Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Detak


"Ka, kamu udah selesai belum?" tanya Amanda pada Arka ditelpon.


"Iya ini udah kelar, koq. Tinggal nyebrang jalan aja." ujar Arka.


Haru itu hari libur. Arka habis membeli martabak manis yang buka dari jam 10 pagi, di seberang penthouse Amanda.


Arka menyeberang, sambil terus menoleh ke kanan dan ke kiri. Hingga tanpa disadarinya, ketika ia telah sampai di bibir trotoar seberang. Tiba-tiba,


"Braaak."


Bahunya menabrak bahu seseorang. Arka terkejut, lalu waktu pun seakan terhenti. Pasalnya pria bule yang bertabrakan dengannya itu terpaku menatap Arka, seakan mengingat dirinya dimasa muda dahulu. Sedangkan Arka, entah mengapa merasa jika tua nanti. Ia akan mirip seperti bule tersebut.


"Degghh."


"Degghh."


Detak jantung keduanya terdengar kencang, namun hati mereka seakan diremas. Seperti ada sebuah perasaan asing, namun dekat.


"Who are you?"


Tiba-tiba pria bule itu berujar, Arka diam. Tak lama setelahnya, Amanda kembali menelpon.


"Ka, buruan. Aku lagi berak, anak-anak jerit-jerit tuh dikamar."


"Iya, ini tinggal masuk doang koq."


Arka berlalu dari hadapan pria bule itu, sementara si pria bule masih terpaku.


Jauh disebuah sudut, Nino tengah memperhatikan foto masa muda sang ayah yang di posting semalam oleh orang tuanya itu.


"Daddy?"


Nino memperhatikan foto tersebut, namun terasa seperti mengenalinya. Seperti familiar, namun sedikit membuat bingung.


Nino diam, ia beralih ke beranda Instagram. Dan seketika ia terpaku. Tatkala mendapati sebuah akun produk yang memposting foto Arka, sambil memegang produk mereka.


Nino terkejut melihat foto tersebut, buru-buru ia menscreenshoot foto itu dan melakukan hal yang sama pada foto ayahnya semasa muda. Nino lalu meletakkan foto-foto itu bersebelahan di laman aplikasi pengeditan foto. Dan betapa terkejut ia ketika melihat foto tersebut sama persis, seperti melihat dua orang kembar. Hanya ada perbedaan sedikit dan sekilas di beberapa bagian, sisanya sama.


***


"Hey, hey, hey. Kenapa jerit-jerit?"


Arka menegur kedua bayinya yang masih menangis di dalam box itu.


"Oeeeek."


"Oeeeek."


Kedua bayi itu makin menangis.


"Laper banget emang?. Hmm?"


Arka mendekatkan kepalanya pada box bayi secara bergantian. Bayi-bayi itupun mendadak diam dan memperhatikan Arka. Tak lama kemudian, Amanda keluar dari kamar mandi.


"Apa kalian?" ujar Amanda sambil menahan senyum.


"Mama nggak mau kasih susu, weeek."


Amanda menjulurkan lidahnya.


"Oeeeek."


"Oeeeek."


"Nih kalau ketemu mertua nyinyir, diomelin kamu." ujar Arka pada Amanda.


"Pastilah." jawab Amanda kemudian.


"Itu kenapa anak di susuin di botol, bla, bla, bla. Abis itu diceritain ke tetangga-tetangga." lanjutnya lagi.


Arka tertawa.


"Sepupu ibu ada tuh yang begitu, rumah tangga anaknya di recokin semua. Ujung-ujungnya pada cerai."


"Oh ya?"


"Iya karena ribut terus jadinya, orang di recokin mulu. Sampe kalau cucunya kurus, dibilang emaknya nggak becus ngurus anak. Di omongin-omongin menantunya ke tetangga."


"Itu tuh pikiran sempit kebanyakan perempuan di negara kita, mesti banget anaknya gembul. Kadang ada yang sampe obesitas. Iya kita ngeliatnya lucu, kesehatan bayinya dipikirin nggak?." ujar Amanda kemudian.


"Karena mereka itu selalu haus dipuja-puji tetangga. Bagi mereka kalau anak gemuk itu menandakan ibunya berhasil ngurus anak, padahal nggak juga. Yang gemuk keterlaluan juga nggak bagus buat anak, obesitas itu bisa memicu kematian loh."


