
Minggu pagi, Arka dan Amanda menyambangi dokter kandungan. Karena Amanda memiliki jadwal periksa dihari itu. Kondisi bayi mereka tidak ada yang mengkhawatirkan, mereka sehat dan posisi mereka pun semuanya aman.
Seusai pemeriksaan, berhubung itu masih pagi. Amanda tiba-tiba ingin makan bubur ayam. Maka mereka mencari sebuah tempat, dimana banyak terdapat jualan makanan di pagi hari.
Mereka menemukan tempat itu, lalu makan didalam mobil dengan kaca yang sengaja dibuka. Amanda memakan bubur ayam plus nasi uduk yang masih terbungkus. Sementara Arka makan nasi uduk beserta gorengan dan juga kerupuk.
"Bi, disini aja ya."
Seorang anak muda kira-kira berusia 17 atau 18 tahunan, berkata pada pacarnya yang ada dibelakang. Mereka tengah menaiki sebuah motor yang kini tepat berada di depan mobil Arka. Sepertinya mereka hendak mampir ke tukang bubur ayam, yang hanya berjarak 8 meter disisi parkir.
"Bubur ayam ini, bi?" tanya si perempuan dengan nada seolah kaget. Arka dan Amanda memperlambat makan sambil bersitatap barang sejenak.
"Iyuh, aku nggak mau bi. Masa makan dipinggir jalan begini." ujar si perempuan.
"Semua makanan juga di jualnya dipinggir jalan, bi. Kalau ditengah jalan mah, bisa ketabrak."
"Uhuk."
Amanda dan Arka tersedak, karena berusaha keras menahan tawa. Mereka kini sama-sama mengambil air minum.
"Bener juga sih, cowoknya ngomong." ujar Amanda masih cekikikan.
"Pokoknya nggak mau ditempat kayak gini, ke fastfood aja yuk. Sambil makan BTS meal kek atau apa kek. Biar bisa bikin insta story, biar hits."
"Bi, mendingan itu buat ntar siang aja. Kita makan ini dulu pagi ini." Si cowok masih berusaha membujuk.
"Ih, nggak mau pokoknya. Masa aku barengan ibu-ibu berdaster."
Arka menoleh pada Amanda, sedang wanita itu kini melihat ke arah baju yang ia kenakan. Beberapa hari yang lalu ia sengaja membeli daster tersebut karena praktis dan adem. Memasuki usia kandungan di bulan ketujuh ini, ia mulai ribet dengan perutnya yang kian membesar. Ditambah lagi, ia sering kali merasa gerah meski air conditioner sedang menyala.
"Rese banget tuh bocil, pengen banget aku copotin ini daster terus aku pakein ke dia. Biar dia tau rasanya enak." gerutu Amanda.
Tiba-tiba saja ia menjadi murka.
"Man, jangan. Ntar kamu telanjang." ujar Arka mengingatkan. Sementara si pasangan muda-mudi itu masih bersiteru soal tempat makan.
"Disini dulu ya, bi."
"Nggak mau."
"Ayolah, bi."
"Nggak."
"Ya udah, kamu maunya kemana sekarang?"
tanya si cowok seraya menanti jawaban.
"Terserah, bingung aku mau kemana?"
Amanda dan Arka nyaris tersedak lagi, mereka kini tertawa tanpa suara.
"Koq terserah sih?"
"Ya terserah, yang jelas jangan disini."
"Ya udah deh." Si cowok mulai gusar. Ia pun akhirnya membelokkan lagi motor mereka, menuju ke arah yang lain.
"Hahaha." Arka dan Amanda akhirnya bisa ngakak sejadi-jadinya dengan aman.
"Anjir, sarapan doang ribet banget." ujar Arka kemudian.
"Itu tadi dia bi, bi, bi itu apa ya, Ka?. Babi?" tanya Amanda yang lagi-lagi menyulut tawa suaminya.
"Baby ngepet kali." seloroh Arka.
"Hahahaha."
Untuk kesekian kalinya mereka tertawa bahkan nyaris tersedak.
"Kamu pernah nggak sih, Ka. Punya panggilan aneh gitu ke pasangan kamu?" tanya Amanda ketika tawa mereka mulai reda. Namun masih ada sisa-sisa kegelian di otak mereka, yang membuat mereka masih tampak senyum-senyum.
