
Malam itu, Rio begitu kalut. Liana baru saja mematahkan hati dan meninggalkannya sendirian. Mungkin memang ia salah, menyatakan cinta pada saat kondisi kejiwaan Liana belum lagi stabil, pasca kasus pemerkosaan waktu itu.
Para pelaku pemerkosaan itupun diketahui telah melarikan diri dan bersembunyi disuatu tempat. Pihak kepolisian sudah menggerebek rumah para tersangka tersebut, namun tak ada yang berhasil di tangkap. Keluarga pelaku mengaku jika mereka tidak mengetahui, kemana perginya para pelaku tersebut. Meskipun perkataan itu tidaklah meyakinkan, namun pihak keluarga selalu menjawab hal yang sama, apabila ditanyai oleh pihak yang berwajib.
"Ka, lo dimana?" Rio menelpon Arka.
"Gue dirumah, bro."
"Oh ya udah." ujar Rio.
"Lo kenapa?" tanya Arka lagi.
"Nggak apa-apa, besok aja ketemu di kampus."
"Tapi lo baik-baik aja, kan?" tanya Arka seolah menangkap kejanggalan dalam nada bicara Rio, yang terdengar lesu sejak tadi.
"Nggak apa-apa koq, besok ya."
"Ok."
Rio menyudahi telponnya, kini ia melangkah gontai meninggalkan tempat dimana ia tadi bertemu Liana.
Rio pun menjalankan motornya tak tentu arah, entah mengapa kejadian ini begitu melukai hatinya. Ia tidak menyalahkan Liana, tetapi sedang menyalahkan dirinya sendiri. Kenapa tidak dari waktu itu saja, dia menyatakan cintanya pada Liana. Hingga Liana tak perlu berurusan lagi dengan mantan pacarnya yang bejat itu. Pastilah kasus ini tak akan terjadi, dan mungkin sekarang ia sudah bahagia bersama Liana.
Rio terus menyusuri jalan demi jalan. Hingga kemudian ia berhenti didepan sebuah tempat, yang ia anggap bisa memberinya ketenangan.
Dalam sekejap, ia sudah masuk kedalam tempat itu. Duduk didepan bartender sambil mereguk minuman beralkohol. Musik pun menghantam dan memecah kebisuan, sementara lampu sorot mulai berputar dan menjelajah sekitar ruangan. Rio benar-benar ingin melupakan masalahnya barang sejenak.
Sementara Liana, kini terpaku dikamar kost nya yang dingin. Oleh Air conditioner yang sengaja dinyalakan pada suhu 16 derajat. Namun ia masih tak bisa merasakan dingin, saking membaranya kemarahan wanita itu terhadap apa yang menimpanya belakangan ini. Kebodohannya, kasus pemerkosaan, Arka yang tak peka terhadapnya, dan juga Rio yang seakan mengambil kesempatan dalam kesempitan.
"Aaaaaa." Sebuah teriakan terdengar di floor. Rio menoleh, tampak seorang gadis tengah memukul gadis lainnya dengan membabi buta.
Rio mendekat, dan memperhatikan gadis itu.
"Vani?" gumamnya kemudian.
Ia pun langsung bergegas berlarian kearah floor. Dan benar saja, gadis yang itu adalah Vani. Adik tiri Rio dari ibunya yang menikah lagi. Vani adalah anak bawaan suami ibu Rio.
"Vani."
Rio menahan Vani yang sudah dipisahkan oleh orang-orang sekitar. Vani pun terkejut dengan kehadiran kakak tirinya itu.
"Ngapain sih lo bikin keributan?" tanya Rio dengan nada setengah marah.
"Lo nggak liat, ini cowok gue selingkuh sama nih cewek." ujar Vani berapi-api. Rio yang memang sudah berada dalam emosi sejak tadi itupun, beralih menatap kekasih Vani. Lalu,
"Buuuuk."
Rio menghajar laki-laki itu secara serta merta, hingga menimbulkan keterkejutan diantara semuanya.
"Rio, kenapa lo hajar cowok gue." teriak Vani.
"Lo pikir selingkuh itu salah ceweknya doang, hah?. Ini si bangsat juga salah, kenapa dia mau."
"Buuuuk."
"Udah punya cewek, masih gatel."
"Buuuuk."
Pria yang dipukul itupun membalas, ia kini gantian memukul Rio.
"Buuuuk."
"Aaaaaa."
Para perempuan berteriak dan menjauh, sementara yang laki-laki berusaha mencari celah untuk memisahkan. Perkelahian itu mirip adegan perkelahian dalam film action. Banyak table yang akhirnya terbalik dan botol-botol yang berisi minuman pecah berserakan.
