
Amman kini terbaring lemah di rumah sakit, tak ada yang menemaninya kecuali Vera. Ya, perempuan itu baru saja diberitahu oleh salah seorang pembantu yang bekerja dirumah Amman. Tatkala ia mencoba menelpon ke nomor pria itu, guna membicarakan soal keinginannya untuk berhenti bekerja.
Vera tak habis pikir mengapa pengeroyokan ini bisa terjadi, di sebuah kompleks perumahan yang bahkan dijaga ketat selama 24 jam.
Memang kompleks perumahan ini begitu luas, ada banyak rumah yang ditinggalkan oleh pemiliknya. Lantaran pemiliknya banyak bertugas di luar kota, ataupun memiliki rumah ditempat lain.
Bahkan rumah tetangga kanan dan kiri Amman, tak ada yang menghuni. Diseberang rumahnya hanyalah tembok yang berdiri kokoh disepanjang wilayah.
Karena ia memilih membeli di blok pinggir, yang hanya memiliki satu line. Bukan berseberangan seperti rumah-rumah di blok lainnya. Hingga ketika terjadi perkelahian dan pengeroyokan tersebut, praktis tak ada orang yang melihat.
Tapi apakah benar semua orang bisa dengan mudah mengakses tempat itu?. Jawabannya tidak, tetapi juga iya. Iya karena ada yang mengizinkannya masuk.
Siapa lagi kalau bukan Rachel. Ketika sekuriti gerbang perumahan memberitahu jika ada yang ingin datang, Rachel bertanya siapa orang tersebut. Sekuriti menyebutkan namanya dan Rachel pun mengiyakan.
Bukan tanpa alasan, semua dilakukan karena Rachel mengetahui urusan masa lalu Amman dengan Citra. Dan lagi ia sudah mengetahui jika Vera saat ini tengah mengandung anak dari suaminya itu.
Ia juga menginginkan kematian Amman, sebelum pria tua itu sempat mewariskan apa-apa pada semua anaknya. Termasuk anak yang kini dikandung Vera.
Rachel lah yang menyibukkan para pembantu, agar tak terkonsentrasi ke arah depan. Hingga ketika Amman sampai, tak ada orang yang membukakan pintu pagar. Lalu Aston pun datang.
Sementara Aaron sendiri memiliki teman yang juga tinggal di kompleks perumahan tersebut, sehingga ia lebih mudah beralasan pada sekuriti. Dan lagi ia sudah janjian dengan temannya itu untuk bertemu, jadilah Aaron memanfaatkan kesempatan.
***
"Lo nggak menjenguk laki lo?" tanya salah seorang teman Rachel padanya. Mereka kini tengah berada di suatu tempat sambil bersantai.
"Buat apa?" Rachel balik bertanya dengan nada dingin
Temannya menghela nafas, karena tak tau harus berkata apa lagi.
"Dulu gue pikir, dia cinta sama gue. Sampe dia rela ninggalin istri dan anaknya sendiri. Tapi ternyata dia cuma manfaatin gue, karena saat itu gue punya banyak relasi yang berguna untuk dia."
"Dan pada akhirnya gue pun memanfaatkan dia untuk kepentingan status sosial, harta dan uang. Dulu gue masih muda, dan masih menikmati semuanya. Tapi sekarang gue udah tua, gue capek ngadepin dia. Dan yang paling bikin gue jijik adalah, dia selingkuh dibelakang gue. Sampai bikin selingkuhannya hamil."
"Tapi kan lo tau, kalau dia juga punya anak selain Amanda. Si Rani-Rani itu."
Rachel mengangguk.
"Setidaknya itu terjadi sebelum dia ketemu gue, tapi si Vera ini selingkuhan barunya dia. Mungkin satu atau dua tahun belakangan ini. Dan sekarang gue tau kalau dia punya anak lagi, dari perempuan yang pernah dia cintai dimasa lalu."
Temannya menatap Rachel.
"Dia bejat, tapi setidaknya dia punya anak. Sedangkan gue nggak punya apa-apa, maka dari itu gue pengen dia mati. Karena gue tau dia belum mewariskan apa-apa, belum menulis surat wasiat satu pun untuk anak-anaknya. Walau gue nggak punya anak, setidaknya gue nggak boleh miskin. Gue nggak mau tua dan mati sendirian di gubuk reyot. Gue mau terbaring di atas harta dan ranjang yang empuk. Karena gue nggak punya apa-apa, gue nggak punya anak yang bisa nemenin gue. Di saat-saat terakhir gue nanti."