"Nggak pernah. Maureen tuh dulu waktu pertama-tama pacaran, pas SMP. Maunya pake panggilan sayang katanya. Aku mah Maureen-Maureen aja, akhirnya dia juga ikut-ikutan."
"Emangnya panggilan sayang apa yang dia minta ke kamu?" tanya Amanda.
"Ci Cu." jawab Arka.
"Apaan tuh?" tanya Amanda lagi.
"Cinta-Cuyunk."
Arka dan Amanda menahan tawa namun,
"Hahahaha."
Keduanya sama-sama terbahak-bahak.
"Bangsat." ujar Amanda sambil tertawa geli dan memukul lengan suaminya.
"Cuyunk, cuyunk, aku mau itu dong cuyunk." Amanda berkata seraya memonyongkan bibirnya. Arka meletakkan tangan lebarnya di mulut Amanda seraya tertawa.
"Geli tau, aku." ujar Arka kemudian.
"Sama, aku juga geli denger orang pake panggilan-panggilan sayang gitu." timpal Amanda.
"Sok, sok an pake panggilan sayang. Pas berantem eh, anj*ng-anj*ngan juga. Kebun binatang juga yang keluar dari mulut masing-masing." lanjutnya lagi.
"Bener, aku lebih suka panggil nama. Karena berasa kayak sahabat sendiri. Pas berantem juga nggak perlu repot merubah panggilan. Jadi pas ribut, sakitnya nggak double." ujar Arka.
"Bener sih." Amanda menyetujui.
"Sakit loh, biasa dipanggil apa. Pas berantem tau-tau berubah jadi nama hewan." ujar Arka lagi.
"Heeeek."
Amanda sendawa didepan suaminya. Arka hampir tersedak lagi karena kaget dan menahan tawa.
"Baru kali ini aku denger kamu sendawa segede itu." ujar Arka seraya menatap istrinya.
"Kayak abis nelen GBK tau nggak kamu?" lanjutnya lagi.
Tawa mereka pun kembali pecah.
"Maafin, Ka. Aku nggak bisa jaim soalnya." ujar Amanda lalu disambung sendawa yang kedua.
"Heeeek."
"Nggak masalah sih, aku juga nggak penjijik koq orangnya. Dan aku juga nggak suka sama orang yang sok jaim." ujar Arka.
"Honey, buruan...!"
Arka dan Amanda kembali menoleh ke sisi kanan, ketika mereka baru mangap dan hendak memakan gorengan.
Mereka tercengang, pasalnya kata "honey" itu dilontarkan oleh seorang bocah yang mungkin masih SMP. Terlihat dari perawakan dan nada suaranya yang masih belum pecah.
"Honey." ujar Arka seraya menoleh pada Amanda.
"Madu." tukas Amanda seraya tertawa.
"Hubby, tungguin honey makanya." Seorang bocah perempuan tampak berlarian ke arah si anak laki-laki.
"Hubby." Amanda dan Arka berujar di waktu bersamaan, sambil mengangguk-anggukan kepala.
"Hubby kamu apa?" tanya Arka pada Amanda.
"Hubby ku makan." ujar Amanda.
Lagi dan lagi keduanya tertawa. Sementara di depan mobil, Honey tampak menghampiri Hubby. Hubby memberikan belaian di rambut Honey. Dari dalam mobil Amanda dan Arka tak henti tertawa melihat kejadian itu.
"Ayah, bareng sama bunda."
sepasang muda mudi yang tampaknya masih pacaran, kembali melintas di depan mobil Arka dan juga Amanda. Kali ini dengan panggilan yang lain lagi.
"Ayah, bunda. Hamil beneran, jadi ayah bunda beneran. Baru tau rasa, lo." ujar Arka.
"Pusing-pusing dah tuh mikirin biayanya." timpal Amanda.
"Hahaha." keduanya kembali tertawa.
"Udah ah, Ka. Kita kayak ngajarin anak ngatain orang lain deh." ujar Amanda kemudian.
"Iya, ya. Udah, udah, udah." ujar Arka masih tertawa.
