Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Menjelang


Arka dan Rio baru mengetahui, jika Doni adalah kencan terakhir yang tak jadi ditemui Amanda. Dan Amanda pun baru mengetahui, jika Doni adalah teman dari suaminya dan juga Rio. Ketiganya kini sama-sama terdiam usai saling bercerita.


"Maafin aku, Ka." ujar Amanda kemudian.


"Kamu nggak salah, Amanda. Emang Doni nya aja yang bejat."


"Bener, Man. Bejat mah bejat aja." Rio menimpali ucapan Arka.


"Seandainya kamu nggak pernah kenal Doni sebelumnya pun, kalau Doni nya emang mesum ya mesum aja." lanjutnya lagi.


Amanda diam, makanan yang ia bawa telah dingin. Arka bahkan kini telah kehilangan selera makannya, karena terlalu khawatir pada kondisi Amanda pasca kejadian tadi.


"Kamu pulang, ya." ujar Arka kemudian.


Amanda menggeleng.


"Aku takut, mau sama kamu aja."


"Ya udah kalau gitu, aku masih ada take 4 adegan. Kamu disini dulu sama pak Darwis, sama Rio. Ada mbak Arni juga tuh."


Arka menoleh ke arah mbak Arni yang tengah menelpon di bawah sebuah pohon, tepat disisi mobil. Amanda pun mengangguk, Arka kemudian kembali ke lokasi syuting. Sementara Amanda di temani Rio dan juga pak Darwis. Tak lama setelah itu mbak Arni masuk ke dalam mobil untuk ikut menemani Amanda. Rio dan pak Darwis berjaga-jaga di luar sambil merokok.


Beberapa hari setelah itu, Amanda seperti takut keluar rumah. Agaknya kejadian tersebut sangat membekas dalam ingatannya. Arka pun sampai membawa istrinya itu ke psikiater untuk mendapatkan penanganan. Setelah berkonsultasi beberapa kali, kecemasan Amanda mulai berkurang. Ia tak lagi ketakutan seperti di awal-awal.


Bahkan hari ini, ia mengatakan pada Arka. Jika dirinya akan pergi bersama Nadine, Keisha, Viona serta Dito dan juga Fachri. Mereka janjian untuk makan bersama.


Arka mengizinkan. Toh, waktunya lahiran masih minggu depan. Meskipun kini kontraksi palsu yang dirasakan Amanda sudah mulai sering terjadi.


"Hallo bumil."


Nadine dan yang lainnya antusias menyambut Amanda. Sementara yang disambut tampak tersenyum dengan nafas ngos-ngosan.


"Hadeh, jalan dari lobi depan kesini aja rasanya kayak mendaki gunung." ujar Amanda lalu duduk di kursi, yang sudah lebih dulu disiapkan oleh Dito.


"Berat banget ya, mbak?" tanya Fahri seraya menatap Amanda.


"Iya, makanya ntar kalau lo berdua punya istri. Jangan seenaknya sama mereka, apalagi sampe selingkuh-selingkuh, KDRT. Kasian tau, liat gue nih sampe nafas aja susah."


"Kalau gue sih, setia mbak. Dito noh, penjahat wanita." ujar Fahri.


"Enak aja, elu tuh. Fucek Boy." balas Dito.


"Eh udah-udah, sesama buaya aja saling salah-salahin." Keisha mencoba meredam keduanya.


"Lu juga, buaya betina." ujar Fahri.


"Ho'oh, udah berapa tuh cowok yang lu bikin jadi bucin." Dito menimpali.


Mereka semua pun lanjut berbincang lalu makan. Tak lama setelah itu, Masing-masing dari mereka memberikan hadiah untuk Amanda. Isinya tentu saja perlengkapan bayi.


"Waduh, makasih loh. Jadi enak." seloroh Amanda diiringi tawa mereka semua.


"Mudah-mudahan bayinya mbak Amanda pas sama ukuran yang kita beli." ujar Viona.


