
Suatu Hari.
"Arka."
"Iya sayang."
Tubuh Amanda terlonjak-lonjak diatas tempat tidur empuk disebuah ruangan. Suara decitan tempat tidur tersebut berpadu dengan irama-irama penyatuan, antara milik pribadinya dan juga milik Arka.
Amanda terlentang pasrah, sementara Arka tengah melaksanakan kewajibannya sebagai suami. Yakni mengunjungi bayi-bayinya dengan penuh cinta dan kenikmatan.
"Arka, hmmh."
"I love you sayang."
"Hmmh."
Arka memperlambat tempo gerakannya, membuat Amanda kian larut dalam buai. Tak lama kemudian ia pun kembali mempercepat, hingga Amanda mengerang dan meracau tak karuan. Arka menyukai pemandangan ini, ketika sang istri berada dibawah kendalinya secara penuh.
Arka melakukan hal tersebut dari berbagai sisi, dan kini mereka sambil melihat ke arah kaca yacht yang tengah berjalan perlahan.
Mereka tengah bercinta di atas sebuah yacht atau kapal pesiar berukuran kecil, yang disewa Amanda untuk liburan mereka kali ini. Sebuah liburan yang sejatinya telah mereka rencanakan jauh-jauh hari.
"Aaaakh."
Keduanya sama-sama terhempas, menyusul genangan hangat yang membanjiri rahim Amanda.
"Makasih ya, Arka. Tadi itu hebat banget." ujar Amanda seraya tersenyum menatap suaminya itu.
"Sama-sama sayang, kamu juga." Arka mencium kening Amanda.
Usai saling memuji dan berterima kasih, mereka pun lalu tertidur. Lewat tengah malam mereka terbangun dan semuanya terjadi lagi. Teriakan dan erangan keduanya kembali memenuhi ruangan itu, kali ini permainan berlangsung lebih lama dari yang tadi.
Mereka benar-benar merengkuh kepuasan selama dua hari berturut-turut. Setelah beberapa waktu belakangan mereka begitu sibuk, dan hampir tak ada waktu untuk bertemu dan saling memberi kehangatan.
"Ka, jenis kelaminnya udah dikirim ke pihak penyelenggara acara baby shower nanti." Amanda berkata ketika matahari telah muncul. Mereka kini duduk di dek atas sambil menikmati sarapan.
"Aku deg-degan, Man." ujar Arka seraya memakan sarapannya.
"Sama, aku juga. Kira-kira cowok apa cewek ya?. Apa sepasang?" tanya Amanda kemudian.
"Ini bakalan jadi surprise buat kita."
Arka menggenggam tangan Amanda, wanita itu lalu tersenyum.
"Pokoknya jangan ngasih nama yang aneh-aneh kamu." Amanda mewanti-wanti.
"Iya, paling kalau cowok-cewek aku kasih nama Harry-Hermione." ujar Arka.
"Aku ngeshipnya Harry-Luna." ujar Amanda.
"Ya udah, Jack and Jill aja gimana?"
"Itu merk makanan, Arka. Kamu mah ih. Luke-Leia aja gimana?" tanya Amanda.
"Dasar kamu, Star Wars fanatik."
"Daripada fanatik sama sinetron istri pak Tirta."
"Hahaha, ibu tuh suka nonton sinetron itu." ujar Arka.
"Serius kamu?"
"Iya, udah aku larang masih aja."
Amanda tertawa kecil.
"By the way. Thanks buat yang tadi, Ka."
"Tadi kamu udah bilang terima kasih, Man."
"Tapi kayak nggak cukup aja, abisnya aku puas banget " ujar Amanda.
"Mau lagi?" tanya Arka seraya tersenyum nakal.
"Ntar lagi ah, capek." Amanda sewot.
"Nggak liat perut aku udah segede ini?. Begah tau nggak diisi mulu." lanjutnya kemudian.
"Tapi kan enak."
"Iya sih." ujar Amanda seraya tertawa.
Selang beberapa saat, mereka pun larut dalam tatap. Amanda yang tadi mengatakan jika dirinya lelah, kini seolah kembali dikuasai oleh gairah.
Setiap kali melihat Arka, setiap kali itu pula seluruh tubuh dan organnya bergejolak. Mengeluarkan denyutan khas yang memaksanya untuk menjadi liar.
Amanda mendapatkan bibir Arka, sarapan tersebut berganti dengan sarapan yang panas. Arka menerima ciuman Amanda, kemudian menyandarkan wanita itu pada dinding yacht. Arka menyibak gaun merah yang menutupi keindahan tubuh Amanda, dan membiarkan tangannya melesak.
"Aku mau disini, Arka." ujar Amanda disela-sela ciuman mereka.
"Aku nggak bisa jamin kapten kapalnya nggak turun. Karena kita sedang berhenti berjalan dan ada didekat pantai." ujar Arka.
Pemuda itu kembali mencium Amanda dan memberikan sentuhan-sentuhan panas. Amanda menghindar, melangkah cepat sambil menoleh sesekali ke arah suaminya. Seakan minta dikejar dan dimangsa. Arka tak melewatkan kesempatan itu.