Pengelola bisnis tempat hiburan itupun akhirnya memanggil pihak keamanannya, yang bertubuh tinggi besar. Hingga Rio dan juga pemuda itu ditarik untuk kemudian diamankan. Lampu ruangan dinyalakan, Rio bisa menatap jelas wajah pemuda yang dihajarnya tadi. Dan betapa terkejutnya ia ketika melihat pemuda itu.
"Elo mantannya Liana kan?" Arka bertanya pada pemuda itu, karena ia pernah melihatnya di foto yang dilaporkan oleh Liana ke polisi.
Seketika pemuda itupun panik dan hendak berlari. Namun Rio kemudian menarik dan kembali menghajarnya.
"Rio, udah." teriak Vani.
"Elo memperkosa temen gue, bangsat."
"Buuuk."
"Buuuk."
Waktu seakan melambat. Vani terdiam, begitu juga dengan gadis yang menjadi selingkuhan sang pacar. Tanpa sadar mereka kini berpegangan tangan saking takutnya. Pihak keamanan yang bertubuh tinggi besar itu kini menahan Rio dan juga si pria. Sementara pihak pemilik bisnis telah menghubungi polisi.
Tak lama kemudian, petugas kepolisian datang dan mengkonfirmasi jika pria itu memang benar adalah buronan kasus pemerkosaan. Vani dan si gadis selingkuhan makin terkejut. Mereka berdua turut dibawa ke kantor polisi, bersama Rio dan beberapa orang lainnya sebagai saksi.
Hari itu, satu pelaku telah tertangkap. Tinggal mengorek keterangan saja dari si pelaku ini, agar pelaku yang lain dapat tertangkap pula.
Vani dan si gadis selingkuhan akhirnya berbaikan dan Rio membawa kedua gadis itu untuk pulang.
Esok harinya di kampus Amanda, wanita itu tampak keluar dari mobil dan berjalan perlahan. Ia melangkah sambil telponan dengan suaminya, yang hari itu tak bisa mengantar karena ada callingan syuting sejak subuh.
"Kamu udah sampe, Man?" tanya Arka diseberang.
"Udah, Ka."
"Maaf ya, nggak bisa nganter."
"Iya nggak apa-apa, kamu lagi break?"
"Iya, tapi bentar lagi udahan. Mau take adegan lagi."
"Mmm ya udah, ok deh. Jangan lupa makan, kamu." ujar Amanda mengingatkan.
"Kamu yang jangan lupa makan." lanjutnya kemudian.
"Pasti, aku pasti makan banyak koq." ujar Amanda.
Arka pun tertawa.
"Ya udah, sana. Nanti aku telpon lagi."
"Dah berondong."
"Dah tante."
Arka dan Amanda sama-sama tersenyum, kini ia pun melanjutkan langkah. Lalu,
"Degh"
Langkah Amanda terhenti, ketika ia mendapati sesosok yang kini berdiri tepat dihadapannya.
"Nino?" ujarnya kemudian.
"Kita perlu bicara, Man."
Amanda menghela nafas, mungkin inilah saatnya menyudahi konflik diantara mereka. Daripada hanya menghindar terus menerus. Tak lama Nadine pun melintas.
"Nad." sapa Amanda pada gadis itu. Nadine hanya melihat ke arah Nino, lalu pergi begitu saja. Seakan ia sangat membenci laki-laki itu.
"Kamu apakan Nadine, Nin?" tanya Amanda penuh curiga.
"Aku nggak ada urusan dengan mahasiswi itu, aku ada urusan sama kamu."
"Kamu jangan begitu, dia itu gadis baik."
"Aku nggak ngapa-ngapain dia, dia sendiri yang larut dalam masalah yang dia buat."
"Tapi, Nin."
"Man, aku mencintai kamu. Aku nggak bisa terus menerus ngeliat kamu diam, setiap kali aku ketemu kamu. Aku minta maaf soal waktu itu. Aku bener-bener menyesal, Man."
Nada suara Nino setengah terisak, kelihatan sekali ia menanggung banyak beban selama beberapa waktu belakangan ini.
"Nin."
"Aku mencintai kamu, Man. Aku mencintai kamu." tegasnya lagi.
"Aku juga mencintai kamu dan masih mencintai kamu, Nino. Tapi Aku punya Arka."
Nino terdiam mendengar pernyataan itu.
"Aku mencintai Nino, yang dulu pernah aku kenal. Sampai hari ini aku masih mencintai dia. Tapi dia yang dulu, Nino yang dulu. Bukan Nino yang sekarang."
"Apa aku bisa memperbaiki semuanya?"
"Aku sudah memutuskan, bahwa aku tidak akan bercerai dari Arka. Aku juga mencinta Arka, Nin. Aku minta maaf soal itu."
