Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Entah Mengapa


"Arkaaa."


Arka mendengar Amanda berteriak di pagi hari. Pria yang yang baru selesai menggosok giginya itupun, menghampiri Amanda yang tengah berada di kamar si kembar.


"Ada apa?" tanya nya cemas.


"Di gigit." ujar Amanda dengan nada kesal.


"Eheeee."


Kedua bayi itu pun tertawa, lalu kembali mencoba mendapatkan sarapan pagi mereka.


"Dek, nggak boleh gitu ya. Mamanya sakit loh."


"Eheeee." Mereka kembali tertawa lalu,


"Aw, sakit."


"Ka pencetin hidung nya, Ka. Biar di lepas."


"Yang mana?"


"Dua-duanya."


Arka pun mengikuti instruksi dari istrinya tersebut, ia memencet hidung kedua bayi itu hingga mereka melepaskan hisapan dan bernafas lewat mulut.


"Udah, nggak usah lagi. Di botol aja kalian." gerutu Amanda.


Arka meraih kedua bayi itu, Amanda berjalan dengan kesal lalu keluar dari kamar kedua anaknya tersebut. Ia kemudian memompa ASI nya dan memasukkan ke dalam botol susu. Sementara si Kembar telah menangis di kamar dan coba ditenangkan oleh Arka.


"Nih, Amanda memberikan masing-masing bayi itu botol susu. Namun keduanya menolak dan menangis.


"Ya udah kalau nggak mau, biar aja kelaparan." Nada suara Amanda terdengar tidak wajar, untuk menegur bayi yang baru seumuran Azka dan Afka.


"Amanda, mereka ini masih belum ngerti loh. Kamu kenapa sih pagi-pagi ngebentak-bentak kayak gitu."


"Kamu nggak tau rasanya jadi aku, bangun pagi udah harus kasih mereka makan. Mana mereka gigit nggak karu-karuan, sakit tau nggak?"


"Ya nggak harus marah kayak gitu juga, kamu pikir mereka tau kalau kamu ngerasain sakit?." Suara Arka mulai meninggi.


"Kamu enak ngomong kayak gini, karena kamu nggak ngerasain. Udalah pikiran aku banyak, urusan aku bertumpuk."


"Kamu pikir cuma kamu yang punya banyak urusan, cuma kamu yang paling sibuk di dunia ini?"


"Oh, jadi menurut kamu. Karena bukan cuma aku doang yang sibuk di dunia ini, aku dilarang mengungkapkan apapun itu?. Aku dilarang mengeluh, nggak boleh ngerasa capek, sakit dan lain-lain, iya?"


"Nggak usah ngebentak kayak gitu kamu. Kalau ngerasa capek, ya suruh pembantu kamu nginep disini. Ngapain mereka kerja kalau kamu masih keteteran ini dan itu."


"Aku nggak suka terlalu sering ada orang lain, nggak leluasa."


"Ya harus siap capek kalau gitu. Ngapain kamu negebentak anak yang masih bayi, kamu pikir mereka ngerti?. Dimana letak kedewasaan kamu?"


Arka bermaksud menasehati Amanda, namun tanpa ia sadar justru ialah yang pada akhirnya membentak paling kuat. Seluruh ucapan Arka barusan tak ada yang bernada lembut, semuanya membentak dan berteriak.


Air mata merebak di pelupuk mata Amanda, wanita itu menunduk saja dan memberi makan kedua anaknya dengan botol susu. Kedua bayi itu bahkan sudah berhenti menangis, terhitung di menit pertama kedua di orang tua mereka bertengkar.


Sementara kini Arka menghela nafas panjang dan memegang kepala dengan kedua tangannya. Ia kini tengah mencoba membuang segenap emosi yang masih bersarang di hatinya.


Pagi ini, pertama kalinya pagi mereka diwarnai keributan yang sebabnya sendiri pun tidak begitu jelas. Keduanya sedang banyak pikiran, sementara si kembar sedang sangat sulit di atur.


Arka sendiri sudah sangat ingin berbicara padanya, namun Amanda seolah menutup kesempatan itu. Ia hanya berlalu begitu saja, bahkan tak menyentuh sarapan sedikitpun. Ia berlalu ke kamar untuk berganti pakaian.


Setelah memastikan anak-anaknya tertidur, ia mengambil kedua botol susu yang ada didekat kedua bayi itu dan membawanya ke wastafel. Tak lama setelahnya, ia terlihat berlalu di depan Arka menuju ke arah lift.