"Bener Ka, cuma orang kita itu susah di edukasi. Aku mah nggak perlu anak gemuk banget, yang penting beratnya dinyatakan normal oleh dokter dan sehat aja. Udah cukup."


"Itu sepupu ibu yang tadi, saking pengennya punya cucu gemuk. Sampe dikasih bubur nasi, Man. Belum ada dua bulan umur cucunya."


"Astaga, emang nggak ada yang ngingetin gitu?"


"Udah berbusa mulut ibu ngingetin, malah ibu yang di omelin sama dia. Akhirnya didiemin aja sama ibu. Nggak lama cucunya masuk rumah sakit, pencernaannya bermasalah."


"Ih serem, ih. Itulah ya, jadi perempuan itu jangan menolak kalau di edukasi. Banyak banget orang kita yang komen, kalau ngeliat bule atau orang luar ngurus anak. Itu kenapa nggak di bedong, kenapa tidurnya sendiri nanti diganggu setan dan lain-lain. Kejam banget ya sama anak. Padahal yang kejam terhadap bayi tuh kebanyakan orang kita."


Arka menatap istrinya.


"Lah iya kan, bayi di pakein gurita kenceng-kenceng. Bilangnya supaya perut bayi kecil. Padahal perut bayi itu akan kecil dengan sendirinya seiring bertambah usia. Justru gurita itu menyiksa bayi, karena apa. Organ dalam bayi itu tertekan dan terhambat pertumbuhannya."


"Bener sih, padahal kadang banyak ya praktisi kesehatan yang menjelaskan itu di sosial media. Tapi banyak banget ibu-ibu, nenek-nenek yang masih ngeyel." ujar Arka.


"Nah makanya, mereka ngatain orang bule kejam sama anak. Mereka sendiri menyiksa anak. Udalah dari kecil di pakein gurita, di bedong kenceng-kenceng, belum sebulan udah dikasi makan. Baru setahun dua tahun, udah diajarin jajan. Beli minuman dalam kemasan, yang kadang ada tulisan peringatan "Tidak cocok untuk Balita." masih aja dikasih."


"Ya, gitu deh." ujar Arka.


"Makanya aku dari dulu pengen banget punya istri yang berpendidikan. Nggak harus sarjana, minimal tetap mau belajar segala sesuatu. Punya power untuk melindungi anak-anaknya dari orang luar. Termasuk dari ibu aku sendiri loh, kalau seandainya ibu menjadi mertua yang menyebalkan. Tapi untungnya sih ibu nggak gitu dan kamu juga terpelajar, jadi aku aman lah kalau soal anak-anak."


Amanda tersenyum.


"Aku juga bakal fight, seandainya ibu paksa aku buat kasih makan bayi kita di umur sebulan. Cuma karena pengen bayi gendut dan dipuji tetangga. Aku akan lawan, Ka. Biarin aja aku di cap menantu durhaka, nggak apa-apa. Ibu mau benci sama aku juga nggak apa-apa. Aku lebih baik dibenci semua orang, asal aku bisa melindungi anak-anak aku. Aku nggak mau di senangi mertua, ipar, tetangga. Tapi aku mengorbankan anak aku sendiri, demi semua itu. Tapi untungnya ibu modern banget sih pemikirannya, papa kamu juga nggak banyak bicara. Pokoknya orang tua kamu the best lah, beruntung banget aku dapet mertua kayak mereka."


Lagi-lagi Arka tersenyum.


"Kalau mereka udah gede, jangan banding-bandingkan anak sama anak orang ya, Man."


Kali ini Amanda tertawa.


"Emang kamu pernah digituin ibu?" tanya Amanda kemudian.


"Nggak pernah sih, belum pernah. Ibu tuh baik dalam hampir segala hal, jeleknya dia cuma waktu trauma itu doang. Yang dia suka pukul aku, karena katanya aku mirip banget sama papa kandung aku."


"Deegghh."


Tiba-tiba Arka teringat pada laki-laki yang tadi bertabrakan dengannya di depan penthouse. Entah mengapa ia merasa ada sesuatu yang terjalin diantara mereka. Tapi, apa itu?"