Rachel melepaskan pandangannya sejauh mungkin, meski penglihatannya terbatas akibat penuaan.
***
Beberapa hari sebelum ini.
Rachel membuntuti Amman, yang pergi ke suatu tempat. Ia mencoba mengirimkan pesan singkat pada Amman dan bertanya, perihal dimana suaminya tersebut sedang berada.
Amman mengatakan jika ia berada di sebuah wilayah. Namun bukan tempat dimana kini ia tengah berada, padahal Rachel ada didekatnya. Maka Rachel pun mengikuti langkah suaminya itu.
Amman berhasil mencekal lengan Vera yang tengah melintas, Vera sendiri amat sangat terkejut dengan kehadiran Amman.
"Lepaskan saya." ujar Vera berusaha memberontak.
"Ada hubungan apa antara kamu dan Ryan?. Kamu jadi pelacurnya dia sekarang?. Hah?"
Amman menghujani wanita hamil itu dengan pertanyaan yang bernada cukup kasar.
"Cukup!. Jangan pernah bentak saya lagi!. Saya sudah tidak tahan dengan semua ini, biar saya dan anak ini tenang."
"Ini anak saya." ujar Amman.
"Ini juga anak saya."
Dari balik persembunyian, Rachel menutup mulut saking kagetnya. Ternyata kecurigaannya selama ini benar adanya. Sementara Amman terus bertengkar dengan Vera.
Rachel kecewa, ia merasa begitu hancur. Karena ia sendiri tak bisa memberikan anak pada Amman. Ditambah beberapa hari setelah itu, ia mendengar kabar soal Amman yang pernah memiliki anak lain. Dengan wanita yang ia cintai di masa lalu.
Rachel mengetahui hal tersebut dari orang kepercayaannya, yang sudah sering kali memata-matai Amman selama ini.
Rachel semakin hancur, bahkan ia sampai menitikkan air mata. Tanpa ia sadari jika apa yang ia rasakan ini, adalah buah dari hasil perbuatannya yang dulu pernah menyakiti hati istri sah Amman, yakni ibu dari Amanda.
Cepat atau lambat, sadar atau tidak. Karma itu pasti akan datang.
***
"Amanda, kamu udah denger kan?"
Arka tergopoh-gopoh masuk ke dalam penthouse, sesaat setelah ia pulang kerja. Ia baru saja mendengar kabar tentang Amman dari Vera.
"Iya, aku denger koq." ujar Amanda seraya menyiapkan makan untuk ia dan suaminya. Wanita itu juga baru pulang dari kantor, beberapa saat sebelum Arka tiba.
"Kamu mau kesana?" tanya Arka kemudian.
"Nggak tau, Ka. Buat apa juga."
Amanda masih sibuk meletakkan makanan ke atas meja makan dan mulai mengatur piring, sendok, serta gelas.
"Kamu sendiri kan yang bilang dulu. Seburuk-buruknya orang tua, itu tetap orang tua kita. Kita nggak boleh membenci berlebihan."
"Aku nggak membenci dia berlebihan. Aku cuma merasa nggak ada gunanya kalau aku kesana. Kamu liat sendiri kan setiap kali ketemu sama dia, dia selalu cari gara-gara supaya kami bertengkar. Aku capek, Ka. Capek berantem sama orang tuaku sendiri."
Amanda menggeser kursi, begitu pula dengan Arka. Ia lalu menuang air dingin ke dalam gelas dan memberikannya pada sang suami.
"Cobalah kamu datang, sekali aja. Kalau misalkan dia ngajak berantem, nggak usah di jawab. Kamu langsung tinggalin aja, yang penting kamu jalankan tugas kamu sebagai anak. Tunjukkan kalau kamu bukan anak yang menelantarkan orang tua, salah orang tuanya sendiri kalau nggak mau di urusin."
Amanda menghela nafas lalu mengangguk.
"Iya, nanti deh aku kesana." ujarnya kemudian.
Arka tersenyum menatap istrinya itu, sementara yang ditatap hanya diam. Wanita itu kemudian mengambil segelas air putih dan meminumnya beberapa kali.