"Ya mudah-mudahan, amit-amit jangan sampe jumbo. Kelenger gue ngeluarinnya, pasti." Amanda membuat semua orang yang ada disitu kembali tertawa.


"Gue mau ke toilet, ah." ujar Nadine kemudian.


"Ikut dong, Amanda beranjak."


Ia dan Nadine pun menuju ke toilet, sementara yang lainnya tetap menunggu ditempat. Tak berselang lama, Nadine dan Amanda terlihat keluar dari dalam toilet. Tak ada yang aneh, sampai kemudian.


"Aaakkkh." Amanda tiba-tiba merasakan sakit di perutnya. Nadine yang terkejut pun akhirnya bertanya.


"Kenapa, mbak?" ujarnya panik.


"Nggak tau ini sakit banget." Amanda mencoba mengatur nafas. Barangkali saja ini merupakan kontraksi palsu, namun sampai beberapa detik berikutnya sakit itu tak kunjung hilang.


"Aaakkhh."


Rasa sakit itu semakin hebat.


"Udah waktunya kali, mbak." Nadine panik sepanik-paniknya.


"Nggak tau, dokter bilang masih minggu depan."


"Aaakkhh, sshhh."


Orang-orang yang lalu lalang ke toilet, kini mulai memperhatikan mereka dan memberi pertolongan.


"Ini kenapa mbak?" tanya mereka pada Nadine.


"Mau melahirkan." ujar Nadine masih penuh kekhawatiran, ia pun lalu menelpon Viona.


"Vi, ke toilet Vi. Sekarang, Vi."


"Loh kenapa?" tanya Viona cemas. Keisha, Dito dan Fahri pun terhenyak.


"Ini mbak Amanda kayaknya mau lahiran deh, buruan...!"


"Apa?. Mbak Amanda mau lahiran?" Viona dan yang lainnya kini bersitatap.


Detik berikutnya,


"Gubrak."


"Gubrak."


"Gubrak."


Viona, Keisha, Dito dan Fahri berlari pontang-panting ke arah toilet hingga mengundang perhatian banyak orang. Disana Amanda sudah terduduk dilantai dengan ditemani Nadine dan juga pengunjung mall yang lain. Amanda terlihat meringis seraya memegang perutnya.


Tiba-tiba security yang tengah patroli pun mendekat, mereka bertanya dan Nadine menjelaskan. Tak lama setelah itu, mereka memberikan kursi roda pada Amanda. Fahri mengangkat tubuh wanita itu dan mendudukkannya di kursi roda. Saat menuju lift, orang-orang yang tadinya sudah masuk, kini keluar lagi.


Mereka memberikan ruang untuk Amanda, Fahri dan juga Nadine. Sementara Dito, Viona dan Keisha berlarian melalui eskalator karena harus mempersiapkan mobil.


Mobil Dito pun tiba didepan lobi mall, Amanda langsung dibawa masuk. Dito, Fahri ada didepan, sementara Amanda didampingi Nadine dan Keisha. Viona sendiri nyelip di belakang.


"Buruan, Dito." ujar Viona Kemudian.


"Kemana?"


"Ya kerumah sakit." ujar mereka serentak dengan nada kesal. Sementara Amanda masih menahan sakit yang amat hebat di perutnya.


"Itu, hhhh." Amanda mencoba mengambil nafas disela rasa sakit yang menyerangnya.


"Rumah sakit GMC." ujarnya kemudian.


"Yang klinik?"


"Rumah sakit, lo tau kan rumah sakit beda sama klinik. GMC tuh ada dua." ujar Viona sewot.


"Apa bedanya, perasaan sama aja."


"Buruaaan...!"


"Dito pun menginjak pedal gas mobilnya dengan penuh penekanan, hingga mereka semua pun hampir tersantuk ke depan.


"Gubrak."


"Pelan-pelan, Ditooo." Suara Fahri dan yang lainnya seakan hendak menelan Dito hidup-hidup.


