajah serius.


"Tuh kan, apa aku bilang Ka."


Amanda menarik selimut.


"Pasti genderuwo nih." ujarnya kemudian. Wajahnya kini makin diliputi ketakutan.


"Ayo kita liat." ujar Arka beranjak.


"Ih kamu mah, nggak mau. Kalau genderuwo nya depan pintu gimana?"


"Kamu mau aku tinggal disini sendirian sama genderuwo?"


"Ih, nggak mau."


Amanda ikutan beranjak dan langsung berpegang pada lengan Arka. Arka pun mulai membuka pintu dan berjalan perlahan.


"Arka, ih, takut."


"Arka terus melangkah hingga ke ruang makan. Tampak ibunya tengah membawa pisang goreng ke arah meja makan.


"Loh kalian belum tidur?" tanya ibunya kemudian.


"Ibu yang goreng pisang?" Amanda balik bertanya.


"Iya, papa mu nggak bisa tidur. Pengen ngobrol ditemenin ibu, sambil makan pisang goreng katanya. Ayo duduk sini!"


"Ibu dibilang Amanda genderuwo, bu."


"Arkaaa, suka gitu deh." Amanda sewot lalu menekuk bibirnya.


"Kenapa, baunya sampe kamar ya?" tanya ibu Arka.


"Iya bu, Amanda kira genderuwo. Lagian Arka nggak bilang kalau ibu yang...."


Arka kini tertawa.


"Disini itu kebiasaan, Man. Banyak yang suka sibuk di dapur malam-malam." ujar Arka lagi.


"Ayo duduk sini." ujar Ayah Arka.


"Arka mau kopi? tanya ibunya.


"Mau bu."


"Amanda minum susu aja, ya."


"Nggak usah bu, biar Amanda sendiri aja yang bikin."


"Udah nggak apa-apa biar sekalian." ujar sang ibu mertua.


Mereka lalu berbincang sambil menikmati pisang goreng genderuwo. Esok harinya Amanda ngotot ingin ikut ibu Arka ke pasar tradisional, padahal Arka masih mengantuk.


"Udah Ka, temenin sana!" ujar sang ayah tiri pada Arka.


"Ntar anak kamu ileran loh." lanjutnya seraya menahan tawa.


"Arka tuh masih ngantuk, pa. Ngedengerin Amanda cerita hantu sampe jam 3 pagi."


"Dulu papa sampe nemenin ibumu ke kondangan orang yang nggak dikenal, pas hamil kamu. Gara-gara ibumu pengen banget makan di kondangan. Sedangkan kenalan kita nggak ada yang nikah. Padahal papa punya uang buat beliin ibumu makanan, tapi dia ngotot dan ngambek pengennya makan disitu."


"Serius, pa?" tanya Arka penuh keterkejutan.


"Makanya sekarang kamu karma kan" ujar ayah tirinya seraya tertawa.


"Udah sana, temenin. Takut ada apa-apa." lanjut ayahnya lagi.


"Iya, pa." ujar Arka kemudian.


Tak lama berselang, Arka pun menemani ibunya ke pasar bersama Amanda. Karena belum pernah menginjakkan kaki di pasar tradisional, Amanda menjadi seperti orang yang norak. Ia terkagum-kagum hanya karena melihat orang memarut kelapa. Ia juga membantu memilah-milah sayuran.


Ia terlihat sangat gembira, sampai akhirnya mereka pulang. Namun Amanda sudah berlinang air mata.


"Amanda kenapa?" tanya ayah tiri Arka pada anak dan juga istrinya.


"Amanda liat ikan dibunuh, pa." ujar Amanda sambil terisak. Sang ibu dan Arka kompak menahan tawa.


"Gimana kalau dia punya anak, anaknya nungguin induk ikannya pulang?"


Amanda makin menangis. Arka yang sejak tadi memeluk istrinya sambil menahan tawa, kini mulai bersuara.


"Udah, udah. Yang ditangkap ikannya jomblo semua koq. Yang udah lelah sama kehidupan ini." ujar Arka.


Amanda makin menangis, sementara Arka dan kedua orang tuanya sama-sama tertawa.