"Kita pulang yuk." ajaknya Kemudian.
"Ayok, kita makannya ntar lagi aja." ujar Amanda.
"Kenyang ya kamu?" tanya Arka.
"Tumben." lanjutnya lagi."
"Belum kenyang sih, tapi mau berak."
"Nggak mau berak dulu dimana?. Cari toilet umum." ujar Arka.
"Nggak mau ah, nggak nyaman. Enakan dirumah" ujar Amanda.
"Ya udah, ya udah. Kita pulang sekarang."
"Jangan di mobil." ujar Arka lagi.
"Nggak lah, hahaha." Amanda tertawa sambil menahan sakit di perutnya. Arka menghidupkan mesin mobil.
Sementara disuatu sudut, Rani berdiri memperhatikan keduanya. Tanpa Rani ketahui jika disudut yang lain, Intan juga tengah sama berdiri memperhatikan. Namun Intan bukan memperhatikan Arka ataupun Amanda, melainkan tengah memata-matai Rani.
Gadis berusia 24 tahun itu tengah jogging. Saat tak sengaja memergoki Rani, yang tengah berdiri dan menatap ke sebuah mobil. Intan memperhatikan mobil yang dilihat oleh Rani tersebut, ternyata didalamnya ada Arka dan juga Amanda.
Sikap Rani sangat mencurigakan, Intan pun mengambil foto wanita itu secara diam-diam. Ia turut mengambil foto Arka beserta Amanda, agar menjadi bukti jika suatu saat terjadi apa-apa
Kini Rani berjalan, sementara Intan terus mengikuti. Ia menguntit Rani yang kini tampak menelpon seseorang. Namun, Intan tak tahu apa yang tengah dibicarakan oleh sahabat dari bosnya itu. Karena ia mengintai dari jarak yang cukup jauh.
Ia takut ketahuan oleh Rani. Berkali-kali Rani menoleh, seakan curiga jika dirinya sedang diikuti. Namun setiap kali ia menoleh, Intan selalu berhasil bersembunyi.
Intan mengikuti Rani hingga kesebuah perumahan, tampaknya itu adalah kawasan tempat dimana Rani tinggal. Rani berjalan terburu-buru sama seperti tadi, namun kemudian ia dihampiri oleh seseorang. Rani menghentikan langkah, ia berbicara pada sosok laki-laki itu. Sementara kini Intan memperhatikan secara seksama.
"Bekas luka itu?" gumam Intan.
Seketika ia teringat perkataan Deni dan Satya, satu hari pasca pemukulan terhadap Amanda waktu itu. Ia ingat saat itu Satya dan Deni bercerita pada orang kantor. Jika mereka telah mendapatkan rekaman CCTV, pada saat kejadian pemukulan terhadap Amanda. Mereka juga mengatakan jika bukti tersebut sudah di serahkan ke polisi.
Deni juga mengungkapkan ciri-ciri pelaku, yakni memiliki luka bekas tatto yang dihapus secara paksa disalah satu lengannya. Seperti ditempelkan setrikaan atau benda panas lainnya dengan sengaja. Dengan maksud agar kulit yang bertato itu menjadi terluka dan tatonya menghilang. Kini didepan mata, Intan menemukan orang dengan ciri-ciri yang sama.
Intan buru-buru mengambil handphone. Ia bermaksud ingin memfoto dan merekam orang tersebut, lalu memberitahu Satya ataupun deni. Ia juga akan membiarkan Rani masuk dalam frame, agar bisa dijerat juga. Jika orang ini terbukti adalah orang yang ada di CCTV tersebut.
"Oh My God." Intan melihat baterai handphonenya yang hanya sisa 1% lagi. Namun ia tetap berusaha meski tak membawa power bank. Ia lalu membuka menu kamera dan, mengarahkannya. Namu tiba-tiba,
"Plup."
Handphone tersebut mati, sebelum sempat ia mengambil gambar.
"Bangsat."
Intan setengah berteriak, namun ia mengundang perhatian Rani dan juga orang tersebut. Intan pun buru-buru bersembunyi di balik sebatang pohon.
Laki-laki itu perlahan mendekat, Rani pun demikian. Intan segera berlari menjauh, sebelum ia ketahuan.