Hati Nino luluh lantak demi mendengar pernyataan tersebut, serasa kedua kakinya tak lagi berpijak di atas tanah. Andai waktu itu ia tak berkata kasar pada Amanda, mungkin saja saat ini ia masih memiliki kesempatan.
"Kita saling mencintai, Nin. Dan mungkin itu semua nggak akan hilang seumur hidup kita. Tapi cinta nggak harus bersatu dalam satu atap, kita masih bisa saling menjaga sebagai sahabat, sebagai saudara, keluarga. Cinta itu nggak harus menikah, nggak harus berhubungan ***. Karena cinta itu cinta, nggak ada persyaratan apapun didalamnya. Kayak aku yang mencintai kamu selama belasan tahun ini, apa pernah aku memberikan syarat, kamu harus kembali, harus bersama aku. Nggak kan?"
Nino terdiam menatap Amanda, jiwanya seakan tercabik-cabik.
"Sekarang setelah kamu kembali, kenapa kamu kasih aku syarat. Bahwa aku harus jadi milik kamu. Itu bukan cinta, Nin. Itu egois namanya."
Nino kini menunduk, membiarkan pandangannya jatuh kebawah. Tubuh laki-laki itu gemetar, menerima kenyataan pahit yang ada di hadapan matanya. Amanda mendekat, digenggamnya tangan laki-laki itu dengan erat.
"Kamu orang baik, Nin. Setidaknya begitu dulu aku mengenal kamu. Kamu pasti dapat yang lebih baik dari aku. Atau mungkin kamu sebenarnya sudah dapat, tapi kamu belum menyadari hal itu. Kita pernah bersama tanpa ada orang lain diantara kita. Dan jadikan itu kenangan yang selalu membangkitkan api dalam diri kita. Api untuk tetap hidup, apapun keadaan kita saat ini. Aku minta maaf atas semuanya, Nin."
Air mata Amanda seketika mengalir, begitupula dengan Nino. Waktu pun seakan kembali ke belasan tahun yang lalu. Dua orang yang tengah menangis itu, terlihat seperti dua orang remaja yang dulu pernah bersama dan saling mencintai.
Nino seolah melihat Amanda yang dulu, begitupula dengan Amanda. Yang ia lihat didepan matanya kini, adalah Nino remaja yang dulu ia kenal. Seolah mereka kembali ke masa itu.
"Aku pengen peluk kamu, Nin. Tapi sebentar lagi ramai."
Amanda melirik sejenak ke sekitar, dimana para mahasiswa dan mahasiswi sudah mulai satu dua yang seliweran didekat mereka.
"Aku nggak mau ada yang lihat dan akhirnya kita jadi bahan pergunjingan." lanjutnya lagi.
Nino dan Amanda menyeka air mata masing-masing. Tak ada pelukan disitu, hanya genggaman tangan yang semakin erat.
"Jangan lakukan hal bodoh lagi, Nin. Aku akan sangat marah, kalau sampai kamu masuk rumah sakit lagi gara-gara aku.
Nino mengangguk.
"Jaga diri kamu Amanda, aku nggak akan rela kalau sampai dia menyakiti kamu."
Amanda mengangguk seraya menatap cinta pertamanya itu.
"Cintai aku dengan cara mencintai hidup kamu, Nin. Kamu berhak bahagia."
Amanda melepaskan genggaman tangannya, lalu berlalu dan masuk ke dalam gedung.
sementara Nino terpaku sejenak ditempatnya, semua masalah mereka berakhir. Bahkan mungkin kisah mereka pun telah usai begitu saja. Nino menghela nafas, ia akan selalu mencintai wanita itu sampai kapanpun. Namun wanita itu juga berhak bahagia dengan pilihannya.
Laki-laki itu kini melangkah ke arah parkiran dan masuk ke dalam mobil, ia tak ingin mengajar hari ini. Ia menghidupkan mesin lalu menginjak pedal gas, dan mobil pun mulai merayap.
Melintasi suatu sudut, masih didalam kampus. Nino melihat Nadine yang menangis sendirian. Ia lalu membuka kaca mobil dan menghidupkan klakson, dengan mata yang masih menatap lurus ke depan. Nadine yang terkejut mendengar suara klakson tersebut pun melihat ke arah Nino.
Perlahan Nino menoleh kearah gadis itu dan memberinya kode untuk masuk ke dalam mobil. Nadine pun makin menangis, lalu berlarian dan masuk kedalam mobil tersebut. Nino memberinya tatapan meski dingin. Ia lalu memberikan tissue pada gadis itu, dan kembali menginjak pedal gas.
Dari suatu sudut, Amanda menyeka air mata seraya tersenyum. Ia berharap semoga Nadine bisa membahagiakan Nino dan begitupun sebaliknya.