"Man, kamu nggak apa-apa?" tanya Arka ketika mereka telah selesai, bahkan telah mandi dan berganti pakaian.
"Kita udah dua hari berturut-turut loh." lanjutnya lagi.
"Sejauh ini nggak apa-apa. Nggak ada flek atau apapun juga, malah enak." Seloroh Amanda membuat mereka sama-sama tertawa.
Lalu hening sejenak.
"Aku kayak perempuan yang kegatelan banget ya, Ka?" tanya Amanda pada Arka. Dan lagi-lagi Arka tertawa.
"Iya, tapi aku suka. Cuma agak khawatir aja sama anak kita."
"Mereka baik-baik aja, koq." ujar Amanda meyakinkan.
"Nggak sakit, kram, atau apa kan?" tanya Arka.
"Sejauh ini aman." ujar Amanda.
"Abisnya kalau liat kamu jadi berkedut, Ka."
"Apanya?"
"Jantung hati aku." ujar Amanda.
Arka tau persis yang dimaksud Amanda bukanlah hal tersebut.
"Udah ah, nggak usah ngerayu mulu kamu. Dasar tante." seloroh Arka kemudian.
Keduanya pun sama-sama tertawa. Tak lama, mereka sudah terlihat di ujung kapal.
"Ka, berdiri di ujung sana yuk. Biar kayak Jack and Rose." rengek Amanda. Entah mengapa tiba-tiba saja ia mendapatkan ide seperti itu.
"Amanda, kalau kita jatuh yang ada bukan Jack and Rose lagi. Tapi Jack and Hiu, Rose and terumbu karang. Mau kamu?"
"Kamu mah nggak romantis." gerutu Amanda.
"Ya udah, tapi disebelah sini aja. Nggak usah naik ke pembatasnya." ujar Arka.
"Ok." jawab Amanda lalu tersenyum.
Mereka kemudian melangkah hingga bagian paling ujung di moncong terdepan yacht tersebut. Kemudian Amanda berdiri di depan Arka, lalu keduanya kini sama-sama merentangkan tangan. Seperti Jack dan Rose dalam film Titanic. Amanda dan Arka tertawa-tawa, sampai kemudian.
"Woi, Jack and Julehaaa."
Seseorang berteriak dari sebuah yacht lain yang tiba-tiba berjalan disisi yacht mereka. Amanda dan Arka seketika kaget dan menghentikan aktivitas.
"Ngapain lu disitu, Bambang?" teriak Arka pada Rio yang memakai kostum bajak laut.
"I am kapten Jack Sparrow." teriak Rio penuh khayal. Seolah-olah dirinya adalah kapten Jack Sparrow dari film Pirates of the Carribean.
"Lo mah Jack Separo Gendeng tau nggak." ujar Arka sewot.
"Ye, sirik aje lu." ucap Rio tak kalah sewot.
"Ngapain sih lo disitu?" tanya Arka lagi.
Rio kemudian menaikkan tangan kirinya dan menunjuk ke bagian dek atas yacht. Ketempat dimana Dito, Fahri, Keisha, Viona, Intan serta Deni dan Satya berada.
"Haaaai." ujar mereka seraya mengangkat minuman serta melambaikan tangan.
Tampak mereka hanya mengenakan pakaian renang. Arka dan Amanda melambaikan tangan mereka.
"Dan satu lagi, Ka. Ladies..." Rio seakan memanggil. Tak lama kemudian munculah dua gadis cantik berpakaian minim dan langsung memeluk Rio.
"Iri kan lo sama gue?" Rio melirik bangsat pada Arka.
"Arka nggak bisa ikut, bininya galak." ledeknya kemudian. Amanda tertawa-tawa.
"Duit dari mane lu, nyewa yacht segala." ujar Arka pada Rio.
"Dari bini lu lah, lu aja duit bini lu kan?"
Kali ini Arka yang tertawa.
"Bangsat lo emang." ujarnya kemudian.
"Daaaaah." Rio melambaikan tangannya, yacht mereka kini melaju dengan kencang.
"Kamu yang sewain mereka, Man?" tanya Arka ketika yacht yang ditumpangi Rio telah melesat jauh.
"Iya, kasian mereka nggak pernah liburan. Dan Rio juga sering traktir kita. Jadinya ya udalah, sekalian buat nemenin kita di pulau. Biar nggak ada genderuwo.
"Tapi tadi kayaknya kurang satu ya. Si Nadine-Nadine itu kemana?" Pertanyaan tersebut sukses membuat Amanda terdiam.
Pasalnya ia telah mengajak Nadine. Namun Nadine mengatakan jika ia harus menjaga Nino. Nino masih dalam keadaan depresi dan sangat butuh pendampingan.
Jujur Amanda sedih memikirkan Nino. Nadine sedikit banyak telah mengurangi kekhawatirannya terhadap cinta pertamanya itu. Setidaknya Nadine bisa dipercaya untuk menjaga Nino. Sekali pun Nadine tak mengetahui jika penyebab stress serta depresi yang dialami Nino tersebut, adalah karena Amanda.
"Nadine, dia lagi ada urusan keluarga katanya." Amanda berpura-pura.
"Oh gitu, pantesan nggak keliatan." ujar Arka.