
Arka tersenyum menatap istrinya, ketika mereka telah berada di mobil dan hendak pulang ke penthouse.
"Udah lega ya kamu?" tanya Amanda. Arka tertawa kecil.
"Kayaknya kita harus menikmati minggu tenang kita berempat, deh." ujar Arka.
"Hoayaaa."
Para bayi yang ada dibelakang pun bersuara.
"Tuh dijawab." ujar Amanda.
"Kita liburan atau kemana?" tanya wanita itu.
"Bebas, mau liburan kek, cuma diem dirumah sambil tidur seharian kek. Yang penting tenang dulu."
Arka mulai menghidupkan mesin mobil, Amanda menoleh ke belakang.
"Dek, kita jalan ke mall yuk. Mau nggak?"
"Hoayaaa."
"Hoayaaa?" tanya Arka.
"Hoayaaa."
Arka tertawa.
"Ya udah, hoaya ya?" ujarnya lagi.
"Hoayaaa."
"Kita hoaya dimana mama?" tanya Arka pada istrinya."
"Hmm ditempat biasa aja, kita sekalian beli baju untuk kalian ya dek?"
"Hoayaaa."
Mobil mulai berjalan.
"Oh iya, baju mereka udah pada kecil-kecil ya Man."
"Iya, gimana nggak kecil. Liat aja noh, gembul begitu."
"Eheeee."
"Ehe, ehe. Itu makanya makanan tambahan aku kasih sesuai takaran yang dianjurkan aja, Ka. Sebenarnya mereka masih akan mangap kalau dikasih terus-terusan, jari aku aja dimakan." Arka tertawa.
"Iya, kasihan kalau kegemukan. Orang yang ngeliatnya, ih lucu banget, lucu banget. Di puji-puji, bayi kita sesek nafas." ujar Arka..
Kali ini Amanda yang tertawa.
"Harus sama-sama di jaga ini, biar nggak obesitas." lanjut Arka lagi.
"Iya, aku kasihan liat bayi-bayi kegemukan tapi orang tuanya malah kesenangan."
"Ya karena dapat pujian dari tetangga. Belum lagi kalau upload di sosmed, pada rame tuh netijen memuja muji." ujar Arka.
"Iya, makin di jejelin lagi anaknya makanan. Nggak mikirin kesehatan anak, mikirin omongan orang aja udah."
"Hoayaaa."
"Ya dek, ya?" ujar Amanda seraya menoleh. Kedua anaknya tertawa.
"Pengen aku remas muka mereka."
Lagi-lagi Arka tertawa.
"Mama gregetan ya dek, liat muka kalian."
"Eheeee."
Arka mengajak anak istrinya pergi ke mall, tempat dimana mereka sering berbelanja. Kebetulan di mall tersebut pengunjungnya cukup sepi, dan lebih banyak di dominasi oleh kalangan menengah ke atas. Yang tidak peduli meski artis sekalipun melintas didepan mereka.
Arka dan Amanda mengajak para bayi berbelanja baju. Kebetulan saat mereka lahir hingga usia ke 7 bulan ini, Amanda dan Arka memang tak begitu banyak membelikan mereka pakaian. Alasannya tentu saja karena badan bayi cepat sekali berkembang dan menjadi besar.
"Nah, ini lucu nih buat kamu."
Amanda menunjukkan salah satu pakaian di display kepada Azka. Mereka kini telah sampai di mall, dan tengah menyambangi salah satu toko pakaian dan perlengkapan bayi. Azka terlihat antusias, sedang Afka yang berada di gendongan ayahnya tampak memasang kening yang berkerut.
"Dih, kenapa kamu dek?. Mukanya asem banget." ujar Arka seraya memperhatikan anaknya.
"Kenapa, Ka?." tanya Amanda.
"Nih liat mukanya." Arka menunjukkan wajah Afka pada istrinya.
"Dih, kenapa kamu rusuh banget?. Kayak mau ngajak berantem." ujar Amanda seraya tersenyum, namun Afka masih saja cemberut.
Arka dan Amanda terus memilah-milah pakaian untuk anak mereka. Acara belanja itupun dipenuhi dengan tawa dan sukacita.
"Hekheee." Kedua menangis karena lapar, pada menit ke sekian puluh.
"Tunggu disini dulu ya, Ka. Aku ke toilet, pumping dulu." ujar Amanda buru-buru.
Tak lama setelah itu ia kembali dengan dua botol ASI, si kembar di letakkan di dalam stroller dan mereka pun minum susu. Arka dan Amanda lanjut berbelanja, hingga tanpa terasa si kembar pun mulai terlelap.
"Tumbang juga akhirnya." ujar Arka seraya memperhatikan anak-anaknya yang tertidur pulas.
"Sekarang giliran emak-bapaknya bebas." ujar Amanda.
"Kita makan yuk." ajak Arka.