Wanita itu lalu pergi meninggalkan kediamannya untuk berangkat kerja. Sementara Arka masih terpaku di meja makan, dengan perasaan yang campur aduk.


***


Dirumah sakit.


Untuk pertama kalinya Rachel menampakkan batang hidung di muka Amman. Setelah beberapa hari belakangan ini, ia seolah tak peduli.


Ia datang dengan wajah tanpa dosa, bahkan seolah Amman adalah orang lain baginya. Amman telah mengerti sepenuhnya siapa Rachel, namun ia tak begitu mempermasalahkan hal tersebut. Lagipula sejak awal, perselingkuhannya dengan wanita itu adalah semata untuk kesenangan dan juga kesempatan.


Karena saat itu Amman baru saja memegang tampuk kekuasaan di perusahaan milik ayahnya, dan Rachel adalah orang yang memiliki banyak relasi. Amman memanfaatkan Rachel, sambil merenggut kesenangan melalui hubungan terlarang diantara mereka.


Sejatinya saat itu Amman telah benar-benar marah atas hidupnya sendiri. Ia di jodohkan dengan wanita yang sama sekali tak ia kenal, perempuan yang ia cintai telah membuang anak mereka dan tetap menikah dengan pria pilihannya.


Maka Amman pun, ingin hidup untuk bersenang-senang semata. Untuk menghasilkan lebih banyak relasi, uang dan meniduri banyak perempuan. Setidaknya hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menghibur diri. Karena sudah tak ada lagi cinta baginya, ketika Citra tetap beranjak dari hidupnya yang kesepian.


"Aku pikir, kamu sudah tidak bangun lagi."


Rachel berujar sambil duduk di sebuah kursi yang berada tak jauh dari tempat dimana Amman berada.


"Aku kecewa karena kamu masih hidup, harusnya sekarang aku yang menikmati semua harta kamu."


Amman memalingkan wajahnya ke arah lain, ia tak terkejut sedikitpun atas sikap Rachel padanya. Karena ia mengetahui jika tak ada seorang pun yang mencintai dirinya.


"Tapi, tidak apa-apa." Rachel kembali berujar.


"Paling tidak, kamu bisa menandatangani surat-surat ini."


Rachel menyerahkan sebuah map yang entah isinya apa.


"Ini adalah surat wasiat, yang mana isinya. Kamu akan menyerahkan seluruh harta warisan kamu untuk aku."


Rachel tersenyum lalu meletakkan map tersebut di atas meja, di samping tempat tidur Amman. Sementara pria itu masih diam, ia agaknya tetap enggan menatap Rachel lebih lanjut.


"Setelah itu..."


Rachel meletakkan satu vial obat didekat Amman, berisi cairan yang tak tau apa jenisnya.


"Minum racun ini, setelahnya." bisik Rachel ditelinga suaminya itu.


"Karena percuma kamu hidup, orang tua Maureen saat ini sudah mencari-cari keberadaan anak mereka. Aston juga tidak akan mengampuni kamu atas apa yang pernah kamu lakukan terhadap Citra. Kamu juga melakukan percobaan pembunuhan terhadap Ryan, yang kemudian malah mencelakakan anak kandungmu sendiri. Dan ibu Rani bisa juga melengkapi laporan yang akan menjerat kamu. Mengenai kejahatan pemerkosaan yang pernah kamu lakukan terhadapnya."


Amman mulai menelan ludah, meski masih membuang pandangan. Kata-kata Rachel tersebut mulai merayap memasuki benak dan bathinnya secara perlahan.


"Sudah terlalu banyak kejahatan yang kamu lakukan, sayang. Usia kamu sudah 60 an lebih. Kamu mau, di sisa hidup kamu membusuk di penjara?. Kalau aku, lebih baik mati. Maka semuanya selesai.


Keringat dingin satu persatu mulai mengalir dari kulit pria itu. Entah mengapa kekuatan dan keangkuhannya selama ini, seolah hilang begitu saja.


Padahal Rachel adalah wanita yang bisa ia bungkam mulutnya hanya dengan satu pukulan. Namun apa yang diucapkan Rachel kali ini, benar-benar memporak-porandakan mentalnya sebagai manusia.


"Jangan lupa ya...!"


Rachel kembali berbisik di telinga Amman, lalu pergi meninggalkan tempat itu.