"Iya, iyaaa."


Hening.


"Jangan pelan banget begini jugaaa." teriak mereka semua lagi.


"Keburu berojol ini anak di mobil." gerutu Keisha.


Sementara mobil berjalan, Dito mengemudi dengan jantung berdegup kencang. Amanda berusaha menghubungi suaminya yang masih berada di lokasi syuting.


"Nomor yang anda tuju, sedang tidak aktif atau berada di luar service area."


"Duh, macet lagi. Ada apaan sih didepan?" tanya Nadine dengan wajah panik. Amanda sudah sangat kesakitan.


"Ada galian kabel." ujar Fahri kemudian.


"Cari jalan alternatif dong, bro." Dito memerintahkan Fahri. Fahri pun membuka aplikasi map yang ada di handphonenya.


"Nih, nih lewat sini aja nih. Nembus perumahan ini, lempeng." ujarnya memberi saran.


Tanpa basa basi lagi, Dito segera mengarahkan kendaraannya kesana. Jelas saja sepi, karena banyak sekali polisi tidur.


"Aaakkhh." Amanda makin mengeluh sakit ketika mobil mereka terlonjak-lonjak.


"Lagian kenapa bisa lewat sini sih, Dito, Fahri." ujar Keisha gusar.


"Ya mana gue tau kalau banyak polisi tidurnya, Fahri sih bukannya diliat."


"Lah emang gue tau disini ada polisi tidurnya, orang di map kagak keliatan."


Tak lama Arka menelpon, saat Amanda tengah dilanda kontraksi terhebat yang pernah ia rasakan.


"Amanda, Hallo."


"Arkaaaaa." Amanda setengah berteriak, seraya berusaha mengatur nafas.


"Kaaaaaa."


"Kamu kenapa, Man?"


"Kaaaaaa." Suara Amanda tertahan rasa sakitnya.


"Kamu kenapa?" tanya Arka kian panik, Ia kini tengah berada didalam mobil bersama Rio.


"Udah mau berojol, Ka." ujar Amanda dengan susah payah.


"Apa?"


Jantung Arka berdegup kencang, sementara kini Rio memperhatikannya.


"Serius, Man?"


"Gubrak."


Arka mendadak menghentikan mobilnya, hingga membuat kepala Rio hampir mencium dashboard.


"Ini kamu dimana sekarang?" tanya Arka.


"Dijalan."


"Dijalan mana?" Arka semakin panik,


"Kamu langsung kerumah sakit aja, aku dijalan menuju kesana."


"Kamu dimana ini, sama siapa Amanda. Jangan buat aku takut."


Viona merampas handphone yang ada ditangan Amanda. Karena suara Arka terdengar olehnya, bahkan oleh mereka semua.


"Ka, pokoknya lo jalan aja. Ini gue Viona."


"Vi."


Viona menyudahi telpon, Arka kini diserang sejuta kekhawatiran.


"Ri, Amanda mau melahirkan Ri."


"Hah?" Kata lo minggu depan?"


"Nggak tau, aduh gimana nih. Gue harus gimana?"


"Ka, sabar." ujar Rio Kemudian.


Arka pun lalu diam dan mencoba mengambil nafas. Tak lama ia kembali menginjak pedal gas mobilnya. Namun perjalanan itu berubah menyeramkan, pasalnya Arka menyetir tak tentu arah. Kadang lurus, kadang kesamping, kadang zig-zag saking paniknya.


"Ka, stop...!"


"Tapi, Ri."


"Stop...!" tegas suara Rio terdengar, Arka pun menghentikan mobilnya. Tak lama Rio keluar dan menyuruh Arka bergeser. Arka pun pindah, kemudi kini dikendalikan oleh Rio.


Dengan tenang Rio pun kembali menghidupkan mesin mobil, lalu berjalan dengan kecepatan tinggi stabil layaknya seorang pembalap. Mereka kini menuju kerumah sakit.