"Boleh, udah laper banget ini. Mana tadi di sedot sama nih bocah."
Arka tertawa, lalu matanya menjelajah sekeliling mall.
"Makan apa ya kita? tanya nya kemudian.
"Ngegrill enak nih, Ka." ujar Amanda.
"Iya sih, ya udah deh. Makan makanan Jepang yang udah jadi aja yuk." ajak Amanda kemudian.
"Ya udah ayok."
Mereka pun lalu melipir, ke salah satu restoran Jepang yang sering mereka kunjungi. Sementara Azka dan Afka tidur nyenyak, ibu dan ayahnya makan sambil berbincang. Mereka saling menyuapi satu sama lain.
"Kalau mereka lagi tidur gini nggak berasa punya anak." ujar Amanda sambil mengunyah.
"Kalau bangun langsung panik." ujar Arka.
"Iya soalnya udah mulai suka teriak kenceng." ujar Amanda seraya tertawa.
"Tapi mereka tuh nggak nangis, teriak doang." tukas Arka.
"Iya kayak gusar, air mata palsu." timpal Amanda lalu menyuapkan potongan daging kepada Arka.
"Aaa'k."
Arka menerima suapan tersebut.
"Hoayaaa."
Amanda dan Arka menoleh, ternyata salah satu anak mereka mengigau.
"Kebanyakan hoaya, kebawa mimpi." ujar Amanda. Arka pun tertawa dan lanjut makan.
Usai makan Arka pamit ke toilet, sementara Amanda masih berada di tempat makan tersebut. Selang beberapa menit kemudian Arka kembali.
"Koq lama, Ka?" tanya Amanda heran.
Arka lalu meletakkan sebuah paper bag kecil diatas meja.
"Nih buat kamu." ujarnya kemudian.
"Apa ini, Ka?" tanya Amanda.
"Buka aja."
Amanda lalu membuka paper bag tersebut, ada sebuah kotak perhiasan di dalamnya. Amanda lalu meraih kotak itu dan membukanya.
"Ini..?" Amanda melihat sebuah kalung di dalam kotak tersebut.
"Tadi aku beli didepan." ujar Arka.
"Bagus banget, Ka. Pasti mahal."
"Nggak koq, Man. Cuma beberapa ratus ribu aja, buat ganti-ganti an. Kan enak kalau perhiasannya banyak."
Amanda tersenyum bahagia seraya menatap kalung itu.
"Nanti kalau punya uang lagi, aku beliin yang mahal."
"Nggak perlu, Ka. Ini aja udah cukup koq, makasih ya." ujar Amanda kemudian.
"Kamu suka kan, modelnya?"
"Suka, suka banget." jawab Amanda.
Tak lama setelah itu, mereka pun beberes dan keluar dari tempat makan tersebut. Mungkin mereka akan lanjut berjalan-jalan sambil berbelanja, atau mungkin juga pulang. Entahlah, kemana langkah kaki membawa saja. Lagipula tak ada urusan penting yang harus mereka selesaikan hari ini.
"Mau es krim nggak?" tanya Arka pada Amanda. Ketika melihat sebuah booth es krim dari kejauhan.
"Es krim Turki ya, Ka?"
"Iya."
"Duh jangan deh, Ka. Aku nya emosi nanti." ujar Amanda diikuti tawa Arka.
"Tuh ada gelato sebelah sana." ujar Arka menunjuk gerai yang menjual es krim gelato.
"Ya udah, mau." ujar Amanda.
Mereka pun bergerak menuju ke sana sambil mendorong stroller. Tak lama kemudian,
"Buuuk."
Seseorang terburu-buru dan menabrak bahu Arka. Seketika ia dan orang itu pun sama-sama menyadari.
"Buru-buru amat kayak mau take adegan." seloroh Arka pada Robert. Ya, pemuda itulah yang menabrak bahunya barusan.
"Dari mana lo, Ka?" tanya Robert pada Arka.
"Hai Amanda." ujarnya pada Amanda.
"Hai, Bert." Amanda menjawab seraya tersenyum.
"Nih, dari ngajak mereka." ujar Arka kemudian.
"Yah tidur lagi, padahal mau gue gangguin." ujar Robert melihat ke dalam stroller. Arka dan Amanda hanya tertawa.
"Lo sendiri mau kemana?" tanya Arka.
"Noh."
Robert menunjuk ke suatu arah. Arka dan Amanda menoleh, tampak Cintara yang tengah memilah barang di sebuah store. Namun Cintara tak melihat ke arah mereka.
"Hmm, tiati admin akun lambe." ujar Arka dengan nada meledek, namun penuh senyuman.
"Disini kagak ada, kecuali lo jalan ke ITC." seloroh Robert.
Arka pun terbahak.
"Gue jalan dulu ya."
Robert melambaikan tangan. Amanda dan Arka membalas lambaian itu sambil tertawa, lalu mereka pun lanjut menuju gerai gelato.